Last Part guys.
Happy reading!

“Aku mau ke gereja. Kau mau ikut tidak?” tanya Yi Fan dan membuatku langsung mengalihkan pandanganku dari layar laptop yang penuh dengan tulisan-tulisan yang sudah hampir dua jam membutakanku. Pertanyaan Yi Fan terasa seperti penyelamat bagiku.

“Mau. Aku lelah juga.” jawabku dan Yi Fan tersenyum.

“Baiklah. Kau siap-siap setelah aku ya.” katanya dan malah duduk di sampingku.

“Dari mana saja?” tanyaku dan menutup berkas-berkas Microsoft Word di layar laptopku, oh… Laptop ini baru dibelikan Yi Fan minggu lalu, karena aku ternyata sudah melupakan laptopku di Seoul, aku benar-benar lupa kalau laptopku tertinggal di kamarku.

“Ada sedikit urusan tadi.” jawabnya singkat dan mengerutkan hidungnya kemudian tersenyum tipis.

“Stop scrunching your nose.” gumamku pelan sebelum menutup layar laptop.

“Why?” Yi Fan menahan tawanya dan terus menatapku lekat-lekat.

“Kau tidak punya ruang kerja ya? Benar-benar bekerja di sini? Seharian?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan, sambil memandang ke sekelilingku.

“Sembilan puluh persen memang di sini.” jawab Yi Fan sambil melirik jam tangannya.

“Oh. Aku siap-siap dulu.” tukasnya dan bergegas masuk kembali ke dalam rumah.

Aku kembali menikmati pemandangan di belakang rumah Yi Fan. Meskipun cuaca begitu cerah, tempat ini tetap terasa sejuk. Banyak tanaman yang ditanam, serta pepohonan rindang. Tempat ini memang cukup nyaman sehingga Yi Fan tidak memerlukan ruang kerja khusus untuknya lagi.

Aku mengubah posisi dudukku sehingga kepalaku bisa bersandar pada sandaran kursi taman yang sedikit pendek itu. Kepalaku sudah cukup lelah sejak tadi pagi menerjemahkan bahasa Korea ke dalam bahasa Inggris. Belum lagi cerita novel yang kuterjemahkan ini sedikit berat, membuatku semakin sakit kepala.

Sebuah kecupan pada singkat pada bibirku berhasil membangunkan tidur singkatku. Aku langsung membetulkan posisi dudukku dan membuka mataku. Yi Fan sudah terlihat rapi dan bersih, tidak seperti tadi, ia terlihat agak berantakan.

“Giliranmu.” katanya dan menarik tanganku.

“Aku sudah menyiapkan pakaianmu.” bisiknya dan membuatku mengerutkan keningku, meminta penjelasan, tetapi Yi Fan hanya tersenyum tipis dan hanya menepuk-nepuk bahuku, body language darinya untuk menyuruhku cepat dan tidak ingin menjawab pertanyaanku. Ia sudah melakukan hal-hal aneh tanpa mau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.

Mau tidak mau aku hanya menurut karena aku yakin tidak akan mendapatkan jawaban langsung darinya lagi.

Seperti beberapa hari yang lalu, kami harus buru-buru meninggalkan rumah pagi-pagi buta hanya karena ia meninggalkan sesuatu di mobil Nathan. Sesuatu itu yang sampai sekarang aku tidak tahu apa, dan ia tidak mau memberitahuku.

Aku menyelesaikan mandi siangku dan saat keluar dari kamar mandi, aku melihat Yi Fan sedang merebahkan dirinya di atas kasur, ia memejamkan matanya. Aku ragu harus membangunkannya atau tidak, dengan keadaanku yang seperti ini, tetapi jika aku tidak membangunkannya, ia akan semakin terlelap dan kunjungannya ke gereja akan batal, lagi… Ini bukan pertama kalinya.

“Yi Fan-ssi? Bukannya kau bilang sudah menyiapkan pakaianku? Mana?” tanyaku dan Yi Fan langsung membuka matanya, ia terlihat kaget.

“Sejak kapan aku berkata seperti itu? Kau mimpi siang bolong?” tanya Yi Fan balik dan aku langsung mengerlingkan mataku. Dia mulai menjahiliku lagi.

Aku hanya berjalan melewatinya dan membuka lemari pakaianku, memilih salah satu dress simple yang setidaknya sopan digunakan di gereja.

“Itu yang kita beli minggu lalu?” tanya Yi Fan dan aku hanya mengangguk kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaianku.

“Kenapa tidak di sini saja?!” teriak Yi Fan dan tertawa keras.

“Tidak!!” Aku memekik kesal begitu mendengar tawa kerasnya. Aku masih sangat tidak terbiasa harus berdiri tegap di hadapannya dengan hanya membalut tubuhku dengan handuk tebal, bahkan hanya dengan memakai kimono saja aku masih tidak terbiasa. Tetapi ia terus mengatakan padaku untuk harus terbiasa dengan segala hal yang akan dilakukan pasangan suami istri. Aku masih belum terbiasa…

Aku teringat Heejin yang semakin sering mengirimkan fotonya bersama Minseok. Mereka sering bermesraan untuk dipamerkan kepadaku. Aku bukannya tidak bermesraan kan? Aku hanya masih belum terbiasa, aku ingin sekali bisa terbiasa dengan segalanya, dan aku sedang pelan-pelan mengatasi rasa tidak terbiasaku. Anggap saja Heejin sedang membantuku.

Pintu kamar mandi terbuka begitu saja saat aku baru akan merapikan rambutku yang tadi masih terikat, sehingga membuat rambutku sedikit membengkok.

“Diikat saja.” kata Yi Fan dan kembali mengikat rambutku dengan cepat, sementara aku mengoleskan krim pada wajahku.

“Aku juga.” kata Yi Fan saat aku berbalik menghadapnya dan aku hanya mengoleskan sedikit krim pada wajahnya.

“Sudah cantik.” Yi Fan bergumam sendiri­-sambil merapikan poniku, tetapi aku masih bisa mendengarnya karena jarak kami yang begitu dekat, aku mengoleskan krim wajah lagi pada bagian bawah mata Yi Fan, kantung matanya masih tetap terlihat sejak pertama kali aku bersamanya di sini.

“Kau masih kurang tidur ya?” tanyaku, Yi Fan memanyunkan bibirnya dan mengangguk manja.

“Kenapa?”

“Tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

“Entahlah.” jawab Yi Fan singkat dan langsung berjalan keluar dari kamar mandi.

“Eun Yoo-ssi!! Hurry Up!” Suara teriakan itu membuatku melangkah cepat keluar dari kamar. Dan ia membalasku lagi, setiap aku kesal dan memanggilnya Yi Fan-ssi, ia akan melakukan hal yang sama padaku. Eun Yoo-ssi. It’s feels like we are strangers, or pretend to be strangers.

^________________^

St. Davids R. C Church

Yi Fan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat gereja yang tidak jauh dari sekitar komplek rumahnya

Yi Fan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat gereja yang tidak jauh dari sekitar komplek rumahnya. Gereja terlihat lebih ramai daripada biasanya, aku tidak begitu yakin ada events apa, yang kutahu, Yi Fan dan seorang temannya lagi setiap seminggu sekali, akan mengikuti acara yang diadakan Saint Davids ini. Aku lebih sering hanya ikut dan sesekali bersosialisasi dengan beberapa orang di sini.

 Aku lebih sering hanya ikut dan sesekali bersosialisasi dengan beberapa orang di sini

“Oh! Miss Kris! You are here too?” Suara itu membuatku langsung menoleh kaget. Aku juga masih belum terbiasa harus dipanggil seperti itu. Nama Kris di gereja ini hanya ada satu, jika Mr. Kris adalah Wu Yi Fan, maka aku adalah Ms. Kris. Dan Yi Fan sendiri yang memperkenalkan aku pada mereka dengan cara seperti itu. Baginya, akan lebih mudah bagi mereka daripada harus mengucapkan nama Koreaku.

“Mr. Kris? Can she go with us? I need her help, please?” pinta Erica dan tersenyum pada Yi Fan. Yi Fan hanya menjawab dengan senyuman tipis dan Erica langsung membawaku entah ke mana.

“Is he really that cold? I mean, before you know him more.” tanya Erica penasaran.

“Um… No. He was so lovely back then.” jawabku dan tersenyum tipis. Berharap ia tidak bertanya banyak hal lagi yang bisa membuatku teringat masa lalu. Tidak lagi…Please.

“Ahhh. I envy you!” kata Erica dan tertawa pelan. Aku tidak peduli jika gadis ini menyukai Yi Fan atau bagaimana, aku hanya akan menganggap Erica mengaguminya, seperti aku dulu.

“What event?” tanyaku pelan saat Erica membawaku memasuki ruangan kecil, di sana sudah ada beberapa orang yang kukenal sebagai pemudi gereja yang biasanya bertugas menata rias setiap ada acara tertentu.

“Marriage Sacraments.” jawab Chloe, salah satu penata rias gereja. Aku menyukai gadis ini. Chloe mengingatkan aku pada diriku sendiri, dulu. Aku merasa bertemu dengan diriku yang ada di masa lalu. Chloe sangat pendiam dan hanya akan berbicara nyaman pada orang-orang tertentu.

“Who’s marriage?” tanyaku saat Chloe memberi aba-aba untuk duduk.

“Why you need me here?” tanyaku lagi dan hanya mendapat senyuman tipis dari Chloe, begitu juga Erica. Ia hanya tersenyum tipis dan menghilang di pojok ruangan, menuju ke lemari besar.

“Ada yang mau menikah dan membutuhkan bridesmaid. Ini mendadak.” Aku menoleh kaget saat mendengar seseorang mengucapkan bahasa Korea dengan lancar.

“Oh. Annyeong, Min Young-ssi.” sapaku pada Park Min Young yang hanya dibalas dengan senyuman singkat. Aku sempat lupa kalau di sini ada seseorang yang berasal dari Korea juga. Park Min Young-ssi adalah orang yang membantu berjalannya Sakramen Pernikahan di gereja ini. Lebih tepatnya Wedding Organizer, tetapi ia sangat dingin terhadap siapapun, tanpa terkecuali. Jika Yi Fan hanya dingin pada wanita yang memandangnya dengan kagum, dan Chloe yang terkesan dingin karena terlalu pendiam, Park Min Young-ssi yang dingin pada siapapun, lalu ada aku, yang sedang belajar mengurangi sifat pendiamku, aku yang masih tidak bisa berbaur dengan mudahnya dengan banyak orang.

“Memang konsepnya seperti ini?” tanyaku pada Erica, tanpa sadar. Aku melongo bingung dan aku tertawa malu. Aku terlalu kaget melihat pantulan diriku sendiri pada cermin di hadapanku. Aku merasa ini terlalu berlebihan untuk seorang bridesmaid.

“Memang. Pengantin wanitanya, ingin bridesmaidnya terlihat sama dengannya. Konsep pernikahan semua orang. Ia ingin hari ini semua orang berbahagia.” jawab Min Young-ssi dan aku mengangguk-angguk, masih menatap takjub pada diriku sendiri. Aku mendadak ingin melihat ekspresi wajah Yi Fan saat melihatku nanti.

Aku tanpa sadar begitu menyukai gaun yang kukenakan ini. Entah bagaimana mereka bisa memilihkan gaun ini untukku.

Gaun Ball Gown Floor-Length berbahan Tulle berwarna biru terang, dengan sweetheart neckline dan dropped waistline, terlebih lagi gaun ini bertipe Court Train, membuatku semakin ingin memilikinya, jika aku bisa.

Gaun Ball Gown Floor-Length berbahan Tulle berwarna biru terang, dengan sweetheart neckline dan dropped waistline, terlebih lagi gaun ini bertipe Court Train, membuatku semakin ingin memilikinya, jika aku bisa

“Aku juga sudah.” kata Chloe yang baru muncul. Ia juga menjadi salah satu bridesmaid bersama aku, Erica dan Vexana. Aku tidak mengenali Vexana, lebih tepatnya baru kenal tadi, jadi aku belum ingin mengetahui apapun tentangnya.

“Ayo! Pengantinnya sudah menunggu.” kata Min Young-ssi dan kami segera bergegas menuju pintu utama gereja, untuk segera mendampingi pengantin perempuannya.

“Aku tidak pernah bertemu pengantin perempuannya. Tidak apa-apa?” tanyaku pada Min Young-ssi.

“Tentu tidak. Kau juga akan segera bertemu dengannya, kuharap kau tidak terlalu terkejut.” jawabnya dan tersenyum tipis. Min Young-ssi yang dingin pada siapapun itu tersenyum padaku?! Hal itu membuatku tersenyum senang, bahkan setelah sampai di depan pintu gereja, aku masih tersenyum senang. Aku tidak tahu senyuman tipis darinya bisa membuatku begitu senang.

“Eh? Five bridesmaids?” tanya Vexana begitu melihat seorang lagi yang berdandan sama dengan kami. Aku meyakininya sebagai si pengantin wanita.

“No. Just four. She is the only bride here.” Min Young-ssi merespon pertanyaan Vexana dengan tenang, tetapi sepersekian detik kemudian aku menyadarinya. Mereka melangkah mundur dan membiarkanku berdiri sendirian di tengah-tengah pintu gereja yang perlahan terbuka.

Aku semakin tertegun saat mendapati siapa yang berdiri agak jauh di depanku. Yi Fan yang saat kemari hanya memakai pakaian sederhana, sudah tergantikan oleh setelan tuxedo berwarna biru gelap.

Untuk beberapa saat, aku harus mencerna apa yang sedang terjadi, hingga akhirnya aku melihat 2 orang di belakangku sedang tersenyum begitu lebar sambil menatapku dengan takjub, barulah aku mengerti. Termasuk semua sikap aneh Yi Fan belakangan ini…

“Ayo. Aku menggantikan Dad-mu.” katanya pelan dan tersenyum tipis. Aku masih tidak percaya sampai akhirnya ia menggenggam jemariku dengan perlahan. Seunggi Oppa.

“Eun Yoo-ah! Aku iri padamu!” kata Heejin, setengah berbisik, ia mengedipkan satu matanya sebelum akhirnya masuk ke dalam gereja sambil berlari kecil.

Saat Seunggi oppa mulai melangkah, aku kembali menoleh ke arah Yi Fan. Ia tidak sedang tersenyum, ia menatap lurus ke arah kami, memperhatikan Seunggi Oppa. Melihat raut wajahnya membuatku akhirnya bisa bernafas lega. Semua ketegangan dan rasa gugup yang menyelimutiku langsung menghilang begitu saja. Terlebih lagi, itu berarti sekarang aku tidak sedang bermimpi. Jika ia masih tersenyum seperti tadi, mungkin aku masih akan mengira aku sedang bermimpi indah, tetapi pada kenyataannya, ini memang sebuah kejadian nyata.

Gereja dan Wu Yi Fan… Aku benar-benar seperti sedang bermimpi indah.
Sampai akhirnya aku mendengarkan kata-kata itu lagi. Kata-kata yang diucapkan Yi Fan padaku kedua kalinya, tetapi kali ini aku mendengarkannya dengan perasaan yang berbeda. Aku mendengarkan dengan perasaan yang sangat tidak bisa kujelaskan lagi. Aku terlalu bahagia sehingga aku mengeluarkan airmataku tepat saat Yi Fan selesai mengucapkannya dengan suara pelannya. Ia menatapku begitu dalam, sampai-sampai aku sendiri tidak berani menatapnya terlalu lama.

Kwon Eun Yoo, tetaplah tertidur kalau ini memang hanya mimpi indah, karena aku benar-benar tidak ingin kehilangan perasaan bahagia ini lagi.

^_______________^

kris wyff - Cutyfff - cut

“Intinya, aku iri sekali padamu. Mau menikah saja aku yang sibuk mengurusi ini itu, tetapi kau, kau tidak tahu apa-apa dan Ja-jjan! Kau menikah hari ini dengan rencana yang sangat sempurna.” kata Heejin dan tertawa pelan, kemudian ia menguap lagi.

“Kau lelah sekali ya? Lebih baik tidur saja. Besok masih bisa bercerita.” gumamku dan akhirnya Heejin hanya mengangguk pelan, kemudian matanya langsung terpejam. Ia tertidur begitu cepat.

“Annyeong.” bisikku dan berjalan pelan keluar dari kamar. Heejin sudah sangat mengantuk sekali, tetapi masih tetap memaksakan dirinya untuk mendengarkan ceritaku, terlebih lagi ia memang sangat lelah karena ternyata dia sudah ada di Vaughan beberapa hari bersama Seunggi Oppa, membantu Yi Fan menyiapkan segalanya. Yi Fan melakukannya sendirian, kadang bersama Nathan.

Aku kembali ke kamarku dan sebelumnya aku mendengar suara pelan di ruangan bawah. Yi Fan masih bersama Seunggi Oppa. Sebenarnya aku penasaran tentang apa yang mereka bicarakan, tetapi aku tidak ingin mengganggu privasi keduanya.

Aku merebahkan diriku di kasur dan memejamkan mataku. Aku ingin segera tertidur, agar saat Yi Fan masuk, aku sudah benar-benar tertidur pulas. Sejak tadi aku masih merasakan suatu perasaan aneh. Menurut Heejin, aku hanya terlalu kaget karena pernikahan ini, dan kurasa memang begitu. Aku masih belum terbiasa, karena aku sudah menjadi istrinya, bukan hanya pacarnya. Memikirkan itu membuatku ingin menepuk kepalaku sendiri, tetapi pada akhirnya aku hanya memiringkan badanku dan menarik bantal -yang seharusnya milik Yi Fan- untuk kupeluk. Aku tidak suka memeluk guling, dan Yi Fan jarang memakai bantal, jadi…

“Ahh. Aku bisa gila.” Suara Yi Fan terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka. Yi Fan memadamkan lampu kamar dan merebahkan tubuh besarnya di sampingku. Sejak Yi Fan memadamkan lampu kamar tadi, aku sudah kembali membuka mataku untuk melihatnya dalam gelap, hanya dengan sedikit bantuan sinar bulan yang terpancar lewat kaca jendela.

Yi Fan masih belum tahu kalau aku menatapnya, ia sibuk meluruskan otot-otot tubuhnya baru kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Aku selalu lupa melakukan itu dan malah sudah terbiasa membiarkan Yi Fan yang melakukannya.

“Tidak dingin apa yah.” gumamnya pelan dan aku langsung menutup mataku lagi.

“Bagaimana kau bisa tidur begitu nyenyak setelah apa yang kulakukan hari ini, nona?” bisiknya pelan dan aku bisa merasakan nafas hangatnya yang semakin mendekati wajahku.

“Dan sampai kapan kau akan berhenti memeluk guling, bukannya memelukku?” Yi Fan bertanya lagi, membuatku tersenyum tipis. Kali ini ia cemburu pada bantalnya sendiri.

Yi Fan menggerakkan badannya, mendekat dan mengelus lembut puncak kepalaku.

Aku sudah ingin sekali bertanya banyak hal padanya, tetapi aku masih penasaran dengan apa yang akan dilakukannya lagi. Apa yang membuatnya tidak bisa tidur seperti ini? Padahal aku yakin setiap harinya ia sangat lelah, apalagi mempersiapkan pernikahan sendirian. Itu benar-benar tidak mudah.

“Saranghae.” Suara bisikannya semakin pelan, namun begitu dekat.

“Terimakasih sudah memperlancar acara pernikahan tadi. Aku benar-benar bangga bisa menebak semua yang akan kau lakukan, Eun Yoo-ah…” lanjutnya dan mengecup puncak kepalaku, kemudian dahi, hidung, dan bibirku. Ia mengulum bibirku dan saat ia memperdalam ciumannya, aku akhirnya membalas ciumannya.

“Maaf membangunkanmu.” bisik Yi Fan dan menatapku lekat-lekat. Aku bisa melihat pupil matanya yang semakin melebar karena melihat dalam gelap.

“Tidak. Aku belum tidur daritadi. Aku berencana menunggumu.”

“Ha?” Yi Fan tertegun beberapa saat, sebelum akhirnya ia tertawa pelan.

“Jadi kau sudah dengar semuanya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil mengiyakan dengan pelan.

“Banyak yang ingin kutanyakan padamu.” kataku akhirnya.

“Dan kukembalikan bantalmu.” gumamku dan meletakkan bantal itu di dekat kepala Yi Fan.

“Yang tertinggal di mobil Nathan, bungkusan kecil itu, Cincin ini?” tanyaku dan Yi Fan mengiyakan dengan patuh. Sudah tidak ada gunanya lagi ia berbohong, cincin itu sudah ada di jari manisku sekarang.

“Beli di Toronto ya?” tanyaku lagi dan tanpa sadar mengelus pelan cincin yang tersematkan di jariku. Hanya cincin sederhana dengan beberapa berlian kecil di tengahnya.

“Ya…” jawabnya pelan, semakin membuatku merasa bersalah.

“Kenapa tidak mengatakan apapun tentang pernikahan? Aku bisa membantumu, kan?” tanyaku dan mencoba mendekat pada Yi Fan.

“Aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Anggap saja kejutan.” jelasnya dan aku bisa melihat senyuman manisnya.

“Sekarang, jadinya kau yang kelelahan, Yi Fan-ssi. Sudah lelah, tidak tidur cepat. Kenapa?” tanyaku, sedikit pura-pura galak, berharap ia akan menjawab pertanyaanku dengan serius.

“Tidak bisa tidur.” jawabnya singkat dan aku langsung menjauhkan tubuhku, tetapi Yi Fan menarikku lagi, membuatku semakin mendekat.

“Aku memang lelah dan mengantuk. Apalagi saat sedang mempersiapkan pernikahan, tetapi hebatnya aku tidak pernah bisa tidur meskipun aku ingin. Masalahnya aku lebih ingin menatapmu seperti ini, daripada tidur.”

Mendengar jawabannya, aku hanya bisa mengalihkan tatapanku ke arah lain, tetapi aku menatapnya lagi.

“Kau bisa menatapku saat pagi, atau siang atau malam sebelum tidur.”

“Aku suka melihatmu sepanjang hari.” jawabnya cepat dan aku semakin frustasi dibuatnya.

“Ada cara lain tidak? Aku tidak tega melihat kantung matamu yang semakin tebal.” keluhku lagi, sambil menyentuh kantung mata di wajahnya, aku berharap dia bisa mendengarkanku kali ini.

“Tidak ada.”

“Mari bertemu di dalam mimpi.” jawabku cepat dan langsung memejamkan mataku. Yi Fan tertawa pelan dan mengelus pelan pipiku.

“Sulit sekali mendapatkanmu di dalam mimpi, dan terimakasih sudah memilih aku daripada bantal.” katanya pelan, tepat di dekat telingaku, membuatku semakin mendekap padanya, aroma tubuhnya membuatku semakin mengantuk dan hampir terlelap dalam pelukannya.

BTP 12 copy

***************************

Aku tersenyum tipis menatap wajah di depanku. Wu Yi Fan.

Kalau dia menatapku malam hari, aku lebih suka menatapnya di pagi hari seperti sekarang ini. Aku sudah bangun setengah jam yang lalu, bahkan sudah mandi dan mengganti pakaianku, tetapi aku selalu kembali ke tempat tidur hanya untuk menatapnya beberapa saat seperti sekarang ini.

Terkadang aku masih penasaran dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Aku tidak pernah lagi menemukan buku tempat ia menulis seperti biasanya. Entah dia memang sudah tidak menulis lagi atau dia menyembunyikan bukunya, aku tidak tahu. Aku ingin sekali bertanya padanya, tetapi selalu tidak ada saat yang tepat untuk membahas itu.

“Annyeong.” bisikku pelan dan mengecup bibirnya sekilas kemudian keluar dari kamar.

Aku teringat pada Heejin yang semalam bercerita tentang sarapan yang ingin ia nikmati di Kanada. Steak dan Telur. Saat mendengar dua nama itu, aku hanya bisa terdiam bingung. Awalnya aku juga menyukai sarapan sesederhana itu, tetapi setelah beberapa saat aku mulai bosan, terlebih lagi aku memang tidak terbiasa sarapan pagi, jadi aku hanya mengabaikan pemikiran tentang sarapan dan tidak akan sarapan sama sekali. Selanjutnya Yi Fan akan selalu mengomeliku karena itu, selalu…

Setelah mengintip ke kamar Heejin, dan mendapatinya masih tidur, aku akhirnya turun ke dapur dan duluan menyeduh teh ke dalam teko untuk Yi Fan nanti. Baru kemudian aku menyiapkan bahan untuk membuat sarapan Yi Fan dan Heejin, lalu mulai memasak.

“Bukannya sudah bosan?” Suara Yi Fan membuatku langsung menoleh kaget.

“Sudah bangun?” tanyaku dan ia hanya mengangguk pelan sambil mencomot sirloin yang sudah selesai kukerjakan. Aku tinggal menggoreng telur saja.

“Untuk Heejin, dan untukmu…” jawabku sambil tetap menggerakkan tanganku, menggoreng telur dengan mentega.

“Dan untukmu apa?” tanya Yi Fan lagi. Aku hanya diam dan setelah 4 telur selesai, aku meletakkannya di dalam piring mereka masing-masing, kemudian aku hanya bisa tersenyum lebar pada Yi Fan, tidak tahu harus menjawab apa.

“Ya ampun, kau ini…” desah Yi Fan dan ikut memotong beberapa pieces buah alpukat dan meletakkannya ke dalam piring putih tadi. Sarapan pagi yang cukup sederhana itu selesai hanya dalam hitungan beberapa menit saja, dan aku benar-benar tidak berminat lagi, kecuali alpukatnya, aku masih bisa memakannya begitu saja, tetapi tidak kalau aku harus memakan sirloin.

“Wah!! Annyeong!!” Suara keras Heejin dari arah tangga membuat Yi Fan terperanjat kaget, sedangkan aku tertawa pelan menanggapi kerlingan matanya.

“Dia tidak bisa tenang sedikit ya?” bisik Yi Fan kesal sebelum Heejin sampai ke arah kami. Belum sempat aku berkata apa-apa, Heejin sudah muncul dan sekali lagi ia berteriak ketika melihat apa yang ada di dalam piring di hadapannya.

 Belum sempat aku berkata apa-apa, Heejin sudah muncul dan sekali lagi ia berteriak ketika melihat apa yang ada di dalam piring di hadapannya

“Wah! Eun Yoo-ssi. Kau memang terbaik!” kata Heejin senang dan membawa salah satu piring ke meja kayu bulat di samping counter dapur. Dia seperti sudah benar-benar tahu bagaimana posisi rumah ini. Ia bahkan menuangkan sendiri tehnya ke dalam cangkir yang memang sudah kuletakkan di atas meja bersamaan dengan teko tadi.

“Kenapa kalian hanya diam?” tanya Heejin sambil mengunyah makanannya.

“Maaf aku tidak akan sungkan, karena ada Eun Yoo di sini.” Heejin nyengir dan kemudian melanjutkan aktivitas mengunyahnya. Aku senang kalau dia memang suka sirloin itu.

“Makanlah.” kataku pada Yi Fan sambil menunjuk 1 piring yang masih tertinggal di atas counter dapur.

“Lalu kau makan apa?” tanya Yi Fan dan aku hanya menunjuk ke arah Heejin.

“Aku akan makan sedikit punya Heejin, atau mungkin punyamu. Ayo makan.” jawabku dan berjalan ke arah Heejin sambil membawa piring makanan Yi Fan.

“Tunggu sebentar.” Yi Fan menghela nafas dan dengan cepat ia mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas, ia bahkan mengeluarkan beberapa kentang yang kusimpan di bawah counter dan mengeluarkan tepung pati jagung dari dalam lemari. Aku merasa ia akan memasak sesuatu yang pernah kupelajari darinya, tetapi aku masih tidak yakin.

“Mau masak apa?” tanyaku sambil menatapnya lekat-lekat, memperhatikan setiap gerakannya yang begitu cepat, ia terlihat seperti seorang koki dari restoran mahal, sudah beberapa kali aku melihatnya seperti ini, tetapi aku tidak pernah tidak merasa takjub padanya.

“Poutine.” jawabnya singkat dan mulai menyiapkan Gravy untuk dicampurkan nanti.

“Poutine?!” Heejin memekik kaget.

“Dia bisa masak ya? Astaga… Poutine ya? Kudengar itu sangat terkenal di sini. Kenapa aku tidak dimasakkan itu saja?” tanya Heejin dan memanyunkan bibirnya.

 Kenapa aku tidak dimasakkan itu saja?" tanya Heejin dan memanyunkan bibirnya

“Aku masih belajar, Heejin-ah… Aku tidak berani memasak apapun untukmu.” jawabku dan membuat Heejin tertawa keras. Lagi-lagi Yi Fan mendengus pelan karena suara keras Heejin, tetapi Heejin sama sekali tidak mendengar adanya suara dengusan Yi Fan itu.

“Ya! Miss Kris. Kau memang harus belajar banyak di sini. Jangan hanya bisa memasak makanan Jepang dan Korea saja. Membosankan.” oceh Heejin lagi dan aku hanya bisa menepuk pelan bahunya, kesal.

“Oh! Astaga! Aku teringat sesuatu…” kata Heejin, ia terlihat kaget, sehingga Yi Fan juga ikut menoleh karena kaget mendengar ucapan Heejin.

“Aku yakin kalian tidak melakukan apapun semalam. Benarkan? Kalian bangun cukup pagi bahkan masih memasak sarapan seperti ini. Kalian memang…”

“Heejin-ah. Habiskan saja sirloin-mu!” potongku dan menunjuk sirloin yang masih tersisa beberapa potong di dalam piring Heejin. Heejin hanya tertawa pelan, ia bahkan terkikik sambil menoleh ke arah Yi Fan sekilas, kemudian menatapku, kemudian tertawa pelan lagi.

Aku melirik sekilas ke arah Yi Fan, ia sedang menggeleng-geleng pelan sambil menggoreng kentang yang sudah dipotong memanjang.

“Mau kubantu?” tanyaku sambil mengintip isi frypan nya.

“Tidak. Temani saja Heejinmu.” jawab Yi Fan sambil mengaduk kentang yang masih digorengnya.

“Dia marah?” bisik Heejin pelan, sepelan-pelannya sampai Yi Fan tidak bisa mendengarkannya lagi.

“Seharusnya tidak. Kau harus kurangi ucapan anehmu, jangan bicara terlalu keras. Dia ternyata teman Min Seok loh.” Aku mengingatkan Heejin dengan serius, tidak benar-benar serius, tetapi aku ingin ia menanggapiku dengan serius, kali ini.

“Ha?! Bagaimana bisa? Lalu kenapa? tanya Heejin lagi, suaranya mulai meninggi. Heejin tidak akan bisa berbisik-bisik terlalu lama, karenanya suaranya akan semakin meninggi, apapun yang terjadi, apapun yang sedang menjadi pembahasannya.

“Eun Yoo-ah. Kemari sebentar.” Yi Fan berkacak pinggang dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi sedang memegang spatula sambil memanggilku dengan spatulanya.

“Wah. Sudah mau selesai ya.” gumamku saat sudah berada di dekat Yi Fan.

“Aku merasa hambar, tetapi kau coba saja dulu.” katanya dan meletakkan sedikit Gravy pada telapak tangannya untuk kucicipi.

“Sudah kok,” jawabku dan mengerutkan keningku bingung.

“Apanya yang hambar?” tanyaku lagi saat Yi Fan ikut mengerutkan keningnya.

“Baiklah kalau sudah.” Yi Fan menjilat telapak tangannya dan mengusirku dari dapur dengan gerakan tangannya lagi.

“Kalian tidak bisa lebih romantis lagi ya?” omel Heejin, ia memasang wajah kesal.

“Tentu saja bisa.” jawab Yi Fan pelan sambil tetap sibuk dengan Poutinenya yang sudah hampir selesai. Ia sedang menaburkan sedikit lada hitam di atas Poutine itu dan selesai.

Aku yang tidak lapar mendadak merasa lapar, tidak sabar untuk menikmati Poutine buatannya lagi. Aku langsung membawa Poutine itu ke atas meja dan menarik Yi Fan untuk duduk dan makan bersamaku.

"Kau harus selalu sarapan

“Kau harus selalu sarapan. Okay?” desak Yi Fan sambil menatapku lekat-lekat setelah ia meneguk satu cangkir tehnya sampai habis.

“Yes, sir.” jawabku ringan dan mengunyah beberapa potong kentang yang kujepit menjadi satu dengan sumpit. Aku masih memakai sumpit, dan itu membuatku merasa aneh, tetapi aku tidak bisa lagi menghilangkan kebiasaan itu.

“Percuma saja makananmu khas Kanada, tetapi masih memakai sumpit.” oceh Hee Jin dan aku hanya tertawa malu.

“Quebec.” kata Yi Fan pelan, membuat Hee Jin mengerutkan keningnya.

“Apanya?”

“Poutine ini khas Quebec.” jelas Yi Fan dan Hee Jin mengerlingkan matanya.

“Yi Fan-ssi? Quebec itu bagian dari Kanada kan? Jadi bagiku sama saja.” balas Heejin dan Yi Fan hanya diam menatapnya.

“Maafkan dia ya. Dia memang kadang-kadang cerewet.” bisikku pada Yi Fan. Yi Fan hanya tersenyum tipis dan mengecup sekilas bibirku, di hadapan Hee Jin.

“Ya!” Hee Jin membulatkan matanya kesal.

“Salah sendiri tidak mengajak Min Seok.” kata Yi Fan dan Hee Jin mempelototinya.

“Wah. Kalian benar-benar saling mengenal ya.” gumam Hee Jin pasrah. Ia yakin Min Seok sudah menghubungi Yi Fan setelah ia diam-diam meninggalkan Seoul tanpa mengatakan apapun pada Min Seok. Hee Jin ini benar-benar parah sekali.

“Lalu… Kapan kalian akan bulan madu? Ke mana?” tanya Hee Jin setelah kami hanya diam beberapa saat sambil menikmati Poutine buatan Yi Fan, dan itu benar-benar lezat!

“Ini kami memang sedang berbulan madu.” jawab Yi Fan enteng, membuatku langsung menoleh ke arahnya.

“Bulan madu apanya? Kalian kan memang tinggal di sini!”

“Kau tidak tahu ya? Kami kan sudah lama menikah di Seoul, dan bulan madunya tentu saja di Kanada, lalu Vaughan. Mau ke mana lagi?” jawab Yi Fan santai dan aku menahan tawaku melihat wajah kesal Hee Jin.

“Kau bercanda ya? Kau bisa bercanda? Astagaa!” Hee Jin menahan teriakannya dan memilih meneguk sedikit tehnya.

“Aku serius. Kau tidak cerita padanya ya?” tanya Yi Fan dan menatapku lekat-lekat. Aku merasakan mataku membulat karena bingung. Aku sepertinya memang tidak menceritakan bagian itu pada Hee Jin. Aku bahkan tidak tahu itu dianggap sudah menikah.

“Kami sudah menikah bahkan sebelum orang tua kami menikah. Yang kemarin itu hanya resminya saja.” jawab Yi Fan lagi. Ia terlihat tanpa ekspresi, tetapi aku yakin ia sedang menjahili Hee Jin.

“Sudah menikah, tidak melakukan apapun, hanya berciuman. Menikah anak TK ya? Anak TK saja sudah tahu cara berciuman! Yang benar saja sih!” omel Hee Jin tidak mau kalah. Kata-katanya cukup menusuk sampai-sampai aku sendiri ingin memukul mulut tajamnya itu.

“Kami melakukannya atau tidak, kau tentu tidak tahukan? Bisa saja Eun Yoo memang tidak mengatakannya padamu. Itu sangat pribadi sekali, tahu?!” balas Yi Fan kesal dan Hee Jin langsung memicingkan matanya kearahku.

“Aku tidak ingin masuk ke dalam perdebatan kalian.” jawabku malas dan hanya terus mengunyah daging ayam dari Gravy tadi.

“Aku tidak mau Beef.” bisikku pada Yi Fan pelan.

“Iya, memang untukku kok.” jawabnya, berbisik juga.

“Berbisik apa sih?” tanya Hee Jin dan aku hanya tertawa pelan.

“Kami membicarakanmu. Kau ada di sini, jadi kami tidak bisa melakukannya dengan tenang.” jawaban Yi Fan membuat Hee Jin terdiam untuk beberapa saat.

“Kau mengusirku?!” Hee Jin berteriak, tetapi ia juga sedang menahan tawanya sambil melirik ke arahku.

Aku langsung menunduk begitu saja, wajahku memanas mendengar ucapan Yi Fan barusan.

“Tentu saja. Lagipula Min Seok sudah tidak bisa menunggumu lagi. Dia akan kemari kalau kau belum pulang. Aku tidak ingin kalian mengganggu kami nanti.” jawab Yi Fan lagi dan kali ini Hee Jin benar-benar terdiam. Pikirannya mulai menghilang dari kami, dan ia terlihat merasa bersalah, kemudian Hee Jin meraih ponselnya, kurasa ia akhirnya akan menghubungi Min Seok.

“Kau serius?” tanyaku pelan. Yi Fan hanya mengangguk dan mendekatkan wajahnya.

“Tadinya sih tidak, tetapi sepertinya aku berubah pikiran. Sekarang aku benar-benar serius.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas, dan sedikit menjilati sisa Gravy yang tertinggal di dekat bibirku.

Astaga…

“Go get a room!” Umpatan pelan Heejin membuat kami tertawa pelan, dan aku menyadari ekspresi wajah Heejin yang sudah berubah lagi.

“We have one. Upstairs.” jawab Yi Fan dan Heejin mendengus kesal sambil meneguk habis tehnya, kemudian ia membawa piringnya ke counter dapur untuk dicuci.

“Heejin-ah. Biar aku saja yang cuci.” sahutku dan Heejin menggeleng-geleng.

“Tidak apa. Kau yang masak, aku yang cuci.” jawabnya sambil tertawa pelan. Aku hanya mengangguk pelan dan melanjutkan makanku sambil mendengarkan Yi Fan yang mulai bercerita tentang salah satu novel Asia yang sedang ia terjemahkan, katanya karakter utama wanitanya memiliki sifat yang mirip dengan Heejin.

NB:
Poutine: Cemilan khas Quebec dari kentang goreng dan dilapisi dengan dadih keju, dan Gravy.
Gravy:  Saus daging (bisa sapi atau ayam) yang dibuat dengan tepung jagung, kaldu ayam/kaldu sapi serta bahan-bahan lainnya.

*************************

>>Author’s pov

Eun Yoo membuka pelan pintu rumah dan sedikit berjalan sambil menjinjitkan kakinya. Ia sudah pulang terlalu larut malam, bahkan saat setengah jam yang lalu, ia menelepon Yi Fan, pria itu sudah hampir tertidur. Eun Yoo bahkan punya firasat kalau Yi Fan pasti sudah tidur nyenyak sekarang.

Semua ini berkat Heejin. Untuk pertama kalinya, di Kanada, Eun Yoo keluar rumah tanpa Yi Fan. Hanya bersama Heejin dan Nathan. Hari ini, Nathanlah yang membawa Eun Yoo dan Heejin jalan-jalan di Toronto. Sejak satu jam setelah Heejin menghubungi Minseok, dia langsung memutuskan untuk kembali ke Seoul, penerbangan pesawat paling terakhir hari ini. Karena Heejin ingin melihat-lihat Toronto dulu, Eun Yoo terpaksa harus menemaninya seharian bersama Nathan, sedangkan Yi Fan terpaksa harus membiarkan Eun Yoo tanpanya kali ini, karena Yi Fan sendiri masih ada banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, jadi yah inilah yang terjadi…

Eun Yoo menaiki tangga masih dengan berjinjit pelan, ia benar-benar takut membuat suara kerat pada anak tangga, takut kalau-kalau suara itu bisa membangunkan Yi Fan, karena sebenarnya Eun Yoo yakin kali ini Yi Fan bisa tidur dengan baik karena gadis itu, istrinya sedang tidak ada.

Perlahan Eun Yoo membuka pintu kamar dan mengintip dulu sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari pakaiannya dengan perlahan dan mengambil baju gantinya, kemudian keluar dari kamar, ia menggunakan kamar mandi yang ada di luar kamar.

Saat Eun Yoo kembali ke kamar lagi, posisi tidur Yi Fan sudah tidak sama seperti tadi saat ia masuk.

Eun Yoo berjalan mendekat dan hanya menatap wajah Yi Fan sambil tersenyum tipis. Dia benar-benar tidur nyenyak kali ini.

“Annyeong. Maaf meninggalkanmu.” bisik Eun Yoo setelah akhirnya berhasil naik ke atas tempat tidur dengan perlahan. Eun Yoo tidak yakin Yi Fan akan bisa tidur dengan nyenyak seperti ini lagi kalau sampai Eun Yoo tanpa sengaja membangunkannya.

Eun Yoo tersenyum lagi karena wajah Yi Fan yang begitu polos saat sedang tidur. Karena Eun Yoo sama sekali belum mengantuk, ia yakin bisa menatap wajah Yi Fan seperti itu sampai pagi… atau mungkin sampai ia tertidur…

“Jalja.” bisiknya pelan dan mengecup bibir Yi Fan sekilas, kemudian menatap Yi Fan lagi, lebih dekat.

Eun Yoo ingin sekali memeluknya sekarang ini, tetapi ia pasti akan membangunkan Yi Fan, sehingga ia hanya tidur sambil memeluk bantal Yi Fan yang tidak digunakan itu. ‘Kali ini ia tidak tahu kalau aku memeluk bantalnya lagi kan? Kalaupun dia mengomeliku lagi, aku sudah tahu harus menjawab apa…’ pikir Eun Yoo sambil tersenyum tipis begitu membayangkan Yi Fan yang akan mengomelinya lagi.

Yi Fan mendadak mengubah posisi tidurnya menghadap Eun Yoo, membuatnya terbelak kaget dan semakin tidak merasa mengantuk, kalau tadi Eun Yoo hanya bisa menatap sisi wajahnya, sekarang ia bisa menatap seluruh wajahnya dengan sangat dekat.

Baru saja Eun Yoo ingin menjauhkan wajahnya, Yi Fan perlahan membuka matanya, membuat Eun Yoo buru-buru memejamkan matanya, juga menahan debaran jantungnya yang semakin kencang seketika itu juga.

Terkadang, Eun Yoo merasa kesal pada dirinya sendiri. Tentu saja karena ia sudah menikah dan masih seperti ini, seperti baru pertama kali pacaran dan pertama kali tidur bersama dengan pria yang sudah menjadi suaminya ini. Jantungnya benar-benar tidak bisa berdegup dengan tenang seperti biasanya, benar-benar debaran seperti waktu pertama kali ia bertemu dengan Yi Fan, debaran yang masih sama dan semakin ia memikirkannya, debaran itu semakin membuat tubuhnya terasa lemas.

“Kau tidak lelah?” Pertanyaan Yi Fan membuat kaki Eun Yoo semakin terasa lemas. Eun Yoo yakin Yi Fan sudah tahu kalau ia tidak sedang tidur, karena Yi Fan selalu bisa membedakan Eun Yoo yang sedang benar-benar tidur, atau Eun Yoo yang hanya memejamkan matanya, tetapi tidak tidur sama sekali.

“Tidak begitu lelah.” jawab Eun Yoo pelan sambil tersenyum tipis.

“Aku membangunkanmu? Maaf…” gumamnya pelan dan Yi Fan menggeleng.

“Tidak. Memang sudah saatnya aku bangun.” Yi Fan menjawab singkat dan mendekatkan wajahnya pada Eun Yoo kemudian mengecup bibir mungil milik Eun Yoo, sekilas.

“Kenapa?” tanya Eun Yoo dan Yi Fan hanya tersenyum sambil menatap sekilas bantal yang sedang Eun Yoo peluk.
“Kenapa memeluk bantalku lagi?” tanyanya, sedikit terlihat kesal.

“Aku tidak ingin membangunkanmu.” Eun Yoo menjawab sejujurnya dan berhasil membuat Yi Fan mendengus pelan. Ia menarik bantal yang sedang dipeluk Eun Yoo dan melemparkannya begitu saja.

“Jangan sampai bantal itu kubuang.” bisiknya sebelum mengulum lembut bibir Eun Yoo.

“Kalau bisa jangan.” bisik Eun Yoo setelah Yi Fan menjauhkan bibirnya.

“Kenapa?”

“Aku menganggap bantal itu adalah kau. Kau dan bantalmu punya aroma yang sama. Jadi, kalau kau tidak sedang bersamaku…”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Yi Fan memotong ucapan Eun Yoo dengan cepat dan memanyunkan bibirnya. Eun Yoo ikut memanyunkan bibirnya dan mengerutkan hidungnya juga.

“Yang benar?” tanyanya, sedikit menggoda Yi Fan, ia penasaran apa jawaban yang akan diberikan Yi Fan selanjutnya, karena Yi Fan pasti akan meninggalkannya beberapa kali untuk pekerjaannya.

Yi Fan tidak menjawab, tetapi mendekatkan wajahnya pada Eun Yoo lagi. Eun Yoo bahkan sudah bisa mendengar suara nafas Yi Fan.

“Aku akan berusaha.” jawab Yi Fan akhirnya dan berhasil membuat istrinya tersenyum lebar. Entah kenapa jawaban sederhana Yi Fan dapat membuat Eun Yoo merasa sangat bahagia, membuat jantungnya kembali berdebar kencang, padahal ia sudah bisa menenangkan jantungnya beberapa detik yang lalu. Terlebih lagi saat Yi Fan menatapnya lekat-lekat, tatapan yang entah berarti apa, berhasil membuat Eun Yoo merasakan panas yang luar biasa di wajahnya.

“Kau ingat yang kukatakan tadi pagi?” tanyanya dan mengulum bibir Eun Yoo lagi, kali ini lebih lembut, ia bahkan menempelkan tubuhnya pada tubuh Eun Yoo.

Eun Yoo kembali mendapati dirinya berdebar begitu kencang, begitu juga dengan Yi Fan.

Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Eun Yoo masih belum menjawab pertanyaan terakhir Yi Fan tadi, meskipun Yi Fan yakin Eun Yoo masih mengingatnya, tetapi ia tetap menunggu jawaban Eun Yoo sambil terus mengelus pipi Eun Yoo.

“Oh, aku masih ingat kok.” Eun Yoo menjawab pertanyaan Yi Fan beberapa saat kemudian, ia hampir tidak bisa mengatakan apapun sekarang, karena rasa panas di wajahnya tadi mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, debaran jantungnya yang begitu kencang membuatnya tidak bisa memikirkan apapun lagi.

Yi Fan tersenyum tipis dan kembali mengulum bibir Eun Yoo. Ia bisa merasakan debaran jantungnya yang semakin kencang ketika ia akhirnya beranjak dari tidurnya dan berada dia atas Eun Yoo. Saat ia kembali mengulum bibir manis itu, pemiliknya merangkul pundak Yi Fan dengan erat dan membalas kuluman bibir Yi Fan, seketika itu Yi Fan yakin, ia tidak akan ditolak lagi seperti apa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, pada masa-masa tersulit yang harus mereka lalui. Membuatnya tidak berani melakukan apapun pada Eun Yoo sebelum ia yakin kalau Eun Yoo memang sudah siap, seperti hari ini.

Yi Fan perlahan berpindah pada leher Eun Yoo, dan tanpa sadar ciumannya berhasil membuat Eun Yoo mengerang pelan, erangan yang sudah lama ingin didengar Yi Fan, tetapi ia memilih menghentikan ciumannya.

“Maaf.” Eun Yoo hanya tersenyum tipis mendengar bisikan pelan Yi Fan, ia sungguh tidak tahu kenapa Yi Fan meminta maaf, ia bahkan tidak sadar telah mengerang dan membuat Yi Fan menghentikan aktivitasnya.

“Kau tidak perlu meminta maaf.” jawab Eun Yoo akhirnya setelah Yi Fan kembali menempelkan tubuhnya, tetapi kemudian Yi Fan menjauhkan tubuhnya lagi, dan hanya menatap Eun Yoo lekat-lekat.

“Kau tidak akan memberi tahu Heejin kan?” Pertanyaan Yi Fan membuat Eun Yoo tertawa pelan dan langsung menggeleng cepat. Tentu saja ia tidak akan mengatakannya pada Heejin, karena memang tidak semua ingin ia ceritakan pada Heejin, ia ingin mengetahuinya sebagai rahasia mereka sendiri.

“Tidak semua harus kuceritakan.” jawab Eun Yoo dan membuat Yi Fan tertawa, kemudian Yi Fan pun melepaskan kaos putih yang ia kenakan dan tersenyum lega. Ia semakin lega setelah melihat senyuman Eun Yoo dan sekali lagi ia bersumpah pada dirinya sendiri, ia tidak akan menyakiti Eun Yoo, ia akan melakukannya dengan pelan dan lembut.

“Sepertinya malam ini kita akan sama-sama terjaga.” bisik Yi Fan sambil perlahan membuka kancing piyama yang dikenakan Eun Yoo, kemudian mengulum bibirnya lagi.

“Tunggu,” Eun Yoo sengaja menahan tangan Yi Fan, membuat Yi Fan menatapnya lekat-lekat.

“Kalau aku boleh tahu, apa kau masih menulis atau mencorat-coret bukumu?” tanyanya dan Yi Fan tertawa pelan, kemudian ia menggeleng sambil menatap Eun Yoo dengan tatapan lembutnya.

“Aku akan langsung mengatakan semua yang kupikirkan padamu. Aku akan menjadikanmu buku tulisku. Bagaimana?”

“Tentu saja, aku sudah penasaran.”

“Baiklah. Halaman pertama…” bisik Yi Fan dan mengecup bibir Eun Yoo sekilas.

“Aku tahu kau menatapku setiap pagi, dan itu membuatku sangat senang.” lanjut Yi Fan dan membuat Eun Yoo tertawa malu, terlebih lagi saat Yi Fan sudah bisa menatap tubuh polosnya, meskipun dalam keadaan gelap, Eun Yoo tetap merasa malu dan seluruh tubuhnya kembali memanas.

“Kalau kau merasa sedikit sakit, percayalah aku tidak sengaja menyakitimu.” bisik Yi Fan dan mengecup pelan daun telinga Eun Yoo.

“Aku bisa menahannya.” jawaban pelan Eun Yoo membuat Yi Fan merasa gemas dan mengulum bibirnya, tangannya terus mengelus dada Eun Yoo dan terus memainkan lidahnya di dalam.

Pergerakan yang begitu pelan dan lembut itu terus berlangsung sampai akhirnya tubuh mereka benar-benar bersatu, seperti apa yang sudah dinantikan Yi Fan selama ini, bahkan Eun Yoo kadang menunggu hari seperti ini tiba. Ia tidak menyangka semuanya akan berjalan dengan begitu pelan dan lembut, tetapi juga sangat mendebarkan sehingga ia bahkan tidak bisa bernafas dengan teratur, begitu juga dengan Yi Fan.

.

.

.

.

.

.

.

THE END.

FINALLY TAMAT!!! *setelah bertahun-tahun ON GOING. LOL*

Maaf kalau kecewa dengan NC scene nya.

Ini udah ditulis semampuku, karena entah kenapa sekarang aku jadi susah banget mau nulis bagian NC, yang anak-anak sekarang bilangnya ‘nae ena’ . LOLss

Aku memang dari dulu gak jago nulis NC sih, yang di atas bisa selesai aja mesti lewatin perjuangan satu-dua bulan buat mikir dan cari referensi, i’m so suck at it. Hiks Hiks.

Belum lagi mendadak diserang Author’s Block di bagian END SCENE itu, jadinya aku mencoba beralih ke author’s pov dan begitulah jadinya.

Maaf kalau mengecewakan.

Thanks buat yang sudah baca dan suka FF ini sampai akhir.

BONUS. Kris Wu minggu lalu keren banget di premiere film Valerian.
Jangan lupa nonton yah di bioskop kotamu kalau sudah keluar!
Haahahha

Jangan lupa nonton yah di bioskop kotamu kalau sudah keluar!Haahahha

Untuk NEXT.

Aku sepertinya mau post FF Kai yang sudah dari tahun 2015, sampai sekarang masih on going dan belum dipublish.
Anggap saja ini dalam rangka EXO comeback, lalu ada namaku di dalam albumnya.
(red: The Eve). HEHEHEHHEHE

Ada yang mau? VOMMENT !!

THANK YOU ALL!

-Eve RyLin

Advertisements

3 thoughts on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 12 – END]

  1. FINALLYYYYY KAK EVEEE. Aku udah nunggu dari sekitar 2 tahun lalu. Astabah akhirnya end ugha. Sempet terlupakan sebelumnya (sorry). Tapi kok tadi malem inget FanYoo, sapa tahu udah dilanjut.
    Dan ekspektasi berbuah manggissss. Udah end dan memuaskan sekali endingnya. Suer kekewerrrr kak Eve sukses obrak/ik hati dedekkk.
    Tapi penasaran sama keluarga mereka. Bikin ekstra part POV Yi Fan full atuh Kak. Kepo nih gimana Eun Yoo di mata Yi Fan gege.
    Semangad terus Kak Eve. Daku tunggu karya kaka selanjutnya😍😍

    1. Hello! Astaga, aku kaget masih ada yg baca dan komen FF ini di blog ini.
      Ini kamu orang pertama yg komen paling panjana utk FF ini.
      Senang banget aku. Wkwkwkkwkw
      Thanks bgt masih mau baca FF yang sudah lama bgt ini.
      Hahahaha

      dan utk info juga, aku skrg ada post ff di wattpad. Kkkkkkkkk

      Kalau mau contact aku bisa lwt chat aku yah.
      Pilih salah satu di contact aku di link ini: https://everylin.wordpress.com/find-me/

      Thanks you!!

      1. Aku kan fans setia Kak Eve. Dari jama Thats XX awal2 tuh ampe ini, aku selalu nunggu kelanjutannya.

        Aku udah follow akun kakak yey, udah komen juga. Ituh a.n Yoon-Ni, yang komennya ceriwit😂
        Habisnya ga bisa diem kalo baca karya kaka. Selalu gemez sendiri saya Yi Fan ganteng.

        Duh kaka, ayo berkarya lagi. Yang banyak. Suka banget sama karya kaka. Diksinya ituh pas. Apalagi penjelasan tentang Kanada sana, bikin mupeng ke sana😍

        Ka, aku serius inih. Aku req extra part YiFan POV lohh. Dipertimbangin ya kaka.

        Laff laff kaka Eve😍😍❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s