PART 11 is here.
Sorry kelamaan, aku terlalu fokus di wattpad. wkwkkw

Happy reading !

Aku menatap lekat-lekat wajah di hadapanku yang entah sejak kapan terus membuatku ingin menatapnya setiap hari seperti ini. Aku merasa Yi Fan tidak tidur dengan tenang, ia mengerutkan dahinya, terlihat seperti sedang berpikir di dalam tidur. Sedangkan aku terbangun beberapa menit yang lalu karena suara hujan deras disertai suara petir beberapa kali. Aku bahkan bisa melihat kilat halilintar dari jendela di depanku, meskipun sudah ditutupi dengan kain gorden, aku masih bisa melihat kilat yang terus menyambar di dalam kegelapan malam itu.

Aku menatap Yi Fan lagi, ia semakin mengerutkan wajahnya, ia benar-benar terlihat lelah, membuatku tanpa sadar mengelus lembut wajahnya dan dahinya yang mengerut dari tadi.

“Mianhae.” bisikku pelan, sangat pelan sampai aku sendiri tidak mendengar jelas apa yang kubisikkan tadi, terlebih lagi suara hujan di luar masih begitu keras. Aku tidak ingin membangunkannya dulu, aku masih ingin melihat wajah tidurnya, meskipun bukan wajah tenang seperti biasanya.

“Hmm.” Aku buru-buru memejamkan mataku lagi saat tangan Yi Fan kembali mendekap tubuhku. Ini pertanda beberapa saat lagi Yi Fan akan terbangun. Yi Fan bergumam tidak jelas dan sesaat kemudian, dekapannya merenggang, aku kembali membuka mataku dan menatapnya. Ia sepertinya benar-benar kelelahan, tetapi kali ini wajahnya sudah terlihat tenang, ia tidak mengerutkan wajahnya lagi, membuatku tersenyum lega.

Aku mengecup pipinya sekilas dan melepaskan dekapannya. Aku yakin tangannya pasti sudah sakit karena terus mendekapku dari tadi malam.

“Mianhae.” kataku lagi dan mengecup bibirnya. Aku menjauhkan wajahku saat Yi Fan balas mengecup bibirku, tetapi ia kembali mendekatkan wajahku dan mengulum lembut bibirku setelah membisikkan kata ‘Selamat Pagi’ dalam bahasa Mandarin.

“Kenapa tidak membangunkanku?” tanyanya dan aku tanpa sadar langsung membalikkan tubuhku, memunggunginya. Aku masih merasa malu mengingat semalam aku menangis lagi di hadapannya.

“Kenapa?” tanya Yi Fan setelah tertawa pelan karena aku membalikkan badanku dengan cepat.

“Sepertinya dari tadi kau menatapku, kenapa sekarang berbalik?” tanyanya lagi dan memelukku dari belakang, dan menempelkan bibirnya di puncak kepalaku, mengecupku sekilas.

“Tidak apa-apa.” jawabku akhirnya.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya Yi Fan dan mempererat pelukannya, menghilangkan jarak di antara kami. Aku hanya mengangguk dan Yi Fan berdeham.

“Masa?” Yi Fan mencoba mendekatkan wajahnya, tetapi aku langsung menutup wajahku dengan tangan dan membuatnya tertawa lagi.

“Jangan tertawa.” keluhku dan Yi Fan menahan tawanya.

“Baiklah. Aku akan beritahu satu hal…” gumamnya sambil menjauhkan rambut dari wajahku.

“Dua tahun lalu, di Air Canada Centre itu…” Yi Fan berkata pelan, kemudian terdiam lagi. Sekarang aku ingin sekali melihat wajahnya.

“Kenapa?” tanyaku saat Yi Fan sama sekali belum melanjutkan ucapannya. Aku mengingat kembali suasana Air Canada Centre saat itu. Aku tiba di court itu beberapa menit sebelum Pertandingan NBA dimulai. Aku hanya sempat menatap beberapa orang saat itu, karena masih belum terlalu ramai, saat kursi penonton mulai penuh, aku sudah tidak berani lagi menatap siapapun, hanya sesekali fokus pada pertandingan yang berjalan sangat seru, serta komentator yang tidak berhenti bicara.

“Sepertinya aku duduk agak jauh di belakangmu.” lanjut Yi Fan dan membuatku hampir menoleh, kali ini Yi Fan yang menahanku untuk tidak menoleh. Aku mengernyitkan dahiku, merasa menyesal entah kenapa, tetapi rasanya itu bukan apa yang ingin kudengar.

“Aku merasa orang itu sangat mirip denganmu. Saat aku terus memperhatikan orang itu, Nathan memaksaku untuk tetap fokus pada pertandingan, ia tidak percaya waktu aku bilang orang di depan itu adalah kau. Jadi akhirnya aku juga kembali fokus pada pertandingan, sambil sesekali memperhatikan orang itu, aku hanya ingin mencoba untuk tidak peduli. Orang itu lebih banyak menunduk, jadi aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya, terlebih lagi orang itu duduk agak jauh,”

“Saat pertandingan selesai, aku menunggu orang itu berdiri dan berjalan keluar, tetapi karena Nathan harus kembali bekerja, kami akhirnya pulang duluan. Aku benar-benar menyesal sudah mengabaikan saat-saat itu,”

“Kau tahu? Jantungku berdebar tidak karuan setiap melihat orang itu, meskipun hanya dari belakang.”

“Ohh…” Hatiku terasa mencelos mendengar penuturannya yang begitu lengkap.

“Aku tiba-tiba ingat ada dua orang pria berlarian ke arah pintu keluar. Apa itu kalian?” tanyaku ragu dan Yi Fan mengumpat pelan. Aku pun rasanya ingin mengumpat sedikit, andai saja waktu itu aku menoleh sekali saja ke belakang, dan andai saja dulu, sebelum aku mengenalnya, aku menoleh ke belakang, aku pasti bisa lebih lama bersamanya. Penyesalan selalu datang terlambat untukku.

“Kita sudah bersama sekarang.” jawab Yi Fan dan mengecup puncak kepalaku lagi. Aku yakin aku mengucapkan apa yang kupikirkan tadi, karena belakangan aku selalu berpikir sambil mengucapkan apa yang sedang kupikirkan.

“Kau tidak tidur ya semalam?” tanyaku setelah membalikkan badanku, kembali menatap Yi Fan. Wajahnya masih terlihat lelah.

“Tidur, tetapi susah sekali.” jawabnya dan tersenyum lebar karena aku sudah mau menatapnya.

“Kau mau tidur lagi? Kau terlihat lelah.”
“Kau juga,” jawabnya dan menepuk pelan pipiku.

“Oh ya. Semalam aku teringat sesuatu. Mau ke Toronto?” tanyanya dan aku hanya menatapnya dalam diam.

“Kenapa?”

“Ada yang ingin kulakukan.”
“Apa?”
“Beberapa hal…”
“Masih hujan.” elakku dan Yi Fan tertawa pelan.

“Aku tahu, miss. Aku tidak bilang sekarang. Aku masih ingin seperti ini denganmu.” jawabnya dan tanpa sadar aku tersipu malu. Yi Fan mendekatkan wajahnya lagi.

“Banyak yang harus kita lakukan nanti, jadi sekarang lebih baik kita tidur lagi. Langit masih gelap kan?”

Aku hanya mengangguk pelan dan duluan memejamkan mataku karena entah mengapa sekelabat ingatan dua tahun lalu di Toronto kembali mengusikku, dan benar-benar sangat menyakitkan.

“Jangan dipikirkan lagi.” bisiknya dan mengulum bibirku dengan lembut sampai akhirnya ingatan itu menghilang dari benakku dan aku bisa tertidur lagi, kali ini dengan tenang. Kuharap Yi Fan juga tidak mengerutkan wajahnya lagi dan bisa tidur dengan tenang juga.

******************

“Pernah pacaran lagi?” Pertanyaan itu mengalir begitu saja keluar dari mulutku. Aku saja merasa terkejut menyadari akhirnya aku menanyakan salah satu dari beberapa hal yang membuatku penasaran tentangnya, selama dia meninggalkan Korea.

Yi Fan yang sedang mengemudikan mobilnya di jalanan Vaughan, menoleh ke arahku, menatapku skeptis. Aku hanya menoleh sekilas dan menatap ke arah depan lagi.

“Tidak ada pertanyaan yang lebih baik lagi?” tanyanya balik dan aku tersenyum tipis, merasa puas dengan pertanyaanku yang sepertinya membuat Yi Fan bingung.

“Itu pertanyaan bagus.” jawabku dan menoleh sekilas lagi.

“Sama sekali tidak.” jawabnya dan aku hanya diam. Aku memikirkan kembali, apa aku harus menanyakannya lagi atau tidak, aku merasa pertanyaan itu sebenarnya tidak boleh kutanyakan karena aku sendiri tidak yakin bisa sanggup mendengar jawabannya. Aku punya sedikit firasat buruk.

Pada akhirnya aku tetap diam, begitu juga dengan Yi Fan, dia hanya fokus mengemudi dan mendengarkan musik yang diputar dari mobilnya.

Mobilnya, yap, memang mobilnya. Awalnya aku mengira kami akan ke Toronto bersama Nathan lagi, tetapi Yi Fan menolak tawaran Nathan dan mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Mobilnya yang kutumpangi sekarang terlihat masih sangat baru, seperti jarang digunakan, atau bahkan seperti baru dibeli beberapa hari yang lalu.

Menurut percakapan yang kudengar dari Nathan dan Yi Fan beberapa menit lalu, sepertinya Yi Fan memang jarang menggunakan mobilnya. Ia lebih banyak menumpang mobil Nathan, atau bahkan tidak keluar rumah sama sekali. Melihat Yi Fan mengeluarkan mobilnya dari garasi mobil, Nathan sangat terkejut dan terus menatapnya dengan tatapan khawatir. Itu yang membuatku bingung.

“Lalu… Kenapa Nathan kaget sekali waktu kau mau keluar dengan mobil?” tanyaku dan Yi Fan lagi-lagi terlihat kaget.

“Ada apa sih?” desakku kesal. Aku tiba-tiba merasa dia menyembunyikan sesuatu lagi.

“Tidak ada. Dia hanya over react  saja kok.” Elaknya dan tersenyum sekilas.

“Yakin?” Aku menatapnya lekat-lekat.

“Yakin. Sangat yakin.”

“Lalu kenapa kau jarang menggunakan mobilmu?”

“Hanya malas saja. Aku tidak suka mengendarai mobil di sini.”

“Kenapa?”

“Hanya malas saja.” Ulangnya dan aku hanya bisa mengangguk pasrah. Aku harap memang tidak ada yang ia sembunyikan lagi dariku.

“Ada tempat yang mau kau kunjungi di Toronto?” tanyanya dan aku menggeleng pelan.

“Yakin?” tanyanya lagi.

“Ya begitulah. Tidak ada yang kuinginkan di sana. Untuk saat ini.”

“Kalau begitu, ayo kita kencan.” katanya dan tersenyum lebar.

 

Aku hanya bisa mengerutkan keningku, aku bingung sekaligus merasa tersipu. Aku sama sekali tidak pernah mendengar satu kata itu lagi, Kencan.

“Kenapa diam? Kau mau kan?” tanyanya dan aku langsung mengangguk cepat. Aku masih terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu.

Yi Fan tertawa pelan dan kembali mempercepat laju mobilnya.

Aku menatap jalanan kota Vaughan lagi, dan mungkin jalanan yang sudah akan menghubungkan Vaughan dan Toronto. Meskipun di pinggir jalan tertanam cukup banyak tanaman hijau, tetapi aku masih melihat banyak gedung-gedung pencakar langit yang cukup jauh. Pemandangan itu semakin membuatku menyukai tempat ini. Kurasa ini juga alasan Yi Fan pindah ke Vaughan.

Tiba-tiba Yi Fan membelokkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Di tepi jalan itu terpasang sebuah papan tanda jalan bertuliskan ‘ROAD CLOSED’, dan tentu saja tidak ada mobil yang melewati jalan kecil ini kecuali mobil Yi Fan yang terparkir rapi di sini.

“Ada apa?” tanyaku dan Yi Fan hanya tertawa pelan sambil mengeluarkan ponselnya.

“Aku hanya ingin mengecek jalan.” gumamnya dan keluar dari mobil. Aku hanya membuka jendela mobil dan menghirup udara segar dari luar.

Setelah Yi Fan selesai mengecek ponselnya, ia merenggangkan otot-otot tubuhnya dan sesekali meluruskan punggungnya. Ia terlihat lelah.

“Aku bisa mengemudi.” kataku sambil keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekatinya.

“Kenapa?” tanyanya dan mengernyitkan dahinya sambil berjalan mendekatiku.

“Mau gantian? Kau tinggal memberitahuku arah jalannya saja. Bagaimana?” tawarku dan Yi Fan tertawa pelan sambil menepuk-nepuk punggung.

“Tidak perlu.” jawabnya dan menarik tanganku, membawaku kembali ke mobil, membukakan pintu mobil untukku.

“Aku hanya lelah sedikit kok. Tidak perlu menggantikanku.” jawabnya dan tersenyum tipis. Senyumannya membuatku terpaksa masuk ke dalam mobil sambil menatap wajahnya. Yi Fan masih tersenyum sambil menutup pintu mobil, berlari kecil ke dalam mobil dan kembali memegang kemudi mobil, melajukan mobilnya lagi.

“Kau sudah lapar?” tanyanya dan aku melirik jam tanganku, kemudian menggeleng. Kami memang belum sarapan sejak tadi. Entah kenapa Yi Fan buru-buru sekali mengajakku keluar dan mengusulkan untuk sarapan di Toronto. Aku sendiri tidak begitu masalah kalau harus terlambat sarapan, karena bisa dikatakan aku sangat jarang bisa menikmati sarapan pagi. Kalau mengingat saat aku masih bekerja di kantor, para staff yang bekerja bersamaku selalu mengatakan ‘Bisa melihat Kwon Eun Yoo sarapan, sungguh keajaiban. Bisa dihitung dengan lima jari dalam sebulan,’ Mengingat ucapan itu aku tersenyum tipis, sesungguhnya aku merindukan mereka. Terutama eonni yang duduk disebelahku.

“Sedang memikirkan apa?” tanya Yi Fan, ia menoleh sekilas ke arahku. Aku tidak menyadari Yi Fan bisa begitu memperhatikanku meskipun ia sedang fokus mengemudi.

“Hanya teringat kantor.” gumamku dan aku tidak bisa menahan senyumanku lagi.

“Oh ya? Senang sekali? Ceritakan padaku.” pintanya dan aku mendadak terdiam.

“Kenapa?”

“Aku penasaran.” jawabnya dan tersenyum lagi.

Aku tertawa pelan dan mencoba mengingat-ingat bagaimana saat pertama kali aku mendapatkan pekerjaan dan bertemu Seunggi oppa. Juga bagaimana saat terakhir kali aku bekerja di sana, memang benar aku berhenti karena ingin fokus menulis, tetapi aku masih punya satu alasan yang tentu saja tidak akan kuberitahukan kepada Yi Fan. Setelah novelku selesai, aku kembali mencari pekerjaan di perusahaan lain dan aku pindah ke Incheon, perusahaan kecil yang masih mau menerimaku sebagai karyawan mereka meskipun aku sudah akan pindah ke Kanada. Aku masih berstatus karyawan di sana, karyawan freelance. Aku penasaran pekerjaan freelance apa yang akan mereka berikan kepadaku sehingga mereka begitu mempertahankanku sebagai karyawan di sana.

“Bergerak di bidang apa?” tanya Yi Fan sambil membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah gedung yang lumayan tinggi, mungkin terlihat tinggi karena hanya ada dua gedung di sini, selebihnya hanya taman yang luas di belakangnya.

“Kenapa di sini? Ada apa? Jangan bilang kau bekerja di sini?” tanyaku cepat, tanpa menjawab pertanyaan Yi Fan lagi, tetapi Yi Fan sama sekali tidak menjawabku dan hanya memperhatikan posisi parkirnya. Ketika dia merasa sudah benar, Yi Fan langsung turun dari mobil, aku langsung ikut turun dan menghampirinya yang sedang sibuk mengeluarkan sesuatu dari belakang mobilnya.

“Pakai ini.” katanya dan menyodorkan sekantung papar bag, yang aku yakini isinya adalah sepatu.

“Semoga ukurannya benar.” kata Yi Fan lagi dan aku hanya bisa menatapnya bingung, tetapi aku tetap menurutinya mengganti sepatu flatku dengan sepatu sport yang dia berikan. Untungnya, ukuran sepatunya pas sekali denganku, Pas bukan berarti sesuai ukuran kakiku, tetapi aku lebih suka sepatu sport yang lebih besar satu ukuran dari ukuran kakiku. Lebih nyaman.

“Ayo. Ini jalan rahasia.” Yi Fan menarikku memasuki jalan belakang gedung kantor itu. Sebuah pintu kecil membuatku mengerti. Kami tidak sedang berjalan menuju kantor, tetapi sedang berjalan menuju taman, atau mungkin hutan kota. Aku sudah merasa pasti banyak hutan kota di kota ini, karena setiap jalanan banyak sekali pohon-pohon yang ditanam dari bawah jalanan.

“Banyak hutan kota di ini. Makanya aku pindah. Yang ini lebih mudah dikunjungi karena ada jalan rahasianya.” kata Yi Fan sambil menarikku memasuki Hutan Kota lebih ke dalam lagi.

“Kau datang setiap pagi?” tebakku dan Yi Fan mengangguk.

“Ya. Karena aku harus berolahraga ringan. Jadi aku hanya jogging dan berjalan-jalan di sini. Biasanya di sekitar komplek rumah juga, tergantung moodku.”

“Tentu saja.” gumamku dan mengikuti langkahnya menelusuri jalan setapak yang penuh dengan dedaunan kering, juga beberapa ranting pohon yang sudah mulai lapuk.

“Nyaris…” gumaman pelan Yi Fan membuatku yang sedang menunduk memandangi jembatan kayu di depanku langsung menatapnya. Dia sudah membuatku bingung beberapa kali dalam satu jam ini.

“Apanya?”

“Pertanyaanmu setengah jam yang lalu. Kau sudah lupa?” tanya Yi Fan dan aku menatapnya lekat-lekat, mengingat pertanyaan apa saja yang kulontarkan padanya, dan pertanyaan yang cocok dengan jawaban yang barusan Yi Fan jawab hanya satu, tanpa sadar aku melangkahkan kakiku menaiki jembatan kayu di depanku, dan menatap pohon-pohon yang ditanam di bawah jembatan kayu ini.

“Kenapa nyaris?” tanyaku akhirnya, mengesampingkan perasaan cemburuku.

“Aku tidak ingin menyakiti siapapun,” jawabnya dan menarikku untuk menghadapnya.

“Aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri yang masih memikirkan orang lain meskipun aku sudah punya pacar. Terlebih lagi, aku takut menyakitinya yang sudah benar-benar tulus, tetapi aku lebih seperti…” Yi Fan terdiam, dan menggigit bibir bawahnya.

“Seperti apa?”

“Seperti menjadikannya pelarianku. Terutama kau. Aku tidak ingin menyakitimu kalau misalnya… kau tahu.” ucapan Yi Fan yang terputus-putus membuatku semakin merasa bersalah dengan pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu membawa kami ke masa lalu.

“Lihat saja. Aku hanya mengatakan nyaris saja, kau sudah terlihat marah. Apalagi kalau benar-benar terjadi?” Ucapan Yi Fan berubah. Aku yakin ia sedang mengalihkan topik juga mengalihkan atmosfer masa lalu yang hampir menghampiri kami.

“Siapa yang bilang aku marah?” tanyaku balik, sedikit ketus.

“Sikapmu barusan mengatakannya padaku.” jawabnya santai dan aku langsung mundur selangkah, menyandarkan pinggulku pada pegangan jembatan.

“Ya! Kau bisa jatuh!” Yi Fan memekik kaget dan menarikku mendekat lagi.

“Mana mungkin! Pegangannya cukup tinggi!” jawabku cepat, jujur saja aku kaget dengan teriakannya tadi, jantungku berdebar kencang, bukan hanya karena teriakannya, tetapi juga wajahnya yang begitu dekat denganku.

“Maaf,” bisiknya pelan. “Aku tidak bermaksud untuk berteriak.” lanjutnya pelan dan aku hanya tersenyum sambil menatapnya yang sedang menunduk untuk menatapku. Posisi ini membuatku teringat lagi saat itu lagi. Yi Fan memang masih tetap tinggi seperti dulu.

Yi Fan menarik pinggulku untuk lebih mendekat lagi. Yi Fan semakin menunduk dan mengecup bibirku sekilas. “Kuharap tidak ada yang mengintip.” bisiknya dan tertawa pelan, lalu menangkup wajahku, kemudian mengecup bibirku lagi. Saat Yi Fan mulai perlahan mengulum bibirku, aku merasakan jeda beberapa saat sebelum akhirnya ia menggendongku untuk duduk di pegangan jembatan yang memang cukup lebar untuk diduduki seseorang.

Yi Fan kembali mengulum bibirku dan melingkarkan tanganku pada lehernya, barulah aku berani membalas ciumannya. Rasa takutku menghilang begitu saja karena Yi Fan memelukku dengan begitu erat dan ciuman lembutnya bisa membuatku melupakan apa saja yang ingin kulupakan.

*******

Aku tertegun saat menatap gedung di hadapanku. Aku merasakan wajahku memanas karena tidak pernah membayangkan akan kembali berada di tempat ini lagi.

Aku dan Yi Fan sedang mengantri untuk membeli sarapan di food truck Mc Café yang tersedia di depan gedung. Aku menatap Yi Fan lagi, dia hanya terus tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kenapa ke sini?” tanyaku lagi. Ini sudah ketiga kalinya aku bertanya, tetapi Yi Fan masih terus tersenyum sambil menggeleng pelan dan menggenggam erat jemariku.

Setelah kami selesai mengantri dan mendapatkan pesanan kami, Yi Fan tetapi tidak menjawab pertanyaanku bahkan saat kami sudah masuk ke dalam gedung.

Dan sekali lagi aku mengagumi gedung ini, meskipun ini kedua kalinya aku datang, bukan berarti aku tidak akan tertegun setiap menatap sekeliling gedung ini, terlebih lagi saat pertama kali datang, aku tidak sedang dalam keadaan yang sangat baik, seperti hari ini. Hari ini aku cukup senang untuk menikmati pemandangan di gedung ini.

 

Air Canada Centre, Toronto

Gedung yang menjadi arena atau stadium untuk olahraga di kota Toronto, juga beberapa acara seperti konser, gathering dan lainnya.

Aku pernah tersesat saat mencari stadium basket untuk pertandingan NBA saat aku kemari, membuatku jadi sedikit tahu beberapa tempat di sini. Dan aku tersadar akan sesuatu, jangan-jangan Yi Fan membawaku kemari karena…

“Ini… Pertandingannya sebentar lagi dimulai.” Yi Fan menyodorkan dua lembar tiket padaku, sekaligus menjawab rasa penasaranku. Aku membekap mulutku dan menatapnya tidak percaya.

“Kau serius?!” tanyaku dan Yi Fan menaikkan satu alisnya.

“Tentu saja. Ayo!” Yi Fan menyimpan kembali tiketnya dan menarikku untuk berjalan cepat menuju stadium basket, yang aku sendiri sudah tidak ingat lagi ada di mana. Aku hanya mengikutinya berjalan cepat dan begitu kami sampai dan mendapatkan tempat duduk sesuai tiket, barulah aku bisa bernafas dengan normal kembali. Ini benar-benar di luar dugaanku. Aku benar-benar…

“Makan dulu. Nanti sudah mulai tidak bisa makan lagi.” Yi Fan membuyarkan lamunanku dan aku menatapnya lagi. Dia masih saja Wu Yi Fan yang melakukan segala hal di luar dugaanku.

“Maaf tidak bisa duduk di kursi yang dulu. Aku tidak mendapatkannya, sudah dibooked orang lain duluan.” gumamnya pelan sambil sibuk mengeluarkan kentang goreng yang tadi kami beli.

“Kenapa?” tanyaku pelan, aku masih merasa tertegun.

“Kenapa?” tanya Yi Fan balik sambil menyeruput kopi dinginnya.

“Kenapa harus dikursi yang sama?” tanyaku, masih tetap menatapnya takjub.

“Aku berencana membuatmu melupakan dua tahun yang lalu saat kau kemari dengan perasaan itu. Aku ingin kau hanya mengingat kenangan saat kau di sini bersamaku.” jawabnya cepat dan menyodorkan kentang goreng padaku.

“Aku tidak mengerti…” gumamku pelan. Sebenarnya aku mengerti. Hanya saja aku masih terlalu shock karena bisa berada di lapangan basket yang pernah kudatangi dua tahun lalu ini.

Aku memandang ke segala arah. Aku tidak menunduk lagi seperti hari ini. Aku melihat banyak orang mulai memasuki lapangan, juga sudah banyak pengunjung yang datang. Lapangan mulai penuh dengan staff serta beberapa staff stasiun televisi.
Aku mengingat tulisan di tiket yang kubaca tadi. Toronto Raptors vs Cleveland Cavaliers.

Aku ingat pernah beberapa kali menonton Raptors bertanding di televisi, tetapi aku tidak ingat pernah menonton pertandingan Cavs, mungkin satu kali? Entahlah.

“Benar-benar tidak mengerti?” tanya Yi Fan dan menahan tawanya sambil mengunyah burger keju yang seharusnya diberikan kepadaku, tetapi aku tidak terlalu suka harus memakan burger, jadi aku lebih memilih kentang goreng.

“Terserah saja.” cetusku langsung dan merebut kopi di tangannya.

“Hey!” Yi Fan memekik tertahan dan melotot kaget ketika aku meminum kopi dinginnya.

“Kenapa?” tanyaku kesal. Lebih tepatnya pura-pura kesal. Aku tidak tahu kenapa, setelah dia tahu aku suka minum kopi, dia terus melarangku untuk meminum kopi.

“Kau jangan minum kopi dulu.” larangnya dan kembali mengambil kopi dari genggamanku, kemudian menggantikannya dengan air mineral.

“Kenapa? Kau saja boleh minum.”

“Karena aku kurang tidur hari ini.” jawabnya lagi dan aku memanyunkan bibirku.

Yi Fan menghabiskan makanannya tepat setelah ia melihat beberapa komentator memasuki arena dan beberapa kamera mulai dinyalakan. Aku berdebar sekaligus bingung, karena Yi Fan jadi tidak bicara sama sekali sejak insiden kopi tadi.

“Kau marah?” tanya Yi Fan tiba-tiba. Aku langsung menoleh dan jantungku semakin berdebar seketika itu juga. Tatapan matanya…

“Kau marah ya?” tanyanya lagi, dan aku langsung menggeleng cepat.

“Tidak, tidak. Aku hanya bingung. Justru aku yang mengira kau marah padaku.” jawabku cepat, sebelum ia merasa bersalah dan membuat moodnya hilang untuk menonton pertandingan.

“Bingung kenapa kau tidak boleh minum kopi dulu. Akan kuberitahu nanti,” jawabnya cepat, dan kembali menatap ke arah depan.

“Dan aku tidak marah.” jawabnya lagi, tetapi ia tidak tersenyum, aku tahu dia sedang sangat fokus dengan detik-detik dimulainya pertandingan basket yang sangat dia sukai itu.

Saat komentator mulai berbicara, Yi Fan menggenggam jemariku dan mengecup pipiku sekilas.

“Semoga hari ini bisa membuatmu melupakan dua tahun lalu.” bisiknya pelan. Aku menatap Yi Fan yang sedang tersenyum tipis. Sesaat setelah itu, sorak riuh pun terdengar. Dari para penonton, juga Yi Fan, meskipun dia hanya sedikit berteriak.

Aku ikut memfokuskan diriku pada pertandingan saat bola pertama dilemparkan dan ditangkap oleh pemain berkostum warna putih, pemain raptors.

Aku yakin hari ini aku akan tetap tidak bisa fokus pada pertandingan basket di hadapanku. Karena Yi Fan menggenggam tanganku semakin erat, tetapi ia tetap bisa fokus pada pertandingan di hadapannya.

mc cafeACCCCACC insidelapacc

************************ 

CN Tower, Toronto
“Kupikir…” Yi Fan menghentikan ucapannya saat aku langsung menoleh ke arahnya.

“Saat kau bilang tentang tour, pertama kali pasti kau sudah dibawa ke sini.” lanjutnya dan aku mendengus pelan.

“Seharusnya. Tetapi karena terlalu ramai, guide tour menundanya, saat mereka ke sini, aku sedang di Air Canada Centre. Tidak mungkin aku melewatkan yang satu itu kan?”

“Tentu. Tentu saja.” gumamnya dan tertawa pelan. Kemudian aku kembali mengagumi pemandangan di hadapanku. Pemandangan kota Toronto dari lantai 114 CN Tower. Begitu menakjubkan sampai-sampai aku terus mengerjap-ngerjap seperti pengunjung anak-anak.

“Tidak bosan berdiri di sini terus?” tanya Yi Fan dan merangkulku.

“Tidak sih. Memangnya ada yang lain?”

“Tentu saja. Ayo.” Yi Fan menggenggam jemariku dan membawaku entah ke mana lagi. Begitu sampai, aku lagi-lagi tertegun, bukan hanya pada lift, tetapi di sini juga. Lantainya terbuat dari kaca sehingga aku bisa melihat ke bawah dengan jelas sekali. Beberapa pengunjung anak-anak terlihat takut saat mencoba berdiri di atasnya.

Aku hanya menatap Yi Fan sekilas sebelum akhirnya aku berjalan mendekati lantai kaca itu, dan benar saja. Aku yang merasa tidak terlalu takut pada ketinggian, juga merasa merinding saat berdiri di atas sini dan menatap ke bawah, aku teringat saat aku menaiki lift tadi, pemandangan kota Toronto terlihat dari lantai bawah sampai lantai atas, melihat itu saja membuatku merinding.

Aku kembali berjalan ke arah Yi Fan berdiri sambil tertawa melihatku.

“Kenapa? Takut?” tanyanya dan menahan tawanya begitu aku berdiri di hadapannya.

“Tidak. Aku hanya merasa lapar.” jawabku cepat dan Yi Fan tertawa lagi.

“Makan di 360 saja ya. Kau pasti suka.” katanya dan aku hanya memandangnya yang tiba-tiba sudah seperti tour guideku.

Dan entah untuk yang ke berapa kalinya, Yi Fan tersenyum lebar saat melihatku mengerjap kagum, ia terlihat senang melihat aku yang seperti ini.

Ia memilih restoran yang bisa membuat kami melihat ke arah luar Tower. Aku kembali bisa melihat pemandangan yang terus membuatku terpesona dari tadi.

Restoran 360 ini benar-benar menakjubkan karena benar-benar sekelilingnya adalah kaca yang dapat membuat pandangan tembus sampai keluar, bahkan ke bawah tower dan langit sekaligus. Meskipun merinding karena aku merasa seperti akan terjatuh ke bawah, tetapi aku tetap saja senang melihatnya.

Saat menu disodorkan padaku, aku hanya melihat sekilas, karena jujur saja aku tidak tahu apa yang harus aku pilih untuk makan siangku sekarang, aku tidak benar-benar lapar saat aku mengatakan pada Yi Fan kalau aku lapar. Akhirnya aku hanya memilih salah satu menu dessert dan saat aku melihat menu minumannya, Yi Fan langsung menahan tanganku, menggeleng pelan dan memesan brewed tea untuk kami berdua.

Macha please.” ucap Yi Fan dan membuatku tersenyum puas. Setidaknya ada Macha di sini, karena aku sudah hampir memesan menu yang mengandung unsur kopi lagi.

Setelah waiters mengulang pesanan Yi Fan, aku hanya bisa tertegun menatapnya. Meskipun aku tidak begitu ingat lagi ada berapa pesanan, tetapi aku merasa ia memesan lumayan banyak.

“Kau memesan banyak ya?” tanyaku, memastikan.

“Karena kau memesan dessert, dan sepertinya kau tidak tahu mau pesan apa, jadi ya kupilihkan yang paling enak.”

“Kalau tidak habis bagaimana?” tanyaku lagi dan Yi Fan menggeleng.

“Porsinya cukup sedikit untukku.” jawabnya dan aku langsung mengangguk-angguk paham. Aku teringat kalau western food di restoran seperti ini pasti memiliki porsi yang tidak banyak, tidak akan cukup untuk perut Yi Fan yang sepertinya masih suka makan itu.

Saat aku kembali menoleh ke luar kaca, Yi Fan berdecak pelan.

“Aku atau dia?” Pertanyaan Yi Fan membuatku tidak langsung menoleh ke arahnya. Aku masih tetap menatap ke luar, sebelum akhirnya sadar ke mana arah pertanyaan Yi Fan barusan.

Aku langsung menoleh ke arahnya, dan aku mendapatinya sedang mengernyitkan keningnya juga memanyunkan bibirnya. Ia terlihat imut sekali.

“Pertanyaan apa itu?” tanyaku dan Yi Fan mendengus lagi.

“Kau dari tadi hanya menatap keluar.”

“Kau tahu? Kau sedang cemburu pada pemandangan kota Toronto.” godaku dan tertawa pelan. Yi Fan terlihat ingin menggelak tetapi ia mengurungkan niatnya dan membenarkan posisi duduknya.

“Memang.” jawabnya dan manyun lagi. Aku akhirnya tertawa dan menopang daguku, menatapnya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu demi pemandangan juga sih.” jawabku lagi dan Yi Fan semakin memanyunkan bibirnya, tetapi ketika seorang waiters membawakan minuman kami, wajah Yi Fan kembali seperti biasa.

“Kenapa sama sekali tidak mengeluarkan ponselmu? Kau tidak memotret apapun dari tadi.” kata Yi Fan pelan saat aku sedang menyeruput minumanku.

“Hmmm… Hanya sedang tidak ingin menggunakan ponsel.” jawabku dan Yi Fan mengangguk-angguk pelan, tetapi sepersekian detik kemudian aku menyesal dengan keputusanku. Seharusnya aku memotret beberapa foto untuk kuperlihatkan pada Heejin.

“Sepertinya aku harus mengirimkan foto pada Heejin.” kataku cepat dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasku, sontak Yi Fan tertawa dan menjentikkan jarinya ke dahiku, pelan.

“Dasar kau.” Yi Fan menggeleng pelan.

“Sudah sering kemari?” tanyaku setelah selesai memotret makanan yang kami pesan.

“Baru sekali.” jawabnya singkat dan mulai melahap makanannya. Yi Fan memesan pasta untuk kami berdua, ditambah dengan side dish berbahan utama kentang dan yang satunya lagi grilled asparagus.

Sesekali aku mengintip pesan balasan dari Heejin, dan menahan tawaku. Dia sedang mengomeliku lagi.

“Coba kau buka google. Cari tentang bahaya terlalu sering minum kopi.” Ucapan pelan Yi Fan membuatku termangu dan berhenti mengunyah makanan di mulutku.

“Kenapa?”

“Karena tadi kau bingung.”
“Tidak deh.” jawabku dan Yi Fan langsung mengambil ponselku, mengetikkan sesuatu dan membacakannya untukku dengan suara setengah berbisik.

“Coffee containing caffeine can cause insomnia, nervousness and restlessness, stomach upset, nausea and vomiting, increased heart and breathing rate, and other side effects. Consuming large amounts of coffee might also cause headache, anxiety, agitation, ringing in the ears, and irregular heartbeats.”
“Aku tidak tuh.” jawabku sambil mengambil kembali ponselku dari tangannya.

Coffee may help protect your brain in old age, Leading to reduced risk of alzheimer’s and parkinson’s,” Aku membaca halaman bawah website yang dibuka Yi Fan, yang menunjukkan bahwa tidak hanya ada efek samping negatif, tetapi masih ada positifnya.

People who drink coffee are at a much lower risk of depression and suicide.” lanjutku lagi dan Yi Fan mendengus kesal.

“Baiklah. Kau menang. Tetapi tetap saja, kurangi. Jangan setiap hari.” pintanya dan aku tersenyum senang. Aku memang pernah setiap hari minum kopi, tetapi sekarang tidak lagi.

“Kenapa kau tiba-tiba jadi suka minum kopi? Seingatku dulu hanya Green Tae Latte saja. Kenapa?” tanyanya dan aku kembali memandang keluar. Tidak yakin harus menjawabnya atau tidak.

Lower risk of depression and suicide.” jawabku, mengulang apa yang kubaca tadi. Yi Fan mengerutkan keningnya dan menatapku bingung, tetapi sesaat kemudian, Yi Fan langsung terbelak kaget dan aku merasa dia sudah teringat sesuatu lagi.

“Sejak aku mulai stress dengan semua yang menimpaku dan sejak kau meninggalkanku.” jawabku akhirnya. Yi Fan memijit pelan pelipisnya dan menunduk.

“Maaf.” Yi Fan menghela nafas pelan dan aku langsung menepuk wajahnya pelan.

“Aku sudah tidak sering minum lagi kok. Benar-benar sudah jarang minum. Terlebih lagi sekarang aku sudah bersamamu kan? Aku tidak benar-benar butuh minum kopi lagi.” jawabku cepat dan Yi Fan tersenyum lega, tetapi ia masih menunduk.

“Saranghae.” ucapan terakhirku berhasil membuat Yi Fan mengangkat kepalanya dan menatapku lekat-lekat. Ia tersenyum tipis dan menarik daguku, mendekatkan wajah kami.

“I Love You.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas.

Aku sampai tidak berani menatap ke arah orang-orang yang duduk di dekat kami, karena aku tahu beberapa dari mereka membicarakan kami karena tindakan Yi Fan barusan.

“Dark Chocolate Tower.” kata sang waiters saat mengantarkan pesanan dessertku.

Tanpa sadar aku tersenyum lebar dan memotret cake itu lagi. Heejin pasti akan mengomeliku karena ini cake yang sangat ingin ia coba. Anggap saja aku beruntung bisa membuat Heejin merasa iri padaku.

“Heejin pasti sudah mengomel banyak ya?” tanya Yi Fan dan aku tertawa geli.

“Iya. Aku tidak mengatakan apapun dan hanya mengirimkan foto padanya. Dia kesal sekali.” kataku dan tertawa puas. “Heejin, mianhae…” gumamku sambil melahap potongan pertama cake yang berukuran lebih tinggi dari pada cake biasanya itu.

“Nah. Dia bilang jadi ingin ke Toronto juga.” kataku sambil membaca isi pesan Heejin dari notifikasi yang masuk ke ponselku. Yi Fan hanya tertawa lagi dan ikut menikmati cake dihadapan kami.

“Setelah ini ke mana?” tanyaku dan Yi Fan melirik arlojinya.

“Masih ingat tempat fan-signing ku dulu?” tanyanya pelan, aku menyesap sedikit tehku dan hanya menatapnya bingung.

“Queen Elisabeth Theater, Vancouver.” jawabku akhirnya, itu pun setelah Yi Fan hanya menunjukkan wajah yang sedang sangat menunggu jawaban dariku. Aku tidak ingin menjawab bukan berarti aku tidak ingat, tetapi aku tidak ingin menyebutkannya, karena nama tempat itu adalah salah satu dari beberapa nama tempat yang terus kuingat saat datang ke Kanada dan terus saja terngiang di kepalaku selama beberapa minggu.

“Aku akan menunjukkan sesuatu, tetapi kau punya dua pilihan,” jawabnya dan aku hanya menatapnya, menunggunya memberikan opsi untuk dua pilihan yang dikatakannya.

“Mau ke Harper Collins, atau Vancouver.”

“Untuk apa?” tanyaku lagi dan Yi Fan hanya menaikkan satu alis matanya, bersikap misterius lagi.

“Berhubungan dengan fansign mu dulu?” tebakku dan dia tersenyum lebar.

“Bing-go!”

“Harper saja. Vancouver jauh. Aku sudah merasakan pulang pergi dari Vancouver ke Toronto dan Toronto ke Vancouver. Aku lelah.” jawabku dan kembali menyuapkan sepotong kecil cake ke dalam mulutku.

“Ha? Kau pulang pergi dalam sehari? Kupikir kau…”

“Jangan dibahas. Itu benar-benar hari yang melelahkan.” potongku dan menyuapkan cake untuk Yi Fan juga. Aku benar-benar ingin berhenti mengingat segalanya.

“Baiklah. Harper saja.” jawabnya sambil mengunyah cake, kemudian ia meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada ponselnya, setelah beberapa saat Yi Fan menatapku lagi.

“Jangan terlalu terharu ya nanti.” godanya dan aku memicingkan mataku, pura-pura kesal.

“Kalau sampai harus membuatku menangis, pulang saja deh.” jawabku asal sambil terus melahap cake yang hampir habis. Yi Fan hanya manyun dan membuka mulutnya, aku menyuapi sisa cake dan hanya tersenyum tipis kemudian hanyut lagi dalam ingatan lamaku.

Aku kembali mengenang lagi saat aku harus buru-buru berangkat dari Toronto ke Vancouver, kemudian beberapa jam kemudian, aku harus kembali lagi ke Toronto dengan pesawat karena tour guide tidak memberikan kami waktu yang lama untuk melakukan tour seorang diri, perjalanan delapan jam pulang-pergi membuatku lelah setengah mati, aku hampir demam, tetapi aku tetap bertahan supaya bisa ke Air Canada Centre besoknya. Karena setiap harinya kami mendapatkan kesempatan touring sendiri, aku benar-benar memanfaatkannya dengan baik, hanya untuk berharap dapat bertemu Yi Fan, tetapi semuanya tidak benar-benar berjalan sesuai dengan rencanaku. Aku sendiri yang merusaknya…

“Memikirkan apa?” tanya Yi Fan sambil menarik tanganku yang sedikit mengepal.

“Hanya memikirkan beberapa hal.”

“Apa?”

“Kau.”

“Aku. Kenapa? Katakan saja.”

“Menebak-nebak apa yang akan kau lakukan setelah ini.” dustaku dan Yi Fan mengangguk-angguk sambil melahap side dish yang masih tersisa.

“Baiklah. Kita akan langsung ke sana setelah kau juga menghabiskan ini.” tukasnya sambil menyodorkan asparagus padaku. Dan sekarang aku benar-benar penasaran apa yang akan terjadi di perusahaan penerbitan novelnya nanti.

CN-Tower-Toronto-Canadacn towerCN-Tower-Canada-Glass-FloorhiyyyyyInside-View-Of-CN-Tower20170321_193843_HDR222222015-11-23

******************

 Harper Collins Canada, Toronto.

Aku tidak henti-hentinya memandangi sekelilingku. Harper benar-benar diluar dugaanku. Memang benar aku pernah kemari, tetapi tidak pernah masuk melewati lobby. Saat kami sedang berdiri di depan pintu lift, aku masih saja menggagumi beberapa hal, dimulai dari dekorasi setiap bagian dari gedung, fasilitas dan karyawannya. Saat kami masuk ke dalam lift, Yi Fan menempelkan kartu pada genggamannya yang juga ia gunakan saat dipintu masuk tadi.

“Diluar dugaan ya?” tanya Yi Fan dan aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, kemudian memperhatikan angka 4 yang berhenti dan tepat saat itu juga pintu lift terbuka.

“Ayo.” Yi Fan menarikku keluar dan belum sempat aku memperhatikan apapun, ia sudah membawaku masuk ke sebuah ruangan kaca, tetapi tertutup oleh beberapa poster cover novel, salah satunya cover novel Yi Fan.

“Bersiaplah…” gumam Yi Fan saat kami berdua duduk di sofa dan ia membuka televisi di hadapan kami.

Aku mengerutkan keningku dan hanya menatap Yi Fan malas, karena video yang hanya menampilkan kerumunan orang-orang di mall.

“Mau menonton apa?” tanyaku dan Yi Fan tertawa sambil menangkup wajahku.

“Fansign yang tidak sempat kau datangi.” bisiknya dan aku langsung terbelak kaget, setelah Yi Fan melepaskan tangannya, aku langsung menatap layar televisi di hadapanku.

Ahhh… Ini Wu Yi Fan beberapa tahun yang lalu. Tidak banyak berubah. Ia hanya terlihat lelah, tetapi terus tersenyum sambil menandatangani buku-buku yang disodorkan padanya. Sambil sesekali berbicara dengan pengunjung. Aku hampir meneteskan air mataku, tetapi aku menahannya dan menoleh ke arah Yi Fan.

“Kau tahu? Kau seperti seorang idol yang sedang jumpa fans, dan sedang menandatangani albummu.” tukasku dan membuat Yi Fan tertawa keras.

“Aku memang hampir ditawari menjadi idol kok di Korea.” jawabnya dan aku langsung mendengus.

“Sadar umur!” tandasku dan kembali menatap wajahnya di televisi. Wajahnya yang terus tersenyum itu membuatku ikut tersenyum tanpa sadar.

“Ini rekaman pribadi. Jadi tidak dishare di website penerbit,” kata Yi Fan dan aku tidak menghiraukannya, aku masih sibuk menikmati wajahnya di video itu.

“Kalau tahu kau akan begitu senang melihatnya, seharusnya aku ijinkan saja untuk dishare di website.” lanjut Yi Fan lagi dan aku langsung menoleh ke arahnya.

“Keadaannya akan berbeda sekarang dan dulu. Terimakasih karena tidak mengijinkan mereka share di website. Aku mungkin tidak akan tersenyum kalau melihat ini dari website.” jawabku cepat dan Yi Fan tanpa sadar mengiyakan dengan pelan.

“Pernah pacaran lagi?” tanya Yi Fan setelah video selesai dan ia menatapku dengan tatapan lembut.

“Ha?” tanyaku lagi Yi Fan hanya memainkan alis matanya.

“Oh… Nyaris.” jawabku, mengikuti jawabannya. Dia ingin membalasku, dan tentu saja aku juga bisa membalasnya.

“Seunggi hyung?” tanya Yi Fan langsung dan membuatku menatapnya bingung.

“Kau kenal?” tanyaku dan Yi Fan tersenyum lebar.

“Tentu saja. Aku yang mengajarinya kerjaan kantor kok. Kenapa bisa nyaris? Dia orang yang baik.”

“Terlalu baik.” jawabku dan Yi Fan hanya mengangguk-angguk.

“Sebenarnya, aku mendengar pembicaraan kalian waktu di lapangan basket.”

“Astaga! Kau sudah cukup lama berada di rumah!” kataku kesal dan menatapnya geram. Yi Fan hanya tertawa dan mengusap-usap tengkuknya.

Aku masih ingat jelas semua yang terjadi beberapa hari itu. Dimulai dari pagi aku tiba di Seoul, sampai aku meninggalkan Seoul bersama Yi Fan, aku ingat segala halnya dengan jelas.

Sudah pasti aku ingat sekali rentang waktu saat aku bertemu dengan Seunggi oppa dan saat aku bertemu dengannya di lapangan basket itu. Benar-benar…

“Kenapa bersembunyi?” tanyaku dan memukul pelan bahunya.

“Tidak tahu harus bagaimana bertemu denganmu. Aku belum mempersiapkan kata-kata yang pantas. Aku tidak yakin masih bisa menemuimu lagi atau tidak, tetapi setelah mendengar pembicaraan kalian, aku merasa aku masih bisa bertemu denganmu, jadi… ya, begitulah…” jawabnya dan aku hanya diam, aku tidak ingin merespon apapun yang akan menambah panjang percakapan tentang masa lalu.

“Jadi? Selain Seunggi hyung? Tidak ada lagi?” tanyanya lagi dan aku langsung menepuk keras bahunya.

“Kalau ada, aku sudah tidak di sini sekarang!” jawabku dan sedikit memanyunkan bibirku, aku merasa kesal dengan pertanyaan seperti itu.

“Terima kasih masih mencintaiku juga.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas.

Melihatnya tersenyum begitu lebar membuatku ikut tersenyum lebar, padahal sebenarnya aku tidak sedang ingin. Aku merasa meskipun hari ini belum selesai, Yi Fan sudah berhasil membuatku melupakan segala hal yang ingin kulupakan.

Aku hanya berharap aku tidak bisa mengingat apapun yang terjadi beberapa tahun belakangan ini dan hidup tanpa ingatan masa lalu. Kuharap…

Saranghae, Wu Yi Fan.

^____________^

TO BE CONTINUE

Info buat yang masih baca. FF ini tamat di Part 12.
Kalau ada yang follow wattpad saya, pasti sudah tau.
Heehehehe

Entah masih ada kah FF Kris setelah ini?
Masih ada kah yang mau baca?
Wkwkkww

Thanks all !

-Eve RyLin

Advertisements

One thought on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 11]

  1. Huwaaaa skinshipnya banyak bangetttt. Tapi sukaaa. Kaka selalu berhasil bikin aku jatuh cinta sama tokoh Yi Fan di sini. Dan aku jatuh syinta beneran sama yi fan di dunia nyata.
    Love u kaka eve😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s