Hello!
Selamat membaca bagi yang masih update FF ini.
Hehehehe

Happy Reading!

Vaughan, Ontario, Canada

Aku menahan nafasku saat pertama kali melihat kota Vaughan. Awalnya aku masih tidak percaya pada Yi Fan, kalau ia tinggal di Vaughan, provinsi Ontario. Tetapi sepertinya dia memang serius karena aku sudah melihat sendiri tempat ini. Kota yang bahkan tidak pernah terlintas dipikiranku saat beberapa tahun yang lalu menebak-nebak di kota mana Yi Fan akan tinggal. Setidaknya Vancouver, atau mungkin Toronto. Ini benar-benar diluar dugaanku.

“Kenapa? Masih tidak percaya?” tanya Yi Fan dan merangkul pundakku.

“Aniya…” gumamku pelan dan memintanya melepaskan rangkulannya dengan gerakan tubuhku.

“Aku hanya bingung. Setidaknya kupikir kau akan tinggal di Vancouver atau Toronto…” gumamku.

“Kenapa?” Yi Fan melepas rangkulannya dan hanya menggenggam tanganku.

“Itu… Harper Collins Canada kan ada di Toronto, jadi aku merasa, kau pasti akan tinggal di Toronto juga.” gumamku dan menatapnya ragu. Aku merasa malu dengan pemikiranku sendiri. Harper Collins Canada adalah nama penerbit tetap untuk novel-novel yang ditulis Yi Fan.

“Begitu ya? Memang benar sih, aku sempat tinggal di Toronto, lalu dua tahun yang lalu aku pindah ke sini. Lagipula, ini kan masih termasuk Ontario. Jadi tidak terlalu jauh untuk berurusan di Harper.”

“Oh ya?” Aku mengangguk-angguk pelan. Kalau begitu, saat aku datang ke Toronto, pria ini sudah tidak tinggal lagi di Toronto, dan sudah pindah ke kota Vaughan.

“Jangan bilang, dua tahun yang lalu kau datang ke Toronto?” tebaknya dan aku membelak kaget. Bagaimana dia bisa tahu?

“Ya… Begitulah.” jawabku cepat dan menarik tangan Yi Fan. Aku sedang tidak ingin membahas apapun mengenai masa lalu lagi. Itu bukan bagian dari hidupku yang perlu kuingat, meskipun seharusnya terdengar menyenangkan karena aku bisa mengunjungi Toronto.

Aku mengingat lagi kota Toronto yang kulihat sekilas tadi. Setibanya di airport Toronto, supir uber yang sekarang kami tumpangi sudah menunggu dan langsung mengantarkan kami ke kota Vaughan, aku tetap masih bisa melihat beberapa tempat di Toronto yang sempat aku kunjungi saat itu.

Saat supir Uber yang mengantar kami melaju pelan menelusuri jalan sepi, aku yakin di sinilah lingkungan Yi Fan tinggal. Aku merasa dia pindah untuk merasa tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota Toronto. Terlebih lagi saat memasuki kota Vaughan tadi, aku melihat papan welcome berwarna hijau di pinggir jalan tadi, papan jalan itu menunjukkan jumlah populasi penduduknya, kalau tidak salah sekitar 288.000 penduduk, sangat sedikit jika kubandingkan dengan populasi penduduk di kota Toronto, maupun Seoul.

“Sampai.” bisik Yi Fan dan meminta supir Uber menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Why? You wanna walk?” tanya supir itu dan Yi Fan tertawa.

“Yes. Could you please go first, with our suitcase? Wait us there.” kata Yi Fan lagi, sambil tertawa pelan.

“Okay. But you debt me one story.”

“Yeah! I’ll tell you soon. Okay!” jawab Yi Fan dan cepat-cepat turun dari mobil. Aku merasa supir Uber ini bukan supir uber biasa, terlebih lagi saat dia tersenyum padaku. Aku yakin dia mengenali Yi Fan dengan baik.

“Thank you…” gumamku sebelum ikut turun dari mobil.

“My Pleasure, miss…” jawabnya dan Yi Fan menepuk pelan kaca mobilnya.

“See you later!” kata Yi Fan sambil melambaikan tangannya, ia sama sekali tidak membayar sepeser pun. Membuatku semakin bingung.

“Temanmu ya?” tanyaku saat mobil itu sudah kembali melaju pergi.

“Iya. Nathan. Dia yang banyak membantuku saat aku pindah ke sini.”

“Hm… Kau punya rencana apa? Kau memintanya membawa koperku ke mana? Kenapa kita berdiri di pinggir jalan begini?” tanyaku dan menatap sekelilingku. Ada papan bertuliskan nama jalan, yang satu mengarah ke depanku, Sylwood Cres dan yang satu lagi mengarah ke jalanan pertama tadi, Hawker RD.

“Sylwood Crescent. Diingat ya. Ini nama komplek rumahku. Ayo.” Yi Fan menarik tanganku dan tersenyum lebar.

“Kau ingin kita berjalan kaki ke rumahmu ya?”

“Ya. Biasanya aku jogging di sekitar sini.”

“Tentu saja. Tempat ini sangat sepi. Benar-benar cocok untukmu.” gumamku dan melihat setiap rumah di sebelah kanan dan kiri.

“Cocok juga untukmu.” bisiknya dan tersenyum tipis.

“Oh! Rollercoaster?!” Aku memandang jauh ke ujung jalan komplek ini. Yi Fan tertawa dan menepuk pelan kepalaku.

“Itu di Canada’s Wonderland. Memang tidak jauh dari sini sih. Kau mau ke sana?” Yi Fan menggaruk-garuk kepala, ia terlihat bingung.

“Nanti saja deh. Aku harus istirahat dulu.” gumamku dan terus memandangi lintasan rollercoaster berwarna hijau itu, begitu tinggi dan terlihat menakjubkan, aku terus memandanginya, berharap akan ada rollercoaster yang lewat, tetapi tidak ada sama sekali.

Yi Fan menghentikan langkahnya saat kami hampir tiba di pembelokan jalan. Aku kebingungan sesaat dan menoleh ke belakang, tidak sadar kalau kami sudah berjalan cukup jauh.

“Kalau kau berbelok ke kiri, kau akan melihat belokan ke kiri lagi, ke kiri lagi dan kau akan kembali ke jalan di mana mobil berhenti tadi. Ini jalan memutar. Okay?” jelas Yi Fan dan aku mengangguk pelan. Saat sadar apa yang ada di depanku, aku tertawa pelan melihat ring bola basket yang diletakkan di depan rumah. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini di Seoul.

“Kenapa ada ring bola basket di depan rumah?” tanyaku dan Yi Fan mengerutkan keningnya, sambil menatap ring bola basket di hadapan kami.

“Mungkin karena jalanannya terlalu sepi, jadi kami sering bermain di jalanan.” jawabnya dan kali ini aku yang mengerutkan keningku.

“Hebat juga…” gumamku dan menatap rumah pemilik ring basket itu. Rumah yang sangat sederhana, di depannya ada 2 pintu untuk parkiran atau pun gudang, dan belakangnya ada rumah dua tingkat. Melihat rumah itu membuatku tanpa sadar bergumam sendiri.

“Aku ingin tinggal di rumah seperti ini.” gumamku pelan, aku yakin hampir tidak terdengar oleh Yi Fan, karena ia hanya mengerutkan keningnya.

“Sudah ingat tempatnya kan?” tanyanya dan aku mengangguk.

“Ayo.” Yi Fan melangkah maju dan memasuki pekarangan rumah bernomor 145 ini, membuatku menahan nafas kaget.

“Kenapa diam di sana? Ayo!” Yi Fan berjalan ke arahku lagi dan menarikku.

“Kudengar kau bilang ingin tinggal di sini kan? Permintaanmu sudah terkabulkan.” jawabnya dan tersenyum lebar sambil mengeluarkan kunci dari saku celananya.

“Ha?” Aku melongo bingung dan berhasil membuat Yi Fan tertawa.

“Ini memang rumahku. Itu mobil Nathan. Kau tidak lihat ya? Apa ring basket tadi terlalu lucu sehingga kau tidak tahu mobil Nathan berhenti di sampingnya?” tanya Yi Fan lagi, ia menahan tawanya dan aku langsung menarik nafas. Aku mengerti sekarang. Inilah kenapa jawaban Yi Fan mengenai ring basket tadi sedikit membuatku bingung. Ternyata ini rumahnya, dan mereka sering bermain basket di depan rumah. Aku mengerti sekarang.

Sylwood Crescent 145 copy

Aku mengikuti Yi Fan masuk ke dalam rumah dan menemukan Nathan sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan gadgetnya. Koper kami juga sudah tergeletak rapi di bawah tangga.

Sesaat aku hanya bisa termangu menatap kesekelilingku. Rumah ini ditata dengan begitu rapi  dan bersih. Terlihat sangat sederhana, tetapi mengagumkan. Sesekali aku mengerjap kagum, seperti seseorang yang belum pernah melihat rumah seperti ni sebelumnya.

“Hello, miss!” Sapaan Nathan berhasil membuatku berhenti mengagumi rumah Yi Fan.

“Hi.” balasku dan tersenyum canggung pada Nathan yang tersenyum lebar padaku.

“Ayo. Kau pasti sudah lelah sekali.” Yi Fan menarikku sambil membawa koperku ke lantai atas. Aku mengikuti Yi Fan menelusuri tangga melingkar menuju ke lantai atas

“Ini kamarmu. Kau bisa istirahat dulu di sini. Ada yang harus kuurus setelah ini.” katanya dan aku hanya memandangi seisi kamar, dan membuatku mengerutkan kening lagi.

“Lalu kamarmu?” tanyaku akhirnya, dan Yi Fan tertawa lagi.

“This is my room, and of course yours too. Why bother?” jawabnya cepat dan tertawa lagi. Aku benar-benar seperti orang kebingungan, bahkan mendengar ucapannya barusan membuatku harus berpikir sejenak.

“Eun Yoo-ah. Kalau tidak mau, aku bisa tidur di kamar satu lain, hanya saja belum kubersihkan, jadi…”

“Bukan, bukan itu. Aku hanya masih bingung. Aku bukannya tidak mau, hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Belum terbiasa.” jawabku pelan dan Yi Fan tersenyum tipis.

“Baiklah… Istirahat saja dulu. Aku akan segera kembali.” jawabnya cepat dan mengecup pipiku sekilas.

“See you.” bisiknya dan tersenyum lagi. Lalu berlari turun kembali ke bawah.

“Let’s go Nath! Hurry!” katanya pada Nathan dan berlari keluar kamar.

“Bye miss Eun Yoo!” teriak Nathan sebelum akhirnya ikut keluar dan terdengar suara pintu yang dikunci dari luar.

Aku hanya mengintip sekilas ke bawah dan berjalan cepat ke arah depan lalu mengintip ke luar jendela, dari jauh terlihat mobil Nathan melaju pergi dan mendadak aku merasa sedikit takut. Sendirian di rumah kosong yang masih asing dan di Negara yang tidak pernah kukunjungi. Tetapi entah mengapa aku bisa begitu menyukai rumah ini sampai-sampai ingin tinggal di sini, tanpa tahu kalau ini memang akan menjadi rumahku juga. Memikirkannya membuatku kembali merasa aneh, masih sedikit tidak mempercayai apa yang sedang kualami sekarang ini. Waktu berjalan begitu cepat…

*************************************************

Suara teriakan anak-anak dari luar rumah membuatku terbangun dari tidurku. Sekilas aku melihat jam dinding, dan ternyata aku baru tertidur setengah jam. Aku menarik otot tubuhku sambil turun dari tempat tidur dan keluar kamar, berharap sudah bisa melihat Yi Fan. Tetapi rumah masih begitu sepi, sama sekali tidak terdengar suara lain, hanya ada aku.

Aku melangkah pelan ke arah jendela depan lagi dan memperhatikan keluar rumah. Beberapa anak kecil sedang bermain di depan rumah, di tengah jalanan sepi itu, ada yang sedang bermain badminton, bermain bola basket yang berukuran sedang, dan beberapa anak perempuan sedang mengendarai sepeda dengan riang. Pemandangan itu sudah sangat jarang sekali kulihat, bahkan tidak pernah kurasakan seumur hidupku.

Aku mengalihkan pandanganku ke pintu kamar lain yang sedikit terbuka, membuka pintu kamar itu membuatku bersin beberapa kali. Aku terpaksa menutup rapat pintu kamar yang sepertinya memang sangat berdebu itu dan masuk ke dalam toilet di sampingnya dan membasuh wajahku dengan air dari wastapel dan mengeringkann wajahku dengan handuk bersih yang sudah tersedia dengan rapi di sana. Aku sedikit mengerutkan keningku, setelah sadar tidak ada peralatan mandi apapun di dalam sini. Hanya ada handuk dan tissue.

Setelahnya aku teringat, kamar Yi Fan yang berada di tengah tadi, sudah termasuk kamar mandi di dalamnya. Aku ingat melihat sebuah pintu lagi di sana, tetapi aku belum mengeceknya.

Aku akhirnya kembali ke kamar Yi Fan dan mendekati tumpukan buku di bawah jendela yang sudah sempat kulihat tadi, karena terlalu lelah, aku mengurungkan niatku untuk menyentuh tumpukan buku itu dan lebih memilih tidur.

Buku-buku di hadapanku terlihat usang, tetapi bukan berarti tidak disentuh lagi sama sekali.

“Oh…” Aku menggidik pelan saat melihat sebuah buku, covernya yang berwarna dasar biru itu bertuliskan ‘Yokohama’, lengkap beserta tahun dan nama kami, tulisan Yi Fan.

Aku ingin sekali menahan diriku untuk menyentuh buku itu, tetapi pada akhirnya, otak dan hatiku sekali lagi tidak bisa saling bekerja sama. Tanganku meraih buku itu, dan duduk bersandar di dinding, di bawah jendela, di samping tumpukan buku tadi.

Aku menarik nafasku, memejamkan mataku sambil membayangkan semua hal yang kuingat tentang Yokohama, mempersiapkan diriku kembali ke masa-masa itu lagi.

Aku membuka halaman pertama dan langsung menemukan tulisan rapi Yi Fan, beserta dengan tanggal liburan pertama dan terakhir kami berdua, di saat itu…

‘Yokohama! Akhirnya aku bisa membawa Eun Yoo ke kota ini. Meskipun aku tidak suka, tetapi aku harus melawan rasa tidak sukaku demi Eun Yoo. Aku yakin aku bisa mengganti rasa tidak sukaku pada Yokohama, menjadi rasa suka karena aku datang lagi bersama Eun Yoo. Aku tidak membawa novel atau buku apapun, supaya aku bisa tetap fokus berdua saja dengan Eun Yoo di sini. Jadi aku membeli notebook ini untuk menulis. Aku tidak bisa tidak menuliskannya sekarang, Aku harus menulis dengan perasaan legaku, dan demi diriku sendiri, aku ingin mengingatnya terus sampai kapanpun, setiap aku membaca tulisan ini, aku akan mengingatnya, dan semoga suatu hari aku bisa membaca kembali tulisanku ini bersama Eun Yoo.

Saat ini Eun Yoo sedang tidur di pesawat, jadi kugunakan kesempatan untuk menulis sebelum dia bangun. Kalau saja dia tahu aku sedang menulis hal seperti ini, sungguh memalukan!’

 

‘Pesawat akan mendarat di Yokohama sebentar lagi, kepala Eun Yoo mulai bergerak. Be right back!’

Aku tersenyum tipis setelah selesai membaca halaman pertama buku itu. Yi Fan memang benar-benar tidak bisa ditebak, bahkan sampai sekarang pun. Aku hanya bisa tersenyum lebar sambil membalik ke halaman berikutnya.

‘Aku sedang bosan. Eun Yoo meninggalkanku sendirian di kamar dan sekarang dia sedang di kamar, bersama eommanya. Ahh… Akhirnya aku berhasil mempertemukan mereka, meskipun tidak langsung dari aku, tetapi aku yakin Tuhan sedang membantuku.

Kami mengunjungi makam ayah Eun Yoo. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya menangis, jadinya aku menangis juga. Aku bahkan berjanji pada ayahnya, akan membahagiakannya dan mencari ahjumma sampai ketemu. Siapa sangka kami akan bertemu seseorang yang ia kenal di pemakaman itu dan mempermudah segalanya?

Sialnya… Ahjumma itu memiliki wajah yang cukup familiar. Dia mengatakan aku familiar, aku sendiri juga merasa begitu, tetapi entah di mana aku pernah bertemu dengannya…
Dan mengenai rumah lama Eun Yoo, juga lapangan basket sekolah di depannya. Keduanya begitu familiar, tetapi aku tidak ingat pernah berada di sana. Memang… Aku pernah gegar otak, tetapi kata Dad, aku tidak melupakan apapun, dan kenapa aku tidak suka Yokohama? Dad bilang karena aku selalu bosan di sini, hanya itu. Tetapi masalahnya, aku bukan hanya merasa tidak suka, tetapi juga takut. Aku tidak tahu kenapa.

Oh… Bodohnya aku hari ini, aku cemburu pada anak kecil yang tidak kukenali. Seharusnya tidak perlu cemburu sih, toh Eun Yoo tidak bertemu dengan anak kecil itu lagi. Aku menyesal sudah cemburu padanya.’

‘Barusan ahjumma mengetuk pintu kamarku. Sudah subuh sih. Berarti mereka bercerita sampai subuh, Eun Yoo sudah tidur dan ahjumma keluar. Masalahnya sekarang adalah… Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menuliskannya di sini. Kepalaku sakit luar biasa dan hampir pingsan rasanya.

Pembicaraanku dengan ahjumma bukanlah pembicaraan yang menyenangkan bagiku, juga bagi ahjumma.’

‘Bagaimana ya… Aku tidak pernah sanggup menuliskan sesuatu yang menyakitkanku, tetapi sialnya…’

Aku mengerutkan keningku dan langsung beralih ke halaman berikutnya yang penuh dengan coretan keras, bahkan membuat kertas pada buku itu sedikit sobek juga sedikit keriput.

Cepat-cepat aku membalik halaman buku lagi, dan tulisan Yi Fan berubah menjadi lebih besar dan terlihat seperti ditulis dengan cepat.

‘Sudah pagi. Aku ketiduran di meja, lebih tepatnya sakit kepalaku membuatku tertidur, dan akhirnya aku mengingat sesuatu yang seharusnya tidak kuingat.

Lebih tepatnya lagi aku teringat karena aku telah bertemu dengan orang yang membuatku melupakan sebagian hal penting di masa kecilku. Aku ingat semuanya…’

‘Aku sudah di kamar Eun Yoo. Ahjumma memberikanku kartu untuk membuka pintunya.

Hhhh… Aku hanya akan membiarkan Eun Yoo tidur lebih lama dan menulis semuanya dulu sebelum ia terbangun. Aku menulis sambil menatapnya, membuatku semakin merasa tersiksa.

Ahjumma itu… Dia mengatakanku terlihat familiar, bukan hanya familiar, tetapi dia memang masih mengingat wajahku. Dia bahkan tahu aku, dia bahkan melihatku beberapa kali,  dia bahkan tahu aku sedang di Yokohama, tetapi dia tidak menyangka aku bersama Eun Yoo.

Dad dan ahjumma… Mereka kembali bersama, entah sejak kapan. Ahjumma bilang mereka sedang mempersiapkan pernikahan. Saat Dad mengetahuiku akan ke Yokohama, Dad meminta ahjumma menemuiku, tetapi ahjumma tidak mau menuruti Dad.

Ahjumma itu masih sama menyebalkannya dengan saat itu. Saat dia menatapku seperti sedang menatap musuhnya. Saat dia menatapku seperti ingin membunuhku, dan saat dia benar-benar hampir membunuhku. Aku gegar otak karena dia. Dan sekarang, aku akan kehilangan Eun Yoo juga karena dia. Dia benar-benar sudah merusak kehidupanku. Orang yang sangat disayangi Eun Yoo.

Aku benar-benar lebih baik mati daripada harus menghadapi ini lagi. Aku tidak bisa menahannya lagi.

Ahjumma itu bahkan memberiku waktu hanya sebentar untuk menceritakannya pada Eun Yoo, dan dia bahkan memberikanku pilihan kedua… meninggalkan Eun Yoo tanpa menceritakan apa-apa.

Aku harus bagaimana?’

‘Barusan Eun Yoo terbangun, dan sepertinya dia pura-pura tidur lagi. Jadi aku juga pura-pura tidak tahu dan melanjutkan menulis. Lagipula, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Eun Yoo sekarang. Aku menatap keluar jendela dan tidak menatap Eun Yoo lagi sambil menulis, aku tidak sanggup membayangkannya menjadi adikku.

Saat itu, saat aku bermain basket di depan rumahnya, aku sudah membayangkan anak itu yang akan menjadi adikku, jadi aku hanya bermain basket dengan kesal, aku harus terlihat dewasa dan dingin, aku ingin dia takut padaku. Aku calon kakaknya. Aku harus membuatnya takut padaku.

Dan ternyata dia sama sekali tidak takut padaku, tetapi malah menyukaiku. Mengingat ceritanya semalam, aku kembali tersenyum. Aku hanya perlu pura-pura tidak tahu di hadapannya, supaya dia tetap senang seperti kemarin. Aku hanya perlu menceritakan sedikit saja, supaya dia sadar, Oppa yang dia ceritakan itu adalah aku. Aku tidak perlu menceritakan tentang pernikahan orang tua kami. Aku tidak ingin melihatnya menangis di saat-saat seperti ini.

Aku harus membangunkan Eun Yoo dulu… Bye.’

Aku menyeka airmata di wajahku dan airmataku yang menetes pada lembaran kertas buku Yi Fan. Aku ingat semuanya, dan semua keanehan Yi Fan saat itu sudah terjawab. Dia benar-benar menahan segalanya sendirian dan menuliskan semuanya ke dalam buku.

Buku Yokohama yang seharusnya berisi hal-hal yang indah, tidak terjadi sesuai keinginan Yi Fan.

Yokohama selamanya akan menjadi hal yang paling dibencinya, begitu juga aku, aku sangat-sangat membenci semua hal yang ada di masa laluku.

Aku masih terus menangis dan mencari ke tumpukan buku lagi, berharap aku bisa mengetahui semua yang dirasakan Yi Fan saat itu. Saat dia harus meninggalkanku dan pergi ke Seoul, bertemu denganku di kantor ayahnya, dan harus tinggal bersamaku sebagai adiknya, juga harus tinggal bersama dengan Eomma yang hampir membunuhnya. Eomma yang sama sekali tidak pernah menyayangiku. Eomma yang benar-benar menjadi istri dari ayahnya…

“Kau sedang apa?” Suara Yi Fan membuatku terdiam dan sama sekali tidak berani mengangkat kepalaku untuk menatapnya.

“Astaga…” Aku mendengar langkah kaki Yi Fan berjalan cepat memasuki kamar, dan ia langsung menarikku menjauhi tumpukan buku.
“Aku lupa menyimpannya. Sial sekali.” gumam Yi Fan dan menatap buku yang kugenggam, setelahnya Yi Fan langsung menarik buku itu dari genggamanku.

“Bukannya sudah berjanji tidak mengingat masa lalu? Kenapa masih membaca ini?” tanya Yi Fan pelan menarikku ke pelukannya. Aku tidak menjawab apapun dan hanya menangis.

“Maaf. Aku benar-benar lupa menyimpan buku ini. Seharusnya kubakar saja.”

“Jangan…” gumamku pelan dan masih terisak pelan.

“Tidak ada yang bisa kau sukai dari buku ini.” katanya lagi dan menepuk pelan punggungku.

“Ada… Aku yang menyukaimu dan tidak takut padamu, saat itu…” jawabku dan melepas pelukannya. Aku mencoba menenangkan diriku dan membahas satu hal yang membahagiakan saja.

Yi Fan tersenyum tipis dan mengigit bibir bawahnya.

“Aku memalukan sekali tidak?” tanyanya dan tersenyum malu.

“Sedikit.” jawabku dan Yi Fan langsung memanyunkan bibirnya.

“Sudahlah. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Ayo kita makan.” katanya dan menarikku keluar kamar sambil melemparkan buku Yokohama itu kembali ke tumpukan buku lainnya.

“Nathan akan bingung kalau melihatmu seperti ini.” Yi Fan menyeka airmataku dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan.

“Lalu di mana Nathan?” tanyaku sambil menatap sekeliling, sama sekali tidak ada Nathan di lantai bawah, apalagi di lantai atas tadi.

“Ada yang mau menyewa Ubernya di sekitar sini. Jadi dia kerja sebentar. Kita bisa makan duluan sih, dia tidak akan makan di sini juga kok.” jelas Yi Fan sambil sibuk membuka kotak pizza yang dipesannya.

“Kau kemana tadi? Kukira beli makan, ternyata pizzanya delivery ya?” tanyaku sambil mendekati kotak pizza yang diletakkan di atas meja kecil di ruang tengah.

“Aku ke sebuah tempat penting tadi. Nanti kau kuberitahu. Makan saja dulu.” katanya dan mengambilkan sepotong pizza, lalu menyuapiku begitu saja. Kemudian tangan kirinya meraih remote TV di sebelahnya dan menyetel channel olahraga, sesuai dugaanku…NBA.

“Kau suka junk food ya?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng cepat.

“Jangan salah paham dulu. Aku biasanya masak kok. Hari ini aku pesan pizza karena aku sudah lama tidak makan pizza. Lagipula, aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk memasak dan tidak bisa bersamamu. Kau sudah baca semua bukuku ya? Kurasa aku tidak perlu menyembunyikan perasaanku lagi kan? Aku juga sepertinya sudah terlanjur memalukan di hadapanmu.” Yi Fan berbicara dengan cepat dan tertawa pelan, aku hanya bisa menatapnya lekat-lekat dan menahan tawaku. Aku benar-benar ingin tertawa bahagia sekaligus lucu melihatnya seperti ini.

“Aku suka kok, tidak memalukan juga.” jawabku akhirnya dan Yi Fan tersenyum lebar.

“Harus. Kau tidak bisa tidak menyukaiku lagi, kalau pun tidak suka lagi, kau sudah tidak bisa kemana-mana sekarang, benarkan?” tanyanya jahil dan akhirnya aku tertawa, begitu juga dia.

“Aku hanya tinggal memesan Uber, beli tiket kembali ke Seoul. Sepertinya tidak sulit sih.” jawabku dan Yi Fan langsung mempelototiku.

“Makan saja deh!” jawabnya kesal dan hanya menyodorkan sepotong lagi pizza dengan keju mozzarella yang lumayan banyak di atasnya. Aku tertawa lagi dan melahap pizza yang disodorkannya.

“Jadi… Apa yang kau lakukan selain menulis?” tanyaku dan Yi Fan hanya menatapku, terlihat sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan.

“Kenapa?” tanyanya dan aku mengerutkan keningku.

“Hanya penasaran saja.” jawabku dan Yi Fan menggaruk pelan kepalanya lagi.

“Kau melakukan kejahatan ya?” tudingku dan membuatnya tertawa keras.

“Aku tidak akan setenang ini kalau memang sudah melakukan kejahatan, miss… Kau tahu? Semacam editor dan translator freelance. Pernah dengar?”

“Ha? Tentu saja pernah. Pekerjaan yang terlalu mudah untukmu. Di mana?”

“Tentu saja di Harper. Di mana lagi.”

“Ha?” Aku mengerutkan keningku lagi. Aku ingin mengerti maksudnya tanpa harus menanyakannya.

“Karena freelance, aku tidak perlu memberi tahu mereka aku juga penulis di sana. Mereka tidak pernah bertemu aku secara langsung sebagai editor dan penerjemah.”

“Wah… Pantas saja kau bisa bebas pindah ke kota kecil. Kau memang butuh konsentrasi penuh.”

“Iya. Benar sekali.”

“Jadi? Aku harus bagaimana nanti?”

“Bagaimana apanya?” tanya Yi Fan balik, dahinya berkerut bingung.

“Apa yang harus kulakukan di sini?” tanyaku dan Yi Fan tertawa lagi.

“Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Atau kalau mau, kau boleh membantuku menerjemahkan bahasa korea ke dalam bahasa inggris, jadi aku tinggal menerjemahkan bahasa mandarin saja. Pekerjaanku jadi berkurang satu. Bagaimana?” tawarnya dan aku hanya diam, berpikir.

“Lalu, bagaimana caranya kau membagi waktu ya? Editor, Penerjemah dan Penulis?” gumamku dan lagi-lagi Yi Fan tertawa.

“Yah… Bagaimana ya… Aku tidak yakin sekarang aku masih bisa seperti dulu lagi.”

“Kenapa?”

“Aku harus membagi waktu untukmu juga.”

“Oh…” Aku hanya terdiam mendengar jawabnya, Yi Fan tersenyum tipis dan membuat jantungku berdegup lagi.

“Dan akan ada satu orang lain.”

“Siapa?” tanyaku pelan. Pria ini benar-benar memiliki banyak hal di pikirannya.

“Anak kita.” jawabnya dan aku hampir tersedak pizza yang baru saja akan kutelan.

“Kenapa kaget begitu?” Yi Fan tertawa pelan dan menyodorkan air mineral untukku.

“Begitulah.” jawabku singkat setelah meneguk habis air mineral yang diberikannya.

“Hey.” Aku menjauhkan wajahku saat Yi Fan hampir saja menangkup wajahku dengan kedua tangannya. “Tanganmu masih kotor.” tukasku. Yi Fan memanyunkan bibirnya dan langsung berjalan ke arah dapur. Aku menahan tawaku dan saat Yi Fan kembali dengan tangannya yang sudah bersih, Nathan muncul dari ruangan depan. Nathan meletakkan sebuah kardus besar dan di dekat tangga dan ikut duduk di samping Yi Fan.

“NBA All Star! We need to focus on this now. Don’t talk to me. Hello miss Eun Yoo. Already miss you!” Nathan berkata serius pada Yi Fan dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku kemudian tersenyum lebar, setelah itu tatapannya hanya tertuju pada layar televisi yang sedang menampilkan beberapa pemain basket. Dari yang kuketahui, NBA All Star itu pertandingan beberapa bintang terkenal dunia entertain dari beberapa Negara. Aku pernah menontonnya sekali, tahun lalu.

“You can focus 100% if you go to Los Angeles now. Not watching it here, dude.” jawab Yi Fan dan membuatku tertawa pelan. NBA All Star tahun ini diadakan di kota Los Angeles, tahun lalu di New Orleans dan dua tahun lalu di Toronto.

“Berarti dua tahun lalu kalian langsung menontonnya di Toronto?” tanyaku dan Yi Fan langsung menoleh kaget ke arahku. Begitu juga Nathan. Tatapan kaget mereka membuatku merasa gugup. Apa ada yang salah? Atau sepertinya aku memang sudah salah melontarkan pertanyaan itu.

“Kenapa? Aku salah ya?” tanyaku, bingung. Sepertinya aku memang salah sudah melontarkan pertanyaan itu.

“How did you know? You watched it? In Toronto too?” tanya Nathan cepat, sambil sesekali menatapku dan Yi Fan, kemudian menatap layar TV lagi.

“No… I watched it on youtube… But, how did you know what’s I’m saying?” tanyaku dan Nathan mengerutkan keningnya.

“I learn Korean, once.” jawabnya dan kembali fokus pada layar TV.

“Kau suka basket?” tanya Yi Fan dan aku tidak bisa mengatakan tidak, juga tidak bisa mengatakan iya.

“Anggap saja begitu deh.” jawabku cepat dan meraih gelas kosong kemudian membawanya ke dapur.

Aku tidak ingin mengatakan alasan utamaku menonton NBA All Star itu. Aku memang menyukai basket, pertandingan basket maksudnya, tetapi aku selalu punya alasan utama setiap menonton pertandingan basket dan alasan utama itu selalu membuatku teringat masa lalu.

“Hey.” Yi Fan memelukku dari belakang, saat aku sedang mencuci gelas yang tadi kupakai.

“Hey! You will miss today’s game!” Suara Nathan kembali terdengar.

“We have youtube, dude!” jawab Yi Fan cepat.

“Whatever!” jawab Nathan dan volume TV terdengar lebih keras lagi.

“Kenapa?” tanyaku dan Yi Fan mempererat pelukannya.

“Apanya?”

“Kenapa tidak ikut Nathan?”

“Kau sudah tahu jawabannya kan.” jawabnya sambil membalikkan badanku menghadapnya. Aku hanya mengangguk dan Yi Fan tersenyum lagi, sambil memeluk pinggulku.

“Dua tahun yang lalu, kau benar-benar hanya menonton NBA dari youtube?”

“I…iya…” jawabku gugup dan sedikit menahan nafasku.

“Begini… Kau bilang dua tahun yang lalu kau pernah datang ke Toronto. Berapa lama? Kemana saja? Dengan siapa?”

Aku menghela nafas begitu mendengar deretan pertanyaannya yang diajukan Yi Fan.

“Apakah harus dijawab?” tanyaku malas dan Yi Fan mengangguk tegas sambil menatapku lekat-lekat.

“Baiklah… Aku ikut tour, tetapi hanya tour satu hari, dan sisanya aku jalan-jalan sendirian.”

“Sendirian?” Yi Fan membelak kaget dan aku menarik nafas satu kali lagi.

“Aku hanya ke Vancouver satu hari, jadi hanya bisa mengunjungi beberapa tempat di terkenal di sana dan termasuk tempat acara fansigning-mu yang diadakan 1 minggu sebelumnya. Kemudian aku ke Harper di Toronto, dan tepat sesuai rencanaku, saat NBA All Star dimulai. Aku tadinya ingin bertemu denganmu, tetapi aku bahkan tidak berani mengangkat kepalaku untuk mencarimu. Padahal aku yakin kau pasti ada di sana.” jelasku akhirnya dan aku menundukkan wajahku.

“Kenapa menunduk?” tanyanya dan mengangkat wajahku.

“Aku benar-benar tidak ingin mengingat masa-masa itu lagi. Aku mengikuti tour beberapa hari ke Kanada memang hanya untuk bertemu denganmu. Aku pergi dengan membawa perasaan sakitku, bukan perasaan bahagia atau perasaan menyenangkan apapun. Jadi, aku benar-benar tidak menikmati satu hari pun liburanku di Vancouver, maupun Toronto,” jelasku akhirnya.

“Pada akhirnya aku kembali ke Seoul tanpa hasil apapun. Aku sama sekali tidak mendapatkan tujuan awalku. Aku terlalu takut.” lanjutku dan Yi Fan menghela nafas berat.

“Maaf…” bisiknya dan memelukku erat.

“Aku sama sekali tidak tenang menyaksikan pertandingan NBA itu, jadi aku kembali menontonnya lewat youtube setelah aku kembali ke Seoul.”

Yi Fan hanya diam dan memelukku lebih erat.

“Begini.” Yi Fan tersenyum paksa dan menatapku lembut.

“Aku memang ada di Toronto saat itu… Dan…” Yi Fan akhirnya hanya diam dan terus menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti.

“Aku bisa mengerti perasaanmu saat itu. Jadi… maafkan aku yang tidak bisa benar-benar mengenalimu saat itu…” gumamnya. Yi Fan perlahan menangkup wajahku dan mengulum bibirku perlahan. “Maafkan aku.” bisiknya dan memperdalam ciuman lembutnya.

*******************************************

 

Vaughan, Ontario, Canada

“Hhhh.” Aku menepuk-nepuk wajahku pelan dan menatap ponselku, menunggu telepon dari Heejin. Dia sudah mencoba menghubungiku dari siang tadi. Dia sudah mengomeliku lewat chat, dan dia akan mengomeliku lagi lewat telepon.

Baru aku mau meletakkan ponselku, suara dering khas dari aplikasi free call membuatku batal beranjak dari tempat tidur, dan menjawab panggilan telepon dari Heejin. 1, 2, 3.

“Ya! Kwon Eun Yoo! Ini sudah yang kedua kalinya kau pergi tanpa menceritakan apapun padaku! Apa yang terjadi di Seoul? Aku dengar dari Sukjin, Ji Anh menangis sangat kau pergi dengan hyungnya. Siapa hyung yang dia maksud? Untuk apa kalian ke Kanada?” Pertanyaan bertubi Heejin membuatku menghela nafas sambil tertawa pelan.

“Omo! Kau tertawa ya? Kau ini, sudah tidak pernah menceritakan apapun padaku, sekarang kau menghilang dan menertawaiku? Yang benar saja? Cepat jawab pertanyaanku, ahgassi!” teriak Heejin lagi dan aku menahan tawa.

“Maaf aku tidak menceritakan apapun padamu. Aku takut mengganggumu. Kau pasti sangat sibuk sekarang.”

“Hey. Sudah kukatakan berapa kali? Aku rela meninggalkan kesibukanku demi kau. Kau saja yang terlalu takut dan tidak mau menceritakan apapun lagi. Ayolah… Kenapa kau ke sana? Kapan kembali?”

“Sepertinya aku akan lama di sini.”

“Kenapa?”

“Kau masih ingat Wu Yi Fan?” tanyaku pelan dan Heejin terdiam, suasana hening sesaat, sehingga aku bisa mendengar suara Yi Fan yang sedang mandi sambil bersiul pelan.

“Eun Yoo-ah. Ada apa? Kenapa tiba-tiba membahas dia? Aku tidak tahu kau masih sangat mencintai orang itu… Kau tidak ke Kanada untuk mencarinya lagi, bukan?” tanya Heejin pelan, volume suaranya berubah drastis. Ia tidak terdengar marah lagi.

“Dia kembali ke Seoul waktu Ji Anh berulang tahun.”

“Ha?! Kenapa? Setelah bertahun-tahun? Yang benar saja?”

“Hm… Yi Fan bilang…” Aku menghentikan ucapanku ketika terdengar suara pintu terbuka. Yi Fan keluar dari kamar mandi dan sambil menatapku bingung.

“Siapa?” bisiknya dan duduk disebelahku.

“Heejin.” bisikku dan Yi Fan meng-oh tanpa mengeluarkan suara.

“Heejin, sebentar.” kataku cepat dan menjauhkan ponselku dari telinga.

“Mau ke mana? Kau belum selesai cerita! Yi Fan kenapa?!” pekik Heejin dan Yi Fan yang mendengar teriakan itu tertawa pelan.

“Lanjutkan saja ceritamu. Sampaikan salamku padanya ya… Oh ya, Lebih baik kau pakai earphone. Sebentar.” Yi Fan beranjak dari duduknya sambil tertawa mendengar teriakan Heejin yang tidak sabar terus memanggil namaku.

“Pakai ini.” kata Yi Fan sambil memasangkan earphone sebelah kanan di telingaku, dan menyambungkan jack earphone itu pada ponselku.

“Sabar Heejin-ssi.” kata Yi Fan dan membuat Heejin semakin berteriak kaget.

“Yak!! Kalian!!” teriaknya kesal, dan membuat telingaku sakit setengah mati.

“Heejin-ah… Aku sedang bicara dengan Yi Fan tadi. Sabar sedikit.” kataku dan menahan tawaku lagi.

“Kau sedang bersama Yi Fan? Yang benar saja? Hyung yang dimaksud Wu Yi Fan? Benarkan? Ya Ampun. Kalian gila?” tanyanya cepat dan Yi Fan yang memakai earphone sebelah kiri tertawa pelan.

“Dengarkan saja dulu.” kata Yi Fan dan lagi-lagi Heejin berteriak. Aku yakin dia sedang sendirian di rumah dan dia sedang bebas berteriak seperti dulu lagi.

“Heejin-ah… Kami sedang di Vaughan.” kataku dan terdengar Heejin mendengus.

“Eun Yoo-ssi. Kau sedang mempermainkan aku? Aku tidak tanya kau sedang di mana. Aku minta penjelasan apa yang terjadi sejak di kembali ke Seoul dan untuk apa kau di sana! Susah sekali ya menceritakannya padaku?” desaknya dan Yi Fan tertawa lagi.

Aku tertawa pelan, menarik nafas dan menceritakan apa yang ingin kuceritakan. Tidak secara rinci, tidak semua yang terjadi, hanya intinya saja.

“Kau memang Kwon Eun Yoo. Selalu berasumsi tanpa tahu yang sebenarnya. Untung saja cincin itu cepat diberikan. Dasar bodoh.” kata Heejin dan Yi Fan menertawaiku lagi. Heejin sendiri tidak tahu kalau Yi Fan juga sedang mendengarkan omelan dan teriakannya sedari tadi.

“Aku lelah.” bisik Yi Fan dan bersandar di sandaran tempat tidur, kemudian menarikku mendekat, membuatku duduk membelakanginya.

“Sini.” Yi Fan menarik kembali earphone yang terlepas darinya dan membuatku bersandar di dada bidangnya. Ini yang kedua kalinya, kalau aku tidak salah ingat, yang pertama kali saat aku dikurung Jung Yeon eonni. Mungkin.

Aku masih terus menceritakan beberapa hal pada Heejin, sesekali Yi Fan meringis pelan saat aku menceritakan bagian terburuknya.

“Eomma-mu benar-benar gila.” komentar Heejin lagi. “Psikopat bukan sih?!” kesal Heejin dan aku hanya diam. Yi Fan memelukku dengan erat, dan menopang dagunya di bahuku.

“Ceritakan yang di Toronto saja. Lupakan eomma.” kata Yi Fan dan aku mengangguk pelan. Kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Kau ingat dua tahun lalu aku ke Toronto?” tanyaku dan Heejin mengiyakan, sambil mengomel lagi kalau saat itu aku pergi tanpa memberitahunya, setelah tahu untuk apa aku ke Toronto, dia mengomeli terus tanpa mempedulikan apapun. Aku yang sedang sedih, jadi merasa lebih baik karena mendengar omelannya, waktu itu.

“Saat aku menonton NBA, Yi Fan melihatku.”

“NBA itu apa ya? Maaf aku lupa.”

“Pertandingan basket.”

“Oh!! Yang kau sampai tidak berani mencarinya itu ya? Sampai rela membuka youtube, nonton berulang-ulang, berharap masih bisa melihat Yi Fan direkam kamera TV? Konyol sekali.” ocehnya lagi dan aku merasakan wajahku memanas seketika. Aku sama sekali tidak menceritakan ini pada Yi Fan. Astaga, apa aku beritahu saja pada Heejin kalau Yi Fan juga sedang mendengarkannya? Supaya dia tidak mengatakan yang tidak-tidak lagi.

“Benar yang dikatakannya?” tanya Yi Fan dan semakin memelukku erat dengan seluruh tubuhnya.

“Aku hanya penasaran. Kan tidak salah juga.” kataku pada Heejin, sama sekali tidak menggubris pertanyaan Yi Fan.

“Memang tidak salah. Tapi coba kau pikirkan? Bagaimana kalau memang bertemu dengannya, tetapi dia sedang bersama istrinya mungkin? Atau mungkin anaknya? Memangnya kau bisa jamin tidak apa-apa? Kau ini tidak menceritakan apapun padaku, Aku mengira kau sudah bisa melupakannya. Eh, sekarang malah menghilang bersamanya. Yang benar saja?”

“Hhh…” Yi Fan menghela nafas berat dan mengecup pipiku sekilas.

“Lalu? Di mana Yi Fan sekarang? Kau tinggal bersamanya?” tanya Heejin lagi, nada suaranya berbeda lagi. Baru saja Yi Fan akan mengeluarkan suara, aku menggenggam jemarinya, meminta untuk tetap diam. Aku tidak mau mendengar Heejin berteriak lagi. Perasaanku sedang tidak enak. Entah kenapa.

“Iya. Aku tinggal bersamanya.” jawabku akhirnya dan Heejin terdengar mendengus pelan.

“Boleh bertanya? Aku penasaran sesuatu.” tanyanya dan aku mengerutkan keningku.

“Kau dari tadi sedang bertanya banyak hal, Heejin-ssi. Kenapa sekarang meminta izin untuk bertanya?” tukasku dan Heejin terkekeh.

“Karena pertanyaannya sedikit pribadi. Aku bertanya karena aku yakin kau sudah…”

“Apa?” tanyaku memotong ucapannya.

“Jujur… Apa kau dan Yi Fan sudah pernah melakukannya?” tanya Heejin perlahan dan aku semakin mengerutkan keningku.

“Melakukan apa?” tanyaku balik.

“Tuh kan. Polos sekali…” gerutunya dan Heejin mendengus lagi.

“Memangnya hubungan kalian masih sebatas ciuman? Aku tidak begitu percaya kalau kau bilang tidak. Yi Fan itu aslinya kan memang dari Kanada, jadi aku yakin kalian pasti pernah melakukannya minimal sekali.” jawab Heejin cepat. Aku merasakan degup jantung Yi Fan yang begitu cepat, begitu juga denganku. Pertanyaan Heejin semakin lama semakin mengerikan. Aku hanya bisa membenamkan wajahku di antara kakiku yang sedang menekuk.

“Dan kalian sudah cukup tua untuk itu.” sambung Heejin dan kami masih tetap diam.
“Eun Yoo! Kenapa diam? Kau malu? Untuk apa malu? Itu sudah wajar. Aku dan Minseok saja sudah melakukannya sebelum dia melamarku. Jadi, jujur saja padaku.” Heejin masih mengomel tanpa peduli sudah membuat suasana kamar menjadi sangat kaku dan aneh.

“Heejin-ah…” panggilku pelan. Suaraku mendadak parau.

“Ya?”

“Aku sudah katakan dari dulu. Dia tidak melakukan apapun. Kami tidak akan melakukannya dulu.” jawabku pelan, gugup dan Heejin terdiam. Aku yakin dia sedang melongo atau semacamnya.

“Tidak mungkin! Dia tidak normal ya?” tukas Heejin. Yi Fan mendengus kesal dan memelukku lagi, setelah tadi sempat melepas pelukannya karena pertanyaan Heejin.

“Heejin-ssi.” panggil Yi Fan sambil mendekatkan mic earphone, sejurus kemudian terdengar teriakan histeris Heejin. “Eh?? Yi Fan?! Kalian masih bersama ya?! Kau mendengar semuanya juga?!!”

“Heejin-ssi. Biar aku yang jawab saja karena Eun Yoo bahkan tidak bisa bicara dengan normal sekarang karena pertanyaanmu. Aku sangat normal. Sangking normalnya aku beberapa kali menahan diriku untuk tidak melakukan apapun padanya. Bisa memeluknya seperti sekarang saja sudah seperti keajaiban untukku. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku hanya akan melakukannya setelah aku benar-benar sudah memilikinya. Kami akan menikah sebentar lagi. Aku akan memastikan kau orang yang pertama kali tahu kalau kami sudah melakukannya. Bagaimana?” jawaban Yi Fan membuat jantungku semakin berdebar tidak karuan. Aku bahkan tidak mendengar suara Heejin untuk beberapa saat sampai akhirnya Heejin meminta maaf dengan suara pelan.

“Aku keluar sebentar.” bisik Yi Fan setelah mengecup tengkukku sekilas, kemudian ia melepas pelukannya dan keluar dari kamar.

“Kau ini ya. Bicaramu semakin jauh saja.” omelku dan Heejin melontarkan kalimat merasa bersalahnya lagi, tetapi juga menyalahkanku karena tidak memberitahunya kalau Yi Fan juga sedang ikut mendengarkan.

“Dia marah?” tanya Heejin dan aku menggeleng.
“Semoga tidak. Dia sudah keluar dari kamar.”

“Kalian daritadi di kamar?!”

“Ya. Kau tahu? Dia sampai bersedia tidur di kamar lain karena tadi siang aku kaget rumahnya hanya ada dua kamar. Kamar satunya lagi masih sangat berdebu. Belum dibersihkan.”

“Jadi sekarang kau di kamarnya?”

“Ya.”

“Dan kalian tidak akan tidur bersama?”

“Sepertinya tidak.”

“Jadi kalian memang benar-benar tidak pernah tidur bersama sama sekali?” tanya Heejin lagi, memastikan.

“Hmmm… Begini. Tidur bersama memang pernah, dia hanya memelukku saja, tidak melakukan hal-hal yang kau bayangkan. Hanya tidur, dan masih bisa dihitung dengan jari. Aku bersumpah.”

“Kapan saja itu?”

“Astaga…” Aku mendengus pelan dan terdengar tawa Heejin.

“Aku tahu kau tidak bertanya hal semacam ini padaku, tetapi aku harus bertanya padamu. Karena kalian pasangan yang benar-benar tidak terduga. Serius!”

“Saat makan malam pertama kali di rumahnya, saat aku mendadak menjadi calon adik tirinya.” gumamku pelan dan Heejin terdengar sedang menarik nafas pelan.

“Itu sudah sangat lama juga… Setelah itu?”

“Baru-baru ini saja. Saat dia mendadak melamarku.”

“Oh. Yang itu? Masih baru-baru saja. Ada lagi?”

“Huft…” Aku terdiam dan hanya menggeleng, tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Heejin. Aku merasa sedikit beruntung, karena Yi Fa bisa menahannya, karena aku sendiri juga merasa belum siap kalau harus melakukan hal itu. Tidak seperti Heejin dan Minseok.

“Jadi memang hanya itu itu saja?” tanya Heejin tak sabar menunggu jawabanku.

“Iya. Hanya itu. Hanya sebatas tidur dan ciuman ya. Saat kau bertanya hal yang sama dulu, itu memang belum terjadi apa-apa. Jadi aku tidak berbohong.” tegasku lagi, karena teringat Heejin sudah pernah menanyakan hal yang seperti ini sebelumnya.

“Wah. Hebat. Aku salut padanya.” Terdengar suara Heejin menepuk tangannya 3 kali.

“Kau sedang menyindir?” tanyaku dan Heejin menjawab tidak dengan cepat.

“Aku benar-benar memuji loh! Lalu kapan kalian menikah? Aku tidak yakin bisa datang. Kecuali kalau aku memang benar-benar bisa.”

“Entahlah. Aku tidak tahu kapan, tetapi sepertinya aku tidak menginginkan pernikahan dengan pesta, dan tamu. Aku hanya ingin sesuatu yang sederhana?”

“Kenapa? Pernikahan itu sesuatu yang hanya ada sekali seumur hidupmu. Seharusnya lebih berkesan.”

“Memang. Sederhana tetapi berkesan. Aku memang menginginkan pernikahan yang indah dan sempurna, tetapi aku selalu berakhir dengan mengingat pesta pernikahan Dad dan Eomma. Setiap aku harus terpaksa menghadiri pernikahan kolegaku, aku selalu merasa sedih dan sesak. Aku selalu teringat hari pernikahan mereka… Hari yang sangat menyakitkan itu, kau tahu?”

“Eun Yoo-ah…” suara Heejin mendadak terdengar parau. Aku bahkan tanpa sadar sudah menitikkan airmataku lagi. Dan aku terpaksa langsung berbaring di tempat tidur, kemudian menutupi wajahku dengan bantal.

“Setidaknya, semua sudah berakhir kan?” kata Heejin mencoba menenangkanku.

“Belum.” jawabku pelan dan aku benar-benar menangis lagi.

“Heejin-ah… Nanti aku telepon lagi.” kataku cepat sebelum Heejin sempat menahanku, aku sudah memutuskan telepon, melepas earphone dan menutupi wajahku semakin erat, aku menangis lagi. Ingatan itu benar-benar masih terasa sangat menyakitkan sampai detik ini. Ingatan yang membuatku tidak bisa menikmati hidupku dengan lebih bahagia lagi.

“Eun Yoo…” Suara Yi Fan membuatku semakin ingin menangis, tetapi aku menahannya. Aku tidak ingin membuatnya merasa lebih buruk lagi karena melihatku menangis.

“Kau sudah tidur?” Pertanyaannya membuatku ingin menghela nafas lega. Berarti dia tidak tahu aku sedang menangis.

Aku merasakan Yi Fan ikut naik ke atas tempat tidur, perlahan menjauhkan bantal yang menutupi wajahku dan mengelus rambutku dengan lembut.

“Apalagi yang ditanyakan Heejin,” gumam Yi Fan sambil menyeka airmataku, “Atau dia mimpi buruk lagi?” Yi Fan masih bergumam sendiri sambil mengelus pipiku, setelahnya Yi Fan perlahan mendekatiku dan menarikku ke dalam dekapannya. Aku bisa merasakan debaran jantungnya lagi.

“Hhhh… Aku benar-benar harus tidur di kamar belakang.” Yi Fan bergumam lagi. Aku refleks memeluknya erat dan semakin membenamkan wajahku di dadanya.

“Hmm?”

“Kajima.” kataku pelan. Meskipun Yi Fan tidak mengeluarkan suara dengan jelas, namun aku yakin dia sedang kaget karena permintaanku.

“Kajima…” pintaku lagi dan Yi Fan mempererat dekapannya.

“Baiklah…” bisiknya dan mengecup puncak kepalaku sekilas.

Aku masih ingin menenangkan diriku dengan cara seperti ini. Gomawo, Wu Yi Fan…

****************************

-TO BE CONTINUE-

Sedih banget.
Karena kelihatannya yang baca FF ini udah menghilang semua
Salahku juga sih lama banget update FF ini.

Bagi siapapun yang masih baca FF ini, mohon meninggalkan jejak.
Kalau pun memang gak ada yang baca lagi, aku akan tetap update FF ini sampai tuntas.

Thanks banget buat yang sudah benar-benar sabar menunggu dan membaca FF ini.
T_______T

 

-Eve RyLin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s