btp9

Hai semuanya!
Aku minta maaf banget buat update yang sangat-sangat terlambat ini.
Karena kondisiku sekarang sangat tidak memungkinkan untuk konsentrasi ngetik FF.
Kondisi buruknya datang dari berbagai faktor yang ga bisa author jelasin.
Aku sekarang lagi nyari cara buat bisa tetap lancar ngetik FF disaat-saat aku ga bisa ngetik dengan fokus dan tenang.

Selamat membaca part 9 yang juga hampir setahun ini teman-teman… I’m so sorry T_____T

Happy Reading!

“Noona…” bisikan pelan itu membuatku berusaha mengumpulkan kesadaranku dengan terpaksa.

“Noona…” panggilnya lagi. Ini bukan suara Jiamin, melainkan suara Yi Fan.

“Noona!” Kali ini suara Jiamin, ia berhasil membuatku membuka mata dan saat itu juga mereka tersenyum lebar padaku.

“Ughhh…” Aku mengerang pelan dan menutup wajahku dengan tangan lagi. Kepalaku sakit dan cahaya dari jendela kamar sangat menyilaukan.

“Noona. Ayo bangun! Kau tidur sudah terlalu lama!” kata Jian Xi dan mengguncang-guncang tubuhku.

“Ayolah noona! Hyung mengajak kita ke Wonju! Ayolah!!” Kali ini ia menarik-narik rambutku.

“Wonju?” Kagetku dan Jian Xi tersenyum lebar.

“Iya Wonju! Tempatmu tinggal. Kau berjanji akan membawaku kesana, tetapi belum kau tepati. Ayolahhhhh!” desak Jian Xi dan menarik-narik pergelangan tanganku.

“Iya iya. Aku memang akan kembali ke Wonju hari ini.” jawabku dan Jian Xi terdiam sesaat.

“Kau sudah berjanji tahun ini akan lebih lama di Seoul denganku!” protesnya dan gantian aku yang terdiam, sambil melirik ke arah Yi Fan yang hanya diam memperhatikan kami.

“Pekerjaanku terlalu banyak.” jawabku pelan dan Jian Xi mendengus.

“Baiklah. Kapan kau bisa saja Noona.” jawabnya dan melangkah keluar kamar. Seperti biasa, dia akan mengambek dan tidak mau bicara denganku selama beberapa jam.

“Kau sering berjanji padanya?” tanya Yi Fan dan aku mengangguk pelan.

“Iya, dan tidak pernah bisa kutepati, selalu saja terjadi sesuatu.” jawabku dan tertawa sedih. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengingkari janjiku, tetapi keadaan selalu memaksaku untuk tidak bisa menepati janjiku pada Jian Xi.

“Mungkin memang belum saatnya.” kata Yi Fan pelan dan tersenyum tipis.

“Untuk apa ke Wonju?” tanyaku dan Yi Fan mengerutkan keningnya.

“Menurutmu untuk apa?” tanyanya sambil mengelus pipiku.

“Hmm…” Aku hanya tersenyum tipis dan menatapnya.

“Siap-siaplah.” kata eomma yang berdiri di ambang pintu, membuat Yi Fan menjauh dariku saat itu juga. Wajah eomma terlihat marah, ia masih menatap ke arah kami tanpa mengatakan apa-apa.

“Jangan membuatku semakin merasa bersalah.” gumam eomma sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Maaf.” gumam Yi Fan dan beranjak dari duduknya.

“Maaf untuk apa?” tanyaku dan membuat langkah Yi Fan terhenti, ia mengerutkan keningnya dan menatapku.

“Untuk apa meminta maaf? Eomma saja tidak pernah meminta maaf padamu atas apa yang sudah ia lakukan padamu. Eomma merasa bersalah, tetapi sekalipun tidak pernah meminta maaf.”

“Eun Yoo-ah…”

“Sudahlah.” tandasku dan beranjak dari tempat tidur kemudian langsung masuk ke kamar mandi.

Aku benci segalanya…

******

“Yaiy!! Wonju!!” pekik Jian Xi senang dan menepuk-nepuk dasbor mobil yang dikendarai Yi Fan.

“Hyung! Kau masih sangat ingat jalanan luar kota ya? Padahal sudah lama sekali kan kau tidak pulang? Hyung paling hebat!” ucap Jian Xi senang.

“Tentu saja. Karena dulu aku senang meninggalkan Seoul dan kembali ke Wonju, setiap aku berada di Seoul, akan terus menghitung hari kapan aku akan kembali ke Wonju.” jawab Yi Fan dan membuat Jian Xi menatapnya dengan wajah berbinar.

“Waeyo?” tanyanya dengan polos.

“Karena aku tidak sabar untuk bertemu seseorang.” jawab Yi Fan dan menoleh ke arahku.
“Siapa?” tanya Jian Xi dan Yi Fan menoleh lagi. Aku hanya bisa menatapnya tanpa ekspresi.

“Kita mau ke mana?” tanyaku, untuk mengalihkan pembicaraan mereka.

“Kampus kalian saja bagaimana? Kudengar dari Sukjin… Heejin ahjumma membawanya melihat-lihat kampus kalian dulu, katanya sangat menyenangkan. Sukjin bahkan dibiarkan bermain sendirian di gedung kampus.” jawab Jian Xi, dia benar-benar sangat penasaran dengan tempat itu.

“Baiklah.” jawab Yi Fan dan mempercepat laju mobilnya.

“Dan tentu saja, kau tidak akan kubiarkan bermain sendirian di gedung itu.”

“Kenapa?!” pekik Jian Xi kaget.

“Kau bukan Sukjin, dan aku bukan Heejin.” jawabku dan membuat Yi Fan tertawa.

“Hhh…” Jian Xi langsung diam dan duduk sambil melipat tangannya di depan dada. Dia merasa kesal, tetapi tidak berani untuk marah.

Aku ikut terdiam saat mobil sudah memasuki gedung kampus. Aku bukannya tidak pernah datang kemari lagi, beberapa tahun belakangan ini aku sering kembali ke kampus, hanya saja kali ini terasa berbeda, karena aku bukan datang sendirian. Aku bersama seseorang. Seseorang yang membuatku tidak akan pernah melupakan segalanya yang terjadi di kota Wonju. Segalanya masih teringat jelas di dalam benakku. Kenangannya, juga perasaannya…

“Perpustakaan!” kata Jian Xi cepat saat Yi Fan bertanya ingin ke mana dulu.

“Kenapa?” tanyaku.

“Sukjin cerita… dia membaca banyak buku di sana.” jawabnya cepat dan berlari mendekati pintu masuk gedung kampus Wonju.

Yi Fan menatapku sambil tersenyum tipis, wajahnya seakan bertanya bagaimana cara menghadapi Jian Xi dan aku hanya menjawab dengan isyarat wajah juga, memintanya mengejar Jian Xi.

Aku mengerutkan keningku saat menyadari sesuatu. Apa sekarang perpustakaan kampus sudah bisa dikunjungi orang luar? Sejauh yang kuingat, untuk masuk ke dalam memerlukan kartu perpustakaan…

Aku berjalan cepat menyusul Yi Fan dan Jian Xi, aku melihat mereka sedang menungguku dan Yi Fan sedang memegang sesuatu.

“Sudah bisa dikunjungi orang luar juga.” kata Yi Fan dan menunjuk ke arah pintu masuk menuju ruang utama perpustakaan. Ruangan ini dibuat seperti terminal kereta api, masih ada jalur untuk pemakai kartu seperti dulu, dan sekarang disediakan pula jalur untuk pengunjung yang tidak memiliki kartu. Kota ini pasti sudah berubah banyak.

“Ayo Ayo!!” kata Jian Xi cepat dan berlari masuk ke dalam.

“Kartu ini ternyata masih berfungsi.” bisik Yi Fan dan menunjukkan kartu perpustakaannya dulu, masih bagus dan terjaga dengan baik.

“Masih menyimpannya?” tanyaku bingung, sekaligus takjub.

“Tentu saja.” gumamnya dan melangkah mendekati petugas perpustakaan. Sedangkan aku berjalan menjauh untuk mencari Jian Xi, sekaligus melihat-lihat buku di sekitaran.

“Noona. Aku mau baca ini sebentar.” Kata Jian Xi yang entah muncul dari mana dan sedang membawa sebuah buku kemudian berjalan santai menuju salah satu kursi kosong terdekatnya.

“Aku akan bersamanya.” kata Yi Fan dan melangkah pergi menyusuli Jian Xi.

Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkat lucu Jian Xi sambil berjalan mendekati lorong rak buku yang paling tidak bisa aku lupakan. Ini tempat kedua aku bicara dengan Yi Fan, juga tempat di mana dia mengatakan hal mengejutkan itu, tempat pertama kalinya aku mendengarkan pengakuan Yi Fan. Ucapannya masih kuingat dengan jelas, bahkan terasa seperti baru kualami semalam.

“Kau masih ingat?” bisikan itu membuatku melangkah menjauhinya.

“Tentu.” gumamku dan memperhatikan beberapa buku yg ditata rapi.

“Hyung!” Suara Jian Xi membuat kami menoleh ke arahnya. Ia sedang melambaikan bukunya dan berjalan cepat ke arah kami.

“Aku mau ini.” katanya cepat dan membuat Yi Fan tersenyum, lalu menatapku.

“Kau pandai sekali, Jian-ah. Akan kuberikan buku milikku. Bagaimana?” tanya Yi Fan dan berjongkok dihadapan Jian Xi, kemudian mengelus rambut halusnya.

“Kau punya? Tentu saja mau! Aku senang sekali!!”

“Ada lagi?” tanya Yi Fan sambil menerima buku yang disodorkan Jian Xi.

“Apa aku boleh liat koleksi bukumu? Sepertinya lebih menyenangkan!”

“Tentu saja boleh, tapi…”

“Tapi??”

“Tapi kau hanya bisa mendapatkannya jika kau ke Kanada.”

“Kanada?? Oh! Noona pernah ke sana bukan? Aku mau ikut kali ini!”

“Aku tidak ke sana lagi, mungkin.” jawabku pelan, aku ragu.

“Tidak mungkin. Noona pernah bilang akan ke sana lagi dan menemui hyung, kenapa tidak lagi?” protes Jian Xi dan seketika itu membuatku sakit kepala.

“Begini… biaya untuk ke Kanada cukup mahal dan tidak mudah, jadi…” Yi Fan mencoba menjelaskan, tetapi Jian Xi menjawab lagi.

“Dad bisa membiayai kami.”

“Baiklah baiklah. Minta saja pada Dad nanti.” jawabku cepat dan berjalan pergi meninggalkannya.

Aku mungkin tidak akan kembali ke sana lagi. Aku menyadari sesuatu yang tidak kusadari sejak bertemu dengan Yi Fan semalam.

Cincin. Sebuah cincin sederhana tersematkan di jari manis Yi Fan. Ia pasti sudah bertemu seseorang yang juga dicintainya di sana. Aku harus segera bangun dari mimpi indahku. Dia bukan lagi pacarku, dia kakakku…

*****

“Noona sedang apa?” tanya Jian Xi, membuatku berhenti melakukan aktifitasku sejenak.

“Sedang membereskan pakaianku,” jawabku dan berjalan mendekati Jian Xi, dan berjongkok di hadapannya.

“Aku ada pekerjaan mendadak.” kataku pelan dan yang sudah bisa kupastikan, Jian Xi mengerutkan alismatanya. “Kau sudah berjanji lebih lama di sini.” protesnya.

“Hmm… Ini benar-benar mendadak.” gumamku pelan dan menggenggam jemarinya, memohon.

“Ayolah noona. Kumohon… Sampai kapan kau akan begini terus? Kau bilang kau sayang padaku, lalu kenapa selalu meninggalkanku?” Jian Xi hampir menangis, saat itu Yi Fan berjalan mendekatinya.

“Jian-ah. Aku sayang padamu, ini urusan mendadak. Aku benar-benar harus kembali. Oh ya… Kan sudah ada hyung. Bagaimana kalau main dengannya saja?” tanyaku lagi sambil melirik sekilas kearah Yi Fan. Aku tahu ucapanku barusan akan semakin menyakiti Jian Xi, tetapi aku tidak punya pilihan.

“Aku benci Noona!” pekiknya dan berlari masuk ke kamarnya.

Aku menghelas nafas berat dan memejamkan mataku sesaat, sebelum akhirnya aku berdiri dan masuk kembali ke kamar.

“Ada apa?” tanya Yi Fan dan aku hanya menggeleng pelan kemudian kembali memasukkan pakaianku ke dalam koper.

“Kenapa tiba-tiba harus kembali?” tanyanya lagi dan aku tetap diam.

“Eun Yoo-ah…” Yi Fan menarik tanganku dan menahan kedua bahuku.

“Ada sesuatu terjadi?” tanyanya lagi dan aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi.

“Ada pekerjaan penting.” jawabku dan menatapnya tajam.

“Benarkah? Tetapi matamu tidak berkata seperti itu.”

“Mataku tidak mengatakan apapun padamu!” jawabku ketus dan Yi Fan semakin mengerutkan keningnya. Aku tahu aku tidak berhak untuk marah, tetapi hanya ini yang bisa kulakukan sekarang.

“Hey… Aku melakukan kesalahan?” tanya Yi Fan pelan dan mendekatkan wajahnya.

“Ha? Apanya? Aku tidak mengatakan kau melakukan kesalahan. Sudahlah… Aku buru-buru.” jawabku cepat dan menepis kedua tangannya. Sekali lagi aku harus melihat cincin di jarinya, dan itu membuatku merasa semakin ingin menangis.

Aku terus memasukkan barang-barangku ke dalam koper, sedangkan Yi Fan masih berdiri di tempat yang sama, menungguku selesai. Aku hanya akan tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.

“Kau bekerja di mana?” tanya Yi Fan memecah keheningan.

“Incheon.” jawabku pelan. Sepersekian detik kemudian, aku menyesal telah mengatakannya.

“Di perusahaan apa?” tanyanya lagi.

“Bukan urusanmu.” jawabku datar dan berhenti di depan Yi Fan untuk sesaat.

“Untuk apa kau berdiri di sini?” tanyaku dan menatapnya skeptis. Aku benar-benar tidak bisa menjelaskan kepada diriku sendiri kenapa aku harus bersikap seperti ini padanya.

“Menunggumu…” jawabnya dan tersenyum tipis.

“Untuk apa?”

“Bicara denganmu.” jawabnya lagi. Aku hanya diam dan menutup koperku, kemudian menurunkannya dari tempat tidur.

“Ughh…” Aku menabrak Yi Fan yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku. Baru saja aku akan menjauh, Yi Fan menarikku mendekat dan memelukku.

“Eun Yoo-ssi. Apa kau sudah berubah menjadi seorang yang berkepribadian ganda?” tanyanya dan aku hanya diam, berusaha melepaskan pelukannya.

“Ada berapa kepribadian?” tanyanya lagi dan melepas pelukannya, kemudian menatapku lekat-lekat. Yi Fan tersenyum sambil menahan tawanya.

“Jangan sembarangan bicara.” bantahku dan Yi Fan tertawa pelan.

“Sudah lama sekali aku tidak melihatmu yang seperti ini… Aku benar-benar sangat merindukanmu…” bisiknya lagi dan tersenyum, dia menatapku dengan tatapan lembut itu lagi. Tatapan dan senyuman yang selalu berhasil membuatku luluh. Kekesalanku hilang begitu saja, aku bahkan lupa alasan kenapa aku kesal tidak jelas 15 menit yang lalu.

“Aku akan mengantarkanmu ke Incheon.”

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

“Kalau begitu akan akan mengatakannya sekarang…”

“Apa?”

“Ini.” Ia menunjukkan cincin di jarinya dan sekali lagi membuatku menahan nafas.

“Sudah tahu.” jawabku dan Yi Fan tersenyum.

“Kalau begitu…” Yi Fan melepaskan kalung yang dipakainya, kemudian melepaskan cincin pada kalung itu dan menarik tanganku kemudian memakaikannya di jariku. Aku menatapnya kaget. Aku mengerutkan keningku. Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya.

“Untukmu.” gumamnya dan tersenyum tipis.

“Ha?” Aku semakin bingung. Kenapa?

“Ini memang punyamu,” gumamnya lagi dan aku hanya menatapnya skeptis. Dia sedang apa sih?

“Aku sedang melamarmu…” bisiknya lagi dan aku semakin tidak bisa mengatakan apapun. Jantungku berdegup lebih kencang dari pada sebelumnya.

“Haa?” Akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari mulutku setelah sekian lama aku terdiam. Yi Fan yang menungguku mengatakan sesuatu tertawa begitu mendengarku. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, aku tidak merasa sedang di dunia nyata sehingga aku tidak bisa mengucapkan apapun. Aku takut aku hanya sedang bermimpi indah.

“Eun Yoo-ssi?” Yi Fan memiringkan kepalanya dan menatapku lekat-lekat, menungguku mengatakan sesuatu.

“Bagaimana…” Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, Yi Fan mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku sekilas.

“Begitulah.” bisiknya dan saat aku sudah bisa memberikan pertanyaan, aku sudah tidak lagi diijinkan berkata apa-apa. Yi Fan mengulum bibirku dan memelukku dengan erat. Ini benar-benar nyata….

*****************

Sebuah suara pelan perlahan membuatku terbangun, suara mengetik keyboard yang tidak berhenti itu membuatku membuka perlahan mataku dan menatap pria di sampingku. Entah sejak kapan dia duduk di tempat tidurku dan mengetik sesuatu pada laptopnya.

“Sedang mengetik apa?” tanyaku dan Yi Fan hanya tersenyum tipis.

“Tidak jadi kembali ke Incheon?” tanya Yi Fan sambil membelai lembut pipiku.

“Tidak jadi.” jawabku dan ia langsung tertawa pelan.

“Kenapa?”

“Begitulah.” jawabku pelan, menirukan jawabannya tadi siang.

“Kenapa bangun?” tanyanya lagi. Aku hanya diam dan mengeliat pelan, merenggangkan otot-otot tubuhku yang selalu lelah setiap bangun tidur.

“Apa itu?” tanyaku dan duduk di sampingnya, sambil memandangi layar laptopnya.

“Melanjutkan yang tidak bisa kulanjutkan.”

“Oh ya?”

“Ya. Awalnya kupikir akan sad ending, tetapi kelihatannya ini akan menjadi happy ending.” gumamnya sambil men-scroll lembar kerjanya.

“Oh ya? Bukannya sad ending lebih masuk akal?” tanyaku dan Yi Fan tersenyum tipis.

“Aku tidak mengerti, kebanyakan orang menyukai happy ending. Kenapa kau tidak?”

“Karena hidup tidak pernah bisa berjalan sesuai dengan keinginan.”

“Memang, tetapi masih ada cara untuk mengubahnya.”

“Bagaimana?”

“Seperti yang terjadi padamu beberapa jam lalu,” jawab Yi Fan dan aku mengerutkan keningku sesaat sebelum pada akhirnya aku teringat apa yang terjadi tadi.

“Seperti apa yang terjadi pada kita berdua.” lanjutnya.

“Bagaimana bisa?” tanyaku bingung, Yi Fan hanya tersenyum tipis. “Apa tidak apa-apa?” tanyaku lagi dan Yi Fan masih saja tersenyum sambil menatap layar laptopnya.

“Hey! Aku bertanya padamu!” tegasku dan menarik dagunya agar wajahnya mengarah ke arahku.

“Bagaimana yaaaa…” Yi Fan tersenyum lebar dan menangkup wajahku.

“Boleh kuberitahu nanti saja?” tanyanya dan aku hanya menatapnya dalam diam. Entah apa lagi yang akan ia rencanakan. Aku mulai merasa sedikit kesal dengan sifat misteriusnya.

“Kenapa nanti” tanyaku dan menatapnya skeptis.

“Aku…” Ia bergumam pelan dan mengecup bibirku sekilas. Aku mengerutkan keningku saat ia menjauhkan wajahnya.

“Apa?” tagihku dan Yi Fan tersenyum lagi.

“Terlalu lelah untuk bercerita.” jawabnya singkat dan aku langsung menjauh darinya, menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa?” tanyanya dan mengerutkan keningnya.

“Menurutmu kenapa?” tanyaku balik dan Yi Fan hanya diam.

“Begini…” gumamku dan duduk menghadapnya. Aku menarik nafas pelan, mempersiapkan diri mengatakan apa yang selalu ingin kukatakan padanya.

“Jujur saja… Aku tidak suka kau yang seperti ini. Kau tidak pernah mau mengatakan apapun padaku, kau selalu memilih menyimpannya sendirian. Seperti yang terjadi waktu itu, setelah kau bertemu eomma, kau malah bertanya yang tidak-tidak, bukannya langsung memberitahuku saat itu juga. Aku tidak suka menjadi orang yang tidak tahu apapun dan membiarkanmu menyimpannya sendiri. Kau…” Aku menghentikan ucapanku karena Yi Fan hanya tersenyum menanggapi omelanku.

“Kenapa jadi diam?” tanya Yi Fan dan menatapku sambil tersenyum lagi.

“Kau bicara sangat cepat sekali,” gumamnya lagi dan mengelus pipiku.

“Aku bukannya tidak mau mengatakan apapun, aku hanya tidak sanggup mengatakannya. Aku tidak sanggup membuatmu menangis di saat kau sedang bahagia seperti itu…”

“Kau menyiksa dirimu sendiri, tahu?!”

“Maaf… Aku…”

“Minta maaflah pada dirimu sendiri.” potongku dan Yi Fan hanya tertunduk diam.

“Jangan seperti itu lagi. Berjanjilah…” ucapku lagi dan Yi Fan mendongakkan kepalanya.

“Kalau tidak mau, kau tidak boleh…”

“Baiklah, baiklah. Aku berjanji.” jawabnya cepat sebelum aku menyelesaikan kalimat ancamanku.

“Bagus.” tandasku dan kembali duduk didekatnya.

“Jadi…” Yi Fan meletakkan laptopnya di samping tempat tidur dan menarikku lebih dekat.

“Jadi??”

“Jadi… apa kau sudah merasa lebih lega?” Pertanyaan Yi Fan membuatku mengerutkan keningku. Aku memang merasakan perasaan lega setelah mengomelinya, tetapi kenapa ia bertanya seperti itu?

“Lega akhirnya bisa mengomeliku?”

“Tentu saja!” jawabku cepat. Dia benar-benar mengerti.

“Aku ingin kau tetap seperti itu. Katakan kekesalanmu, jangan terlalu dipendam.”

“Apa bedanya denganmu?!” tanyaku balik dan Yi Fan tersenyum lebar.

“Karena itu, aku juga ingin kau berjanji. Ungkapkan perasaanmu. Apapun itu. Janji?”

Aku hanya diam dan menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Baiklah… Janji.” jawabku akhirnya.

“Bagus.” Yi Fan menarikku mendekat dan membuatku menindihnya.

“Jadi… Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyanya dan memelukku.

Aku hanya diam dan mengecup bibirnya sekilas. Aku tidak bisa mengatakan apapun karena perasaanku sedang bercampur aduk untuk sekarang ini.

“Hanya itu?” tanyanya dan aku hanya tersenyum tipis.

“Jadi, pertanyaanku yang paling pertama belum dijawab.” tagihku lagi dan Yi Fan menaikkan ujung bibirnya.

“Nanti saja.” gumamnya dan berbalik menindihku, aku menahan bahunya dan bertanya kenapa dia menunda menjawabku, ia hanya diam, tersenyum dan mengulum bibirku sambil memelukku dengan erat. Dengan begini, aku yakin aku tidak akan mendapatkan jawabannya hari ini.

*************************

“Noona!! Kenapa masih di sini?” Pertanyaan Jian Xi membuatku langsung tertawa pelan.

“Kau bilang ada urusan penting. Tidak jadi kembali? Bagus sekali!” lanjut Jian Xi lagi tanpa menunggu jawabanku. Kemudian dia menarikku keluar kamar.

“Mau ke mana?” tanyaku dan Jian Xi tertawa senang.

“Ini… Aku menemukan ini di lapangan basket. Kupikir punyamu, tetapi sepertinya bukan ya?” tanya Jian bingung sambil menyodorkan sebuah novel berukuran agak kecil. Setelah melihat cover dengan novel itu, aku langsung merebutnya dari Jian Xi. Siapa yang sembarangan meletakkan novel seperti ini di sini. Benar-benar…

“Oh! Punyaku!” Yi Fan merebut novel itu dan langsung menatap Jian.

“Saat aku mencarinya di lapangan basket, sudah tidak ada. Kau yang menyimpannya?” tanya Yi Fan dan Jian mengangguk polos.

“Aku berencana memberikannya pada Noona, dan aku lupa…”

“Kau tidak membacanya kan?” selidikku dan Jian Xi langsung berkata tidak dengan sangat cepat. Yi Fan tertawa dan langsung berjalan menjauh dari ruang keluarga, sekilas aku mendengarnya bergumam sudah penasaran dengan kelanjutan cerita dalam novel itu.

“Hyung suka novel seperti itu?” tanya Jian Xi dan aku mengangkat bahuku.

“Entahlah. Mari abaikan saja dia.” tandasku dan meraih remote TV. Aku teringat tayangan TV kesukaan Jian Xi sudah mulai beberapa menit yang lalu, aku segera membuka channel TV itu dan Jian pun langsung terfokus pada TV di depannya, lebih tepatnya pada ‘Sesame Street’, tayangan TV yang sudah ada sejak dulu, bahkan saat aku masih kecil, aku hanya bisa menontonnya beberapa kali di Jepang, dan sama sekali tidak pernah menontonnya lagi saat aku di Korea, sampai sekarang, kadang-kadang saat aku di sini, aku menemani Jian menontonnya dan membuatku teringat akan masa-masa itu lagi…

“Jian-ah… Aku tinggal sebentar ya.” bisikku dan Jian hanya mengangguk pelan, ia tetap fokus pada Sesame Street yang disukainya itu.

Aku melangkah cepat menuju kamar Jian Xi, dan sesuai dugaanku, Yi Fan sedang duduk dan membaca novel tersebut. Aku hanya berdiri di ambang pintu, memperhatikannya untuk beberapa saat.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihatnya yang sedang serius membaca seperti ini, apakah di perpustakaan, atau di kelas, atau mungkin di kamarnya, entahlah… Yang pasti kali ini aku bisa melihatnya membaca lagi, aku suka sekali wajah seriusnya saat membaca seperti ini, aku sampai tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Aku melangkah pelan memasuki kamar, dan duduk diam di atas tempat tidur Jian Xi. Sangat-sangat pelan agar aku tidak membuat suara dan membuatnya berhenti membaca.

Aku mengalihkan pandanganku pada novel di tangannya. Novel berjudul Fallen Too Far karya Abbi Glines itu pernah beberapa kali kulihat di toko buku karena buku itu beberapa bulan berada di rak ‘Best Seller’, tetapi aku tidak membelinya karena cover buku yang memperlihatkan sepasang kekasih saling berciuman itu akan membuatku merasa awkward saat harus membayar di kasir. Jadi aku menahan diri untuk membeli novel itu.

Yi Fan menutup novelnya dan menghela nafas pelan.

“Sudah selesai?” tanyaku pelan dan Yi Fan terlonjak kaget, ia langsung memutar kursinya menghadapku. Ia benar-benar kaget.

“Se…sejak kapan kau di sana?” tanyanya, ia terlihat gugup bahkan tidak berani menatapku.

“Tidak lama setelah kau di sini. Kenapa gugup begitu?” tanyaku dan beranjak menghampirinya.

“Um… Tidak… Aku tidak…gugup” jawabnya dan aku mengerutkan keningku.

“Oh ya?” Aku berdiri di sampingnya dan meraih novel di meja. Aku menatap sekilas cover novel itu dan kemudian membaliknya untuk membaca sinopsis di balik novel ini.

“Aku tidak menyangka kau bisa membaca novel seperti ini.” gumamku sebelum aku mulai membaca sinopsisnya. Yi Fan tertawa pelan, sikapnya masih sama seperti tadi, kaku dan gugup. Sikapnya yang seperti itu membuatku semakin penasaran dengan novel yang baru selesai dibacanya ini.

The wealthy son of a rocker. A tough farm girl from Alabama. Two step-siblings from different worlds. One summer in Rosemary Beach.

 

The last thing Blaire Wynn wants is to move in with her father’s new family in Rosemary Beach, Florida. She has no choice. Blaire’s mother has passed away after a long illness, leaving behind a mountain of medical debts and no way for Blaire to keep their small Alabama farmhouse.

 

Driving into the wealthy resort town in a pickup truck with a pistol under her seat, Blaire knows she’ll never fit in. She’s even more disappointed to discover that her father has left for Paris, leaving her with her new stepbrother, Rush Finlay. The cynical, condescending, and unapologetic son of an infamous rock star, Rush is as spoiled as he is gorgeous—and he immediately gets under Blaire’s skin.

 

But as the summer goes by, Blaire begins to see a side of Rush she never expected, and the chemistry between them becomes impossible to ignore. Unknown to her, Rush has a secret that could destroy Blaire’s entire world. Will she find out what he’s hiding before she falls too far?

“Apa novel ini sangat bagus? Bagaimana akhirnya?” tanyaku setelah selesai membaca. Aku mendadak ikut merasa gugup, membuatku merasa tahu apa yang membuat Yi Fan gugup setelah menyadari aku ada di sini.

“Belum berakhir. Masih ada dua buku sequelnya lagi. Buku ketiganya baru akan keluar minggu depan.” jawab Yi Fan dan tersenyum tipis.

“Oh…” Mendadak aku kehilangan kata-kata. Aku hanya bisa diam sambil sekilas membaca lembaran-lembaran novel secara acak.

“Aku membacanya sambil menganggap mereka adalah kau dan aku.” ucapnya pelan.

“Oh ya? Apa tidak aneh?”

“Sedikit…” jawabnya pelan dan aku tertawa kecil. Untuk beberapa saat, kami hanya diam, dan aku hanya membaca sekilas beberapa halaman novel itu lagi. Novel ini benar-benar novel dewasa yang tidak boleh dibaca Jian Xi…

“Eun Yoo-ah…” panggil Yi Fan pelan dan menggenggam tanganku, kemudian meletakkan novel itu di atas meja. Ia menatapku lekat-lekat dan menggigit bibir bawahnya, tampak sedang berpikir sebelum mengatakan sesuatu.

“Kau mau ikut aku ke Kanada?” tanyanya beberapa saat kemudian.

“Ke…kenapa?” tanyaku bingung, aku gugup sekali…

“Hm…” Ia menarikku mendekat dan menyentuh pipiku dengan lembut.

“Aku ingin bisa segera menikahimu…” jawabnya pelan. “Aku tidak ingin melakukannya di sini. Aku tidak ingin berdebat lagi dengan Dad…” lanjutnya cepat tanpa sempat membiarkanku mengatakan apapun, dan aku memang tidak bisa mengatakan apapun sekarang ini.

Aku pernah membayangkan Yi Fan akan melamarku seperti apa yang sering kulihat di film dan drama-drama percintaan, juga ada di dalam novel-novel yang kubaca. Aku hanya tidak menyangka dia akan melakukannya dengan cara seperti ini. Tanpa melamarku… dan ini bukan pertama kalinya.

“Yi-Fan-ssi…?” Aku menangkup wajahnya dan menyeka air matanya yang hampir mengalir di pipinya.

“Kau ingat? Kau sudah melakukannya… kau sudah menikahiku…” jawabku pelan dan Yi Fan hampir mengerutkan dahinya, tetapi beberapa saat kemudian dia tersenyum. Aku yakin dia sudah ingat apa yang masih kuingat, apa yang tidak pernah bisa kulupakan. Adegan pernikahan yang pernah aku rasakan di sebuah gereja bersama Yi Fan, tetapi tidak dalam keadaan yang sebenarnya, adegan yang hanya ada di dalam pikirian kami saja.

“Aku ingin melakukannya dengan benar. Aku ingin melakukannya tanpa memikirkan pendapat siapapun. Aku ingin melakukan dengan caraku,” jawabnya sambil berdiri dan mendekatkan wajahnya.

“Jadi… ikutlah denganku ke Kanada ya? Kumohon… Kita akan kembali ke sini setiap ulang tahun Jian Xi, Aku berjanji… Kumohon…” pintanya dan menangkup wajahku, wajahnya sangat memelas, membuatku semakin tidak bisa mengatakan apapun.

“Eun Yoo-ah… Kumohon… Aku benar-benar tidak bisa menahan apapun lagi… Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi. Aku tidak bisa harus terus merindukanmu lagi… Aku…”

Aku mengecup bibirnya sekilas, menghentikan ucapannya, aku benar-benar tidak ingin mendengarkan masa lalu lagi.

“Ya. Aku akan ikut denganmu. Aku akan tinggal di Kanada selama apapun yang kau mau.” jawabku pelan dan Yi Fan tersenyum lebar. Ia ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi ia langsung menahan ucapannya dan hanya tertawa pelan, tersenyum lebar dan memelukku sambil mengulum bibirku dengan perlahan.

Aku yakin dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, sama seperti aku sekarang. Aku terlalu bahagia sampai-sampai tidak bisa berkata apapun lagi.

“Gomawo.” katanya pelan disela kuluman bibirnya. Aku bisa merasakan ia tersenyum lagi.

Aku akan menambahkan satu lagi hari penting dalam hidupku. Hari ini.

TO BE CONTINUE

kris

FF ini sebenarnya sudah bisa tamat di part ini.
Tapi karena rasa bersalah ku, aku akan tambahkan satu part lagi. Hehehehe

Maafkan aku dan semoga kalian tetap suka ff ini meskipun sudah terlalu lama dan sudah semakin membosankan…

Info buku yang dibaca Yi Fan:
Fallen to far #1
Never too far #2
Forever too far #3
by: Abbi Glines

Sssttt…
Coming Soon.
New FF – Kim Jong In a.k.a Kai (EXO)

Thanks for reading my bad fan-fiction
Still Love you all !!

-Eve RyLin

Advertisements

One thought on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s