Hello All!
Eve is back!!

FF ini sudah digantung hampir setahun ya ternyata??
I’m so sorry all T____T

Aku lagi sibuk banget sejak pindah kota. Butuh beradaptasi dan urus ini itu, jadinya segala hanya terbengkalai. Bahkan, filmnya Yi Fan yang sudah dirilis tahun lalu aja, aku baru nonton minggu lalu. T___T

Mohon maaf dan mohon maklum ya all …

HAPPY READING ALL !!

Aku menatap keluar jendela dengan perasaan tidak tenang. Jantungku berdebar kencang, dan wajahku terasa panas.

Baru beberapa hari aku kembali ke Wonju, aku bahkan tidak menggunakan nomor ponselku yang lama lagi, juga media sosial yang biasa kugunakan, sudah kuhapus. Aku benar-benar sedang mencoba menjauhi duniaku yang dulu.

Hari ini mendadak Heejin memaksaku untuk ikut ke Seoul lagi bersama Minseok, membuatku semakin tidak bisa melupakan segala hal yang ingin kulupakan.

 

Setelah puas di Seoul, Heejin memaksa untuk pergi ke Gimpo, dengan alasan ingin melihat seperti apa bandara Gimpo, apakah seperti bandara Incheon ataupun bandara di Wonju.

Heejin belakangan memang suka sekali mengunjungi banyak tempat, kadang ia akan pergi ke tempat yang sama dalam satu hari, kemudian dia akan mulai bosan.

 

“Kau marah? Maaf.” kata Heejin dan menatapku dengan tatapan memelasnya.
“Tidak juga. Tapi, kenapa aku harus ikut?” tanyaku dan Heejin berdeham pelan kemudian menggeleng.
“Sudah sampai.” kata Minseok saat mobilnya berhenti di parkiran Gimpo airport.
“Ayo cepat!” Heejin sudah duluan keluar, ia bahkan membukakan pintu untukku dan menarikku keluar.
“Kami duluan ya!” kata Heejin pada Minseok dan menarikku sambil berlari ke dalam airport.
“Ya! Kenapa buru-buru?!” kesalku dan melepaskan genggaman tangan Heejin.
“Sebentar lagi dia pergi.” gumam Heejin dan melihat jam tangannya.
“Kau sedang menunggu boyband ya? Sejak kapan kau sampai mereka di airport?” tanyaku bingung dan Heejin menggeleng cepat.
“Tidak! Boyband apanya? Aku tidak suka siapa-siapa. Ayolahhhh!!” Heejiin menarikku lagi dan berhenti di ruang tunggu.
“Duduk sebentar di sini. Aku mau ke toilet.” kata Heejin cepat dan membuatku mengerutkan keningku.

Perkataannya barusan membuatku merasa tidak tenang…

 

“Kenapa tidak mau kembali ke Korea?” Pertanyaan itu terdengar jelas saat aku duduk.
Dua orang yang duduk di belakangku sedaritadi memang sudah mengobrol, tetapi aku baru bisa mendengar mereka setelah duduk di belakangnya.

“Hmm…” Mendengar suara itu aku langsung menoleh.
Ahjussi dan Yi Fan, sekilas aku juga melihat eomma yang duduk di depan mereka. Aku langsung menunduk dalam dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
“Aku akan kembali kalau aku sudah bisa melupakan pacarku.” gumam Yi Fan pelan.
“Kenapa?! Apa dia menyakitimu?” tanya ahjussi lagi. Yi Fan hanya diam. Ahjussi menatap Yi Fan lekat-lekat, menunggu jawaban.
“Kau bilang akan mengatakan semuanya hari ini. Kenapa diam?” tanya ahjussi lagi.
Yi Fan sama sekali tidak menjawab.

“Katakan saja.” Suara eomma terdengar gugup.
“Hah? Kau bahkan lebih tahu daripada aku??” tanya ahjussi, suaranya terdengar kesal.
“Dad… Aku akan mengatakannya, tetapi kau harus berjanji satu hal.” gumam Yi Fan
“Janji lagi? Apa itu?”

Yi Fan diam.

Aku benar-benar benci mendengar kata ‘janji’. Benci sekali.

“Hidup bahagia dengan ahjumma ini dan apa yang kukatakan nanti anggap saja tidak pernah Dad dengar. Okay?”
“Tentu saja. Kami cukup bahagia.”
“Baguslah…”
“Jadi… Apa itu?”
“Kau bilang kau ingin tahu nama pacarku kan?”
“Pacarmu? Kalian bersama kembali?” tanya ahjussi kaget dan aku langsung menoleh, menatap Yi Fan. Ia sedang menatap ahjussi, wajahnya terlihat sangat lelah.
“Kalau kembali bersama kenapa tidak mau kembali ke Korea? Kenapa harus kembali ke Kanada? Kalian berencana pindah ke Kanada bersama?” pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Yi Fan tertawa kering.
“Bukan dad. Karena aku tidak bisa bersamanya lagi, makanya aku kembali ke Kanada, dan tidak berencana untuk kembali ke Korea lagi.”
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena ibunya menikah lagi.”
“Dan hubungannya dengan kalian apa?” tanya ahjussi bingung. Ia mengerutkan keningnya, menatap Yi Fan skeptis.
“Dad? Kau sama sekali tidak bisa menyadari situasi ya?” tanya Yi Fan dan menatap ayahnya. Aku yakin Yi Fan tidak bisa mengatakannya, berharap ahjussi bisa menyadari apa yang terjadi.
“Situasi apa?” tanya ahjussi lagi.
“Dad…” Yi Fan menghela nafas berat.
“Namanya…”
“Yi Fan-ssi…” Aku memotong ucapan Yi Fan dan ahjussi langsung menoleh kaget.
“Eun Yoo-ah!” Ahjussi berdiri dan langsung menatapku.
“Siapa yang mengantarmu kemari?” tanya Ahjussi dan sebelum aku sempat menjawab, ahjussi menoleh ke arah Eomma, kemudian Yi Fan dan aku.

Kuharap ahjussi tidak menyadari apapun. Aku tidak ingin ahjussi tahu apapun. Meskipun dia sudah berjanji pada Yi Fan, aku tidak yakin eomma akan bahagia setelah ahjussi tahu tentang ini.

“Kau bilang ibu pacarmu menikah lagi kan? Dengan siapa?” Pertanyaan Ahjussi membuat Yi Fan menoleh ke arahku.
“Denganmu, Dad.” jawab Yi Fan akhirnya.

Ahjussi hanya diam. Ia terduduk dan menatap eomma.

Selesai sudah. Apa yang seharusnya ahjussi ketahui sudah diketahuinya.

“Dan… tentang kecelakaanku beberapa tahun lalu.” gumam Yi Fan dan ahjussi langsung menoleh ke arah Yi Fan lagi. Wajahnya merah padam.
“Apa? Siapa? Jangan katakan kalau dia yang melakukannya juga!” Marah ahjussi dan menunjuk ke arah eomma.
“Memang. Aku yang melakukannya.” jawab eomma dan ahjussi tetap menatap Yi Fan, sama sekali tidak menatap eomma.
“Dad. Tepati janjimu. Aku sudah menepati semua janjiku padamu. Kali ini kau harus menepati janji terakhirmu. Jangan membuat pengorbanan kami sia-sia.”

 

“Kenapa tidak mengatakan apapun?” tanya ahjussi pelan, setelah beberapa saat menenangkan dirinya.
“Aku kan sudah berjanji padamu.” jawab Yi Fan dan ahjussi mengerutkan keningnya.
“Janji yang mana?”
“Dad? Kau lupa?”
“Aku tidak mengingat janji apapun.” tukas Ahjussi dan Yi Fan menggeleng pelan.
“Aku yakin kau ingat.” jawab Yi Fan dan menoleh ke arahku.
“Eun Yoo-ah…” panggilnya dan menyeka airmataku.
“Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari awal saja?!” tanyaku kesal dan menahan airmataku.
“Disaat aku tidak ingin kau mengatakannya kenapa kau malah mengatakannya?!” Aku memekik tertahan dan Yi Fan memejamkan matanya untuk sesaat.
“Karena cepat atau lambat, Dad juga akan tahu. Dad sudah mengirim orang ke kampus untuk mencari tahu tentang kau dan aku. Di kampus tidak ada yang tidak tahu tentang kita kan?”
“Yi Fan-ssi…” Yi Fan menggenggam pergelangan tanganku dan menatapku lekat-lekat.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan, katakan apa yang ingin kau katakan, jangan menahan segalanya lagi. Dengan begitu kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku.” Mendengar ucapannya membuatku menangis lagi.
“Aku tidak berencana menemukan siapapun lagi.” jawabku dan Yi Fan menggeleng pelan.
“Kau sudah bertemu dengan Luhan kan?” tanyanya sambil menyeka airmataku.
“Kenapa?”
“Meskipun dia bisa membaca pikiran orang lain, tapi dia tidak buruk juga… Bagaimana kalau…”
“Hey.” Aku membekap mulut Yi Fan dan menatapnya kesal.
“Tidak perlu bersikap seperti kakak yang sedang mencarikan pacar untuk adiknya. Aku tidak butuh.” ucapku dingin, airmataku mengalir keluar lagi.
“Lalu kau mau aku bagaimana?” tanyanya dan menyeka airmataku lagi.
“Tepati saja janjimu.”
“Tentu. Pasti.” jawabnya mantap dan tersenyum lebar sambil menangkup kedua sisi wajahku.
“Jadi… bagaimana caranya supaya aku bisa tetap ingat meskipun…”

Aku menghentikan ucapanku karena mendengar Yi Fan sudah dipanggil oleh petugas bandara.

“Meskipun apa?” tanyanya, ia sama sekali tidak menyadari kalau namanya sudah dipanggil.
“Kau sudah dipanggil. Dengar baik-baik.” jawabku dan Yi Fan mendengarkan suara yang keluar dari speaker di ruang tunggu.
“Ahh… Benar-benar aku…” gumamnya pelan dan aku langsung menjauh darinya.
“Bye.” tukasku dan Yi Fan mengerutkan keningnya.
“Sadar tidak? Kau tidak seperti Eun Yoo yang pertama kali kukenal.” gumamnya dan mendekat lagi.
“Hey oppa. Aku Eun Yoo.”
“Jangan mengubah sikapmu karena masalah ini…”
“Sudahlah. Kau bisa ditinggal pesawat.” tukasku lagi dan Yi Fan menggenggam jemariku.
“Be yourself. Okay?” ucapnya lagi dan aku menghela nafas pelan.
“Annyeong…” gumamku pelan dan melangkah mundur.
“Yi Fan-ssi.” gumamku pelan dan saat Yi Fan akan mendekat lagi, aku melangkah mundur lagi.
“Pergilah sekarang atau aku yang akan pergi duluan.” kataku cepat dan Yi Fan tersenyum tipis.
“Baiklah. Annyeong.” tandasnya dan melangkah mundur kemudian berbalik dan melangkah pergi.

 

Dan akhirnya dia benar-benar pergi. Aku tidak bisa melihatnya lagi, tidak bisa melakukan apapun dengannya lagi, bahkan sebagai kakakku pun sudah tidak bisa.

 

Aku menunduk saat Yi Fan sudah melangkah masuk berbaur bersama para penumpang pesawat yang terlihat sangat terburu-buru.

 

Annyeong, Goodbye.

 

“Eun Yoo-ah… Gwaenchana?” tanya Heejin dan berdiri di sampingku. Aku mengangkat kepalaku dan mengangguk pelan.
“Ayo pulang. Terimakasih sudah mengajakku kemari.” gumamku dan Heejin menepuk pelan bahuku.
“Kau benar baik-baik saja?” tanya Heejin lagi.
“Entahlah. Aku tidak mau menangis di depan umum.”
Heejin merangkulku dan menepuk bahuku perlahan.

 

Aku menghentikan langkahku dan terpaksa berjongkok sambil menelungkupkan wajahku di atas lutut, menutupi wajahku. Aku tidak bisa menahan tangisku lagi, akhirnya aku menangis di tempat umum dan menangis seperti anak kecil yang kehilangan keluarganya. Aku bahkan kehilangan keluarga dan Yi Fan. Aku kehilangan segalanya, termasuk diriku sendiri…

 

***

 

Several Years Later

 

“Noona.” panggilan itu membuatku menoleh sekilas.
“Ya?” tanyaku dan berjongkok di hadapan Li Jian Xi. Adikku.
“Hyung mana? Kau berjanji padaku bisa bertemu dengannya di ulang tahunku yang ke 9 ini.” desaknya dan aku tersenyum tipis.
“Kalau tidak tahun ini, aku berjanji tahun depan. Bagaimana?”
“Noona!!” Jian Xi memekik kesal dan mengerutkan keningnya.
“Bagaimana kalau kau meneleponnya sekarang dan aku yang bicara padanya. Bagaimana?” desaknya lagi dan aku terdiam untuk sesaat.
“Aku tidak punya nomor teleponnya.”
“Noona!!! Kau bilang kalian dulu cukup dekat kan? Ayolahhh. Jangan membohongiku!!” teriaknya lagi.
“Baiklah. Aku tanyakan pada Dad dulu. Okay?”
“Janji?”
“Um… Tunggu ya.” Aku menepuk pelan pipinya dan kembali berdiri, kemudian menggandengnya keluar dari kamarku.

Li Jian Xi, atau Lee Ji Anh, beberapa tahun yang lalu dia mendapatkan kamar Yi Fan dan mendadak sangat mengagumi Yi Fan hanya karena melihat foto-fotonya, mendengar sedikit tentangnya dariku dan membaca novel berbahasa inggris yang ditulis Yi Fan.

 

Aku hanya kembali ke rumah setiap ia berulang tahun, kadang Dad memaksaku pulang ketika libur, kadang aku bisa menolak dengan alasan pekerjaan, kadang aku tetap pulang demi bertemu Jian Xi. Aku menyayanginya, wajahnya membuatku teringat pada Yi Fan.

Dad… yap. Setelah Jian Xi berusia 3 tahun, aku sudah mulai memaksa diriku untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama.

 

“Kalau dia tidak datang nanti malam, bagaimana aku bisa memamerkan pada teman-temanku kalau aku juga punya Hyung yang sangat keren?”
“Perlihatkan saja fotonya.” jawabku dan Jian Xi mendengus.
“Aduh. Dulu aku memperlihatkan fotomu pada mereka dan mereka bilang aku mencuri fotomu dari internet.”
“Hah? Aku?”
“Loh? Noona kan penulis terkenal. Kakak kelas di sekolahku suka membaca novelmu loh! Karena kau aku banyak teman wanita! Hehehe.” Jian Xi tertawa nakal dan aku menowel dagunya.
“Kau jangan genit ya. Lagipula hyungmu lebih pandai menulis. Aku hanya belajar darinya.” jawabku pelan dan Jian Xi mengerutkan keningnya.
“Oh ya? Kalau begitu aku harus jadi penulis juga. Apa novel Hyung sekarang masih terkenal di Kanada?”
“Tentu saja masih.”
“Hebat… Aku juga ingin seperti kalian.”
“Ingin menulis novel seperti apa?”
“Aku tidak ingin seperti kalian, novel kalian terlalu sedih. Aku ingin menulis novel horor dan fantasi saja!” katanya mantap dan membuatku tertawa pelan. Aku juga mendengar suara tawa Dad. Ia berjalan keluar dari kantornya dan berjalan mendekat.
“Dad! Beritahu kami nomor telepon hyung!” kata Jian Xi langsung setelah melihat Dad. Dad menatapku sekilas.
“Noona setiap tahun hanya berjanji padaku, tetapi hyung sama sekali tidak pulang.” keluhnya lagi.
“Dia sibuk, nak.”
“Masa dia sama sekali tidak merindukan keluarganya? Ayolahhh. Aku bukan anak kecil lagi. Tahun depan aku sudah 10 tahun loh!
“Cerewet sekali kau!” Eomma yang entah muncul darimana langsung menggendong Jian Xi.
“Turunkan aku!!!” Jian Xi memberontak dengan manja dan membuat kami tertawa lagi.

Aku melangkah pergi tanpa berkata apapun. Sejujurnya aku dan eomma sama sekali tidak pernah bicara banyak lagi. Kami hanya bicara seadanya, seperlunya.

 

Sejak Yi Fan meninggalkan Korea, aku tidak mau tahu menahu mengenai mereka lagi, dan yang bisa kusimpulakan hanya satu hal, semuanya baik-baik saja. Hingga akhirnya eomma meneleponku hanya untuk mengatakan kalau aku sudah punya adik laki-laki bernama Li Jian Xi, mendengar itu aku senang. Sangat senang karena akhirnya aku punya seorang adik, dan yang lebih penting, sampai hari ini semuanya berjalan lancar. Benar-benar aman, dan tenang.

Hanya saja perasaanku masih belum baik-baik saja, sama sekali tidak pernah merasa aman dan tenang.

Aku masih terus memikirkannya, mengingatnya, membayangkan segala hal yang terjadi 10 tahun lalu.

 

Aku melangkah masuk ke dalam kamar Jian Xi. Aku memperhatikan judul-judul buku yang tertata rapi di sana.

Novel-novel berbahasa inggris yang kubeli, setelah kubaca aku mengirimkannya ke Seoul dan memberikannya pada Jian Xi. Novel yang ditulis Yi Fan.

Tidak semua novel yang ditulisnya boleh dibaca oleh Jian Xi, beberapa novel kusegel ulang dan melarang Jian Xi membacanya sebelum berumur 17 tahun. Jian Xi patuh, buku-buku itu masih tersegel dan tidak berpindah tempat setiap aku datang ke sini.

 

Aku mengambil salah satu novel dan hanya menatap nama yang tertulis di cover novel itu.

2 tahun terakhir dia sama sekali tidak menulis lagi. Aku terus-terusan menanyakan pada bagian penerbitan di Kanada mengenai novelnya, tetapi tidak ada jawaban. Beberapa minggu yang lalu mereka membalas emailku dan hanya menuliskan  kata ‘Coming Soon’.

Sebenarnya bukan hanya dikirimkan untukku saja, email itu ditujukan kepada semua pengirim email yang menanyakan tentang novelnya. Novel dari penulis dengan nama pena ‘Fan Yoo’.

Semoga hanya aku saja yang mengerti maksud dari nama itu. Semoga.

 

Aku mengambil satu novel lagi dan tersenyum tipis. Novel kesukaanku. Dia menuliskan beberapa hal menyenangkan yang pernah terjadi pada kami dulu.

Dia bahkan hanya mengadakan fanmeet sekali dalam 10 tahun ini, di Vancouver, hanya 1 jam dan dia tidak menjawab pertanyaan mengenai nama penanya.

Aku mengetahui ini lewat website penerbitnya, aku tidak berani mencari video, maupun fotonya. Aku tidak sanggup kalau harus melihat wajahnya lagi.

Aku lebih suka seperti ini, mengagumi hasil karyanya, menganggapnya sebagai idola. Idola.

 

Aku menatap sekilas novel-novel yang ditata sederetan dengan novel Yi Fan. Novelku. Aku tidak tahu harus berkata apa, tetapi ini terasa aneh. Melihat namaku di cover itu dan di cover novel Yi Fan. Aku hanya menggunakan nama ‘Yoo’ sebagai nama penaku.

 

Kadang aku sering bertanya-tanya. Apa dia tahu apa yang kulakukan sekarang, seperti aku yang dulu sempat mencari tahu tentangnya. Mencoba mencari apapun dengan hanya mengetikkan namanya dari search engine ternama di dunia maya. Berkat itu, aku bisa mengetahui pekerjaannya sekarang, dan mengoleksi novelnya, aku bahkan menjadi penulis novel di waktu yang bersamaan dengannya.

Benar-benar hanya kebetulan yang aneh.

 

Aku memperhatikan rak buku itu lagi. Aku teringat rak buku di kamarku. Kalau seandainya penggemarnya mempunyai novel Yi Fan dengan lengkap, lalu aku? Aku hanya penggemarnya yang tidak menyimpan novel-novelnya di kamarku, tetapi menyimpan setumpuk buku dengan coretan-coretan tulisan tangan Yi Fan. Mana yang lebih bisa dibanggakan?

Memikirkan itu aku ingin tersenyum, tetapi kenyataannya airmataku yang merembes keluar. Rasa sakit itu masih ada, bahkan masih sangat sakit.

 

“Noona… Lagi-lagi kau memandangi novelmu seperti itu.” keluh Jian Xi dan melangkah masuk ke kamar.
“Aniyaa.” elakku dan menepuk pelan pipinya.
“Lalu? Kau memandangi novel hyung?”
“Aniyaa!” elakku lagi dan Jian Xi mendengus pelan.
“Ini! Telepon hyung sekarang yuk!” ajak Jian Xi dan memamerkan secarik kertas di tangannya. Di sana tertulis sederetan angka, beserta nama pemilik angka-angka tersebut.
“Ini.” gumamku dan menyodorkan ponselku pada Jian Xi, dia mengerutkan keningnya dan menatapku skeptis.
“Kenapa aku?”
“Karena kau yang lebih ingin bicara padanya kan?”
“Kau tidak ingin?” Pertanyaan Jian Xi membuatku terdiam beberapa saat.
“Kalian bertengkar?” tebak Jian Xi dan aku menggeleng cepat.
“Wajahmu pucat. Kalian pasti bertengkar. Ya sudah!” tandasnya dan menyambar ponselku, mengetikkan sederetan angka bahkan dia tidak lupa mengetikkan kode negaranya di depan nomor telepon Yi Fan.
Saat terdengar nada sambung dari ponselku, nafasku serasa berhenti sesaat, seluruh tubuhku kaku.
“Hey Hey. Sorry! I can’t talk to you. Will call you back. Bye!”
“Hyung hyung!! Aish!!” Jian Xi mendengus kesal, wajahnya mengerut dan ia menatapku.
“Dad sudah bilang dia sibukkan? Itu resikomu.” ucapku untuk menjawab tatapan kesalnya.
“Kurasa begitu. Suara di belakangnya ribut sekali. Ah. Sudahlah.” ucapnya pasrah dan melangkah keluar kamar setelah meletakkan ponselku di atas meja.
“Hufft.” Aku menghela nafas berat, jantungku masih berdebar kencang setelah mendengar suaranya. Suaranya yang masih belum berubah dan terdengar sangat terburu-buru. Benar-benar sedang sibuk.

 

Aku meraih ponselku dan memandangi deretan angka di histori panggilan terakhir tadi, untuk kesekian kalinya jantungku berdebar kencang sekaligus kesakitan.

**********

 

Pesta ulang tahun Jian Xi kali ini berjalan lancar seperti biasanya. Jian Xi akhirnya bisa tertawa senang lagi, melihat itu membuatku lega, setidaknya dia tidak merasa kesal lagi karena kejadian tadi siang.

Aku memandangi pemandangan di ruang tamu dari lantai dua, terlalu banyak orang, anak-anak yang sebaya dengan Jian Xi juga orangtua mereka yang terlihat sangat jelas jauh lebih muda dari eomma.

Saat Dad dan eomma memeluk Jian Xi, aku merasakan perasaan itu. Perasaan ingin kembali ke masa lalu dan hidup seperti Jian Xi, hidup bahagia bersama kedua orangtuaku, bersama teman-temanku.

Terkadang aku merasa iri pada Jian Xi, ia memiliki ayah yang menjaganya dan memperhatikannya sejak lahir, dan seorang ibu yang benar-benar menyayanginya dengan tulus, selalu bersamanya, merayakan ulang tahun bersama, memiliki banyak teman dan tidak pernah merasa sedih.

 

“Noona!!!” Suara nyaring Jian Xi membuyarkan lamunanku, membuat semua orang memandang ke atas dan menatapku. Aku langsung melangkah pergi dan bergabung bersama Jian Xi.
“Saengil Chukhahaeyo!” ucapku dan mengecup pipinya.
“Kau ini setiap tahun selalu memandangiku seperti itu, wajah sedihmu itu jelek sekali, noona!” oceh Jian Xi dan membuat Dad melarangnya bicara sembarangan.
“Noona, ceritakan tentang pesta ulang tahunmu.” pinta Jian Xi dan aku langsung mengerutkan keningku. Eomma menoleh ke arahku, begitu juga Dad.
“Ayolah. Ulang tahun yang paling kau ingat, yang tidak bisa kau lupakan. Masa kau selalu tahu hari ulang tahunku, tetapi aku tidak. Itu sangat tidak adil.” ocehnya dan aku tersenyum tipis, aku benar-benar tersenyum, bukan tersenyum paksa. Aku tersenyum karena teringat hari ulang tahunku yang paling spesial di sepanjang umurku, sampai hari ini.
“Hanya sekali,” jawabku dan Jian Xi mengerutkan keningnya, ia menatapku lekat-lekat dengan mata beningnya. Matanya yang selalu kusukai dan selalu membuatku teringat pada mata Yi Fan.
“Akan kuberitahu setelah kau berumur 17 tahun. Aku janji.” jawabku dan Jian Xi langsung memekik kesal.
“Noona! Aku benci mendengar janjimu!!” teriaknya dan membuat Dad membungkam mulutnya lagi.
“Hey. Tanya pada Dad. Aku tidak pernah melanggar janjiku. Benar kan, dad?”
“Benar sekali. Mereka dua orang yang sangat menepati janji. Kau tenang saja, nak.”
“Janji apa? Mereka siapa?” tanya Jian Xi lagi, pertanyaan ini ditujukan langsung untuk Dad.
“Hm… Janji yang sangat luar biasa.” jawab Dad dan tersenyum lebar sambil menatapku.
“Janji apa?!” tanya Jian Xi, ia terlihat sangat penasaran.
“Ji Anh-ahh!!!” Para teman perempuan Jian Xi berlari kecil mendekati kami, membuat aku dan Dad diam-diam menghela nafas lega. Sedangkan eomma, dia masih sama seperti dulu, sama sekali tidak merasa bersalah, maupun takut sekalipun.
“Di mana hyungmu?” tanya salah satu dari mereka.
“Tanya saja pada dia.” jawab Jian Xi dan menunjukku, kemudian menunjuk Dad.
“Eonni annyeong. Aku sudah baca novel terbarumu.” kata yang satunya lagi, kemudian tersenyum lebar sambil mengeluarkan sebuah novel.
“Boleh ditanda-tangani?” tanyanya dan menyengir lebar.
“Yahh, noona. Ini bukan acara fan-signing loh.” kata Jian Xi pada teman-temannya.

Aku hanya tertawa dan menandatangani halaman depan novel itu. Novel terbaruku.

“Hyungmu tidak datang lagi nih?” tanya anak perempuan yang pertama tadi. Jian Xi menggeleng dan kemudian mereka mulai membahas tentang teman-teman mereka, juga permasalahan di sekolah mereka yang tidak ingin kumengerti. Batas usiaku dengan mereka cukup jauh, membuatku tidak ingin mendengar pembahasan seperti itu lagi.

 

Aku melangkah menjauh dan berjalan kearah lapangan basket. Aku menahan ekspresi wajahku untuk tetap terlihat biasa saja karena di sana ada beberapa temanku dan saudara-saudara kami yang sedang bermain basket.

Aku menatap kosong ke pria-pria yang sedang bermain basket dengan pakaian formal. Mereka yang tadinya menghadiri pesta malah berubah menjadi pemain basket untuk sesaat. Kebanyakan dari mereka adalah orangtua dari teman-teman Jian Xi. Beberapa bahkan ada yang seumuran denganku.

 

“Eun Yoo!! Maaf aku terlambat!” Suara itu membuatku langsung menoleh. Heejin.
“Tidak apa.” jawabku dan Heejin memanyunkan bibirnya.
“Kenapa? Ada yang kau sukai dari mereka?” tanya Heejin dan aku mendengus.
“Mereka sudah menikah.” jawabku dan Heejin terdiam.
“Jadi, kau kapan?” tanyanya lagi dan aku menggeleng malas.
“Kenapa terlambat?” tanyaku dan Heejin duduk di sampingku.
“Biasa. Jinsuk tidak mau kutinggal. Menangis seperti mau dibunuh saja.”
“Lalu kau tetap meninggalkannya?”
“Tidak. Aku membawanya. Sekarang sedang bersama Ji Anh.”
“Lalu Sukjin?”
“Hah? Kau tidak melihatnya? Sukjin sudah datang duluan ke sini. Mana mungkin dia mau terlambat datang ke pesta ulang tahun Ji Anh.”
“Benar juga…” Aku mengangguk-angguk. Aku baru ingat kalau Jian Xi dan Sukjin, anak pertama Heejin adalah teman dekat.
“Tetapi, aku benar-benar tidak melihat Sukjin.”
“Itu karena kau terlalu banyak melamun. Tadi aku meninggalkan Jinsuk bersama Sukjin dan Ji Anh.”
“Baiklah.” gumamku pelan dan memperhatikan permainan basket di hadapanku lagi. Benar sekali, hari ini aku terlalu banyak melamun karena kejadian tadi siang.
“Kau masih memikirkannya ya?” tanya Heejin tiba-tiba.
“Hah? Siapa?” tanyaku balik, sesungguhnya aku tahu siapa yang ia maksud.
“Yi Fan.”
“Aniya.” elakku dan memfokuskan diriku pada permainan basket lagi.
“Lalu kenapa dulu kau menolak Seunggi oppa?” tanya Heejin lagi dan aku hanya menggeleng pelan. Heejin masih sama seperti dulu. Suka menginterogasiku.
“Sampai sekarang dia masih tidak tahu kenapa kau menolaknya.”
“Lebih baik tidak tahukan?”
“Kenapa?”
“Dia terlalu baik untukku.” jawabku pelan menghela nafas.

“Memangnya kau penjahat ya?” oceh Heejin lagi dan membuatku tertawa paksa.

“Aku tidak mau lebih banyak orang lagi yang tahu tentangku.”

“Memangnya kenapa? Kau masih hidup dibayang-bayang masa lalumu? Kau yang dulu dan sekarang sudah sangat berbeda, okay?”

“Hey.” Suara itu membuatku tidak jadi menjawab perkataan tajam Heejin. Aku hanya diam dan tetap memperhatikan permainan basket yang mulai terasa tidak serius lagi.

“Hai oppa!” sapa Heejin dan langsung berdiri menghampiri Seunggi oppa.

“Kau baru datang ya?” tanya Heejin lagi.

“Iya. Aku lupa acara hari ini, untung saja diingatkan.”

“Siapa?”

“Li sajangnim. Dia meneleponku.” jawab Seunggi oppa dan Heejin hanya berkata-kata sedikit kemudian meninggalkan kami berdua. Heejin selalu begitu. Selalu.

“Annyeong…” sapanya dan duduk di sampingku.

“Kau suka bermain basket?” tanya Seunggi oppa dan aku menoleh ke arahnya sekilas, kemudian tersenyum tipis.

“Aku sama sekali tidak bisa bermain basket. Hanya suka melihat pertandingannya.”

“Oh ya? Sayang sekali. Aku bisa mengajarimu.”

“Tidak oppa. Aku tidak punya waktu untuk belajar basket. Bagaimana kabarmu?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Baik-baik saja.”

“Bagaimana dengan kantor?”

“Tidak bagaimana. Karyawan seangkatanmu banyak yang berhenti bekerja juga. Berat sekali ya bekerja di sana?” tanyanya dan aku menggeleng.

“Tidak sama sekali. Aku suka bekerja di sana.”

“Lalu kenapa resign?”

“Aku hanya ingin fokus menulis. Waktu itu.” jawabku dan Seunggi oppa mengangguk-angguk sambil ikut memperhatikan pertandingan basket.

“Oh ya… Aku mendapatkan novel bertandatanganmu lagi.” katanya dan memamerkan novelku yang dibelinya.

“Oh… Kau selalu beruntung ya, oppa?”

“Tidak juga. Justru mendapatkan yang seperti ini membuatku tidak punya alasan untuk menemuimu.” jawabnya dan aku hanya tersenyum tipis. Maafkan aku, oppa.

“Kalau begitu akan kutandatangani lagi. Bagaimana?” tawarku dan Seunggi oppa tersenyum lebar.

“Tentu!” Seunggi oppa mengeluarkan bolpoinnya dan menyodorkannya bersamaan dengan novel itu. Aku menandatangani bagian tengah novel dan bagian akhir novel, membuat Seunggi oppa tersenyum lebar.

“Terimakasih.” Ia tersenyum lebar sambil menyimpan bolpoin dan meletakkan novelnya di tengah-tengah kami.

“Hmm. Boleh kau menjawab pertanyaanku yang dulu?” tanyanya dan aku hanya mengangguk.

“Seperti apa cara dia menyakitimu sehingga kau tidak bisa melupakannya dan tidak bisa menerima orang lain menggantikannya?” tanya Seunggi oppa dan membuatku terdiam.

“Dia sama sekali tidak menyakitiku.” jawabku dan menatap Seunggi oppa lekat-lekat. Ini sudah kesekian kalinya Seunggi oppa bertanya, dan hari ini aku benar-benar menjawabnya dengan jujur.

“Lalu?”

“Aku tidak bisa menerimamu karena kau… dan dia…kalian terlalu mirip. Sifatmu…sikapmu… semuanya, bersamamu hanya akan terus membuatku mengingatnya,”

“Dia tidak menyakitiku, sama sekali tidak. Dia bahkan tidak menyakitiku sekalipun. Kami berpisah karena satu alasan yang tidak bisa kukatakan.” lanjutku pelan, hampir berbisik.

“Orangtua kalian menikah?” Pertanyaan itu langsung membuatku menatapnya kaget. Mendengar perkataan itu membuatku gemetaran, aku tidak tahu harus mengatakan apa.

“Tidak perlu menjawab. Sajangnim yang memberitahuku. Beliau sudah menceritakan semuanya padaku tadi.”

“Tadi?”

“Ya. Tadinya aku tidak mau datang kemari. Aku tahu kau tidak suka melihatku, tetapi beliau memaksaku datang dan berjanji akan mengatakan sesuatu padaku. Maafkan aku. Aku tidak menyangka aku akan menjadi orang yang membuatmu tidak bisa melupakannya.”

“Maaf.” gumamku pelan dan Seunggi oppa menepuk pelan bahuku.

“Kita tetap bertemankan?” tanyanya dan aku menoleh ke arahnya.

“Tentu saja.” jawabku dan tersenyum lega. Aku lega dia bisa mengerti perasaanku.

“Tetapi, ada baiknya kalau kau menganggap aku ini Lee Seunggi, mantan kepala bagianmu beberapa tahun yang lalu, yang menyukaimu dan yang menyukai novelmu. Bukan seseorang yang mirip mantan pacarmu. Bagaimana?” tanyanya dan menjulurkan telapak tangannya.

“Biar kuperjelas,” gumamku sambil menyalami tangannya.

“Awalnya aku memang menganggapmu seperti itu, sesungguhnya aku masih menganggapmu seperti itu. Masalahnya, aku takut kedepannya aku akan terus membandingkanmu dengannya.”

“Kau tentu tahu kami punya banyak perbedaan.”

“Memang. Tentu saja. Teman.” jawabku mantap dan tersenyum tipis.

“Teman.” sambung Seunggi oppa dan tersenyum lebar. Senyuman lebarnya yang selalu disukai banyak orang, terutama di kantor. Bahkan Dad sendiri sangat menyukainya, sehingga Dad membuatku bekerja bersama dengannya dan menjodohkan kami berdua. Saat itu Dad terus-terusan merasa bersalah, membuatku terpaksa mengikuti kemauannya untuk beberapa waktu.

 

Beberapa pemain basket mulai berkurang, karena langit sudah mulai gelap. Yang tersisa di lapangan juga hanya tinggal anak-anak remaja. Seunggi oppa barusan dipanggil Dad lagi dan membuatku harus sendirian duduk memandangi anak-anak itu bermain basket dengan sembarangan.

“Noona! Mau ikut?” tanya salah satu dari mereka. Aku menggeleng cepat dan tertawa pelan.

“Ayolah!” paksa mereka dan aku menggeleng cepat, kemudian langsung kembali ke dalam rumah.

 

Suasana di dalam rumah juga sudah mulai sepi, hanya ada beberapa teman dekat Jian Xi yang masih bermain, membentuk lingkaran dan melihat sesuatu dengan sangat seru bersama Jian Xi.

Aku hanya melewati mereka dan berjalan ke kamar lagi. Aku merasa sudah cukup lama berada di lapangan basket dengan pikiran yang terus memutar bayangan-bayangan masa laluku. Tahun-tahun sebelumnya aku sudah bisa mengontrol diriku dan pikiranku, tetapi tahun ini sama sekali tidak bisa berkat telepon singkat tadi siang.

 

Saat merebahkan tubuhku di tempat tidur, aku mengeluarkan ponselku. Aku menyesal sudah menghapus histori telepon tadi siang. Aku ingin kembali ke kamar Jian Xi dan mengambil secarik kertas tadi, tetapi tubuhku memaksaku untuk tidak bergerak dan mengambilnya.

 

Aku memejamkan mataku, mengingat kembali suara tergesa-gesanya tadi. Mengingat pertanyaan Jian Xi lagi mengenai hari ulang tahun yang paling tidak bisa kulupakan.

 

“Aish!” Akhirnya aku bangkit dari tidurku dan masuk ke kamar Jian Xi melewati pintu kamar mandi yang dulu dibuat Yi Fan. Jian Xi belum kuberitahu tentang ini. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

 

Aku menemukan kertas itu lagi dan duduk sambil menatap angka-angka yang dituliskan Dad. Aku mengangkat kertas itu dan menatapnya lagi, seperti menatap sebuah foto, membayangkan seperti apa wajahnya sekarang, rambutnya, semuanya.

 

Aku menghembuskan nafas, setelah beberapa saat berperang dengan hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubunginya. Aku meremas kertas kecil itu dan mendengus pelan.

“Tidak boleh.” gumamku dan menatap novel-novel di hadapanku.

“Meskipun kau merindukannya, kau tidak boleh menghubunginya. Apapun yang terjadi,” gumamku pada diriku sendiri. Lebih tepatnya, otakku memerintahkan hatiku. Keduanya tidak pernah sinkron, sehingga aku terlalu sering berperang dengan diriku sendiri.

“Lagipula. Bisa saja dia sudah menikah atau mempunyai pacar di sana,” lanjutku.

“Tetapi aku menghubunginya sebagai Kakakku, seharusnya tidak masalah.” gumamku lagi.

“Aish!” Aku menopang daguku dan menatap ke deretan novel lagi.

“Stop it!” ucapku dan saat aku akan mengambil salah satu novel untuk mengalihkan pikiranku, aku menyadari sesuatu. Sebuah novel yang tidak boleh dibaca Jian Xi menghilang dari rak buku itu, bahkan plastik segelnya tergeletak di atas meja. Aku benar-benar baru menyadari ini.

Aku langsung keluar dari kamar Jian Xi dan berlari turun. Aku teringat kerumunan Jian Xi dan teman-temannya yang sedang melihat sesuatu. Jangan katakan kalau mereka membaca buku yang kusegel ulang itu bersama-sama.

 

“Jian Xi!” panggilku dari jauh dan melangkah cepat kearah Jian Xi dan teman-temannya.

“Noona! Lihat ini. Lucu sekali!” kata Jian Xi dan aku mempercepat langkahku.

Saat aku sudah bergabung bersama mereka, aku langsung menghela nafas lega.

“Lucu sekali. Ini cocok denganmu, noona!” kata Jian Xi lagi dan aku tertawa paksa sambil sekilas menatap buku yang ia baca. Sebuah komik tentang Golongan Darah, memang sedang sangat trend di semua kalangan.

“Jian Xi-ah. Tadi ada yang masuk ke kamarmu?” tanyaku pelan dan Jian Xi mengerutkan keningnya.

“Tidak tahu loh. Daritadi kami duduk di sini.” jawabnya dengan polos.

“Ada apa?” tanyanya lagi.

“Hm… Aniya. Mungkin eomma. Baiklah.” jawabku cepat dan memisahkan diri dari kerumunan.

 

Kalau bukan Jian Xi lalu siapa? Tidak mungkin Heejin, tidak mungkin Dad maupun Eomma. Apa mungkin Seunggi oppa? Oh… dan sangat tidak mungkin kalau Yi Fan. Sangat tidak mungkin.

 

“Oppa.” panggilku setelah Seunggi oppa keluar dari ruangan Dad. Aku sudah menunggunya beberapa menit di depan.

“Ya? Ada apa?”

“Kau ada masuk ke kamar Jian Xi?” tanyaku pelan dan Seunggi oppa memiringkan kepalanya.

“Tidak. Ada apa?”

“Kalau begitu kau melihat ada novel di meja kerja Dad tidak?”

“Hah?” Seunggi oppa semakin terlihat bingung.

“Tidak. Kau sedang mencari novel?”

“Um, Ya. Novel di kamar Jian Xi hilang.”

“Novel berwarna biru putih? Tebal?” tebak Seunggi oppa dan aku melotot kaget. Tepat sekali.

“Kau melihatnya?”

“Kurasa salah satu dari saudara kalian meminjam itu. Tadi aku melihatnya keluar dari ruangan Li sajangnim dengan menggenggam buku itu.

“Huft. Baiklah. Terimakasih oppa.” jawabku singkat dan membungkuk hormat, kemudian berbalik.

Aku teringat keponakan Dad, yang juga berarti sepupuku. Li Chen Xi. Pria itu selalu saja meminjam novel, setiap dia selesai membaca novel, novel itu akan menjadi kusam dan berlipat-lipat. Aku sangat membenci tipe orang yang membaca novel sepertinya. Kasar sekali.

Karena novel ini adalah novel yang paling kusukai, aku terpaksa harus mencarinya dan menegurnya.

 

“Noona!!!” Jian Xi berlari ke arahku, kelihatannya teman-temannya sudah pulang.

“Ada apa?”

“Itu… Barusan aku melihat orang membawa novelmu ke lapangan basket. Aku memanggilnya tetapi dia sama sekali tidak meresponku.”

“Novelku?” tanyaku balik. Bukannya novel Yi Fan?

“Iya, maksudku, novel yang noona beli, yang ditulis hyung. Noona kenapa aneh sekali sih? Novelmu diambil orang aneh loh! Dia masuk ke kamarku loh!” ocehnya kesal.

“Li Chen Xi kan?”

“Hah? Entahlah. Wajahnya tidak terlihat.”

“Tunggulah di sini. Aku tanyakan dulu.” gumamku dan Jian Xi mengangguk manja.

“Jangan sampai rusak sebelum kubaca.” Aku mendengar Jian Xi bergumam pelan, suaranya terdengar sedih.

Jian Xi mengatakan barusan, berarti dia sudah dua kali masuk ke kamar Jian Xi.

Aku melangkah cepat menuju lapangan basket yang ternyata masih sangat ramai. Aku mencari-cari Chen Xi di tepi lapangan, juga di tempat duduk, tetapi aku tidak melihatnya sama sekali. Yang ada hanya novel yang diletakkan di atas tempat duduk berdekatan dengan minuman kaleng.

 

Aku langsung mengambil novel itu dan memeriksa tiap lembar dari novel itu. Masih rapi.

Awalnya aku berencana langsung kembali ke dalam rumah bersama novel itu, tetapi langkahku terhenti karena tanpa sengaja mataku tertuju ke arah lapangan basket. Seseorang yang sangat menarik perhatianku, sangat mengejutkan sehingga aku tidak bisa bergerak dan hanya menatapnya yang sedang bermain bola basket dengan sangat seru bersama anak-anak remaja tadi.
Saat seseorang membuka lampu lapangan, paparan sinar lampu yang sangat menyilaukan membuatku tersadar, aku masih menatapnya, dan tanpa sadar aku menghela nafas lega, tersenyum tipis, kemudian menyadarkan diriku sendiri, memaksakan diriku untuk tidak mem-flashback masa lalu.

Dia berhenti bermain ketika kami bertemu pandang. Aku hanya tersenyum simpul padanya dan membalikkan badanku, melangkah pergi.

“Eun Yoo-ssi…” Suara itu menghentikan langkahku. Aku tidak bisa bergerak untuk beberapa saat. Sudah sangat lama aku tidak mendengar suara itu memanggil namaku dengan sangat lembut, masih sama seperti pertama kali aku mendengarnya. Bahkan debaran jantungku masih sama-sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.

“Eun Yoo-ah.” panggilnya lagi dan menepuk bahuku pelan. Aku langsung berbalik dan memaksakan diriku untuk tersenyum lebar, bersikap seperti biasa.
“Annyeong oppa.” sapaku, dan dia mengerutkan keningnya.
“Ini kau yang mengambilnya ya? Aku tidak tahu. Maaf.” ucapku lagi dan menyodorkan novel yang kuambil tadi padanya.
“Bagaimana caranya kau mendapatkan novel yang bertanda-tangan? Ini hanya ada 5 di dunia.” tanyanya dan aku terdiam untuk beberapa saat.
“Fan signing… mungkin?” jawabku pelan, ragu.
“Tidak tuh. Ini novel terakhirku, tidak ada fan signing lagi setelah novel ini terbit.” sanggahnya.
“Baiklah. Aku membelinya langsung di Kanada, memesannya langsung dari penerbit.” jawabku jujur dan ia terperangah menatapku.
“Mahal sekali kan?”
“Ya. Sangat. Makanya aku sempat kesal saat novel ini menghilang dari rak buku.” jawabku dan dia tersenyum.
“Kenapa tidak menghubungiku? Aku bisa membawamu jalan-jalan.” katanya lagi.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungimu.” jawabku dan ia tersenyum lagi. Senyuman itu…
“Kenapa tidak tanya pada Dad? Kudengar Jian Xi memintanya langsung pada Dad.”
“Menurutmu kenapa?” tanyaku balik dan dia hanya menyunggingkan ujung bibirnya.
“Sudah bertemu Jian Xi? Dia sangat ingin bertemu denganmu.” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Belum.”
Mendengar jawabannya, aku langsung melangkah kembali ke dalam rumah. Aku berencana memanggil Jian Xi, tetapi ia menarik tanganku, menahanku lagi.
“Dad bilang besok saja baru memberitahunya. Jian Xi pasti sudah lelah karena acara hari ini.” ucapnya dan aku terpaksa mengangguk pelan, kemudian melepas genggaman tangannya.
“Baiklah. Besok saja. Annyeong.” pamitku dan langsung berjalan cepat menjauhinya. Beruntung dia tidak menahanku lagi sehingga aku bisa masuk ke kamar dan langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
Aku menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong, aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan. Mungkin memikirkan penampilannya yang semakin terlihat dewasa, warna rambutnya yang tidak berubah, senyumannya yang masih sama seperti dulu, sifatnya, cara bicaranya…
Tanpa sadar airmataku merembes keluar. Aku merasa lega serta merasa sakit di waktu yang bersamaan. Lega karena akhirnya aku sudah menepati janjiku pada Jian Xi, hyung yang sangat ingin ia temui sudah berada di sini sekarang.

Aku memejamkan mataku dan mengigit bibir bawahku, ucapannya pada Dad saat di bandara dulu kembali mengusikku.
Dia kembali ke Seoul dan itu berarti dia sudah bisa melupakan…ku. Kurasa dia sudah menikah, atau…
Aku meringgis pelan dan mengepalkan tanganku. Aku kesal pada diriku sendiri, aku sangat membenci diriku yang seperti ini. Eun Yoo yang selalu memikirkan masa lalu, selalu memikirkan banyak hal dan selalu termenung di saat yang tidak tepat.

Lalu, bagaimana aku harus memanggilnya besok? Seperti tadi lagi? Oppa? Yi Fan? Jia Heng? Kevin?

Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, banyak hal yang ingin kuceritakan padanya, tetapi sebagai Yi Fan. Aku masih belum bisa menganggapnya sebagai kakakku, tidak bisa dan tidak ingin.

Satu hal lagi, aku ingin mengatakan kalau aku sangat merindukannya. Bisa melihatnya dan bicara seperti tadi saja, aku sudah merasa cukup.

Beberapa lama setelah aku terus berpikir, aku memejamkan mataku dan menenangkan pikiranku. Mencoba untuk tidak memikirkan lagi apa yang seharusnya tidak kupikirkan.

Perlahan aku membuka mataku lagi karena terdengar suara samar-samar. Aku beranjak dari tidurku dan melangkah mendekati pintu. Suara ketukan pintu terdengar, tetapi bukan pintu kamarku, lebih tepatnya pintu kamar mandi.

“Eun Yoo-ah. Sudah tidur?” Suara bisikan itu membuatku batal melangkah mendekati pintu kamar mandi.
“Eun Yoo.” panggilnya sambil mengetuk pintu kamar mandi lagi.
Aku hanya terdiam kaku sambil memutar kenop pintu yang tidak dikunci.

“Oh. Belum tidur?” katanya pelan saat melihatku berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi.
“Ada apa?” tanyaku pelan dan dia melangkah masuk tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu.”
“Tidak bisa tidur. Hanya ingin mengobrol. Boleh?” tanyanya dan aku hanya mengangguk pelan.
“Tadi siang, kau yang meneleponku?” tanyanya dan duduk di tepi kasurku. Aku menggeleng cepat dan Yi Fan mengerutkan keningnya.
“Jian Xi. Dia menggunakan ponselku.” jawabku dan Yi Fan mengangguk-angguk.
“Saat itu aku baru sampai Seoul, tetapi koperku hilang, jadi aku sibuk mengurusinya.”
“Sudah ketemu?”
“Sudah…” jawabnya pelan dan aku hanya diam menatapnya yang juga hanya diam menatapku.
Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana bicara dengannya.
“Kau tidak capek hanya berdiri di sana?” tanyanya dan aku menggeleng cepat.
“Novelmu bagus juga.” katanya dan aku langsung terbelak kaget.
“Bagaimana kau… bisa tahu?” tanyaku gugup dan Yi Fan tertawa pelan.
“Karena hanya ada novelmu dan novelku di rak itu.”
“Kapan kau membacanya?”
“Dua jam yang lalu.” jawabnya dan aku langsung menatap alrojiku. Berarti sudah hampir 3 jam sejak aku kembali ke kamar, dalam hampir 3 jam itu aku terus memikirkan banyak hal sedangkan Yi Fan membaca novelku.
“Sebenarnya aku sudah tahu kau menjadi penulis, tetapi aku tidak berani membacanya.” ucapnya pelan dan aku hanya mengangguk-angguk maklum. Wajar saja sih dia tidak berani, aku saja yang terlalu berani mengorbankan perasaanku dan membaca novel yang ditulisnya.
“Kau masih tinggal di Wonju?” tanyanya dan aku menggeleng pelan.
“Tidak. Aku pindah ke kota yang lebih besar. Kadang aku pulang ke Seoul, kadang tidak.”
“Kau hanya pulang setahun sekali saat Jian Xi berulang-tahun,” katanya dan aku terbelak kaget.
“Dad memberitahuku saat dia memaksaku pulang.” lanjutnya, menjawab kekagetanku.
“Dad selalu memberitahumu tentang aku?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng cepat.
“Tidak. Aku yang terus bertanya padanya. Dia sempat kesal dan menyuruhku pulang untuk mencari tahu.”
Mendengar itu aku tertawa pelan. Pertanyaanku terjawab, ia masih mencari tahu tentangku.
“Kenapa akhirnya kembali?” tanyaku lagi.
“Hmm.” Yi Fan terdiam sesaat. Aku langsung meraih ponselku yang kuletakkan di atas kasur dan menyandarkan diriku di tepi meja.
Kurasa aku sudah tahu jawabannya. Sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Dad.
Aku memperhatikan ponselku, mengecek pesan masuk dari beberapa teman kantor dan juga dari Heejin.

“Karena sudah berhasil melupakan mantan pacarmu?” tanyaku setelah ia hanya diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Yi Fan mengerutkan dahinya dan menatapku lekat-lekat.
“Kau pernah mengatakan itu pada Dad.” lanjutku dan Yi Fan mengangguk pelan.

Dan kami hanya diam lagi hingga sebuah telepon singkat membuat ponselku berdering, memecahkan keheningan untuk beberapa detik.
Deretan nomor yang terasa familiar itu membuatku melihat kearah Yi Fan, ia sedang mengetik sesuatu di ponselnya.

Baru saja akan ingin meletakkan ponselku, benda itu berdering lagi. Sebuah pesan singkat menghiasi lockscreen ponselku, masih dari nomor yang sama.

‘Aku kembali karena aku merindukannya. Aku sangat merindukan…mu.’

Kalimat singkat itu membuatku semakin menunduk, kakiku melemas seketika itu juga, airmataku akhirnya membasahi pipiku.

“Uljima.” ucapnya pelan dan mengusap pipiku, kemudian mengangkat kepalaku yang sudah cukup lama tertunduk. Entah sejak kapan dia berada di hadapanku.
“Aku sama sekali tidak bisa melupakanmu, bahkan semakin hari aku semakin merindukanmu. Sesibuk apapun pekerjaanku, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkanmu. Aku masih sangat…” Ia menghentikan ucapannya dan menyeka airmataku lagi.
“Aku masih sangat mencintaimu.” lanjutnya dan memelukku dengan erat sedangkan aku hanya bisa menangis tanpa suara.
“Aku tidak sabar menunggu kehidupan berikutnya untuk bisa bertemu denganmu lagi, jadi tahun ini aku kembali,” ucapnya pelan dan mengelus-elus rambutku.
“Kupikir setelah beberapa tahun aku bisa melupakan semua yang terjadi, tapi ternyata aku salah. Segalanya masih terasa seperti baru terjadi kemarin.”
Yi Fan menyeka air mataku lagi dan tersenyum tipis.

“Apa kau masih sering menangis seperti ini?” tanyanya lagi.

“An..aniya.” jawabku pelan. Suaraku mulai serak.

“Berarti hanya karena aku?” tanyanya dan menyeka bulir-bulir keringat di dahiku.

“Aniya.” jawabku lagi dan Yi Fan mendekatkan wajahnya.

“Kalau begitu… maafkan aku.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas, membuat jantungku berdegup semakin kencang, tubuhku mendadak kaku dan hanya bisa menatapnya kaget.

“Maaf lagi.” Ia menaikkan ujung bibirnya, kemudian tersenyum tipis.

“Kenapa?” tanyaku pelan, suaraku hampir tidak terdengar.

“Karena… aku akan terus membuat kesalahan setelah ini. Aku hanya bisa terus mengatakan maaf.” jawabnya lagi. Aku mengerutkan keningku karena bukan itu maksud pertanyaanku.

“Maksudku… kenapa kau…” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Yi Fan memeluk pinggulku dan membuatku duduk di atas meja. Lagi-lagi aku hanya bisa menatapnya dengan kaget.

“Kenapa aku menciummu? Karena aku sudah terlalu lama tidak melakukannya, dan aku sudah hampir lupa bagaimana rasanya,” bisiknya tepat di telingaku.

“Untuk malam ini, aku ingin kau menganggap segalanya belum terjadi, aku ingin berada di sini sebagai pacarmu, bukan kakak tirimu…” pintanya dan tanpa sadar airmataku mengalir lagi, Yi Fan menyekanya lagi.

“Oke?” tanyanya dan aku hanya mengangguk.

“Katakan sesuatu.” ucapnya dan semakin mendekatkan wajahnya.

“Kau pacarku.” bisikku dan Yi Fan tersenyum lebar, wajahnya terlihat lega.

“Thanks.” bisiknya dan perlahan mengecup bibirku lagi. Beberapa kali, perlahan dan sangat lembut. Saat Yi Fan menangkup kedua satu sisi wajahku, aku bisa merasakan tangannya yang sedikit gemetaran, dan saat itu juga dia mengulum bibirku dengan pelan, sangat pelan, membuatku merasa ia sedang sangat berhati-hati untuk tidak menyakitiku.

“Bagaimana?” tanyanya dan hanya menempelkan dahinya di dahiku.

“Kau berencana mempraktekkan isi novelmu?” tanyaku dan Yi Fan memejamkan matanya dan tersenyum malu.

“Kupikir kau tidak akan menyadarinya.”

“Aku membaca semua novelmu lebih dari 5 kali. Aku hampir menghafal setiap scene-nya.” jawabku dan membuatnya tersenyum malu lagi.

“Lalu, setelah ini apa?” tanyanya dan tersenyum jahil. Senyuman yang jarang sekali terlihat darinya, dulu.

“Kau benar-benar ingin melakukannya?” tanyaku bingung dan ia hanya hanya bergumam.

“Aku tidak…” Yi Fan mendekatkan wajahnya dengan cepat, membuatku terdiam.

Aku menggigit bibir bawahku dan mengecup bibirnya sekilas.

“Aku bukan wanita di dalam novelmu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana melakukannya.”

“Kau masih sama seperti… ralat, kau masih polos dan kaku.”

“Seharusnya kau tulis novel tentang wanita seperti itu. Kaku dan polos.”

“Ada kok.”

“Tidak ada.”

“Sudah lama kutulis. Tidak bisa tamat karena…”

“Karena?”

“Aku tidak tahu bagaimana mereka harus berakhir…”

“Perlihatkan padaku, aku…” Lagi-lagi ia memotong ucapanku dan mengulum bibirku lagi.

“Kalau kau tidak bisa, aku yang akan mencobanya.” bisik Yi Fan dan mengecup daun telingaku sekilas sebelum akhirnya mengulum bibirku lagi.

Dan saat dia benar-benar melakukan apa yang seharusnya kulakukan dalam novelnya, aku memeluknya dengan erat, jantungku berdegup semakin kencang, terasa hampir meledak.

Inilah apa yang kebanyakan orang menyebutnya dengan french kiss…

“Hey…” panggilku disela ciumannya, tetapi Yi Fan sama sekali tidak menanggapiku, membuatku terpaksa menggigit bibir bawahnya, meskipun tidak benar-benar menggigitnya, tetapi berhasil membuatnya berhenti.

“Ada apa?” tanyanya pelan dan mengecup pipiku sekilas.

“Aku mendengar suara Jian Xi.” ucapku pelan dan Yi Fan hanya dia, matanya menatapku sambil mencoba mendengarkan suara dari luar.

“Kau yakin? Tidak ada suara apapun.”

“Mungkin salah dengar.” jawabku dan memalingkan wajahku.

“Baiklah. Kau harus tidur.” katanya dan langsung membopongku dengan cepat ke atas tempat tidur.

“Kau akan kembali ke Kanada?” Pertanyaanku membuat Yi Fan yang berada diatasku langsung terdiam.

“Entahlah.” gumamnya dan saat itu juga aku mendengar suara teriakan Jian Xi.

Kami langsung berlari ke kamar Jian Xi dan anak itu sudah duduk di tempat tidurnya, ia menangis, wajahnya pucat.

 

“Ada apa?” tanyaku dan Jian Xi hanya menatapku, kemudian menoleh ke arah pintu kamar mandi.

“Noona… Aku mimpi buruk.” gumamnya dan memelukku.

“Ada apa?” Yi Fan masuk lewat pintu depan dan berdiri di hadapan Jian Xi.

“Ahjussi. Neon nuguya?” Pertanyaan dalam bahasa informal itu membuat Yi Fan tersenyum tipis.

“Aku melihatmu dalam mimpiku barusan…” kata Jian Xi lagi dan terus menatap Yi Fan, ia ketakutan. Yi Fan menatapnya dan tetap diam.

“Aku melihatmu di…” Jian Xi terdiam dan mengatup mulutnya rapat-rapat.

“Kau mimpi buruk lagi?” tanya eomma yang menerobos masuk dan langsung memeluk Jian Xi.

“Lagi?” tanyaku saat menjauh dari Jian Xi dan eomma.

“Sudah sering.” jawab eomma dan berusaha menenangkan Jian Xi yang sedang menangis.

“Kali ini tentang apa?” tanya Dad yang terlihat sangat khawatir.

Jian Xi menoleh ke arah Yi Fan dan hanya menatapnya dalam diam.

“Noona…” Jian Xi menjulurkan tangannya, memintaku mendekatinya.

“Aku ingin tidur denganmu. Aku takut.” katanya lagi dan aku duduk di sampingnya. Jian Xi melepaskan pelukan eomma dan memelukku dengan erat. Seluruh tubuhnya bergetar.

“Kalau begitu, tidurlah lagi.” kata eomma akhirnya, setelah hanya diam beberapa saat.

 

Yi Fan melangkah keluar dan disusul oleh Eomma juga Dad. Begitu pintu ditutup, Jian Xi melepas pelukannya dan menoleh lagi ke pintu kamar mandi.

“Kenapa mau keluar dari kamar mandiku?” tanyanya dan menyeka airmata yang membasahi wajahnya dengan tangan.

“Kamar mandi kita sama, aku masuk ke sini melewati kamar mandi. Lebih dekat.” jawabku dan Jian Xi mengerutkan keningnya.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah. Hyungmu yang membuatnya.”

“Hyung?!” Jian Xi terlihat semangat untuk beberapa saat, tetapi wajahnya kembali terlihat murung.

“Yang tadi itu… Yang sangat tinggi itu… Hyung?” tanyanya pelan dan aku memeluknya lagi. Aku sangat ingin tahu apa yang ia lihat di dalam mimpinya, tetapi aku tidak bisa menanyakannya.

“Benar sekali. Kami berencana memberitahumu besok.”

“Apa dia pernah kecelakaan?” tanya Jian Xi dan aku hanya diam.

“Tidurlah. Besok kau harus bangun pagikan.” kataku cepat dan Jian Xi mendengus pelan.

“Noona…” pintanya dan termangut.

“Besok saja bagaimana? Besok…”

“Baiklah. Besok…” kata Jian Xi dan mengangguk cepat, kemudian merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

 

Bagaimana bisa Jian Xi mendapat mimpi seperti itu? Mimpi yang benar-benar terjadi pada Yi Fan.

Kecelakaan yang bahkan tidak kuketahui tujuannya. Perbuatan eomma pada Yi Fan, Mengapa eomma melakukan itu padanya? Aku merasa akan penasaran seumur hidup mengenai hal itu, aku tidak bisa menanyakan apapun pada eomma, aku yakin eomma tidak akan menjawabnya, tidak akan.

***

TO BE CONTINUE

PLease leave comment!

Untuk part selanjutnya, diusahakan cepat dan gak pending sampai satu tahun. Heehehhe

Love Ya!

-Eve RyLin

Advertisements

3 thoughts on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s