Hallo teman-teman!!!
Sorry lanjutannya lama.
Baru selesai UTS, akhirnya bisa rapiin isi part 7 ini.
Hehehhe

HAPPY READING ALL!!

Between time and promise part 7
Between time and promise part 7

11111520_1123170337708860_395949443_n

D-day

Aku keluar dari toilet sambil mengelus-elus pelan perutku.
Anggap saja aku beruntung, karena aku diserang diare sehingga aku hanya bisa berada di dalam toilet gereja dan tidak perlu melihat eomma dan ahjussi di depan altar.
Kalau aku melihatnya, aku yakin sekali yang ada diotakku hanya saat aku bersama Yi Fan di depan altar yang sama, dan itu membuatku semakin sakit.

Aku tidak pernah mengalami diare. Maka itu aku sengaja agar hari ini aku menderita penyakit itu. Aku menghabiskan 2 mangkuk ramen kimchi dengan cabe hijau sebanyak-banyaknya, beberapa jam kemudian perutku sakit setengah mati dan sampai sekarang perutku masih terasa panas.
Setidaknya rasa sakit karena diare ini tidak lebih sakit daripada harus menerima kenyataan kalau hari ini aku sudah menjadi adiknya dan harus memanggil ahjussi dengan panggilan yang sama… ‘Dad’.

Perutku berulah lagi dan terpaksa aku masuk ke dalam toilet lagi.
Tepat saat aku baru akan duduk, banyak yang masuk ke dalam toilet dan mereka sedang tertawa. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa mereka. Bahasa mandarin memang sulit sekali. Aku bahkan tidak berencana untuk mempelajarinya.

“Ahjumma itu keren sekali. Bagaimana bisa mereka bertemu ya?” Kali ini orang Korea yang berbicara. Kurasa bukan dari kelompok orang cina tadi.
“Entahlah. Herannya, anak mereka sudah dewasa tetapi mereka menikah lagi. Kenapa tidak nikahkan saja anaknya? Kulihat mereka cocok juga.”
“Oh! Benar sekali. Putranya tampan!”
“Kevin itu kan terkenal sekali di kantor. Anehnya… kudengar dia itu gay…”
“Hey!!! Jaga mulutmu!”
“Aku serius! Dia sama sekali tidak pernah membawa wanitakan? Ayahnya saja tahu kok tentang rumor itu.”
“Kau lupa? Dia kan kuliah di Wonju. Bisa saja pacarnya tinggal di Wonju.” belanya lagi dan membuatku mengangguk setuju. Pacarnya tinggal di Wonju dan sekarang sudah menjadi adik tirinya. Ini akan menjadi gosip baru di perusahaan mereka nanti.
“Kudengar anak ahjumma itu kuliah dan tinggal di Wonju juga. Gadis itu bukan gadis biasa, dia…”
“Bukan gadis biasa? Tunggu dulu… Dia memang cantik, tetapi dia terlihat sangat biasa saja.”
“Memang. Kau tahu Park Jung Yeon dari divisi pajak?” Mendengar nama eonni, sakit perutku mendadak hilang. Gosip di toilet selalu lebih mengerikan daripada di televisi.
“Tentu saja. Si galak itu. Kenapa dia?”
“Dia bilang kalau anak ahjumma itu bernama Kwon Eun Yoo. Aku tidak ingat nama ayahnya, tetapi ayahnya seseorang yang sangat hebat. Bahkan kampus Yonsei di Wonju itu sebenarnya milik keluarga mereka, tetapi dirahasiakan.”
Aku membekap mulutku. Ini benar-benar lucu. Eonni tahu segalanya, sedangkan aku tidak pernah tahu apapun.

“Dan ahjumma itu juga bukan wanita biasa. Dia pemilik butik di Jepang. Hebatkan?!”
“Perfect sekali. Ayahnya pemilik perusahaan hiburan, ibunya pemilik butik. Dua anak itu akan sangat hidup berkecukupan! Apalagi Kevin sudah punya jabatan di perusahaan. Sebentar lagi putrinya mungkin akan mendapat posisi tinggi juga di kantor.”
“Keren sekali. Aku iri padanyaaaaa!”

Huh? Iri padaku? Aku iri pada kalian karena tidak punya masalah sama sekali sehingga bisa mengurusi kehidupan orang lain. Mereka bahkan lebih tahu daripada aku sendiri. The power of gossip.

Aku keluar dari bilik toilet dan mencuci tanganku. Ada tiga gadis di sana. Dan mereka pernah kulihat di kantor ahjussi.
Aku tersenyum tipis pada mereka yang kaget melihatku.

“Maaf. Aku diare, jadi hari ini aku terpaksa harus berada di toilet cukup lama.” Setelah mencuci tanganku, aku melangkah keluar dan mereka menahanku.
“Um… Kau pernah bertemu Kevin di kampus?” tanya seorang gadis setelah berdiri di hadapanku.
“Terkadang. Kenapa?”
“Ahhh. Perkenalkan. Aku Jang Yuri.” Ia menjulurkan tangannya dan tersenyum lebar.
“Kwon Eun Yoo.” Aku menyalaminya dan tersenyum tipis.
Saat dua temannya ingin ikut mendekatiku, aku melihat eonni berdiri di dekat kami dan tersenyum kesal.
“Annyeong!” Suara keras eonni membuat kaget ketiga gadis itu.
“Eun Yoo! Kau masih diare?” tanya eonni dan aku mengangguk pelan. Eonni menggantikanku menjadi pendamping pengantin, karena itu eonni tahu keadaanku sekarang ini.
“Terimakasih eonni sudah menggantikanku.” kataku dan tersenyum lebar.
Gadis bernama Yuri tadi terbelak kaget karena ucapanku.
“Tunggu… Kalian saudara? Dilihat sedekat ini kalian sangat mirip.” kata Yuri dan eonni menggeleng cepat.
“Benar sekali. Dia eonniku.” jawabku cepat dan eonni langsung mencengkram pergelangan tanganku.
“HAH?!” Mereka memekik kaget dan menatap eonni dengan tatapan tidak percaya.
“Sepupu.” lanjut eonni dan tiga orang itu mendengus kesal.
“Pantas saja kau tahu segala hal tentang mereka!” oceh Yuri dan mendengus lagi.
“Yuri-ahh!! Kevin!” Seseorang muncul dari luar dan memekik keras membuat kami semua terperanjat kaget.
“Ada apa?!” tanya Yuri kaget.
“Kau pasti tidak menyangka ini. Dia sedang bersiap bermain piano lagi, bahkan biola!”
“Jinjja?!! Kyaa!!!!! Yuri berteriak histeris dan berlari keluar dari toilet, begitu juga dua temannya.

“Daritadi dia hanya bermain piano, tidak menjadi pendamping pengantin juga.” kata eonni pelan dan aku menghela nafas pelan.
“Kau tidak penasaran dengan ini? Permainan pianonya sudah dimulai lagi loh.” goda eonni dan tersenyum tipis.
“Atau kau sudah tahu tentang ini?” tanya eonni dan aku menggeleng pelan.
“Kalau nanti aku menangis, semua orang akan memperhatikanku.”
“Ya, jangan sampai kau menangis.”
“Caranya?”
“Tahan.”

Aku menggangguk malas dan menghela nafasku. Akan kucoba, dan harus kucoba.

Eonni menarikku keluar dan berdiri di depan pintu gereja. Beberapa gadis juga sedang sibuk memperhatikan Yi Fan yang sedang memainkan piano di pojok ruangan gereja.

“Keren sekali.” gumam eonni dan tersenyum tipis padaku.
Memang benar, sangat keren. Dan sekali lagi dia terlihat seperti orang yang berbeda.
Tetapi sekarang aku benar-benar sedang tidak bisa mengaguminya. Setiap aku melihatnya, yang kurasakan hanyalah rasa sakit. Sakit yang sangat menyiksaku.

“Waahhh!!” Teriakan tertahan itu terdengar dari beberapa gadis tadi. Yi Fan mulai memainkan cello.
“Cello, bukan biola.” gumamku dan melirik gadis-gadis yang sibuk mengoceh kalau itu adalah biola.

Saat Yi Fan menoleh ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku dan berjalan pergi. Aku harus kembali ke toilet lagi. Benar-benar hari yang buruk.


*****

“Kudengar kau sakit?” tanya Yi Fan pelan dan aku menggeleng cepat. Eomma menatapku dan menoleh ke arah ahjussi yang sedang berjalan mendekati meja makan.
“Sakit apa?” tanya ahjussi dan duduk di depan Yi Fan.
“Hanya diare.” jawabku pelan dan Yi Fan mendecak pelan.
“Aku tidak demam.” jawabku cepat dan menjauh dari tangan Yi Fan yang ingin menyentuh keningku.
“Makanlah.” kata eomma dan Yi Fan menatapnya dengan malas.
“Sudah minum obat?” tanya ahjussi dan aku mengangguk cepat.
“Ahjussi. Aku…”
“Dad.” ralat ahjussi cepat dan aku langsung menutup rapat mulutku. Aku tidak sanggup menyebutkan satu kata itu.
“Aku mau kembali ke Wonju. Kuliahku sebentar lagi dimulai.”
“Jadi kau tinggal di mana?” tanya Yi Fan pelan.
“Asrama saja.” jawabku sambil melahap makan malamku.
Aku bahkan tidak bisa menatapnya lagi.
“Baiklah.” jawab ahjussi dan aku tersenyum tipis.

“Dad. Aku ingin kembali ke Kanada.” gumam Yi Fan pelan setelah kami diam beberapa saat.
“What?!!” teriakan ahjussi membuatku tersentak kaget. Yi Fan dan eomma malah terlihat sudah menduga teriakan itu.
“Aku ingin kembali ke Kanada.” ulang Yi Fan dan ahjussi menggeleng cepat.
“Makanlah dulu. Kita bicarakan setelah ini.” kata ahjussi dan Yi Fan mengangguk patuh.

Well. This is our last, right?

***

Kami berempat duduk di ruangan kerja ahjussi. Eomma terlihat lebih diam daripada biasanya. Sedangkan aku merasa Yi Fan terus menatapku, hanya saja aku sama sekali tidak berani menatapnya, bahkan berbicara dengannya saja aku tidak sanggup.

“Dimulai dari Eun Yoo. Kau butuh apa saja untuk tinggal di Wonju?”
“Aku tidak perlu apapun. Nanti Heejin yang akan menjemputku.” jelasku dan ahjussi mengangguk-angguk.
“Kalau begitu tinggalkan nomor rekeningmu ya. Dad akan mengirimkan uang untukmu.”
“Hhm?” Aku mengerutkan keningku dan menatap ahjussi dengan tatapan bingung.
“Uang untuk apa?” tanyaku dan aku merasa Yi Fan tersenyum tipis. Walaupun aku tidak menatapnya langsung, tetapi aku masih bisa melihatnya dengan ekor mataku.
“Uang untuk kehidupanmu. Yang seperti biasa dikirimkan eommamu. Sekarang aku yang harus melakukannya.” jelas ahjussi dan membuatku tertawa kesal, membuatku terpaksa menatap eomma dengan tajam.
“Ahjuss…Dad. Aku tidak merasa eomma pernah mengirimkanku uang sejak dia meninggalkanku. Aku selama ini bekerja di Wonju, dan nanti aku akan kembali mencari pekerjaan, jadi tidak perlu mengirimkan uang.” jawabku dingin dan ahjussi menatap eomma untuk sesaat. Eomma sama sekali tidak bereaksi, tidak terlihat kesal maupun marah seperti yang biasa ia lakukan.
“Kalau begitu kau mau kubantu untuk mencari pekerjaan?” tanya ahjussi lagi dan aku tidak merespon.
Mencari pekerjaan di jaman sekarang memang sangat tidak mudah, mungkin aku menerima saja penawaran ahjussi yang satu ini.
“Boleh.” jawabku dan aku merasa Yi Fan tersenyum lagi.
“Mau mobil?” tanya ahjussi dan aku langsung menggeleng cepat, bercampur kaget.
“Aku tidak butuh apapun.” ulangku.
“Baiklah. Kalau… Kalau saja kau membutuhkan apapun, jangan segan untuk menghubungiku. Okay?”
“Okay. Gamsahamnida.”

“Dan Kevin…” Ahjussi beralih dan menatap Yi Fan.
“Hm?”
“Kau sudah yakin?” tanya ahjussi dan Yi Fan mengangguk pelan. Saat itu juga eomma menarikku.
“Ayo keluar. Biarkan mereka berdua.” gumam Eomma padaku, aku mengangguk dan beranjak dari dudukku. Kebetulan aku juga tidak ingin mendengar apapun tentang kepergiannya nanti.
“Tunggu.” Yi Fan menarik tanganku dan aku menatapnya kaget. Mau tidak mau aku menatapnya. Dia terlihat sangat tidak baik-baik saja. Wajahnya…
“Untuk apa kalian keluar? Tidak ada rahasia di antara keluarga kan?” katanya dan menoleh ke ahjussi. Ahjussi menyetujui perkataan Yi Fan dan terpaksa aku kembali duduk di samping Yi Fan, begitu juga eomma yang langsung duduk setelah mendengus pelan.

“Kau dulu memaksaku untuk tinggal di Korea, kenapa sekarang ingin kembali?” tanya ahjussi dan Yi Fan tertawa pelan.
“Sudah bosan.” jawabnya singkat dan ahjussi menghela nafas.
“Sudah bosan mencari gadis itu?”
“Aku sudah menemukannya.” jawab Yi Fan setelah menggeleng pelan.
“Oh ya?! Apa dia mengenalimu?”
“Entahlah. Aku tidak peduli lagi.”
“Kenapa? Kupikir kalian akan bersama.”
“Aku mencintai gadis lain.” jawab Yi Fan dan ahjussi melongo untuk sesaat. Ahjussi menatap Yi Fan dengan tatapan tidak percaya.
“Kupikir kau masih mencari gadis itu makanya aku terus memaksamu bertemu dengan banyak gadis supaya kau bisa melupakannya. Aku bahkan berpikir kau berbohong tentang mempunyai pacar. Dan sekarang kau mendadak mengatakan tentang cinta… Siapa gadis itu?”
“Huh. Aku tidak bisa memberitahumu.”
“Kenapa? Kau berkata tidak ada rahasia apapun padaku.”
“Aku tidak merahasiakannya. Aku hanya belum bisa mengatakannya.”
“Kenapa? Sudah putus?”
“Entahlah. Kurasa sudah, tetapi kami belum mengatakan apapun tentang perpisahan.”
“Kenapa harus berpisah?”
“Jadi, kapan aku boleh kembali ke Kanada?” Yi Fan mengalihkan pembicaraan, kembali ke topik semula. Yi Fan memang selalu seperti ini setiap ada pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.
“Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?” Ahjussi menatapnya skeptis.
“Tidak mau. Jawab saja dulu pertanyaanku.”
“Baiklah. Kau boleh kembali, tapi setelah kau menyelesaikan semua pekerjaanmu di kantor. Okay?”
“Okay. Thanks Dad.”

Aku menyeka airmataku lagi. Aku menunduk dalam-dalam sehingga mereka tidak menyadarinya.

“Ayo kembali.” kata eomma dan langsung beranjak dari duduknya, ia keluar tanpa menungguku.

Setelah aku berhasil menyeka airmataku dengan cepat, aku langsung beranjak keluar juga. Aku tidak bisa menahan tangisku lebih lama lagi.

“Eun Yoo-ssi.” panggil Yi Fan saat aku hampir menuju ke ambang pintu.
Aku hanya menoleh ke arahnya tanpa menjawab panggilan kakunya.
Benar-benar kaku seperti baru pertama kali bertemu.

“Ini. Untuk diaremu.” katanya dan mengeluarkan bungkusan obat dari dalam sakunya. Aku menerimanya begitu saja.
Awalnya aku tidak ingin mengatakan apapun lagi, tetapi aku tetap mengatakannya. Formalitas, sopan santun, bagaimanapun juga, dia kakakku…

“Thank You. Yi Fan-ssi.” ucapku pelan, kaku, dan bodoh. Namanya bukan Yi Fan. Aku benar-benar sudah melakukan kesalahan besar.

Saat aku sudah melangkah keluar, aku memperlambat langkahku karena mendengar ahjussi berkomentar.

“Ada apa dengan kalian berdua? Kaku sekali, tidak seperti saat pertama kali kalian bertemu, langsung dekat seperti teman lama.”
“Entahlah, dad.”
“Lalu… bagaimana dia bisa memanggilmu Yi Fan? Kupikir hanya aku yang pernah mendengar nama itu.” selidik ahjussi dan aku membekap mulutku sendiri. Matilah aku.
“Hey. Kenapa?” desak ahjussi dan Yi Fan tidak menjawab sama sekali. Mereka diam.
“Li Jia Heng!” hardik ahjussi dan Yi Fan menghela nafas pelan.
“Baiklah. Sebenarnya…”
“Maaf.” Aku menerobos masuk sehingga membuat Yi Fan menghentikan ucapannya.
“Ada apa?” tanya ahjussi dan mereka menatapku.
“Nah. Kebetulan dia ada di sini. Aku hanya akan mengatakannya sekali, jadi…”
“Hey!” Aku memekik tertahan dan Yi Fan tersenyum tipis padaku, kemudian menatap ayahnya lagi.
“Sebenarnya, aku memberitahu beberapa orang di kampusku, supaya mereka percaya reinkarnasi,” jawab Yi Fan dan membuatku menghela nafas lega.
“Mereka suka memanggilku dengan nama itu karena lebih mudah.” lanjut Yi Fan lagi.
“Dan kau menceritakan hal yang sama pada Eun Yoo?”
“Ya. Benarkan Eun Yoo-ssi?”
“Iya. Tadinya aku tidak percaya reinkarnasi.” gumamku dan ahjussi mengangguk-angguk paham.
“Lalu untuk apa menceritakannya pada Eun Yoo?”
“Karena dia mirip gadis itu.”
“Hah?!!” Ahjussi terbelak dan Yi Fan tersenyum malas.
“The End. Aku sudah mengatakan apa yang kau tanyakan. Aku kembali dulu. Good night!” kata Yi Fan cepat dan langsung berjalan keluar.

Aku ikut keluar, aku tidak ingin menjawab pertanyaan ahjussi. Apapun itu. Aku sedang tidak ingin berbohong.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi hari ini. Semuanya berjalan begitu cepat, sehingga aku sendiri tidak tahu mana yang harus kupikirkan.
Hubunganku dengan Yi Fan sudah berakhir. Akan ada tembok pemisah yang berukuran besar dan tidak terlihat antara aku dengannya.
Begitu juga aku dengan eomma, setiap aku melihatnya, menatapnya, dadaku terasa sesak, sakit. Aku ingin menangis tetapi aku tidak bisa melakukannya.
Aku hanya ingin cepat kembali ke Wonju, dan melupakan segalanya. Kalau bisa dilupakan…
__________________

Aku menyalakankan lampu kamarku dan menghela nafas berat. Sejak jam 10 malam tadi aku sudah mencoba untuk tidur, tetapi sampai sekarang, sudah hampir jam 4 dini hari, aku masih tidak bisa tidur.
Telepon terakhir dari Heejin sebelum aku mencoba untuk tidur tadi membuat perasaanku semakin tidak tenang.
Pikiranku melayang entah ke mana saja, ke masa lalu, bahkan aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan untuk melupakan segalanya, tetapi mendadak bayangan yang membuat bahagia itu kembali mengusikku. Otakku benar-benar tidak bisa berhenti berpikir.

Aku meraih komik terakhir yang belum selesai kubaca, dan keluar dari kamar.

“Ya. Benar sekali. Banyak yang belum kuberitahu padamu.”
Suara yang setengah berbisik itu membuatku menghentikan langkahku di depan pintu kamar ahjussi dan eomma. Entah mengapa mereka harus berdebat di tengah malam seperti ini.
“Dan semua yang kauberitahukan padaku memang hanya kebohongan?” tanya ahjussi kesal, ia terdengar menahan suaranya untuk tidak lebih keras lagi.
“Tidak semua.”
“Dan kau tidak berencana memberitahuku?”
“Tidak. Aku akan memberitahumu semuanya, tetapi tidak sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku…” Eomma tidak melanjutkan ucapannya.

Aku terdiam sesaat, menunggu perkataan eomma, tetapi masih tidak terdengar apapun.
Semakin kupikirkan, aku juga merasa memang lebih baik seperti ini. Eomma pasti sangat mencintai ahjussi. Aku yakin mereka saling mencintai. Dulu eomma tidak bisa merasakan kehidupan bersama appa, karena itu sekarang eomma pasti sangat ingin merasakannya. Hidup bersama suaminya, dan saling mencintai selamanya.
Kalau aku? Seperti yang pernah eomma katakan, aku masih terlalu kecil untuk serius mencintai seseorang, jadi aku masih bisa perlahan melupakan Yi Fan. Menurut eomma aku bisa melupakan Yi Fan, karena dia bisa melupakan appa. Menurutku, aku tidak bisa lagi melupakannya, aku juga tidak berencana untuk mencintai orang lain lagi.

Aku melangkah kembali ke kamar dengan perlahan. Aku tidak seharusnya mendengar pembicaraan mereka. Semoga saja perdebatan mereka bukan karena aku dan Yi Fan.
“Kim Min Su… Apa kau benar-benar mencintaiku?” Samar-samar aku mendengar pertanyaan itu sebelum aku masuk ke kamarku.
Aku meraih ponselku dan headphone untuk mendengarkan lagu, guna menyumbat telingaku, tetapi ponselku mati. Terpaksa aku melangkah cepat keluar dari kamar melewati kamar mereka dan berlari kecil menuju lapangan basket di belakang rumah.

Aku teringat saat pertama kali aku berada di sini. Bersama Yi Fan. Saat-saat yang sangat tidak menyenangkan.

Lapangan basket di malam hari sangat gelap, membuatku terpaksa harus berjalan ke ujung lapangan untuk menyalakan lampu lapangan. Begitu lampu kunyalakan, aku melihat Yi Fan sedang berbaring dilapangan, ada bola basket di dekatnya dan dia mungkin sedang tidur.

Aku melangkah pelan ke arahnya dan berjongkok di dekatnya. Aku melambaikan buku komikku di atas wajahnya untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang tidur. Yi Fan tidak bergerak sama sekali. Dia benar-benar tidur.
Aku menatap wajah tidurnya lekat-lekat.
Malam ini malam terakhir aku berada di sini, dan juga terakhir kalinya aku bisa menatapnya dari dekat, menatap wajah tidurnya yang tenang dan…

Aku menjauhkan wajahku saat wajah Yi Fan mengerut, mendadak ia mendesah pelan dan wajahnya mengerut lagi. Aku tersenyum pelan dan mendekatkan wajahku lagi.
Aku menutupi sinar lampu yang mungkin mengganggunya tidur dengan kepalaku, sehingga aku bisa melihat bayangan kepalaku di wajah Yi Fan.
Kalau saja aku tidak menyalakan lampu, mungkin aku tidak bisa melihat wajah Yi Fan untuk terakhir kalinya sepert ini, sedekat ini.
Aku menggunakan jari telunjukku untuk menyentuh tiap bagian wajahnya di udara. Aku belum pernah mengagumi wajahnya, wajahnya yang sangat tampan…

“Maaf.” Aku berbisik pelan.
“Maaf, karena aku muncul di dalam kehidupanmu dan merusak segalanya,”
“Maaf, karena aku, kau tidak bisa menepati janji masa lalumu pada eonni,”
“Maaf, karena aku, kau harus kembali ke Kanada,”
“Maaf, karena aku, kau tidak mendengarkan perkataan ayahmu,”
“Maaf, karena aku…” Aku menghentikan ucapanku dan menyeka airmataku.
“Karena aku terlalu mencintaimu.” bisikku lagi.

“Yi Fan-ssi. Nice to meet you. Thanks for everything. Sorry for everything, and let’s meet again in the next life. I’ll love you first, and will not giving up on you again. That’s my promise. I love you…”

Aku menyeka airmataku dan tersenyum paksa. Perlahan aku berdiri dan melangkah mundur sambil menatap wajahnya.
Aku kembali memadamkan lampu lapangan, kegelapan yang sangat mendadak itu membuat pupil mataku terasa melebar. Aku melangkah perlahan dan langkahku terhenti karena kakiku menendang bola basket yang tadi ada di dekat Yi Fan. Aku yakin sekali tadi hanya ada satu bola basket di lapangan ini.

Tangan dingin itu menahan pergelangan tanganku dan saat mataku mulai terbiasa berada di dalam kegelapan, aku bisa melihat Yi Fan berdiri di hadapanku.

“Kenapa keluar malam-malam? Kau bisa sakit.” katanya pelan.
“Kau sendiri? Kau bahkan tidur di luar, dan tanganmu dingin luar biasa.” balasku pelan.
“Maaf.” gumamnya dan aku langsung terdiam. Kuharap dia tidak mendengar permintaan maafku tadi.
“Untuk?”
“Segalanya.” Ia menatapku lekat-lekat, tatapannya membuat hatiku semakin sakit, aku terpaksa harus mengalihkan pembicaraan, tetapi setiap perkataan selalu berujung pada satu hal lagi.
“Besok aku akan kembali ke Wonju. Heejin bilang dia ingin lebih cepat melihat Seoul lagi, jadi…”
“Jadi? Ini malam terakhir aku melihatmu?” bisiknya dan aku mengangguk pelan.
“Kalau tadi aku memberitahu dad, apa masih berguna?” tanyanya dan hanya diam. Aku tidak tahu berguna atau tidak, tetapi aku justru takut pada eomma.
“Kalau mereka berpisah, apa kau masih akan kembali padaku?” tanyanya dan berhasil membuatku menatapnya lekat-lekat. Meskipun gelap, aku bisa menatapnya dengan sangat jelas.
“Kalau suatu hari…”
“Yi Fan-ssi. There is no someday again, for us.” potongku dan Yi Fan mendengus pelan, dan tersenyum tipis.
“Aku berencana mengatakan sesuatu pada Dad sebelum aku kembali ke Kanada. Kau bisa ikut ke bandara?”
“Tidak.”
“Kenapa? Kau sendiri yang mengatakan bisa menganggapku sebagai kakakmu, anggap saja kau mengantarkan kakakmu…”
“Tadinya kupikir tidak sulit, tapi ternyata sangat sulit sampai-sampai rasanya aku bisa mati.”
Yi Fan tersenyum tipis lagi. Sama sekali bukan senyuman manis seperti biasanya, senyuman menyakitkan.
“Ya… benar sekali… Lalu, apakah aku harus mengatakannya padamu terlebih dahulu?”
“Mungkin?” gumamku dan Yi Fan semakin mendekatkan wajahnya.
Aku baru sadar bahwa mata Yi Fan tidak seperti biasanya lagi.
“Tentang kecelakaanku waktu itu.” bisiknya tepat di telingaku. Ia menggenggam jemariku, mendekatkan tubuhnya dan seolah ada sesuatu yang lebih menyakitkan, tubuh Yi Fan bergetar, ia benar-benar ketakutan, seperti orang yang ketakutan, mungkin juga kesakitan.
“Ada apa?” tanyaku pelan, berusaha tetap tenang sehingga ia tidak perlu semakin merasa sakit, maupun ketakutan. Aku ingin sekali bisa membaca semua yang ada di pikirannya, aku yakin banyak hal yang masih dirahasiakannya dariku. Hal-hal yang mungkin menyakitkan sekali.
“Maaf…” bisiknya dan hanya mengecup bibirku dengan lembut.
Saat wajahnya menyentuh wajahku, aku merasakan airmatanya lagi. Membuatku merasakan rasa sakit yang sama, membuatku bisa merasakan apa yang ia rasakan.
Aku membiarkannya menangkup wajahku dan tetap mengecup bibirku beberapa kali sampai ia merasa tenang, sampai tubuhnya berhenti gemetaran.

Yi Fan menjauhkan wajahnya dan aku membuka mataku. Aku bisa melihatnya dengan jelas, sangat jelas dan bukan dalam kegelapan lagi. Langit sudah mulai terang, matahari mulai terbit, dan aku bisa melihat matanya dengan jelas. Tatapan mata sayu itu, tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya dari mata Yi Fan, juga bola mata putihnya, tidak lagi berwarna putih, tetapi merah…

“Ada apa?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng.
“Kau tahu? Ada saatnya lebih baik kau tidak tahu apapun. Karena kenyataan itu sangat menyakitkan.”
“Ada apa?” tanyaku lagi dan Yi Fan tersenyum tipis, kali ini dia memaksakan senyuman manisnya.
“Apa yang kau ketahui tentang kecelakaanmu?” tanyaku tegas dan Yi Fan menaikkan ujung bibirnya.
“Aku tidak bisa mengatakannya dua kali. Aku hanya ingin mengatakannya saat…”
“Baiklah. Terserah padamu saja. Karena aku tetap tidak akan muncul di bandara, dan… saat itu aku kuliah. Jadi…”
“Begitu lebih baik.” potongnya dan aku menatapnya tajam.
“Kalau kita bertemu lagi, kuharap kau tidak merahasiakan apapun lagi dariku.”
“Tentu.”
“Aku harus kembali ke kamar.” tandasku dan berjalan cepat melewatinya.
“Kwon Eun Yoo-ssi.” panggilnya dan aku menghentikan langkahku.
“Kalau kita bertemu lagi, jangan meminta maaf lagi atas apa yang tidak kau perbuat. Kau tidak melakukan kesalahan apapun karena ini memang sudah takdir.”
Aku langsung berbalik dan melihatnya yang sedang memungut bola basketnya.
“Kenapa bicara begitu?” tanyaku dan Yi Fan tersenyum tipis sambil menggigit bibir bawahnya.
“Maaf. Aku mendengarnya. Aku terbangun begitu lampunya menyala, tetapi aku tidak bisa langsung membuka mataku karena terlalu silau.”
“Kalau begitu maaf…” gumamku dan melangkah menjauh.
“Dad sudah bangun loh.” bisiknya, tetapi aku bisa mendengarnya dari jauh.

Aku melangkah cepat kembali ke dalam dan saat aku menoleh aku melihat Yi Fan sedang men-dribel bola basketnya, kemudian melakukan three point shoot dan dunk.
Entah mengapa Yi Fan yang tadi begitu rapuh, bisa kembali normal hanya dengan menciumku seperti tadi. Atau mungkin aku semacam healer baginya? Kalau memang begitu, sama seperti apa yang aku rasakan sekarang. Meskipun masih sakit, tetapi aku merasa ada sedikit ketenangan di dalam hatiku. Seperti yang pernah kurasakan saat pertama kali mengenalnya.
Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa merasakan ketenangan yang seperti ini lagi nanti. Mungkin, suatu hari. Suatu hari yang tidak pernah ada itu… Suatu hari yang akan menjadi suatu hari yang paling berharga bagiku, juga bagi Yi Fan.
^_________________^

“Ahjumma. Maaf ya, aku tidak bisa datang ke pernikahanmu.” kata Heejin pada eomma, ia tersenyum kaku.
“Tidak apa. Aku sudah menerima hadiah darimu, kok.”
“Eomma. Aku pulang dulu.” gumamku setelah memasukkan barang-barangku ke dalam bagasi mobil Min Seok.
“Pulang? Rumahmu di sini.” ucap eomma dan mengerutkan keningnya, begitu juga Heejin.
“Oh? Maaf. Aku tidak terbiasa.” jawabku dan tersenyum tipis.
“Kau ini.” Heejin menepuk bahuku dan tertawa pelan.
“Heejin-ah. Aku titip Eun Yoo yah. Kalian harus saling menjaga. Tidak mudahkan tinggal jauh dari orangtua?”
“Ha? Ahjumma… Eun Yoo pasti sudah terbiasa, dan aku memang tinggal dengan orangtuaku kok. Mereka memang tinggal di Wonju.” jelas Heejin dan eomma tersenyum malu.
Aku langsung berbalik dan menjauh dari mereka. Aku memang tidak mengatakan apapun tentang Heejin pada eomma secara detail, tetapi eomma tidak seharusnya berkata tanpa tahu apapun. Tidak semua anak bernasib sama denganku… Hidup jauh dari orangtuanya…

“Ada apa denganmu?” tanya Heejin saat Minseok sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
“Kenapa?” tanyaku balik dan Heejin yang duduk di depanku langsung menoleh, ia menatapku dengan pandangan menyelidik.
“Sudah bertemu Yi Fan? Dia benar-benar selingkuh? Atau kau tidak suka dengan keluarga barumu? Mereka menyakitimu? Bagaimana dengan oppa tirimu? Kudengar dia sangat tampan. Apa dia menyebalkan?” Heejin mulai menginterogasiku lagi.
“Sudah. Tidak. Dia tidak selingkuh.” jawabku pelan dan menatap keluar mobil.
“Lalu, bagaimana tentang keluarga barumu? Tebakanku benar ya? Mereka bersikap buruk?”
“Tidak. Mereka baik. Ahjussi sangat baik, dan Oppa?” Aku mengerutkan keningku, menahan rasa sesak di dadaku.
“Iya. Oppa-mu. Kenapa bingung begitu sih?”
“Oh… Oppa… Dia baik.” jawabku pelan dan saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, Min Seok mulai membuka mulutnya.
“Eun Yoo-ah. Kau tau di mana perusahaan yang direkturnya orang cina tidak? Kudengar di sini ada satu yang cukup terkenal.”
“Oh ya? Kau dengar dari mana?”
“Appa. Dia bilang aku harus bisa bekerja di sana nanti.”
“Tahu namanya?” tanyaku pelan.
“Kalau tidak salah Li Jia Group. Perusahaan hiburannya cukup terkenal juga. Pernah dengar?”
“Pernah.” gumamku dan menatap keluar jendela lagi.
Saat mobil kembali melaju, Min Seok tidak bertanya-tanya lagi. Hanya Heejin yang masih terus menatapku.
“Di sana.” gumamku dan menempelkan jariku ke jendela mobil, tepat saat mobil Minseok berjalan pelan.
Mereka langsung menoleh ke arah yang kumaksud dan menatap sekilas ke gedung besar itu.
“Li Jia Entertainment. Tempat keluarga baruku bekerja.”
“HAH?!!!” Heejin memekik kaget dan Min Seok langsung menepikan mobilnya.
“Dan… eonni juga bekerja di sana.” lanjutku dan membuat Heejin semakin memekik tertahan.
“Ya!! Kenapa tidak bilang dari awal?!”
“Aku tidak tahu itu perusahaan besar.” jawabku.
“Ya ampun… Kwon Eun Yoo… kau ini…” Heejin menggeleng bingung.
“Setidaknya, aku tahu kenapa eomma bersikeras untuk menikah dengan ahjussi dan membuat hidupku semakin berantakan.” gumamku dan airmataku akhirnya keluar lagi. Aku memejamkan mataku dan menyandarkan kepalaku di jendela mobil. Aku tidak ingin airmataku keluar semakin banyak.
“Eun Yoo-ah…” panggil Heejin pelan dan aku hanya diam, tidak ingin mengatakan apapun lagi pada Heejin.
Mereka pun ikut diam dan Min Seok kembali melajukan mobilnya.

Setelah suasana kembali tenang, dan aku bisa menenangkan sedikit perasaanku, perlahan aku membuka mataku dan memperhatikan Heejin yang sedang tertawa tanpa suara pada Minseok. Mereka bicara dengan suara yang pelan, mungkin takut membangunkanku.
Aku tidak tertidur, aku hanya memejamkan mataku, aku tahu beberapa kali Heejin memohon pada Minseok untuk pergi ke cafe, tetapi beberapa kali juga Minseok menolak dengan halus, karena daritadi pagi mereka tiba di Seoul, mereka sudah mengunjungi banyak cafe dan Heejin masih saja tidak merasa bosan.

Melihat mereka yang tersenyum tanpa terpaksa, ataupun tersenyum dibalik penderitaan, aku tersenyum tipis. Setidaknya mereka tidak bernasib sama sepertiku.
Kadang aku merasa iri, hubungan mereka berjalan baik meskipun terkadang sering berdebat akan hal-hal yang tidak penting, tetapi dibalik itu semua, mereka bahagia.

“Baiklah. Ini yang terakhir.” jawab Minseok dan Heejin tersenyum lebar.
“Gomawo!!” Heejin memekik senang dan mengecup pipi Minseok sekilas.
“Hey! Eun Yoo masih tidur!” Minseok mengingatkan dengan suara pelan, Heejin langsung menoleh ke arahku dan terbelak kaget saat melihatku sudah sadar sepenuhnya.
“Sudah bangun?” tanya Heejin dan aku mengangguk.
“Aku mau ke cafe lagi. Kau harus ikut.” kata Heejin tegas dan aku hanya mengangguk pelan.
“Tadi terakhir sudah ke Fifty Cafe kan? Kali ini ayo ke De Chocolate Coffee. Mumpung masih di Apgujeong.” oceh Heejin sambil melihat-lihat ponselnya. Minseok menoleh ke arahnya sekilas, kemudian ia tersenyum tipis. Aku selalu suka melihat tatapan mata Minseok terhadap Heejin. Tatapan mata yang menenangkan, seperti tatapan mata Yi Fan…
“Untung kau sering ke Seoul ya. Jadi aku bisa sering-sering ke sini juga nanti.” ucap Heejin lagi dan Minseok tertawa pelan. “Tidak bosan?” tanyanya.
“Tidak juga. Lebih bosan lagi melihat Wonju!” jawabnya cepat dan Minseok tertawa lagi sambil menepikan mobilnya di samping Cafe yang disebutkan Heejin tadi.

Saat masuk ke dalam cafe itu, kami tidak banyak mengobrol karena Heejin sibuk memotret ruangan cafe yang menurutnya bagus. Ia juga memotret makanan dan minuman yang kami pesan.
Sedangkan Minseok hanya terus tertawa dan tersenyum melihat Heejin yang sedang sangat berbahagia hari itu.

“Dia suka sekali ke Seoul? Apa sebelumnya juga seperti ini?” tanyaku dan Minseok menggeleng.
“Tidak juga.” jawab Minseok dan menoleh ke arah Heejin yang sedang berbicara pada penjaga kasir di cafe ini.
“Lalu?” tanyaku lagi dan Minseok hanya tersenyum tipis kemudian menaikkan bahunya.
Aku mengerutkan keningku dan menatap Heejin lekat-lekat, memperhatikannya.
Tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu yang baru pada Heejin. Jarinya. Sebuah cincin.
Aku menoleh ke arah Minseok lagi.
“Kalian akan segera menikah?” tanyaku dan Minseok tersedak kaget, kemudian mencoba untuk tenang kembali. Ia berdeham pelan dan menjawabku dengan cepat.
“Tidak. Aku hanya melamarnya saja. Untuk menikah tidak secepat itu. Kuliah saja belum selesai.”
“Ohhh… Pantas saja dia senang sekali hari ini?” selidikku dan Minseok mengangguk, sambil tersenyum lagi.
Untung saja aku tidak memberitahu apapun pada Heejin tentangku. Kalau saja dia tahu, aku pasti sudah akan merusak kebahagiaannya hari ini.

“Hey Hey! Astaga! Aku lupa sesuatu!” kata Heejin dan berlari kecil ke arah kami duduk.
“Kau ingat saat aku membantumu mengeluarkan barang-barangmu di kamar kan? Aku meletakkan dompetku di mejamu, dan aku lupa mengambilnya kembali. Bagaimana ini?” katanya panik dan menatapku juga Minseok secara bergantian.
“Terpaksa kita kembali ke sana kan? Lagipula rumah Eun Yoo sejalan dengan arah kita pulang.”
“Tidak apa?” tanya Heejin dan Minseok mengangguk pelan.
“Ayo.” kata Minseok dan kami pun bergegas kembali.

Aku mendecak tanpa suara. Aku sudah sangat tidak ingin kembali ke sana lagi, tetapi entah kenapa segala hal bisa membuatku terpaksa kembali ke sana.

Minseok melajukan mobilnya dengan cepat karena waktu. Heejin harus cepat kembali ke Wonju, membuat perjalanan semakin terasa singkat. Aku yang memikirkan banyak hal tidak sadar lagi kalau mobil bahkan sudah berhenti di depan rumah Yi Fan.

“Ayo, ayo! Nanti eomma marah.” kata Heejin cepat dan langsung turun dari mobil, aku mengambil kunci rumah lalu ikut turun, sedangkan Minseok hanya menunggu di dalam mobil.

Saat baru melangkah masuk, aku tidak melihat siapapun, membuatku merasa lega. Aku juga tidak melihat satupun mobil diparkir di depan rumah. Itu berarti mereka tidak ada di rumah, Ahjussi dan Yi Fan belum pulang dan eomma pasti sudah keluar.

Aku membiarkan Heejin berlari cepat ke kamarku yang pintunya terbuka lebar.
Baru saja aku memutuskan untuk tidak ikut masuk ke kamarku, Heejin yang hanya mengambil dompet terasa cukup lama berada di kamarku, membuatku berjalan cepat memasuki kamar dan aku menghentikan langkahku di ambang pintu.

“Siapa itu?” bisik Heejin pelan, ia sudah mendapatkan dompetnya, tetapi ia hanya terdiam melihat orang yang sedang duduk meringkuk di dekat tempat tidurku.
“Hm…” Aku menatap Yi Fan. Ia duduk meringkuk dan menyembunyikan wajahnya.
“Siapa dia?” tanya Heejin lagi, kali ini suaranya mulai kembali seperti biasa. Tidak berbisik lagi.
Jawaban Heejin terjawab ketika Yi Fan mengangkat kepalanya dan ia juga kaget melihatku.
“Hah? Kenapa dia di sini?!” tanya Heejin kaget dan aku menggeleng pelan, kemudian melangkah keluar. Heejin menarik tanganku dan membuatku berhenti melangkah.
“Hey. Ada apa?” tanya Heejin dan aku membalikkan badanku, terpaksa menjawab pertanyaannya.
“Dia… Oppa tiriku yang kau dengar sangat tampan itu.” jawabku pelan dan menatap Yi Fan sekilas. Wajahnya mengatakan dengan sangat jelas kalau dia sangat tidak baik-baik saja. Membuat airmataku hampir keluar lagi.
“Oppa tiri?!” Heejin memekik kaget dan menatap Yi Fan.
“Jadi orangtua kalian menikah?” tanya Heejin, ia memekik tertahan.
“Ayo. Kau harus cepat pulang.” kataku cepat dan melangkah pergi saat airmataku akhirnya merembes keluar. Aku sudah mencoba menahan tangisku sebisa mungkin, tetapi aku tidak bisa menahannya. Ini benar-benar menyakitkan.
“Kwon Eun Yoo!” Heejin memekik kesal dan berlari mengejarku. Aku tidak hanya mendengar suara Eun Yoo, tetapi aku juga mendengar suara Yi Fan yang memanggilku saat aku sudah keluar dari rumah.
Aku tidak ingin mengatakan apapun padanya. Aku tidak ingin mendengarkan apapun darinya, terutama kata-kata perpisahan. Aku tidak sanggup mengatakan dan mendengarkan semua itu.

Aku masuk ke dalam mobil Minseok, kemudian Heejin ikut masuk sambil bertanya-tanya lagi. Ia tidak duduk di samping Minseok lagi, tetapi duduk di sampingku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan hanya terus menangis, menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku, terus menangis…

“Sudahlah…” Akhirnya Heejin menyerah dan tidak bertanya padaku lagi. Ia hanya memelukku dan menyuruh Minseok menjalankan mobilnya.
Aku membuka mataku dan menatap rumah itu dari balik jendela dengan mata berairku.
Ini terakhir kalinya aku berada di sini. Aku tidak berencana untuk kembali lagi ke rumah itu. Tempat itu menyakitkan. Semakin aku tahu semuanya, semakin menyakitiku lebih dalam lagi.

T______________________________T

Wonju,
Gangwon, Korea.

“Kenapa tidak memberitahuku apa-apa?” tanya Heejin setelah kami selesai membereskan kamar asramaku.
Aku hanya diam sambil memandangi kunci rumahku, rumah di Wonju. Aku tidak ingin tinggal sendirian di sana, aku hanya mengambil beberapa buku dan barangku yang penting, sekedar untuk mengisi kamar baruku.
Aku tertawa kering, hidupku sungguh sangat membingungkan.
Aku yang dulu tidak pernah mendapatkan hak untuk memegang kunci rumah itu, sekarang malah menjadi satu-satunya pemilik kunci rumah itu. Hanya aku yang bisa keluar masuk rumah itu kapan saja sesuka hatiku.
“Kenapa malah tertawa?” tanya Heejin dan aku hanya menggeleng, kemudian tertawa lagi, tetapi setelah itu airmataku kembali merembes keluar.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku balik dan Heejin mengerutkan keningnya.
“Yaa.a… Kwon Eun Yoo…” Heejin berkata pelan dan duduk di dekatku, kemudian merangkulku.
“Kau tidak memberitahuku apapun sejak kau pindah ke Seoul… Apa saja yang sudah terjadi?” tanyanya lembut dan semakin membuatku terisak.

Apa yang ada di kepalaku sekarang ini semakin membuatku menangis. Aku teringat ucapan Yi Fan saat itu.
Aku memang sudah bebas dari eonni dan ahjumma, memang tidak ada yang menyakitiku lagi, tetapi aku bukan hanya kehilangan mereka, aku juga kehilangan Yi Fan, eomma… eomma yang baru kutemukan dan sekarang aku harus menjauhinya lagi.
Aku merasa lebih baik kalau aku tetap tinggal di rumah itu bersama eonni dan ahjumma, asal aku masih bisa melihat Yi Fan…
“Eun Yoo-ah. Hari ini aku akan membiarkanmu sendiri dulu. Tapi kau harus janji, besok beritahu aku semuanya. oke?” gumam Heejin dan menepuk pelan bahuku.
Aku mengangguk dan Heejin memelukku lagi.
“Baiklah. Besok aku datang lagi. Aku pulang dulu ya?”
Aku hanya mengangguk dan Heejin melangkah pelan keluar dari kamarku.
Mendadak aku juga takut kehilangan Heejin. Hanya dia satu-satunya yang masih bersamaku sekarang. Aku benar-benar takut…

Aku buru-buru menyeka airmataku dan keluar dari kamar, aku berjalan pelan menuju asrama pria dan saat tiba di sana, aku melihat teman sekamar Yi Fan yang baru keluar dari kamarnya.
“Hey!” panggilnya dan aku menoleh sekilas.
“Sedang apa malam-malam ke sini?” tanyanya dengan bahasa korea yang cukup jelas.
“Aku tinggal di asrama kok.” jawabku pelan dan ia mengerutkan keningnya sesaat.
“Ini asrama pria.” jawabnya dan memperlembut ucapannya, setelah melihatku.
“Tahu kok.”
“Lalu untuk apa kemari?”
“Boleh aku ke kamarmu sebentar?” tanyaku dan ia memekik tertahan. “Kau gila?!”
“Mungkin?”
“Hey hey. Eun Yoo-ssi. Aku tahu kau sedang sedih… tapi untuk masuk ke kamar pria di saat seperti ini sangat tidak…”
“Aku hanya ingin melihat kamar Yi Fan untuk terakhir kalinya. Apa tidak boleh?!” tanyaku kesal, airmataku juga ikut keluar.
“Eeerr.” Pria itu terdiam sesaat kemudian hanya mengangguk pasrah.
“5 menit.” katanya sambil membukakan pintu, dia sudah mengganti password kamarnya, tidak lagi menggunakan password yang pernah digunakan Yi Fan.

Perasaan saat pertama kali aku masuk ke sini mulai kurasakan lagi. Perasaan nyaman dan tenang. Ini ketiga kalinya aku berada di sini, dan juga terakhir kalinya.

Aku menatap beberapa barang Yi Fan yang masih tertinggal di mejanya, beberapa buku dan tumpukan kertas. Aku mendekati mejanya dan duduk di sana.

“Kalau mau, kau bisa menyimpan barang-barangnya. Kurasa dia memang sengaja meninggalkannya.” gumam teman sekamar Yi Fan. Aku menggeleng pelan.
“Itu akan membuatku tidak bisa melupakannya.” jawabku dan ia mendengus pelan. Aku yakin dia tahu semua tentang aku dan Yi Fan. Entah apa yang membuat Yi Fan memberitahu semuanya pada teman yang baru pindah ke kamarnya beberapa bulan.

“Dia menceritakannya padaku karena dia sudah terlalu tidak bisa menahan semuanya lagi. Kurasa dia hampir gila karena menyembunyikan semua hal.” jelasnya dan aku langsung menoleh ke arahnya. Dia berkata-kata seolah bisa membaca pikiranku, dia bahkan tersenyum tipis.
“Dan, aku bukan hanya temannya yang baru pindah. Aku temannya saat masih tinggal di Cina dulu.” jelasnya lagi, dia benar-benar bisa membaca pikiranku.
“Benar sekali. Aku bisa membaca pikiranmu, lebih tepatnya aku menebak.” elaknya dan membuatku tidak menoleh ke arahnya lagi.
Aku merasa orang Cina memang memiliki keanehan semacam itu. Yi Fan yang bisa mengingat masa lalu, dan teman sekamarnya yang bisa membaca pikiran orang lain.

“Namaku Luhan.” katanya dan berdiri di sampingku.
‘Keluarlah sebentar.’ pikirku sambil menatapnya dan pria bernama Luhan itu mengangguk malas sambil mengerlingkan matanya. Dia benar-benar bisa membaca pikiranku.

Aku kembali menatap buku-buku Yi Fan. Sebagian besar bukan buku untuk materi kuliah, tetapi buku-buku untuk banyak hal. Musik, Bisnis, Pengembangan diri, kamus bahasa korea, komik, novel, buku panduan menulis novel, buku tentang reinkarnasi dan… akting bahkan tentang bela diri.
Semua yang ada di sini membuatku tersenyum tipis. Banyak hal-hal yang tidak bisa kuduga dari dirinya. Dugaanku tentangnya yang bisa melakukan banyak hal memang benar. Yi Fan memang seseorang yang mengagumkan.

Aku mengintip tiap lembar tumpukan kertasnya, sebagian besar kertas skripsi, sebagian lagi banyak angka-angka dan gambar diagram balok yang tidak kumengerti, membuatku mengalihkan tanganku ke rak buku dan mengambil salah satu bukunya. Buku tentang reinkarnasi. Buku yang sudah lumayan usang dan aku yakin buku yang pertama kali dimiliki Yi Fan.
Aku membuka sembarang halaman dan melihat banyak coretan pada bagian kosong buku, begitu juga halaman-halaman lainnya.

‘Lupakan Eun Yoo! Ingat janjimu!’

Tulisan itu membuatku tercekat. Aku melihat halaman lainnya, beberapa tulisan isinya masih sama, tetapi penuh dengan corat-coret asal.
Halaman berikutnya ada tulisan besar dengan spidol.

‘GIVE UP.’

Dan halaman-halaman lainnya aku menemukan banyak tulisan yang berbeda.

‘Dekati Eun Yoo. Anggap saja kau sudah menepati janji.’

‘Ahh… Kenapa bukan dia saja!’

‘Belajar akting dan jadilah Yi Fan yang baru! Smile!’

‘Stupid! Kenapa membiarkannya memanggilmu duluan lagi?! Wu Yi Fan bodoh! Lebih bodohnya kau memanggil namanya!’

‘Mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur, Jujur saja. Aku memang menyukainya.’

‘Dia menyukaiku. Dia bahkan tidak marah saat tahu aku mencari tahu banyak hal tentangnya.’

‘D-day. Aku sudah memutuskannya. Tidak ada lagi masa lalu… yang ada hanya… Kwon Eun Yoo.’

‘Aku harus melindunginya. Aku harus menjaganya…’

‘Aku bertemu dengannya… Benar-benar di saat yang salah! Bagaimana ini?!’

‘Terlalu banyak yang terjadi beberapa hari ini. Eun Yoo sudah tahu sebagian tentangku. Untung dia tidak begitu marah… Masalahnya… Kenapa aku merasa sedikit kesal saat Jung yeon memperkenalkan tunangannya? tetapi di hari yang sama juga aku ingin membunuh wanita itu karena sudah menyakiti Eun Yoo. Selama ini dia menyakiti Eun Yoo. Dia yang dulu tidak seperti ini. Dia tidak pernah berbuat sekasar itu… Dia yang dulu. Aku benar-benar tidak menyesal, untung saja aku bertemu dengan Eun Yoo terlebih dahulu. Wanita itu benar-benar jahat, aku harus melindungi Eun Yoo. Harus!’

‘Aku benar-benar muak dengan ini. Wanita jahat itu bilang dia masih mengingatku! Lalu dia pikir aku percaya? Kalau dia masih ingat, dia tidak akan bicara denganku seperti itu. Dan sialnya meskipun aku tidak percaya, aku tetap tidak bisa tidur karena memikirkan itu, bagaimana kalau Eun Yoo mendengar tentang ini? Dia tidak boleh tahu.’

‘Aku sibuk. Tidak bisa menulis, tetapi otakku terus menulis.’

‘Aku membawanya ke Yokohama, memaksa diriku untuk tidak mengingat kejadian di Yokohama dulu, tetapi kenyataan malah menghancurkan segalanya.’

‘Aku sudah membuat janji yang tersulit.’

‘Eun Yoo. I’m sorry.’

‘Seharusnya dia membunuhku saja saat kejadian itu…’

‘Aku tidak bisa menahannya lagi. Bahkan menulis saja tidak bisa lagi membuatku lega.’

‘Aku tidak tahan lagi.’

‘Siapapun yang membaca ini, bersikaplah seperti tidak membacanya dan anggap aku baik-baik saja. Bye.’

Aku menyeka airmataku berkali-kali. Airmataku tidak bisa berhenti mengalir, tidak bisa berhenti menangis, setiap tulisan yang ia tulis, tulisannya yang semakin lama semakin ditulis dengan susah payah oleh Yi Fan. Semakin aku membacanya, hatiku semakin sakit. Dia menahan semuanya, menahan semua rasa sakitnya sendirian.

Aku memaksa tanganku untuk mengambil buku yang lain. Buku panduan menulis novel. Untuk apa dia membaca buku seperti ini?

Saat aku membuka halaman awal, tulisan rapi Yi Fan kembali terlihat, juga banyak isi buku yang dia beri garis bawah, dilingkari bahkan dia mengomentari beberapa isi dari buku itu dengan tulisan mandarin yang terlihat sulit.

Aku mulai membaca tulisan Yi Fan lagi. Tulisan berbahasa Korea bercampur Inggris.

‘Mengungkapkan perasaan lewat tulisan bisa membuatku merasa lebih lega. Jadi aku rasa menuliskan semua perasaanku menjadi sebuah novel itu lebih baik daripada memberitahu orang lain. Hitung-hitung, aku bisa memperlancar bahasa Koreaku. Well, Novel untuk diriku sendiri… Coming Soon.’

‘Kukira dia penulis… Saat pertama kali melihatnya dengan kacamata, dia seperti penulis. Sangat manis.’

‘Setiap melihatnya, setiap bertemu dengannya, otakku seperti sedang menulis sebuah narasi.’

‘Setiap memikirkannya, narasi yang ada diotakku semakin berkembang… Aku tidak sabar menunggu narasi itu menjadi sebuah cerita.’

‘Saat aku mulai berbicara dengannya… Narasi itu menjadi buyar! Otakku terlalu terkejut untuk menulis… Untuk beberapa lama, otakku berhenti menulis, yang ada diotakku hanya satu. Begitu juga dengan yang ada di hatiku… hanya satu… Kwon Eun Yoo. Bagaimana bisa dia merusak narasi yang sudah kubuat setelah bertahun-tahun hancur begitu saja?’

‘D-day. Happy birthday Eun Yoo, and happy first cheek kiss for me. haha.’

‘Otakku kembali bekerja, narasi-narasi itu kembali muncul di otakku, tetapi aku tidak terlalu fokus… banyak yang harus kulakukan untuk Eun Yoo. jadi kubiarkan saja otakku bekerja sendirian.’

‘Hari ini menyakitkan… Ahh.. aku tidak akan menulis hal yang menyakitkan di sini…’

Aku menutup buku itu dan menangkupkan wajahku di atas meja. Aku membiarkan airmataku terus mengalir deras, menangis sepuasnya.

Samar-samar aku mendengar suara pintu, dan Luhan-ssi mengatakan waktuku sudah lebih dari 5 menit, tetapi dia menghentikan ucapannya dan hanya diam.
Beberapa saat kemudian aku merasa kedua telingaku ditutupi oleh sesuatu, headphone.

“Semoga lebih baik.” bisik Luhan-ssi pelan dan memainkan satu musik Rock dengan volume keras. Aku hanya tetap menangis, biasanya aku bisa berhenti menangis hanya dengan mendengarkan musik keras, tetapi kali ini aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis.

Satu lagu berakhir, lagu berikutnya justru membuatku semakin menangis. Lagu ballad yang pernah dinyanyikan Yi Fan untukku. Malam terakhir sebelum kami bertemu di Seoul. Lagu itu semakin membuatku menangis keras, dadaku semakin sesak, aku akhirnya memekik tertahan untuk mengurangi rasa sakitku, tetapi rasa sakit itu semakin menyakitkan…

*****

“Yah! Kwon Eun Yoo!! Ireona!!!” teriakan nyaring Heejin serta guncangan pelan membuatku terbangun. Tanpa membuka mataku, aku mengangkat kepalaku dan menopang daguku.
“Kau baik-baik saja kan??!!” tanya Heejin panik.
“Kurasa tidak. Dia menangis semalam, sampai-sampai aku tidak bisa tidur di kamarku sendiri.” jawab Luhan-ssi dan aku membuka mataku dengan susah payah. Mataku sakit sekali.
“Eun Yoo-ah. Kau terlihat buruk. Mata bengkak, wajah merah… Kau bisa bicara?” tanya Heejin, ia terlihat panik. Aku hanya tersenyum tipis dan malah membuat Heejin semakin panik.
“Ayo bangun. Kau bisa berdirikan?” tanyanya lagi dan aku mengangguk pelan. Saat aku akan beranjak dari dudukku, aku terduduk lagi, kakiku terasa kaku dan punggungku tidak bisa tegap, sakit sekali.
“Biar kubantu.” kata Luhan-ssi dan menggenggam pergelangan tanganku.
“Aish! Jangan menyentuhnya. Minseok-ah…” Heejin memanggil Minseok setelah menarik tangan Luhan-ssi untuk menjauh dariku.
“Yi Fan tidak menyuruhmu untuk menggantikan dia menjaga Eun Yoo kan? Jadi jangan menyentuhnya, dia tidak suka disentuh orang tak dikenal.” oceh Heejin dan membuatku tertawa pelan, sedangkan Luhan-ssi mendengus kesal.
“Minseok-ah… Bantu aku menarik Eun Yoo.” kata Heejin pada Minseok dan mereka berdua membantuku berdiri.
“Kurasa biarkan dulu dia duduk, kakinya masih kaku dan punggungnya sakit.” ucap Luhan-ssi dan Heejin mendelik.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Memang begitukan?” tanya Luhan-ssi balik dan menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan dan Heejin mengerutkan keningnya.
‘Tapi aku harus kembali ke kamarku.’ pikirku dan Luhan-ssi menaikkan satu alismatanya, menatapku skeptis.
“Terserah deh. Satu lagi… Jangan memanggilku Luhan-ssi. Karena kau terkesan memanggil nama lengkapku dengan terbalik.” oceh Luhan-ssi dan aku mengerutkan keningku, bahkan Heejin sampai bertanya tentang apa yang dibicarakan Luhan-ssi.
“Dia gila.” oceh Heejin pada Minseok. Minseok yang pendiam hanya tertawa pelan.
“Eun Yoo? Kau mendadak bisu?” tanya Heejin dan aku menggeleng cepat. Aku hanya tidak berani mengeluarkan suara. Suaraku pasti serak sekali.
“Suaranya sangat serak, dia tidak berani bicara.” jelas Luhan-ssi dan Heejin mendengus kesal.
“Ya ampun. Aku tidak tanya padamu loh!” omelnya dan mempelototi Luhan-ssi.
“Ya!” Luhan-ssi menggeram kesal dan mengusir Heejin dengan isyarat tangan.
“Ayo!” Heejin langsung membawaku berjalan keluar dari kamar Luhan-ssi. Heejin dan Minseok menopang pergelangan tanganku. Punggungku perlahan mulai terbiasa dan tidak sakit lagi, juga kakiku, rasa kakunya perlahan menghilang.
“Kau kenapa marah-marah sih?” tanya Minseok dan Heejin menggeleng cepat.
“Aku tidak suka pria itu. Pertama kali bertemu saja sudah tidak sopan, bahkan menggunakan bahasa inggris, ternyata dia bisa bahasa korea. Sombong.” omel Heejin dan Minseok tertawa. Aku hanya menatap Heejin dan ikut tertawa tanpa suara.

“Eun Yoo-ah. Kalau kau tidak bisa bicara, lalu siapa yang akan memberitahuku apa yang terjadi padamu?” tanyanya, aku menjawab dengan mengangkat bahuku.
“Kau menangis berapa lama?” tanya Heejin lagi dan aku menggeleng.
“Kau tidak menangis?” Aku menggeleng lagi.
“Hey. Ahjumma. Dia sedang tidak bisa bicara. Jangan bertanya dulu.” kata Minseok dan Heejin memanyunkan bibirnya.
“Baiklah.” gumamnya pelan dan beberapa saat kemudian dia memekik tertahan, membuat aku dan Minseok tertawa lagi.
“Yaaa! Kim Min Seok! Kau memanggilku ahjumma?!!!”

*******

“Kau Kwon Eun Yoo ya?” tanya seseorang saat aku baru memasuki asrama pria.
“Ternyata memang kau.” katanya lagi setelah aku menjawab dengan anggukan kepala. Kemudian dia berbicara dengan beberapa temannya. Para pria itu tertawa dan aku langsung berjalan cepat melewati mereka.
“Kau mencari Jia Heng seonbae?” tanya seseorang lagi saat aku sudah berada di koridor asrama. Aku menggeleng dan berjalan cepat menuju kamar Luhan-ssi.

Saat aku akan mengetuk pintu kamar di hadapanku, beberapa orang yang melewati koridor menatapku sambil berbisik-bisik. Aku merasa para pria di asrama ini bahkan lebih cerewet dari pada para wanita di asramaku.

“Hmm?” Luhan-ssi mengintip dari celah pintu dan aku tersenyum tipis.
“Ada apa?” tanyanya dan membuka pintu kamar dengan lebar.
“Buku…” gumamku pelan. Suaraku masih serak, daritadi pagi aku sudah mencoba bicara, tetapi masih tetap serak.
“Bicara saja tidak akan bisa menyembuhkan serakmu.” gumam Luhan-ssi dan aku hanya tersenyum.
“Buku Yi Fan, boleh untukku saja?”
“Berubah pikiran?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Tentu saja boleh. Kalau perlu ambil juga kertas-kertasnya.” jawab Luhan sambil melangkah masuk, dan menyuruhku masuk dengan isyarat tangan.
“Kau merasa lebih lega setelah menangis?” tanya Luhan-ssi dan aku mengangguk sambil menumpuk buku-buku Yi Fan di atas meja.
“Ternyata kau gadis yang kuat.” gumamnya dan aku menggeleng tidak mengerti.
“Sebenarnya kau terlihat lemah, tapi kau…”
“Aku lemah. Aku tidak sekuat apa yang kau bayangkan. Aku… aku.. Ehmmm.” Aku berdeham pelan karena tenggorokanku terasa sakit.
“Aku sudah terlalu sering menangis. Aku yang dulu selalu menangis setiap ada yang menyakitiku. Sejak aku bertemu dengannya, perlahan aku bisa menahan diriku untuk tidak menangis.” jawabku cepat, bersamaan dengan itu, buku Yi Fan juga sudah selesai kutumpuk dan siap untuk dipindahkan ke kamarku.
“Dia mengubahmu.” gumamnya dan aku hanya tersenyum sekilas.
“Kurasa kau juga sudah mengubahnya. Dulu dia itu temanku yang paling dingin, tidak suka bicara, tidak suka tersenyum…” jelas Luhan-ssi sambil mengangkat tumpukan buku itu. Aku menatapnya bingung, ia hanya tersenyum tipis.
“Biar aku saja yang angkat.” katanya dan aku akhirnya aku hanya mengangkat tumpukan kertas yang tidak terlalu berat. Lalu kami keluar dari kamar Luhan-ssi menuju ke asramaku.
“Kudengar ada yang bilang dia mendadak berubah. Sekarang dia selalu tersenyum kan? Teman sekelasnya menganggap dia sangat aneh,” lanjut Luhan-ssi lagi.

Aku hanya diam, karena teringat salah satu kalimat yang ditulis Yi Fan. Tentang menjadi Yi Fan yang baru, memerintahkan dirinya sendiri untuk tersenyum. Dan aku tersenyum karena teringat senyuman lebarnya, senyuman manis Yi Fan.

“Aduh. Dia tersenyum seperti itu padamu?! Dia tidak pernah tersenyum selebar itu!” kata Luhan-ssi kaget.
Aku langsung menghentikan langkahku. Ingin rasanya aku berhenti berpikir agar orang aneh ini tidak membaca pikiranku lagi.
“Hey! Aku tidak aneh!” katanya kesal dan ikut menghentikan langkahnya. Aku mengerlingkan mataku dan kembali melangkah cepat.
“Ya! Kwon Eun Yoo!” Luhan-ssi mensejajarkan langkahnya dan tertawa pelan.
“Kau marah?” tanyanya dan aku hanya menatapnya sekilas.
“Berhenti membaca pikiranku.” tukasku dan ia mendengus.
“Aku juga maunya seperti itu, tetapi aku tidak bisa.”
Aku hanya diam dan tetap berjalan cepat, meskipun punggungku masih terasa sakit, tetapi kakiku sudah bisa berjalan seperti biasanya.

“Terimakasih.” kataku dan berhenti di depan pintu kamarku. Lalu membuka pintu kemudian meminta Luhan-ssi meletakkan tumpukan buku itu di atas tumpukan kertas yang kubawa.
“Berat loh.” kata Luhan-ssi ragu.
“Sudah sampai kok. Kau tidak perlu mengantar sampai ke kamarku. Lagipula laki-laki tidak boleh masuk ke kamar perempuan.”
“Benar sekali. Begitu juga sebaliknya, tetapi kau masuk ke kamar laki-laki lalu menangis sampai pagi. Bagaimana aku mengatakannya ya?” ejek Luhan-ssi dan aku mengerlingkan mataku.
Pria aneh ini benar-benar menyebalkan, aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki seperti dia sebelumnya.
“Tentu saja. Kau kan jarang bertemu dengan pria.” tukas Luhan-ssi dan aku mendengus kesal.
“Haish! Sudahlah! Berikan padaku!” desakku dan Luhan-ssi bergumam dengan bahasa mandarin kemudian menerobos masuk ke dalam kamarku, dan meletakkan buku-buku itu di atas meja. Ia tidak langsung keluar, tetapi melihat-lihat kamarku, memperhatikan buku-buku yang kutata dirak buku.
“Kau juga suka membaca buku?” tanya Luhan-ssi dan aku hanya mengangguk. Aku masih berdiri diam di ambang pintu, menunggunya keluar.
“Kalian memang cocok.” gumamnya sambil berjalan keluar.
Aku sangat ingin mengomelinya karena masuk ke kamarku tanpa melepaskan sendalnya, tetapi hanya dengan memikirkannya saja sudah cukup. Dia pasti sudah tahukan?
“Maaf. Aku lupa.” kata Luhan-ssi dan tersenyum takut.
“Terimakasih atas bantuanmu. Luhan-ssi.” tandasku dan masuk ke kamar kemudian menutup pintu dengan rapat.
“Eun Yoo-ssi!” panggilnya cepat dan aku hanya diam di depan pintu.
“Eun Yoo-ssi… Aku masih mau bicara.” katanya dan mengetuk pintu beberapa kali.
“Apa?” tanyaku dan sedikit membuka pintu, dan mengintipnya dari celah pintu.
“Kita bisa bertemu lagi?” tanyanya dan aku mengerutkan keningku kemudian tersenyum malas.
“Maaf. Melihatmu membuatku terus teringat pada Yi Fan.”
“Kenapa? Aku sama sekali tidak mirip dengannya!”
“Kau teman Yi Fan. Kau tahu tentang kami.”
“Apa bedanya dengan kau masih menyimpan buku-buku miliknya?”
“Dan kau bisa membaca pikiranku, aku tidak suka itu. Jadi… Selamat tinggal, senang bisa mengenal orang sepertimu.”
“Hah?” Luhan-ssi melongo dan aku menutup kembali pintu kamarku.

Airmataku kembali mengalir. Aku tersenyum tipis. Setidaknya aku bisa menahan airmataku di hadapan orang lain. Aku memang tidak pernah menjadi kuat seperti apa yang dia katakan tadi. Aku masih ingin menangis, terlebih lagi saat melihat buku-buku di hadapanku.
Buku yang bukan hanya sebuah buku, tetapi penuh dengan kenangan dan penuh dengan isi hati Yi Fan, jalan pikirannya dan cerita-ceritanya.
Bersama buku-buku ini mungkin aku bisa menganggap Yi Fan masih bersamaku. At least.

Setiap buku terdapat banyak coretan yang sama, juga tulisan-tulisan Yi Fan. Aku ingin membacanya lagi, tetapi aku merasa aku tidak bisa lagi melakukannya, untuk sekarang ini… Karena aku yakin setiap aku membacanya lagi, rasa sakit itu akan semakin dalam, dan aku mungkin tidak bisa berhenti menangis…
**___________**

TO BE CONTINUE

Dear all,
Fanfic ini sudah mau tamat. Hehehe
Yang suka harap komennya ya…
Dan buat yang sudah nonton film Yi Fan, Selamat! Karena sampai sekarang saya belum sanggup nonton.
Hehheheee

Love you all!!

-Eve RyLin

Advertisements

7 thoughts on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 7]

  1. hei kakkkk kkk~ kemarin mention kok pas bgt yaaa ama part 7 haha haduhhhh kangen bgt nih tulisan kakak.. di part 7 bikin sakit. hati. bgt. ada ya ibu yg egoisnya kyk gitu hahhh benci sma eommanya eun yoo

  2. Duh sakit ati sndiri bacanya bner2 nyesek bgt jdi eun yoo… aq mlah sebel sm ibu nya eunyoo ngalah dikit napa sih??heran deh
    Brutng bgt tu dpt anak kyk eun yoo yg mau ngalah buat kebahagiaan ihu nya nya tp eh ibunya knp jdi sikapnya agak kasar sm eun yoo heran deh
    ya muga2 aja bisa bhagia smunya deh dan bkaln jelas sejelas2nya

  3. baru 7 kak eve,, kok udh mau tamat eh… oia AKK! kak chapter ini parah sad dr awal sampe akhir..mana aku bacanya di bus lagii jadi liatin orang2 di sangka orang gila ><!!!
    *btw aku juga belom nonton tuh filmnyaa hahahj

  4. gue baru baca lgi ff ini.
    udh lama bngt.
    makin seru. tpi mkin sedih.
    bikin bahagia kek. jgn sad mulu. kasian kan mereka.
    ini lanjutin lgi dong. sayang bngt kan seru.
    semoga mereka bisa bareng. aminn.

  5. oh my god..hah..heejin sama minseok emang cocok banget ya..yg satu diem yg satu cerewet banget.kapan kris muncul apa akhirnya bakal sad ending..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s