Ini versi CUT buat yang udah nanyain nasib part 7 FF ini. wkkwkw
Harap sabar ya… Lagi ada hambatan, jadi ga bisa segera dipost dulu.

Happy reading!

Aku menyalakankan lampu kamarku dan menghela nafas berat. Sejak jam 10 malam tadi aku sudah mencoba untuk tidur, tetapi sampai sekarang, sudah hampir jam 4 dini hari, aku masih tidak bisa tidur.
Telepon terakhir dari Heejin sebelum aku mencoba untuk tidur tadi membuat perasaanku semakin tidak tenang.
Pikiranku melayang entah ke mana saja, ke masa lalu, bahkan aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan untuk melupakan segalanya, tetapi mendadak bayangan yang membuat bahagia itu kembali mengusikku.
Otakku benar-benar tidak bisa berhenti berpikir.

Aku meraih komik terakhir yang belum selesai kubaca, dan keluar dari kamar.

“Ya. Benar sekali. Banyak yang belum kuberitahu padamu.”
Suara yang setengah berbisik itu membuatku menghentikan langkahku di depan pintu kamar ahjussi dan eomma.
Entah mengapa mereka harus berdebat di tengah malam seperti ini.
“Dan semua yang kauberitahukan padaku memang hanya kebohongan?” tanya ahjussi kesal, ia terdengar menahan suaranya untuk tidak lebih keras lagi.
“Tidak semua.”
“Dan kau tidak berencana memberitahuku?”
“Tidak. Aku akan memberitahumu semuanya, tetapi tidak sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku…” Eomma tidak melanjutkan ucapannya.

Aku terdiam sesaat, menunggu perkataan eomma, tetapi masih tidak terdengar apapun.
Semakin kupikirkan, aku juga merasa memang lebih baik seperti ini. Eomma pasti sangat mencintai ahjussi. Aku yakin mereka saling mencintai. Dulu eomma tidak bisa merasakan kehidupan bersama appa, karena itu sekarang eomma pasti sangat ingin merasakannya. Hidup bersama suaminya, dan saling mencintai selamanya.
Kalau aku? Seperti yang pernah eomma katakan, aku masih terlalu kecil untuk serius mencintai seseorang, jadi aku masih bisa perlahan melupakan Yi Fan. Menurut eomma aku bisa melupakan Yi Fan, karena dia bisa melupakan appa. Menurutku, aku tidak bisa lagi melupakannya, aku juga tidak berencana untuk mencintai orang lain lagi.

Aku melangkah kembali ke kamar dengan perlahan. Aku tidak seharusnya mendengar pembicaraan mereka. Semoga saja perdebatan mereka bukan karena aku dan Yi Fan.
“Kim Min Su… Apa kau benar-benar mencintaiku?” Samar-samar aku mendengar pertanyaan itu sebelum aku masuk ke kamarku.
Aku meraih ponselku dan headphone untuk mendengarkan lagu, guna menyumbat telingaku, tetapi ponselku mati.
Terpaksa aku melangkah cepat keluar dari kamar melewati kamar mereka dan berlari kecil menuju lapangan basket di belakang rumah.

Aku teringat saat pertama kali aku berada di sini. Bersama Yi Fan. Saat-saat yang sangat tidak menyenangkan.

Lapangan basket di malam hari sangat gelap, membuatku terpaksa harus berjalan ke ujung lapangan untuk menyalakan lampu lapangan.
Begitu lampu kunyalakan, aku melihat Yi Fan sedang berbaring dilapangan, ada bola basket di dekatnya dan dia mungkin sedang tidur.

Aku melangkah pelan ke arahnya dan berjongkok di dekatnya.
Aku melambaikan buku komikku di atas wajahnya untuk memastikan apakah dia benar-benar sedang tidur. Yi Fan tidak bergerak sama sekali. Dia benar-benar tidur.

Aku menatap wajah tidurnya lekat-lekat.
Malam ini malam terakhir aku berada di sini, dan juga terakhir kalinya aku bisa menatapnya dari dekat, menatap wajah tidurnya yang tenang dan…

Aku menjauhkan wajahku saat wajah Yi Fan mengerut, mendadak ia mendesah pelan dan wajahnya mengerut lagi. Aku tersenyum pelan dan mendekatkan wajahku lagi.
Aku menutupi sinar lampu yang mungkin mengganggunya tidur dengan kepalaku, sehingga aku bisa melihat bayangan kepalaku di wajah Yi Fan.
Kalau saja aku tidak menyalakan lampu, mungkin aku tidak bisa melihat wajah Yi Fan untuk terakhir kalinya sepert ini, sedekat ini.

Aku menggunakan jari telunjukku untuk menyentuh tiap bagian wajahnya di udara. Aku belum pernah mengagumi wajahnya, wajahnya yang sempurna seperti

“Maaf.” Aku berbisik pelan.
“Maaf, karena aku muncul di dalam kehidupanmu dan merusak segalanya,”
“Maaf, karena aku, kau tidak bisa menepati janji masa lalumu pada eonni,”
“Maaf, karena aku, kau harus kembali ke Kanada,”
“Maaf, karena aku, kau tidak mendengarkan perkataan ayahmu,”
“Maaf, karena aku…” Aku menghentikan ucapanku dan menyeka airmataku.
“Karena aku terlalu mencintaimu.” bisikku lagi.

“Yi Fan-ssi. Nice to meet you. Thanks for everything. Sorry for everything, and let’s meet again in the next life. I’ll love you first, and will not giving up on you again. That’s my promise. I love you…”

Aku menyeka airmataku dan tersenyum paksa. Perlahan aku berdiri dan melangkah mundur sambil menatap wajahnya.
Aku kembali memadamkan lampu lapangan, kegelapan yang sangat mendadak itu membuat pupil mataku terasa melebar. Aku melangkah perlahan dan langkahku terhenti karena kakiku menendang bola basket yang tadi ada di dekat Yi Fan. Aku yakin sekali tadi hanya ada satu bola basket di lapangan ini.

Tangan dingin itu menahan pergelangan tanganku dan saat mataku mulai terbiasa berada di dalam kegelapan, aku bisa melihat Yi Fan berdiri di hadapanku.

“Kenapa keluar malam-malam? Kau bisa sakit.” katanya pelan.
“Kau sendiri? Kau bahkan tidur di luar. Dan tanganmu dingin luar biasa.” balasku pelan.
“Maaf.” gumamnya dan aku langsung merinding. Kuharap dia tidak mendengar permintaan maafku tadi.
“Untuk?”
“Segalanya.” Ia menatapku lekat-lekat, tatapannya membuat hatiku semakin sakit, aku terpaksa harus mengalihkan pembicaraan, tetapi setiap perkataan selalu berujung pada satu hal lagi.
“Besok aku akan kembali ke Wonju. Heejin bilang dia ingin lebih cepat melihat Seoul lagi, jadi…”
“Jadi? Ini malam terakhir aku melihatmu?” bisiknya dan aku mengangguk pelan.
“Kalau tadi aku memberitahu dad, apa masih berguna?” tanyanya dan hanya diam. Aku tidak tahu berguna atau tidak, tetapi aku justru takut pada eomma.
“Kalau mereka berpisah, apa kau masih akan kembali padaku?” tanyanya dan berhasil membuatku menatapnya lekat-lekat. Meskipun gelap, aku bisa menatapnya dengan sangat jelas.
“Kalau suatu hari…”
“Yi Fan-ssi. There is no someday again, for us.” potongku dan Yi Fan mendengus pelan, dan tersenyum tipis.
“Aku berencana mengatakan sesuatu pada Dad sebelum aku kembali ke Kanada. Kau bisa ikut ke bandara?”
“Tidak.”
“Kenapa? Kau sendiri yang mengatakan bisa menganggapku sebagai kakakmu, anggap saja kau mengantarkan kakakmu…”
“Tadinya kupikir tidak sulit, tapi ternyata sangat sulit sampai-sampai rasanya aku bisa mati.”
Yi Fan tersenyum tipis lagi. Sama sekali bukan senyuman manis seperti biasanya, senyuman menyakitkan.
“Ya… benar sekali… Lalu, apakah aku harus mengatakannya padamu terlebih dahulu?”
“Mungkin?” gumamku dan Yi Fan semakin mendekatkan wajahnya.
Aku baru sadar bahwa mata Yi Fan tidak seperti biasanya lagi.
“Tentang kecelakaanku waktu itu.” bisiknya tepat di telingaku. Ia menggenggam jemariku, mendekatkan tubuhnya dan seolah ada sesuatu yang lebih menyakitkan, tubuh Yi Fan bergetar, ia benar-benar ketakutan, seperti orang yang ketakutan, mungkin juga kesakitan.
“Ada apa?” tanyaku pelan, berusaha tetap tenang sehingga ia tidak perlu semakin merasa sakit, maupun ketakutan. Aku ingin sekali bisa membaca semua yang ada di pikirannya, aku yakin banyak hal yang masih dirahasiakannya dariku. Hal-hal yang mungkin menyakitkan sekali.
“Maaf…” bisiknya dan hanya mengecup bibirku dengan lembut.
Saat wajahnya menyentuh wajahku, aku merasakan airmatanya lagi. Membuatku merasakan rasa sakit yang sama, membuatku bisa merasakan apa yang ia rasakan.
Aku membiarkannya menangkup wajahku dan tetap mengecup bibirku beberapa kali sampai ia merasa tenang, sampai tubuhnya berhenti gemetaran.

Yi Fan menjauhkan wajahnya dan aku membuka mataku. Aku bisa melihatnya dengan jelas, sangat jelas dan bukan dalam kegelapan lagi. Langit sudah mulai terang, matahari mulai terbit, dan aku bisa melihat matanya dengan jelas. Tatapan mata sayu itu, tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya dari mata Yi Fan, juga bola mata putihnya, tidak lagi berwarna putih, tetapi merah…

“Ada apa?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng.
“Kau tahu? Ada saatnya lebih baik kau tidak tahu apapun. Karena kenyataan itu sangat menyakitkan.”
“Ada apa?” tanyaku lagi dan Yi Fan tersenyum tipis, kali ini dia memaksakan senyuman manisnya.
“Apa yang kau ketahui tentang kecelakaanmu?” tanyaku tegas dan Yi Fan menaikkan ujung bibirnya.
“Aku tidak bisa mengatakannya dua kali. Aku hanya ingin mengatakannya saat…”
“Baiklah. Terserah padamu saja. Karena aku tetap tidak akan muncul di bandara, dan… saat itu aku kuliah. Jadi…”
“Begitu lebih baik.” potongnya dan aku menatapnya tajam.
“Kalau kita bertemu lagi, kuharap kau tidak merahasiakan apapun lagi dariku.”
“Tentu.”
“Aku harus kembali ke kamar.” tandasku dan berjalan cepat melewatinya.
“Kwon Eun Yoo-ssi.” panggilnya dan aku menghentikan langkahku.
“Kalau kita bertemu lagi, jangan meminta maaf lagi atas apa yang tidak kau perbuat. Kau tidak melakukan kesalahan apapun karena ini memang sudah takdir.”
Aku langsung berbalik dan melihatnya yang sedang memungut bola basketnya.
“Kenapa bicara begitu?” tanyaku dan Yi Fan tersenyum tipis sambil menggigit bibir bawahnya.
“Maaf. Aku mendengarnya. Aku terbangun begitu lampunya menyala, tetapi aku tidak bisa langsung membuka mataku karena terlalu silau.”
“Kalau begitu maaf…” gumamku dan melangkah menjauh.
“Dad sudah bangun loh.” bisiknya, tetapi aku bisa mendengarnya dari jauh.

Aku melangkah cepat kembali ke dalam dan saat aku menoleh aku melihat Yi Fan sedang men-dribel bola basketnya, kemudian melakukan three point shoot.
Entah mengapa Yi Fan yang tadi begitu rapuh, bisa kembali normal hanya dengan menciumku seperti tadi. Atau mungkin aku semacam healer baginya? Kalau memang begitu, sama seperti apa yang aku rasakan sekarang. Meskipun masih sakit, tetapi aku merasa ada sedikit ketenangan di dalam hatiku. Seperti yang pernah kurasakan saat pertama kali mengenalnya.
Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa merasakan ketenangan yang seperti ini lagi nanti. Mungkin, suatu hari. Suatu hari yang tidak pernah ada itu… Suatu hari yang akan menjadi suatu hari yang paling berharga bagiku, juga bagi Yi Fan.
^_________________^

FULL Version coming soon!
please be patience.
HEHEHHE

-Eve RyLin

Advertisements

2 thoughts on “[CUT] BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 7] (Full version RELEASED)

  1. Oh gtu gmbaran buat chap 7 nya duh gk sbr baca yg full version nya….
    Gomawo eonni dah ngasih gmbrannya buat chp 7 ditunggu kelanjutan buat the real chap 7 hahahahah 😊😀

  2. ow! cut version!! berarti di lanjut dong.yeay! takut ilang aja ini ekekek.^^V buat cut ver ini aku no comment dulu ahh=D di full version baru nanti :>. buat kak eve*bolehkan?*
    Keep Writing and Fighting ya kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s