BnBfM7SIIAEVvVa

BETWEEN TIME AND PROMISE PART 6

Aku terperanjat bangun dari tidurku dan langsung menutupi wajahku dengan tangan.
Mimpi buruk lagi. Yi Fan…

“Mimpi buruk?” tanya eomma yang ikut terbangun juga. Aku menoleh ke arah eomma yang memelukku.
“Yi Fan…” gumamku dan eomma mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
“Aku melihatnya berjalan menjauhiku dan sama sekali tidak mendengar kalau aku memanggilnya…”
“Kau mencintainya?” tanya eomma dan aku hanya mengangguk.
“Bagaimana kau bisa mengenalinya?” tanya eomma lagi.
“Dia satu kampus denganku…”
“Dia mendekatimu?”
“Tidak. Aku yang duluan bicara padanya.”
“Oh ya?”
“Aku menanyakan namanya.” gumamku dan eomma tertawa pelan lalu mengelus rambutku.
“Kau pilih eomma atau dia?” tanya eomma lagi dan aku langsung menoleh ke arah eomma.
“Hmm?” Eomma menatapku dengan bingung.
Aku terdiam beberapa saat karena teringat Yi Fan pernah menanyakan hal yang sama padaku.
“Kenapa aku harus memilih?” tanyaku dan eomma tersenyum tipis.
“Aku tidak mau memilih…” gumamku sambil menggeleng pelan.
“Eomma saja dulu lebih memilih ayah Yi Fan daripada aku. Kenapa sekarang aku harus memilih?” tanyaku lagi dan eomma hanya diam.
“Aku akan memilih eomma kalau eomma menyuruhku memilih antara appa dan eomma.”
“Eun Yoo-ah. Dia itu…”
“Saat masih di Yokohama, saat eomma akan meninggalkan hotel, Eomma bilang apa padanya?”
“Dia belum memberitahumu?”
“Belum…”
“Kau akan tahu nanti.” gumam eomma dan beranjak dari tempat tidur.
“Eomma…”
“Besok pulanglah dari kampus lebih cepat. Aku akan membawamu menemui seseorang. Lalu pertanyaanmu akan kujawab.” kata eomma dan keluar dari kamarku.
Eommaku yang dingin itu kembali lagi. Aku benar-benar tidak tahu sifat asli eommaku sendiri, sifatnya selalu berubah-ubah seperti ini, membuatku takut padanya.
^——————————–^

Aku mendengus kesal sambil menatap layar ponselku.
Aku bosan. Yi Fan sama sekali tidak bisa dihubungi, aku tidak melihatnya di kampus, bahkan dia tidak ada di asramanya.
Eomma tidak mengijinkanku bekerja lagi, sedangkan Heejin sibuk bersama Minseok. Hari ini benar-benar membosankan.
Aku ingin memikirkan sesuatu untuk hadiah ulang tahun Yi Fan besok, tetapi otakku terlalu sibuk memikirkan Yi Fan hari ini. Baru tidak bertemu dengannya 1 hari saja aku sudah merasa menderita, bagaimana kalau dalam waktu lama?

“Kau belum tidur?” tanya eomma dan berdiri di ambang pintu. Aku menoleh ke arah eomma dan menggeleng pelan.
“Eomma ada urusan. Kau tidurlah dulu. Jangan menunggu eomma. Okay?”
“Baiklah. Eomma… Terimakasih buku-bukunya.” kataku dan eomma tersenyum lebar sambil melirik tumpukan buku di atas mejaku yang tadi siang dibelinya.
“Semoga kau suka. Eomma pergi dulu ya. Jalja!” tandas eomma dan menutup rapat pintu kamarku.

“Wu Yi Fan… Eodiseo…” gumamku dan menatap layar ponselku yang memakai foto Yi Fan.
Tidak berapa lama, ponselku berdering dan aku langsung menjawab telepon dari Yi Fan.
“Eun Yoo-ah…” Belum sempat aku bicara, Yi Fan sudah memanggil namaku dengan lembut. Membuatku tersenyum lebar. Perasaan tidak nyamanku akhirnya menghilang. Mendengar suaranya membuatku lega dalam sekejap.
“Kau…”
“Sst…Jangan katakan apapun.” potongnya dan aku bisa mendengar ia tertawa pelan di seberang sana.
“Jalja…” bisiknya pelan.
“Good Night.” bisiknya lagi dan hening seketika. Beberapa saat kemudian dia berdeham dan aku menahan nafasku saat mendengarkan suara alunan musik yang terdengar begitu jelas. Beberapa saat kemudian aku mendengar suaranya… ia sedang menyanyikan sebuah lagu ballad milik John Legend – All of Me.

“Good Night, my all, my everything, and my only. Kwon Eun Yoo. I Love You.”

Mendengar perkataannya setelah ia selesai menyanyikan lagu tadi membuat airmataku berlinang begitu saja.
Belum sempat aku menjawab, telepon sudah terputus.
Aku memejamkan mataku dan berusaha mengingat suaranya saat menyanyikan lagu tadi, sangat diluar dugaan. Aku tidak pernah membayangkan suaranya akan selembut tadi saat bernyanyi… Suaranya membuatku merasa nyaman dan tenang.

Love You too. Wu Yi Fan…-ssi.
♪♪♪♪♪

6 November.

“Kurasa dia sibuk.” gumamku dan Heejin mendengus kesal.
“Mencurigakan sekali.” tukasnya dan aku menghentikan langkahku di depan pintu kamar Yi Fan.
“Eommamu menelepon lagi nih.” kata Heejin dan menyodorkan ponselku yang dipegangnya.
“Biarkan saja.” keluhku dan memencet password kamar Yi Fan. Baru saja pintu terbuka, seseorang menutup pintu itu lagi dan menatapku dengan tatapan skeptis, tatapan tidak suka.
“What are you doing here?” tanyanya dan melirik sekilas ke arah Heejin yang sedang sibuk dengan game di ponselku.
“Where is Yi Fan?” tanyaku dan ekpresi wajahnya langsung berubah.
“Kwon Eun Yoo?” tanyanya dan aku mengangguk pelan.
“Who are you? Why did you know her name?” tanya Heejin dengan cepat.
“I’m Yi Fan’s roomate. He always talk about her. He is back to his home.”
Aku terdiam sesaat. Ada apa dengannya? Kenapa mendadak sekali?
“Why?” tanya Heejin lagi.
“I don’t know.” gumam pria itu dan menatapku lagi.
“Thanks.” tukasku dan menarik Heejin pergi.
“Dia tidak bisa dihubungi bahkan tidak menghubungimu, pasti dia… Selingkuh.” gumam Heejin dan aku langsung menatap Heejin dengan tajam.
“Dia tidak mungkin melakukan itu. Pasti ada masalah.” gumamku dan Heejin mengerlingkan matanya.
“Aishh! Eommamu kenapa sih?” tanya Heejin kesal dan menyodorkan ponselku lagi.
“Dia mau membawaku ke Seoul.”
“Wow! Kenapa kau tidak mau ikut?”
“Aku harus bertemu Yi Fan dulu… Seoul?!” Aku tercekat untuk sesaat. Yi Fan kembali ke Seoul dan itu berarti aku bisa bertemu dengannya di sana.
“Hey! Do u know his home address in Seoul?” tanya Heejin pada teman sekamar Yi Fan yang masih berdiri di depan kamarnya.
“I don’t know. Nobody knows!” jawabnya dan Heejin mendengus kesal.
“Ahh. Kau yakin dia tidak selingkuhkan?” tanya Heejin lagi dan aku menggeleng mantap.
“Sebenarnya tadi malam dia meneleponku.”
“Dia bilang apa?”
“Tidak mengatakan apapun.”
“Hah?? Jadi untuk apa dia menelepon?”
“Dia bernyanyi…” gumamku pelan dan Heejin tertawa keras.
“Ikutlah eommamu ke Seoul. Aku akan membantumu mencari tahu alamatnya di sana. Okay?” tanya Heejin sambil menyodorkan ponselku. Eomma menelepon lagi. Aku menjawab telepon dari eomma dan mengiyakan semua keinginannya hari ini.

Seoul. Wu Yi Fan…
Aku bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Aku benar-benar harus bertemu dengannya hari ini
——————————–

Abgujeong, Seoul, South Korea

Aku memandangi eomma yang sedang fokus mengemudikan mobilnya di jalanan kota Seoul.
“Sudah sampai?” tanyaku saat eomma menghentikan mobilnya di depan sebuah toko.
“Bukan. Aku ingin membeli sesuatu dulu. Putra temanku hari ini berulang tahun. Kau tunggu sebentar ya.” jawab eomma dan langsung keluar dari mobil.
Sama seperti Yi Fan. Mungkin aku harus ikut membeli sesuatu juga. Kalau bertemu dengan Yi Fan aku akan langsung memberikannya.

Aku mencabut kunci mobil dan ikut keluar juga. Aku menghentikan langkahku di depan pintu toko yang dikunjungi eomma dan menoleh ke toko di sebelahnya. Toko pakaian olahraga. Aku sudah tahu apa yang akan kuberikan pada Yi Fan. Sepasang baju basket. Yi Fan pasti suka. Memikirkannya saja aku sudah membuatku tersenyum lebar.
Aku langsung masuk ke toko itu dan memilih pakaian yang menurutku paling bagus.

Setelah selesai, aku langsung keluar dari toko dan kembali ke mobil. Eomma belum kembali dan aku hanya beruntung, setidaknya eomma tidak perlu tahu aku membeli sesuatu untuk Yi Fan. Aku mengembalikan kunci mobil ke posisi awal dan menyembunyikan paper bag di bawah kursi mobil kemudian memejamkan mataku. Seolah-olah aku sedang tidur.

Tidak berapa lama, eomma kembali dan bergumam pelan sambil melajukan mobilnya lagi.
Aku membuka mataku dan menoleh ke arah eomma.

“Sudah bangun?” tanya eomma dan tersenyum tipis. Aku hanya menjawab dengan senyuman dan menatap keluar. Kota ini benar-benar menakjubkan.
“Abgujeong.” kata eomma dan aku menoleh ke arahnya.
“Eomma sering ke Seoul?” tanyaku dan eomma mengangguk pelan.
“Kau mau coba tinggal di Seoul?” tanya eomma lagi dan aku mengangguk cepat. Alasanku karena selain ini adalah kota besar, ini juga adalah kota di mana rumah Yi Fan berada.
“Eomma… Boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku pelan dan eomma mengangguk setelah menoleh ke arahku sekilas.
“Kenapa eomma membenci Yi Fan?” Mendengar pertanyaanku, eomma hanya berdeham pelan dan menggeleng pelan.
“Eomma… Jawab aku… Aku ingin mendengar langsung dari eomma meskipun aku sudah tahu jawabannya.” kataku lagi dan eomma tertawa kering, tertawa kesal.
“Hhhh. Kalau bukan karena dia, aku… kau… kita sudah bahagia dari dulu, tidak perlu menunggu sampai kau sedewasa ini, dan kau tidak perlu menderita karena harus tinggal di rumah itu.
“Eomma… Kau tidak bisa memaafkannya?”
“Entahlah…”
“Eomma. Aku mencintainya, jadi kumohon…”
“Eun Yoo-ah. Aku tidak melarang kalian untuk saling mencintai, tetapi maaf… kurasa kalian tidak akan bisa bersama.”
“Kenapa?”
“Aku tidak perlu menjelaskan itu sekarang.” tukas eomma dan aku hanya diam. Perkataan eomma barusan membuatku ingin menangis.

“Sudah sampai.” kata eomma saat menghentikan mobilnya di parkiran sebuah gedung perkantoran.
Aku mengikuti eomma masuk ke gedung itu dan terus mengikuti langkahnya. Eomma terlihat sudah sangat mengenali gedung ini dan siapapun yang ada di dalamnya. Setiap karyawan dan karyawati yang bertemu dengan eomma, langsung tersenyum dan bersikap hormat pada eomma. Sepertinya teman eomma pemilik perusahaan ini.

Eomma menghentikan langkahnya dan mendorong pintu putih di hadapannya.
“Ayo masuk.” kata eomma dan menarikku untuk ikut masuk.
“Hello!” Eomma melangkah masuk dan menyapa seorang ahjussi yang sedang duduk sambil memperhatikan laptopnya.
“Hey! You are so early!” kata ahjussi itu dan beranjak dari duduknya kemudian memeluk eomma.
“Is she… Eun Yoo?” tanyanya dan menoleh ke arahku. Aku tersenyum tipis dan membungkuk hormat.
“Hello.” sapaku dan ahjussi itu tersenyum lebar.
“So, where is your son?”
“He is on the way. Please have your seat miss Eun Yoo.”
“O..okay.” jawabku gugup dan duduk di sofa terdekat.

“Eomma tidak sedang menjodohkanku dengan putra ahjussi itu akan?” bisikku pada eomma saat eomma duduk di sampingku.
“Hah? Tidak sama sekali.” jawab eomma dan tertawa pelan.
“Lalu untuk apa aku kemari dan bahkan harus bertemu dengannya?”
“Entahlah.” jawab eomma pelan dan aku mengerutkan keningku. Eomma terlihat aneh lagi.
“Eun Yoo-ssi? Kau mau minum apa?” tanya ahjussi itu dengan bahasa korea, membuatku terdiam sesaat.
“Kau mau minum apa?” tanya eomma dan langsung membuyarkan pikiranku.
“Apa saja boleh” jawabku dan eomma mendecak pelan.
“Kau suka minum apa?” tanya ahjussi itu lagi.
“Greentea Latte.” gumamku dan ahjussi itu tertawa.
“Baiklah. Greentea latte 2, dan Americano 2.” kata ahjussi pada orang yang dihubunginya tadi.
“Kau mau menyuruh anakku minum 2?” tanya eomma bingung dan ahjussi itu tertawa keras.
“Tidak. Bukan. Anak kita punya selera yang sama. Putraku juga menyukai Greentea Latte.”
“Ohhh. Cocok sekali.” gumam eomma dan menoleh ke arahku.
“Eomma. Ahjussi itu bukan orang Korea kan?” tanyaku pelan. Cara bicara ahjussi tadi terdengar kaku, membuatku langsung tahu, dan membuatku teringat akan Yi Fan. Meskipun ia berbicara dengan lancar tetapi terkadang terdengar berbeda.
“Ya. Dia orang cina.”
“Kenapa bisa ada di Korea?”
“Ssshh. Jangan banyak tanya.” tukas eomma dan aku hanya diam.
Kemudian eomma beranjak dari duduknya dan duduk di depan ahjussi itu.
Aku mengeluarkan ponselku dan membaca pesan dari Heejin. Dia tidak menemukan alamat rumah Yi Fan. Aku mendengus pelan dan memejamkan mataku. Ini benar-benar melelahkan.

Eonni. Mendadak wajah eonni terbayang olehku, juga perkataan eonni saat itu. Dia mengatakan mencari tahu tentang Yi Fan. Berarti eonni bisa membantuku.
Aku langsung menelepon eonni sambil menoleh ke arah eomma dan ahjussi, mereka sedang mengobrol, kurasa mereka tidak akan mendengarkanku.

“Wae?” tanya eonni dari sebrang sana.
“Eonni sedang di mana?”
“Untuk apa kau mengurusiku?” tanyanya datar.
“Tidak. Aku hanya ingin menanyakan alamat…”
“Alamat rumahku sekarang? Untuk apa?!” sambarnya dan aku tertawa pelan.
“Eonni. Dengarkan aku dulu. Sekarang aku sedang di Seoul dan aku…”
“Ya!! Bagaimana kau bisa tahu aku pindah ke Seoul?!!!!” pekiknya dan membuat telingaku sakit.
“Eonni. Aku tidak tahu kau juga ada di sini. Aku hanya ingin alamat Yi Fan.” ucapku cepat dan eonni terdiam. Beberapa saat dia tidak menjawabku, kemudian dia berdeham.
“Ohhh. Yi Fan ya? Aku harus cari kertasnya dulu. Kau sedang di mana?”
“Abgujeong.”
“Mwo?! Bagaimana bisa?!”
“Entahlah. Eomma membawaku bertemu dengan temannya.”
“Wah. Kau ini… Lalu kenapa kau berbisik-bisik seperti pencuri?”
“Ada eomma di sini. Sudah ya eonni. Aku tidak bisa terlalu lama. Gomawo eonni. Annyeong.” tandasku dan langsung memutus teleponku.
Aku tersenyum tipis. Ini pertama kalinya aku bicara dengan eonni tanpa perasaan takut seperti biasanya. Meskipun dia masih tetap galak dan suka berteriak-teriak.

“Kau menelepon siapa?” tanya eomma dan duduk di depanku.
“Heejin.” dustaku dan tersenyum tipis.
“Park Heejin teman baikmu?”
“Iya. Dia yang selalu menolongku setiap eonni…”
“Kenapa berhenti?”
“Hmm. Aniya” elakku dan eomma menatapku skeptis.
“Apa saja yang dilakukan gadis itu padamu?”
“Tidak ada.”
“Jangan bohong! Untuk apa melindunginya sih?”
“Aku tidak….”
Aku menghentikan ucapanku karena mendengar suara pintu ruangan terbuka. Eomma mengahlikan pandangannya dan aku menghela nafas pelan. Aku tidak ingin mengatakan apapun pada eomma.

Orang yang barusan masuk berbicara dengan menggunakan bahasa mandarin, suaranya yang begitu familiar membuatku ingin menoleh.
Belum sempat aku benar-benar menoleh, ponselku bergetar.
Eonni mengirimkanku foto alamat lengkap rumah Yi Fan, bahkan… alamat kantor? Kenapa kantor?

Aku terdiam sesaat. Suara yang berbicara dengan nada kesal itu membuatku berdebar takut. Suara itu…. Yi Fan.

Aku menahan diriku untuk menoleh ke belakangku. Aku menatap eomma yang sedang memperhatikan mereka.

“Sudah kubilang jangan menggunakan bahasa mandarin di kantor.” kata ahjussi dan terdengar suara dengusan kesal.
“Kau mau aku mengatakan hal pribadi dan didengarkan rekan kerjamu?” tanya Yi Fan dan ahjussi tertawa.
“Dad. Aku sedang serius. Kumohon berhenti memaksaku menikah dengan orang yang tidak kukenali.”
“Hey. Seharusnya kau berterimakasih karena sudah dicarikan gadis-gadis yang hebat dan istimewa seperti mereka…”
“Aishhh. Aku tidak butuh, dad! Aku sudah punya pacar! Darimana sih kau menemukan gadis-gadis jelek itu?!” omelnya dan ahjussi tertawa lagi.
“Ahjumma itu. Dia yang mencarikannya. Masih ingat?” tanya ahjussi itu dan kulihat eomma tersenyum tipis.
“Dad…” Yi Fan bergumam pelan dan sesaat ruangan ini menjadi sunyi.

Dad? Kalau ahjussi ini adalah ayahnya Yi Fan, berarti eomma dan ahjussi ini… Apa mereka berencana untuk kembali bersama? Jadi itu sebabnya eomma mengatakan aku tidak bisa bersama Yi Fan.
Ini benar-benar gila…

“Dan itu Eun Yoo, anak kecil yang dulu pernah kau lihat berdiri di balkon rumahnya. Maaf aku tidak percaya padamu saat itu.” jelas ahjussi lagi dan aku langsung menundukkan kepalaku.
“Hey dad? Kau tidak ingin tahu siapa pacarku?” tanya Yi Fan dan eomma tersentak kaget.
“Tentu saja aku ingin tahu. Bagaimana kalau kau memperkenalkannya pada kami nanti malam?”
“What?”
“Nanti malam kita akan makan malam bersama mereka, sekaligus merayakan ulang tahunmu. Bagaimana?”
“Mereka?”
“Eun Yoo dan ibunya.” jelas ahjussi dan seluruh tubuhku langsung lemas. Kalau saja aku tahu tentang ini lebih awal, lebih baik aku tetap di Wonju saja. Mendadak aku benci kota ini.
“Dad… Aku ti…”
“Hari ini aku tidak menerima penolakanmu. Karena kau sudah terlalu sering menolak permintaanku, jadi hari ini kau yang harus menurutiku. Okay?”
“Dad… Aku…”
“Happy birthday!” Eomma memotong pembicaraan mereka dan berjalan cepat ke arah mereka. Aku terpaksa menoleh dan melihat eomma memberikan Yi Fan kado yang dibelinya tadi.
“Eun Yoo-ssi? Kau menangis?” tanya ahjussi cepat dan saat Yi Fan menoleh ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku dan menyeka airmataku.
“Kau kenapa?” tanya ahjussi lagi dan aku menggeleng cepat.
“Mataku hanya terasa perih karena terlalu lama diruangan ber AC.” dustaku dan ahjussi tertawa pelan.
“Oh begitu? Kemarilah. Kalian harus berkenalan secara langsung.”
“Ayo.” Eomma menarikku dengan kasar dan memaksaku berdiri di hadapan Yi Fan.

Yi Fan terlihat sangat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan setelan kemeja, dan rambutnya ditata rapi. Benar-benar tidak seperti biasanya ketika ia hanya menggunakan pakaian simpel dan rambut yang sama sekali tidak ditata.

“Annyeong.” kata Yi Fan pelan dan aku terpaksa mengangkat wajahku, menatapnya. Yi Fan tersenyum tipis dan menjulurkan tangannya.
“I…i…ireum…ireumi… mwo…ye..yo?” tanyaku gugup dan Yi Fan tertawa pelan lalu menarik telapak tanganku.
“Li Jia Heng. Kau bisa memanggilku Kevin.” jawabnya dan aku mengangguk pelan. Aku kembali menunduk, menahan air mataku. Aku yakin sekali kami ber-3 sedang berpura-pura di hadapan ayahnya.
Yi Fan memperat genggaman tangannya dan menarikku ke dalam dekapannya, ia memelukku dengan erat.
“Hey!” Eomma memekik tertahan, sedangkan ahjussi tertawa bercampur kaget.
“Tenanglah. Ini caraku menyapa seseorang saat di Kanada dulu.” kata Yi Fan dan ahjussi membenarkan.

“Uljima.” bisik Yi Fan dan menepuk pelan punggungku.
“Maaf.” katanya lagi setelah melepas pelukannya.
“Nah. Karena kalian sudah saling mengenal, Kevin yang akan mengantarkan kalian pulang dan dia yang akan menemani Eun Yoo melihat-lihat Seoul. Kau ingin melihat Seoul kan?” tanya ahjussi dan aku hanya mengangguk pelan.

Sejujurnya aku tidak ingin apapun sekarang. Aku hanya ingin kembali ke Wonju saja.

Aku menoleh ke arah eomma yang sedang tersenyum lebar. Eomma yang benar-benar egois, sikapnya membuatku tidak yakin kalau dia memang eommaku yang sebenarnya lagi. Semua yang dia lakukan padaku tidak sama seperti apa yang dilakukan kebanyakan eomma di dunia. Bahkan ahjumma, ibunya Jung Yeon eonni tidak pernah menyakiti perasaan eonni sama sekali.

“Ayo. Aku akan mengantarkan kalian ke bawah.” kata eomma padaku dan Yi Fan.
“Kev. This is yours.” kata ahjussi dan menyodorkan Green Tea Latte yang dipesannya tadi. Aku bahkan belum sempat meminum milikku.
“Thanks.” tukas Yi Fan singkat dan melangkah cepat sambil meminum Green Tea Lattenya.
“Ayo.” Eomma menarikku keluar dan hanya tersenyum tipis.

“Eomma. Kau sedang berbahagia melihat penderitaanku atau kau sedang berbahagia karena kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan?” tanyaku ketus dan eomma mempelototiku. Belum sempat eomma memarahiku, Yi Fan menarikku menjauh dari eomma.
“Untukmu juga.” kata Yi Fan pelan dan sambil menyodorkan Green Tea Lattenya.

Selama kami berjalan keluar gedung, beberapa orang menyapa Yi Fan dengan sopan dan beberapa gadis yang bekerja di sana terlihat begitu mengaguminya. Mereka tersenyum padanya, tetapi wajah Yi Fan terlihat begitu dingin. Sangat berbeda dengan biasanya.

“Jangan memikirkan apapun dulu.” bisik Yi Fan dan menggenggam jemariku.
“Hey!” Eomma memekik lagi dan Yi Fan hanya menoleh sekilas, tidak mempedulikan eomma.

“Eomma. Aku harus mengambil sesuatu di mobil.” kataku begitu kami berada di luar gedung,
“Tentu saja. Kau harus mengambil pakaianmu.” jawab eomma cepat dan membuka pintu mobilnya.
“Hah?!” Aku memekik kaget, begitu juga dengan Yi Fan, ia langsung menatap eomma dengan tajam.
“Kau lupa apa yang dikatakan ayahnya tadi? Dia yang akan mengantarmu pulang. Pulang ke rumah mereka, bukan ke rumahmu di Wonju. Kau sendiri yang bilang ingin tinggal di Seoulkan?”
“Eomma!!! Aku tidak mau!!!”
“Berhenti membantah!!! Aku tidak pernah mengajarimu untuk membantah!”
“Eomma sama sekali tidak pernah mengajariku apapun! Yang kau berikan padaku hanya perasaan sakit!!!” pekikku dan Yi Fan langsung memelukku dari belakang.
“Eun Yoo-ah. Geumanhae.” gumamnya dan menarikku menjauh dari eomma.
“Maaf.” kataku pelan dan menarik nafas panjang, lalu kembali ke mobil eomma dan mengambil hadiah yang kubeli tadi.

Eomma menyuruh Yi Fan memindahkan barang-barangku dan eomma kembali ke dalam gedung tanpa bicara apapun lagi. Kuharap dia bisa cepat tersadar dari apa yang dia lakukan padaku hari ini.

“Awkward.” gumam Yi Fan saat kami sudah berada di dalam mobil.
“Kau sudah tahu ini sejak kapan?” tanyaku pelan dan menatap lurus ke jalanan Seoul yang ramai di siang hari.
“Saat aku tahu ibumu masih hidup, aku sudah merasa curiga. Di hari terakhir kita di Yokohama, eommamu mengatakan semuanya.”
“Pantas saja kau bersikap aneh. Apa yang dikatakan eomma pagi itu?”
“Maaf. Tentang itu… akan kuberitahu nanti.”
“Jadi… aku akan menjadi adikmu?”
“Entahlah.” gumamnya dan menepuk pundakku pelan.

Aku menunduk dalam-dalam dan membiarkan airmataku mengalir keluar. Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku lagi. Ini benar-benar menyakitkan, lebih menyakitkan dibandingkan dengan apa yang selama ini aku alami.

“Eun Yoo-ah. Uljima.” kata Yi Fan pelan dan aku menggeleng cepat.
“Bagaimana aku bisa untuk tidak menangis sekarang?” tanyaku dan menyeka airmataku.
“Kau menghilang saja aku sudah menangis setiap malam, dan sekarang kau ingin aku tidak menangis karena aku akan menjadi adikmu?! Aku benar-benar tidak bisa!”
“Maaf.” gumamnya dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.
“Kalau begitu menangislah sampai kau merasa lega.” kata Yi Fan pelan dan mengelus kepalaku dengan lembut.

Aku mengerang pelan menutupi wajahku dengan tangan. Yi Fan terus mengelus kepalaku, membuat dadaku semakin sesak, membuat hatiku semakin sakit, semakin menyedihkan.
T______________________________T

“Eun Yoo-ah. Ireona…” panggil Yi Fan pelan dan aku hanya diam. Tidak menggerakkan badanku. Aku sudah bangun dari tadi, tetapi aku tidak ingin bangun. Aku bahkan berharap tidak bisa bangun lagi selamanya.
“Ayolah. Jangan berpura-pura. Dad sudah pulang, dia tidak akan suka menunggumu. Kau masih harus mandikan?”
“Hey oppa! Kau cerewet sekali!” dengusku dan membuka mataku. Aku yakin aku menangis sampai tertidur, bagaimana caranya aku bisa berada di kamar ini pun aku sudah tidak tahu.
“Jangan memanggilku seperti itu.” kata Yi Fan dan menatapku lekat-lekat.
“Kenapa? Sebentar lagi aku juga akan memanggilmu…”
“Aku tidak berencana mendengarmu memanggilku seperti itu.” potongnya sambil menutup mulutku dengan jarinya.

“Kau bersiaplah. Sebentar lagi makan malam.” katanya lagi.
“Kau akan membawa pacarmu untuk makan malam nanti?” sindirku dan Yi Fan hanya tertawa kering.
“Tenanglah. Pacarku sudah ada di sini bahkan tanpa kuminta.” jawabnya dan menyentuh pelan puncak kepalaku. Aku menepis tangannya dan menyeka airmataku.
“Bersiaplah.” katanya dan keluar dari kamar.
“Tidak mau.” jawabku pelan, tidak untuk didengarkan olehnya.

Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Sesaat langkahku tertahan karena melihat sebuah pintu di dalam kamar ini. Aku membuka pintu itu dan ternyata kamar mandi. Aku masuk ke dalam, membasuh wajahku dan mengeringkannya dengan tissue kemudian keluar dari kamar.
Aku benar-benar tidak peduli dengan penampilanku lagi. Anggap saja ini hanya makan malam bersama keluarga. Makan malam bersama keluarga yang terjadi pertama kalinya dalam hidupku, tetapi aku sama sekali tidak merasa senang ataupun terharu. Aku sangat membenci hidupku.

“Eun Yoo! Kau tidak mandi? Kau bahkan tidak mengganti pakaianmu?” tanya eomma dan aku menggeleng cuek. Aku benci padanya juga.
“Untuk apa mandi?” tanyaku ketus.
“Jangan membantahnya.” bisik Yi Fan dan mengelus pelan pipiku.
“Kenapa membela eomma sih?” omelku dan menatap Yi Fan dengan tajam.
“Aku membelamu, dear. Aku tidak ingin membuatnya merasa menang karena dia berhasil membuatmu menjadi seperti ini. Kau tahu? Kau mendadak menjadi sangat galak hari ini.” kata Yi Fan dan tersenyum tipis lalu mengecup pipiku.
”Ya! Li Jia Heng!!” Eomma memekik tertahan dan Yi Fan tertawa pelan.
“Dad masih di kamar. Tenang saja, ahjumma. Aku tidak akan mengatakan apapun padanya… sekarang.”
“Kau sedang mengancamku?” tanya eomma dan Yi Fan menggeleng pelan.
“Aku tidak berani mengancam orang lain seperti apa yang pernah anda lakukan. Eun Yoo-ah. Ayo.” Yi Fan menarikku dan membuat eomma berteriak kesal lagi.
“Kemana?” tanyaku saat dia membawaku ke belakang rumah.
“Can you see? Aku punya lapangan basket di belakang rumah.”
“Ohhh. Tentu saja kau punya. Yi Fan-ssi… Ahjussi bilang dulu kau pernah melihatku juga… kenapa kau sama sekali tidak mengatakannya padaku?”
“Hmmm. Tentang itu yaaa…” Yi Fan bergumam pelan sambil berjalan mendekati bola basket yang tergeletak di pinggir lapangan. Ada beberapa bola basket di sana, dia bahkan terlihat memilih bola mana yang akan dia gunakan.
“Jujur saja…” gumamnya lagi setelah mendribel bola basket berwarna hitam pilihannya.
“Aku tidak ingat apapun…” lanjutnya dan berdiri di hadapanku.
“Aku hanya tahu beberapa hal dari ayahku…”
“Kenapa?”
“Hmm. Yahhh… hanya sedikit gegar otak.” jawabnya dengan nada malas dan ia melempar bolanya ke dalam ring dari jarak jauh.
“Kecelakaan kecil. Aku kehilangan memoriku. Sedikit sih, dan awalnya aku merasa apa yang kulupakan tidak penting, dan sekarang mendadak menjadi sangat penting.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin mengingat wajahmu saat itu. Saat aku melihatmu di balkon itu…”

Aku hanya diam dan mengerutkan keningku, berpura-pura tidak mengerti apa yang dikatakannya.

“Jadi…” gumamku dan melangkah mundur.
“Kau menghilang kemana beberapa hari ini?” tanyaku lagi dan Yi Fan tertawa.
“Tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja. Menenangkan diri, dan mencari ide bagaimana menghadapi ibumu.”
“Dan kau sudah menemukan caranya?”
“Tidak bisa dikatakan sudah ditemukan, tetapi aku ingin bersikap biasa saja di hadapannya. Kau juga… bersikaplah seperti biasa… Jangan terlalu galak padanya, dia masih ibumu.”
“Dan aku berharap kau menemukan kenyataan kalau dia bukan ibuku.”
“Heyyy.” Yi Fan menepuk-nepuk pelan pipiku dan mendadak tersenyum lebar.
“Pura-puralah mengambil bolanya, ayahku sudah di dekat sini. Jangan menoleh.” bisiknya dan tertawa. Tertawa paksa.
Aku berlari kecil untuk mengambil bola yang dilemparnya tadi dan men-dribel bola itu beberapa kali.

“Hey. Kalian baru kenal sudah sangat dekat sekali ya? Membuatku lega.” kata ahjussi senang dan aku langsung berbalik.
“Dia suka bermain basket juga.” jawab Yi Fan dan ahjussi tertawa.
“Kau pernah berada dalam tim basket juga?”
“Tidak.” jawabku cepat dan mereka berdua tertawa.

Tawa Yi Fan terhenti begitu melihat eomma ikut berada di lapangan. Aku mengerlingkan mataku dan menoleh ke arah Yi Fan.

“Ayo kita makan.” kata ahjussi dan melangkah pergi.
“Kalian berdua benar-benar gila.” kata eomma kesal dan menarik tanganku.
“Ada seseorang lagi yang lebih gila.” jawabku dan menepis tangan eomma.
“Lupakan saja dia. Ayo.” tukas Yi Fan dan merangkulku dan kembali ke dalam rumah.

“Ahh. Kevin-ah? Kau tidak menjemput pacarmu?” tanya ahjussi dan Yi Fan terdiam untuk sesaat.
“Oh ya. Dia sedang bersama keluarganya, ibunya akan menikah lagi.” jawab Yi Fan sambil melirik eomma, kemudian tersenyum tipis padaku.
“Wow. Sayang sekali. Baiklah. Bagaimana dengan Eun Yoo-ssi? Kau sudah punya pacar?” tanya ahjussi dan aku langsung mengangguk.
“Kebetulan sekali, pacarku juga sedang bersama calon keluarga barunya.” jawabku dan eomma mempelototiku.
“Ehh?” Ahjussi mengerutkan keningnya bingung.
“Ayahnya mungkin berencana untuk menikah lagi.” jawabku dan eomma menendang kakiku. Aku menatapnya sekilas dan tertawa pelan.
“Kenapa menendangku? Aku tidak salah bicarakan?” tanyaku tanpa merasa takut pada eomma lagi.
“Makanlah.” tandas eomma dan melahap makan malamnya.

Yi Fan yang duduk di sampingku tertawa pelan dan mengambilkanku makanan.

“Hey dad. Tadinya aku berharap kau menjodohkanku dengannya.” kata Yi Fan dan menunjukku dengan sumpitnya.
“Hahahahaha! Kau menyukai Eun Yoo juga? Kau playboy sekali!” tukas ahjussi dan Yi Fan tertawa malas.
“Eun Yoo-ssi. Kau menyukainya?” tanya ahjussi dan wajahku langsung memerah. Aku berdeham pelan, mencoba bersikap normal dan menatap Yi Fan.
“Not bad.” jawabku dan Yi Fan memanyunkan bibirnya.
“Kev… Kau yakin tidak mau bertemu dulu dengan…”
“Stop it, dad! Kita sudah berjanji untuk tidak saling ikut campur tentang pasangan masing-masing. Kau lupa?”
“Ah?! Benar sekali! Pantas saja kau hanya diam saja melihat kami. Tidak seperti dulu.”
“Dad. Kau juga sudah berjanji kalau tidak akan mengatakan apapun tentang apa yang tidak bisa kuingat jelas.”
“Ohh… maaf.” gumam ahjussi dan menatap Yi Fan dengan tatapan merasa bersalah.
“Kalau aku sudah bisa mengingat semuanya, hal pertama yang akan kuberitahu padamu adalah, orang yang membuatku kecelakaan.” gumam Yi Fan pelan.
“Kau ingat CCTV itu? Aku yakin aku melihat orang itu.”
“Sudahlah.” tandas ahjussi dan Yi Fan menoleh ke arahku dengan senyuman tipis.
“Kau penasaran?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Akan kuceritakan nanti.” bisiknya dan melirik eomma.
“Kalau aku bisa mengulang waktu, aku ingin kembali ke hari itu dan kejadian itu tidak akan terjadi.” kata ahjussi pelan. Dia terlihat merasa bersalah dan tertekan sekali.
“Aku juga ingin mengulang waktu.” gumam Yi Fan pelan.
“Untuk apa?” tanya ahjussi dan Yi Fan menutup rapat mulutnya, kemudian tersenyum lebar. Tidak ingin mengatakan alasannya pada ahjussi.
“Kalau kau, ada?” tanya Yi Fan dan menoleh ke arahku.
“Tentu saja ada.” jawabku pelan.
“Apa?”
“Aku ingin mengulang waktu saat aku pertama kalinya berkenalan dengan… pacarku. Seharusnya aku tidak menyukainya dan hari ini mungkin perasaanku juga berbeda.”
“Kalian bertengkar?” tanya ahjussi dan aku menggeleng cepat.
“Tidak. Aku sudah kenyang, terimakasih untuk makan malamnya.” tandasku cepat dan langsung beranjak dari kursi dan bergegas kembali ke kamarku. Aku benar-benar tidak bisa menahan perasaan sakitku lagi.

“Aku harus bicara dengannya.” Samar-samar terdengar suara eomma.
“Aku saja. Ahjumma kau makan saja dengan tenang, aku juga sudah kenyang.” potong Yi Fan cepat dan aku langsung menutup pintu kamar.

“Hey…” Yi Fan masuk ke dalam kamar dan perlahan melangkah mendekatiku.
“Walaupun saat itu kau tidak memanggilku, aku yang akan memanggilmu, karena aku sudah terlalu menyukaimu dan hari ini semuanya akan tetap sama. Jadi jangan menyesali apapun yang sudah kita lakukan… kau sama sekali tidak bersalah.” katanya pelan dan menepuk pelan pundakku.
“Sakit sekalikan…” gumamnya dan aku hanya diam. Ia mendekatkan wajahnya dan menyeka airmataku.
“Dan semakin sakit saat kau menyentuhku.” jawabku dan Yi Fan tertawa kering.
“Maaf…” Yi Fan menjauh dan menghela nafas pelan.
“Keluarlah dulu. Aku ingin menangis dan aku tidak mau kau melihatnya.” tukasku.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku tidak mau menangis bersamamu. Itu lebih menyakitkan.” tukasku dan langsung mendorongnya pelan.
“Baiklah Eun Yoo-ssi.” gumamnya dan melangkah menjauh. Setelah pintu tertutup rapat, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur dan menutupi wajahku dengan bantal.

Aku sudah terlalu lelah untuk menangis, dan tangisan hari ini akan menjadi tangisan paling menyakitkan dalam hidupku.
————————

“Ha!” Aku memekik kaget, baru saja aku membuka mataku, aku melihat Yi Fan sedang di sampingku, menatapku. Aku langsung bangun dan menjauh darinya.
“Kaget sekali ya?” tanyanya dan tertawa pelan.
“Sedang apa kau?” tanyaku dan Yi Fan tertawa lagi.
“Menunggumu bangun.” jawabnya dan ikut bangun juga.
“Ke…kenapa di sini?”
“Hey. Kenapa takut sekali?” Yi Fan menggenggam tanganku dan duduk mendekatiku.
“Aku kaget, bukan takut.” jawabku cepat dan melirik jam dinding. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. membuatku merinding.
“Kau tidak tidur?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng.
“Aku sudah menemukan caranya.”
“Sudahlah. Bagaimanapun kita tidak bisa melawan eomma. Aku menyerah saja. Asal aku masih bisa bertemu denganmu dan melihatmu sebagai kakakku, kurasa itu sudah cukup.” jelasku pelan. Itulah keputusan yang kudapatkan saat aku menangis sepanjang malam.

“Aku tidak. Masih banyak yang ingin kulakukan bersamamu sebagai pacarmu, bukan kakakmu.” jawabnya
“Kalau begitu kenapa tidak langsung memberi tahu ayahmu saja?”
“Tentu saja akan kulakukan dari awal kalau aku bisa. Karena aku yakin dad pasti akan mengalah padaku, makanya ibumu takut aku mengatakannya, kalau itu terjadi rencananya pasti gagal.”
“Kenapa tidak…”
“Aku sudah terlanjur berjanji pada dad. Aku tidak akan merusak keinginannya untuk menikah lagi, tetapi aku tidak menyangka ia masih mencintai wanita yang sama.”
“Kalau begitu, cara apapun yang kita lakukan tidak akan berhasil.” gumamku pelan dan Yi Fan langsung menarikku ke dekapannya.
“Aku tidak mau membuat janji tentang apapun lagi. Seharusnya janji-janji itu tidak pernah ada.” gumamnya dan mengelus pelan punggungku.
“Kalau begitu aku saja yang membuat janji.” kataku cepat dan menatapnya lekat-lekat.
“Untuk apa?”
“Kehidupan berikutnya, seandainya kita bukan saudara. Kalau kita bertemu lagi, aku yang akan duluan menyukaimu dan menanyakan namamu lagi.” kataku dengan mantap. Yi Fan tersenyum tipis dan menatapku lembut.
“Kalau kau salah mengenali orang lain selain aku dan malah mencintainya, bagaimana denganku?”
“Hm…” Aku terdiam dan Yi Fan menangkup wajahku dengan telapak tangannya yang cukup besar hingga bisa menangkup seluruh sisi wajahku.
“Jangan membuat kesalahan yang sama seperti aku lagi.” gumamnya dan menatapku lekat-lekat.
“Aku yakin aku tidak akan…” Belum selesai aku menjelaskan, Yi Fan mendekatkan wajahnya dan membuatku terdiam.
“Maaf.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas. Kemudian ia menatapku lagi dan mengulum bibirku dengan perlahan.
“Aku tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai adikku,” katanya pelan dan mengulum bibirku lagi.
“Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana aku bisa tanpamu, tanpa melihatmu, tanpa menyentuh.” lanjutnya dan semakin menempelkan tubuhnya padaku.
“Yi Fan-ah…”
Yi Fan sama sekali tidak mengatakan apapun lagi dan hanya mengulum bibirku.
Airmataku mengalir lagi begitu menyadari segalanya. Ini benar-benar akan berakhir. Aku benar-benar hanya akan menjadi adiknya dan mungkin namaku juga akan berubah lagi.
—————————–

“Good Morning.” bisikkan lembut itu membuatku terbangun sepenuhnya. Bahkan saat aku menyadari sedang ada di mana aku sekarang, dan mengingat apa yang terjadi semalam membuatku ingin memekik keras.
“Heyyy… Kau pucat sekali.” bisiknya pelan dan aku mendengus pelan.
“Boleh aku berteriak? Apa yang kita lakukan semalam?” tanyaku kesal dan Yi Fan tertawa pelan.
“Maaf… Aku…”
“Sebentar lagi aku akan menjadi adikmu, jadi…”
“Selama mereka belum menikah, kau masih pacarku. Dan kalau saja semalam aku tidak berhenti, mereka benar-benar tidak bisa menikah,” katanya pelan.
“Maaf membuatmu takut.” gumamnya lirih dan memelukku dengan erat.
“Cara yang sudah kau temukan itu apa? Ini?” tanyaku.
“Hmm. Hanya saja aku tidak bisa melakukannya. Ini terlalu buruk.”
“Kau membuatku hampir membencimu untuk beberapa menit.” bisikku dan menarik bed cover untuk menutupi seluruh wajahku dan tubuhku, sekaligus mencoba menenangkan jantungku yang berdegup kencang.

Aku teringat pertanyaan Heejin beberapa minggu yang lalu.
Heejin-ah. Orang yang tidur sekamar bahkan tidur bersamaa denganku sekarang ini akan menjadi kakakku.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Heejin kalau sekarang aku mengatakan itu padanya.

“Eun Yoo-ah. Ada apa? Kau masih marah?” tanyanya dan ikut memasukkan kepalanya ke dalam bed cover.
“Tidak.” jawabku dan membuka mataku kemudian menatapnya.
“Heejin pernah bertanya tentang ini.” gumamku dan Yi Fan mengerutkan keningnya.
“Tentang apa?”
“Tentang tidur bersamamu.” jawabku pelan dan memejamkan mataku lagi. Aku merasa ini sangat memalukan sekali. Yi Fan terkekeh pelan, kemudian menangkup wajahku.
“Lihat aku.” pintanya dan aku membuka mataku perlahan.
“Aku tidak melakukan apapun, jadi jangan takut, bahkan kau tidak perlu malu. Kita hanya tidur dan berciuman. Diluar sana banyak pasangan yang melakukan hal-hal yang lebih luar biasa dari ini. Jadi…”
“Mereka pasangan yang normal, dan bahkan sudah menikah.” potongku dan Yi Fan tertawa pelan.
“Kau terlalu polos.” katanya dan tertawa lagi.
“Memangnya bukan begitu?” tanyaku bingung dan Yi Fan berdeham.
“Bahkan yang baru bertemu di bar saja bisa langsung tidur bersama, belum menjadi pasangan…”
“Ada yang seperti itu?!” Aku memekik tertahan dan Yi Fan tertawa lagi.
“Kau benar-benar polos,” katanya dan mencubit pipiku.
“Membuatku semakin mencintaimu.” lanjutnya pelan dan mengecup bibirku.
“Bagaimana kau bisa tahu tentang bar? Kau pernah ke sana ya?” tudingku dan Yi Fan menahan tawanya.
“Aku melihatnya di film.”
“Film yadong?” tudingku lagi dan Yi Fan tertawa keras, membuatku langsung membekap mulutnya dengan tanganku.
“Bagaimana kau bisa tahu ada film yadong? Pernah?” godanya dan aku menggeleng cepat.
“Dari komik.” jawabku dan Yi Fan menahan tawanya kemudian tiba-tiba menatapku dengan serius.
“Well…” gumamnya pelan dan menempelkan telapak tanganku di dadanya. Jantung berdebar kencang sekali, bahkan hampir melebihi kecepatan degup jantungku.
“Hari ini kau membuat jantungku berdebar 100 kali lebih kencang daripada saat pertama kali aku menyukaimu, berbicara denganmu dan menyentuhmu.” bisiknya pelan.
“Ke…ken…kena…pa…?” tanyaku gugup dan menarik kembali tanganku.
“Karena kau… sangat menggemaskan.” jawabnya dan tersenyum tipis.
“Hah?” Aku menatapnya bingung dan Yi Fan tertawa lagi, kemudian mengecup bibirku sekilas.
“Hari ini…”

“Eun Yoo! Bangun! Ini sudah siang!!” Teriakan eomma membuat Yi Fan menghentikan ucapannya.
“Ahh. Aku harus…”
“Nanti saja.” Tahan Yi Fan dan membuatku batal untuk beranjak dari tempat tidur.
“Kau masih harus bersamaku. Lagipula ini masih pagi.” gumamnya dan memelukku kemudian aku melirik jam dinding.
“Ini sudah hampir jam 9. Kau tidak kerja?”
“Huh? Dari mana kau tahu kalau aku bekerja?”
“Menebak. Semalam kau terlihat seperti itu.”
“Um… Baiklah. Bisa dibilang seperti itu. Aku kuliah sambil bekerja. Karena itu perusahaan milik Dad, jadi aku bisa sering tidak masuk kerja, aku lebih memilih kuliah.”
“Kenapa tidak kuliah di Seoul saja? Lebih dekat dan lebih banyak universitas yang bagus.”
“Karena tidak ada kau di Seoul.”
Aku menyipitkan mataku dan menatapnya. Ia terlihat kaget dengan ucapannya sendiri.
“Kau kuliah di Wonju karena aku?” tanyaku bingung dan Yi Fan menggeleng cepat.
“Kau…”
“Setiap satu pertanyaan, kau harus menciumku dulu.” potongnya dan aku langsung menutup rapat mulutku.
“Hahaha. Baiklah. Jujur saja itu bukan alasanku, aku kuliah di Wonju karena aku tidak suka di Seoul. Aku tidak pernah berencana bekerja di perusahaan Dad.”
“Jadi bertemu denganku benar-benar hanya kebetulan ya?” tanyaku dan ia mengangguk pelan.
“Ponselmu bergetar lagi.” gumamnya dan menyodorkan ponselku yang daritadi memang sudah bergetar dan tidak kuhiraukan.
“Eonni?” Ia menatap bingung layar ponselku. Aku langsung menyambar ponselku, tetapi Yi Fan terlebih dahulu menerima telepon dari eonni dan membuat loudspeaker agar suara eonni terdengar.
“Ya!!!! Kwon Eun Yoo!!! Kemana saja kau semalam?!!” pekik eonni dan Yi Fan menggeleng kesal.
“Mau apalagi dia?” bisik Yi Fan dan aku hanya tertawa pelan.
“Ada apa eonni?” tanyaku pelan.
“Kau di mana?”
“Di…”
“Ah! Sudahlah. Aku sudah tahu gosipnya! Ibumu akan menikah lagi ya? Seisi kantor membicarakan itu hari ini!”
“Kantor?”
“Iya. Kau baik-baik saja?”
“Kau bekerja di perusahaanku ya?!” tanya Yi Fan galak dan eonni memekik kaget.
“Eun Yoo! Kau bersama Yi Fan?!!”
“Iya, eonni.”
“Yi Fan-ssi. Maaf… Aku tidak bermaksud…”
“Jangan katakan apapun pada siapapun tentang aku dan Eun Yoo. Kalau sampai itu terjadi, kau…”
“Tenang saja. Aku tidak akan mengatakan apapun. Jadi jangan memecatku. Annyeong!” potong eonni dan langsung memutuskan teleponnya. Yi Fan menghela nafas dan memelukku dengan erat.

“Hari ini… Dad menyuruhku ke gereja,” gumam Yi Fan pelan dan aku meringis pelan.
“Dan menemani kalian membeli gaun…” lanjutnya dan menghela nafas pelan. Aku sudah membayangkan ini semalam, membuatku ingin kembali ke Wonju.

“Aku membawa hadiah ulang tahunmu.” potongku pelan, untuk mengahlikan pembicaraan. Aku sangat tidak ingin membahas apa yang akan dia lakukan hari ini.
“Happy belated birthday.” gumamku lagi dan airmataku perlahan mengalir keluar. Untuk mengucapkan selamat ulang tahun di hari yang benar saja aku sudah tidak bisa lagi.
“Huh? Aku bahkan lupa kalau aku berulang tahun semalam.”

Aku tidak menjawab ucapannya dan langsung beranjak dari tempat tidur. Aku tidak mau bersamanya lebih lama lagi. Setiap aku bersamanya, setiap dia menyentuhku, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa, sangat sakit dan sangat sesak.

“Ini,” Aku meraih paper bag yang kuletakkan diujung ruangan dan meletakannya di samping Yi Fan. “Kuharap kau menyukainya.” gumamku dan langsung keluar dari kamar.

“Tumben sekali kau tidak bangun pagi? Biasanya libur saja kau tetap bangun pagi. Ada apa?” tanya eomma dan berjalan mendekatiku. Kuharap dia tidak masuk ke kamarku sekarang.
“Menurut eomma kenapa?” tanyaku balik dan eomma menatapku bingung.
“Entahlah…” gumam eomma dan memperhatikanku dari atas sampai bawah, kemudian ke atas lagi.
“Kau berbagi parfum dengannya?” tanya eomma dan membelak sedikit saat mengendus ke arahku.
“Dengan siapa?!” tanyaku balik dan eomma mengendus lagi.
“Aku yakin sekali ini parfum yang sama dengan anak itu.” gumam eomma dan aku mengerutkan keningku. Aku tidak bisa merasakan aroma apapun.
“Maksud eomma Yi Fan?” tanyaku dan eomma mengangguk cepat.
“Kalian berbagi parfum?” tanya eomma lagi dan aku menghela nafas.
“Anggap saja begitu deh.” jawabku asal dan melangkah menjauhi eomma. Aku tidak mau sampai eomma tahu alasan yang sebenarnya.
“Kau mau ke mana?” tanya eomma lagi.
“Aku mau mandi.”
“Kau belum mandi? Kamar mandi ada di kamarmu! Ada apa sih denganmu?!”
“Terserahlah.” jawabku malas dan masuk kembali ke kamar, lalu mengunci pintunya. Aku yakin eomma akan masuk dan mengomeliku lagi.
“Kkamjjakya!” Aku memekik tertahan saat melihat Yi Fan berdiri di dekat pintu. Ia pasti sedang menguping lagi.
“Kenapa tidak katakan saja kau tidur bersamaku?” tanya Yi Fan dan aku menatapnya tajam.
“Kau mau dia membunuhku?” tanyaku kesal dan Yi Fan tertawa.
“Hey. Aku suka ini.” jawabnya dan menelentangkan kedua tangannya dan memperlihatkan baju yang dikenakannya. Itu baju yang kuberikan tadi.
“Baguslah.” tukasku dan melangkah masuk ke kamar mandi.
“Tunggu.” Yi Fan menahan pintu kamar mandi dan ikut masuk ke dalam.
“Ada apa?”
“Mau mandi bersama?” tanya Yi Fan dan aku langsung memekik kesal.
“Suaramu!” Yi Fan membekap mulutku dan melotot kaget.
“Kau…” Belum sempat aku mengomelinya lagi, Yi Fan tertawa dan dia membuka sebuah pintu yang tadinya kupikir pintu lemari, tetapi… bukan.
“Pintu ajaib.” bisiknya dan tertawa lagi.
“Maaf mengagetkanmu. Aku hanya bercanda tadi.” lanjutnya dan aku langsung mengintip ke arah pintu yang dibukanya tadi.
“Kamar mandi ini penghubung antara kamarmu dan kamarku. Semalam aku masuk ke kamarmu lewat pintu ini. Tidak ada yang tahu, kau orang pertama yang tahu tentang ini.” jelasnya sambil melangkah masuk ke kamarnya.
“Oh ya? Memangnya kau yang membuatnya sendiri?”
“Yap. 4 tahun yang lalu aku belajar menjadi arsitek, jadi aku mencoba yang ini.”
“Kau… Apa yang tidak bisa kau lakukan sih?!” tanyaku geram dan dia tertawa pelan.
“Mengingkari janji.” jawabnya dan tersenyum paksa.
“Sudahlah” tandasku dan kembali ke kamar mandi. Jawabannya barusan membuatku semakin kesal.
Andai saja dia memang bisa mengingkari janjinya, mungkin dari awal dia sudah mengatakan segalanya pada ahjussi, dan mungkin… dia tidak akan bertemu denganku karena…
sudahlah… Aku tidak ingin memikirnya lagi.
^————————————————^

Huft. Aku menghela nafas pelan saat eomma dan ahjussi berjalan menjauh keluar dari gereja. Mereka baru selesai mendaftarkan pernikahan mereka, dan aku sama sekali tidak ingin tahu tanggal berapa mereka akan menikah.

“Hey. Ayo kemari.” Yi Fan menarikku berdiri di depan altar dan membuatku menatap ke arah altar lekat-lekat.
Jadi mereka akan berdiri dan membuat sumpah di sini. Sumpah pernikahan… seperti apa ya isinya?

“I, Wu Yi Fan…”
“Take you… Kwon Eun Yoo…”
“To have and hold,”
“From this day forward,”
“For better, for worse,”
“For richer, for poorer,”
“In Sickness and in health,”
“To love,”
“To cherish,”
“Till death us do part.”

Aku terdiam membeku saat mendengar perkataan Yi Fan barusan. Dia mengucapkannya dengan sangat jelas dan tenang.

“I Do.” ucapnya lagi dan tersenyum tipis, kemudian menggenggam jemariku.
Apakah tadi itu sumpah pernikahan? Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana dia…

“Hey. Katakan sesuatu.” pintanya dan mendekatkan wajahnya.
Apa yang harus kukatakan? Ikut mengatakan ‘I Do?’ atau…
“Kita menikah?” tanyaku akhirnya. Aku benar-benar bingung dan dia hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaanku.
“Anggap saja sudah.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas.
“Bagaimana kau bisa mengetahui isi sumpah pernikahan seperti itu?”
“Aku masih mengingatnya.” gumam Yi Fan dan tersenyum lagi.
“Oh iya. Kau orang dari masa lalu.” gumamku asal dan dia langsung menangkup wajahku.
“Setidaknya aku sudah mengucapkan itu padamu. Meskipun sekarang aku tidak bisa benar-benar menikahimu.”
“Lalu, apa yang harus dikatakan pengantin wanitanya?” tanyaku dan dia tersenyum lagi.
“Setelah mengulang sumpah yang sama, lalu mengatakan ‘I Do’, kemudian pastor akan menyatakan kalau pernikahan sudah sah dan sebagainya.”
“Oh ya? Semudah itu?”
“Tidak. Teorinya memang terdengar mudah, tetapi prakteknya tidak semudah itu. Hanya saja aku tidak bisa menjelaskannya.”
“Baiklah.” Aku memanyunkan bibirku dan dia tertawa lagi.
“Ayo.” Yi Fan menggenggam jemariku dan turun dari altar, sedangkan aku masih berdiri diam di tempat yang sama.
“I Do.” ucapku pelan sambil menatap punggung Yi Fan. dan Yi Fan menghentikan langkahnya kemudian berbalik ke arahku, ini pertama kalinya aku berdiri sejajar dengannya, wajahnya terlihat jelas kalau seperti ini.

“Suatu hari kau harus mengatakan itu di hadapan pastornya.” gumam Yi Fan dan menepuk pelan pipiku.
“Dan di hadapanmu.” sambungku dan Yi Fan menggeleng.
“Di kehidupan berikutnya?”
“Dan kehidupan sekarang.”
“Eun Yoo-ah…”
“Ayo.” potongku dan melepas genggaman tangannya lalu berjalan cepat keluar dari gereja.

Baru saja aku menuruni tangga, Yi Fan menahan pergelangan tanganku dan memelukku dari belakang.
“Aku terpaksa melihat pendaftaran pernikahan mereka dan ternyata… 1 minggu lagi. Aku tidak menyangka mereka bahkan sudah mendaftarkannya 2 bulan yang lalu dan hari ini mereka hanya datang untuk memastikan kembali.”
Aku menarik nafas panjang dan menghela dengan kesal.
“1 minggu lagi kau akan masuk kuliah dan aku… aku berencana kembali ke Kanada saja.”
“Kenapa?” tanyaku dan langsung melepas paksa pelukannya dan berbalik menghadapnya.
“Kau…” Aku terdiam saat melihat wajahnya. Bukan hanya aku yang sedang diam-diam mengeluarkan airmata, tetapi dia juga.
“Aku tidak ingin tinggal bersamamu di dalam satu rumah.”
“Kenapa? Kan sudah kukatakan aku bisa menganggapmu sebagai kakakku, yang penting aku masih bisa bertemu denganmu setiap hari.”
“Aku tidak bisa menganggapmu sebagai adikku.”
“Yi Fan-ah…”
“Let’s meet again… in the next life, without any sad thing.”
“Baiklah. Aku hanya akan kembali ke Wonju dan kembali ke kehidupan awalku. Seperti sebelum aku bertemu denganmu. Begitukan?”
“Ya. Dan sekarang tanpa ahjumma maupun eonnimu. Kau aman sekarang.”
“Bagaimana kalau aku tinggal di asrama? Di kamarmu?”
Yi Fan melotot dan menggeleng cepat.

“Uljima.” katanya dan menyeka airmataku.
“Ayo. Aku akan membawamu melihat Seoul.” tukas dan menggenggam jemariku kembali menarikku pergi.

Aku berjalan sambil menunduk dalam-dalam. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Aku tanpa Yi Fan. Aku tanpa orang yang pertama kali membuatku bahagia di dunia, tanpa orang yang sangat mencintaiku, tanpa orang yang sangat kucintai.
Calon kakak tiriku.
—————————————————–
TO BE CONTINUE

HELLO ALL !!
Sorry lanjutannya telat banget.
Sudah mau valentine baru dipost.
Hhehehee

Happy Valentine’s Day All.
Valentine’s Day bukan cuma buat pasangan kok, jadi yang jomblo gak perlu galau.
Hari kasih sayang bisa ditunjukin buat orangtua, sahabat, maupun bias!

Anyway…
Tanggal 14 itu movie SOWK dirilis.
Sudah siap mental buat nonton?
Jujur saja saya belum.
Hahhaha

Leave comment yaaa
Part 7 diusahakan lebih cepat.

Love ya!!

-Eve RyLin

Advertisements

8 thoughts on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 6]

  1. mirisnya pas Eun Yoo bilang ‘I do’ sama Yifan mau balik ke Kanada ahhh ;~~~;
    jadi soal reinkarnasi itu? kecelakaan? kirain Yifan bisa ngelakuin hal ajaib cuz dia inget soal kehidupan sebelumnya, n saya kira papihnya Yifan mau jodohin Yifan-Eun Yoo XDD

    KAK »»» “Let’s meet again… in the next life, without any sad thing.” ««« DUH MIRISNYA.

    belum nonton SOWK dong huahahah tapi harus, harus nonton dah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s