Hello!
Annyeong!
Bonjour!
Eve and FANYOO IS BACK !!

Merry Christmas and Happy New Year!!!
Sorry lanjutannya lama banget ya sampai udah aja yang nagih di wall FB.
Kali ini saya bukan lupa, tapi sibuk banget sampe ga sempat nge post.
Hahhaha

Di part 4 ada reader yang nanya apa saya sudah lihat trailer movie dan MV Somewhere we only know.
Well, Saya sudah dengar lagunya, belum lihat MV, trailernya udah ngintip dikit. wkwkkwk
Ga berani nonton MV itu dulu, takut ngerusak mood FF. Lihat foto-foto filmnya aja udah sedikit merusak mood.
Hhehehehe

So, Happy Reading all!!!!

294349_original

“Ireona.” bisikan lembut itu membuatku langsung membuka mataku dan menelan ludah untuk menormalkan telingaku yang terasa tersumbat karena perubahan suhu.
“Kau tidur nyenyak sekali.” bisiknya lagi dan aku tersenyum tipis sambil mengeliat pelan. badanku terasa kaku karena tidur dengan posisi duduk.
“Seperti yang kau inginkan.” jawabku dan Yi Fan tertawa.
10 menit sejak pesawat ini take off, ia terus memaksaku untuk tidur, dan akhirnya aku hanya berpura-pura tidur.
Sesekali aku mengintipnya yang sedang sibuk dengan laptopnya, wajahnya sangat serius saat menatap layar laptopnya. Dia sedang sibuk dengan skripsinya tetapi masih sempat membawaku ke Yokohama.
“Sebentar lagi sampai.” katanya dan menunjuk jendela di sampingku.
Aku mengintip ke bawah, gedung-gedung dan rumah-rumah itu terlihat seperti miniatur perkotaan jika dilihat dari atas sini.
“Bagaimana skripsimu?” tanyaku dan ia mengerutkan keningnya.
“Skripsi?”
“Iya. Daritadi kau mengerjakan skripsimu kan?”
“Skripsiku sudah selesai. Tinggal menunggu waktu sidangku. Maaf lupa memberitahumu, saat itu kau sedang sibuk dengan ujianmu.”
“Dan kau tidak terlihat stress memikirkan semua itu.” Aku menatapnya takjub.
“Um. Sedikit.”
“Amazing…” gumamku.
“Dan itu artinya aku tidak bisa melihatmu lagi di kampus…” gumamku lagi.
Yi Fan tertawa dan mengelus pipiku.
“Tidak juga,” Ia tersenyum tipis.
“Aku tidak akan meninggalkan kampus itu selama kau masih di sana.” jawabnya dan tersenyum lebar. Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya. Apa yang akan dia lakukan lagi di kampus? Mengajar? Maldo andwae…
Pesawat mendarat di Bandara Narita dan langsung membuat pikiranku tentang Yi Fan buyar.
Dari Tokyo kami akan langsung pergi ke Yokohama, dan itu membuat jantungku berdebar.
Aku takut, tetapi aku juga merasa senang, terlebih lagi aku bersama seseorang yang selalu membuat hatiku tidak lagi terasa kacau seperti biasanya.

Seseorang menjemput kami dan membawakan koperku. Orang itu tersenyum tipis padaku kemudian berbicara pada Yi Fan dengan bahasa mandarin.

Yi Fan masih terus mengobrol dengan orang itu dan sesekali menoleh ke arahku, kemudian menggenggam erat jemariku. Membuatku menatapnya dengan tatapan bingung, aku ingin bertanya tentang apa yang mereka bicarakan, tetapi pertanyaanku tertahan di ujung bibirku.

“Tadinya aku ingin naik kereta api Narita Express saja, tetapi dia benar-benar datang menjemput.” bisik Yi Fan sambil menundukkan kepalanya.

Perbedaan tinggi badan kami membuat Yi Fan harus terus menunduk, terkadang dia harus sedikit membungkuk. Meskipun aku tidak pendek. entah mengapa terasa pendek jika berada di sampingnya.

“Dia siapa?” tanyaku.
“Dia supir ayahku saat bekerja di Jepang dulu.”
“Tokyo?”
“Ya. Aku beberapa kali pernah ke Yokohama juga.”

Aku tersenyum tipis dan dia malah berhenti melangkah kemudian berdiri di hadapanku.

“Hari ini, kau kuizinkan menangis sepuasnya.”

Aku hanya tersenyum dan Yi Fan menghela nafas pelan.

“Kajja.”
♪♪♪♪♪♪♪♪

The Yokohama Foreign General Cemetery
96 Yamate Cho, Naka-ku, Yokohama, Japan.

Aku memaksakan langkah kakiku mendekati makam ayahku.
Di batu nisan itu tertulis nama koreanya serta nama jepangnya.
Aku mengepalkan telapak tanganku dan menoleh ke arah Yi Fan yang berdiri jauh beberapa meter dariku.

Jujur saja, aku membencinya. Aku benci ayahku yang membuatku terlahir di dunia ini dan membuatku tersiksa sedari aku masih kecil sampai sekarang.

“Appa. Mianhae.” gumamku dan berlutut di hadapan makamnya.
“Maaf karena aku membencimu. Aku bahkan semakin membencimu karena appa membuat tinggal di rumah itu. Aku benar-benar lebih baik tinggal di sini tanpa mengenal siapapun daripada aku harus tinggal di rumah yang lebih mirip sebuah neraka itu…”
“Appa… Eomma hampir saja menikah dengan orang lain sebelum kau menemukan kami. Kalau saja saat itu kau tidak menemukan kami, mungkin sekarang aku masih tinggal di sini, hidup bahagia bersama eomma dan ayah baruku, tetapi… Terimakasih karena kau menemukan kami dan membuatku bertemu dengan Yi Fan. Terimakasih…”

Aku mengepalkan tanganku lagi dan menahan ucapanku. Aku membiarkan airmataku terus membasahi pipiku, aku benar-benar ingin mengatakan semuanya sekarang, tetapi aku tidak bisa lagi. Yi Fan… aku yakin dia mendengarkanku.

“Appa…” Aku menghentikan ucapanku lagi dan mengepalkan tanganku.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan menangis seperti ini.

“Appa…”
“Aku akan mencari eomma sekarang… Aku ingin tinggal lagi bersama eomma. Aku yakin kali ini eomma tidak akan mengurungku di dalamrumah lagi, tidak akan menyembunyikanku dari siapapun lagi. Tidak akan…”

Perlahan Yi Fan mengelus rambutku dan ikut berlutut di sampingku. Ia menyeka airmataku dan menatapku lekat-lekat. Saat menatapnya aku merasa airmataku semakin mengalir deras.
Ini pertama kalinya aku melihat Yi Fan menangis, wajah dan matanya merah.

“Yi…”
“Sst…” Yi Fan menahan ucapanku dan menyeka airmatanya sendiri.
“Maaf.” Yi Fan menyeka airmataku lagi kemudian menatap lurus makam ayahku. Raut wajahnya seolah ia sedang mengatakan sesuatu pada ayah, dan itu membuat airmatanya keluar lagi. Yi Fan bahkan bersujud cukup lama.

“Kau kenapa?” tanyaku setelah aku selesai dan setelah wajah Yi Fan kembali terlihat tenang.
“Hmm… Hanya ingin menangis bersamamu.” jawabnya dan mengelus pipiku dengan lembut.
“Kau bilang apa pada ayahku?”
“Hmm… Itu…”

“Etsuko-chan?” panggilan itu membuat Yi Fan berhenti dan langsung membuatku menoleh cepat.
“Shizuka obasan…” gumamku pelan saat menatap orang di hadapanku.
Dia adalah orang pertama yang berbicara padaku sejak aku masih kecil. Dia juga menjadi guru home schoolingku, dia yang menjagaku sejak aku lahir sampai aku meninggalkan Yokohama.
Shizuka obasan memelukku dengan erat dan saat ia menatapku, matanya berkaca-kaca.
“Kau sudah sangat dewasa.” katanya dan tersenyum. Aku hanya bisa tersenyum dan menoleh ke arah Yi Fan. Ia terlihat kaget, mungkin karena Shizuka obasan menggunakan bahasa Korea.
“Dan semakin mirip dengan eommamu.” lanjutnya.
“O…obasan… Kau tahu eomma di mana?”
“Aku tidak begitu tahu mengenai eommamu, tetapi aku punya ini…” gumamnya sambil mencari-cari sesuatu dari dalam tas tangannya.
“Ini. Kau boleh meneleponnya dan katakan kalau kau ingin memesan pakaian.” jelasnya dan aku tersenyum lega. Begitu juga dengan Yi Fan. Shizuka obasan menyodorkan selembar kartu nama berwarna emas padaku.
“Pakaian?” tanyaku bingung.
“Ya. Dia pemilik butik.”
“Oh! Obasan… Terimakasih banyak!”
“Lalu? Siapa ini? Tampan sekali?” tanyanya dan membuat Yi Fan menggeleng cepat.
“Namanya Wu Yi Fan.” kataku.
“Annyeonghaseyo.” Yi Fan membungkuk hormat.
“Kau orang cina ya?”
“Um, iya.” jawab Yi Fan dan tersenyum.
“Mom! Let’s get in the car!” teriakan itu membuat kami menoleh.
“Okay!”
“Nah. Itu putraku yang sering kubicarakan dulu. Dia baru kembali dari New York. Aku pulang dulu ya! Annyeong!” tandasnya dan langsung berlari kecil meninggalkan kami.

Aku menatap kartu nama itu lagi. Tertera nama butik dan juga nama jepang eomma.
Aku benar-benar tidak sabar menunggu besok.

“Bagaimana? Kau mau ke butik ini?” tanya Yi Fan dan aku menggeleng pelan.
“Aku ingin ke rumah lamaku dulu. Sangat dekat dari sini.”
“Oh ya?”
“Ya. Ayo.” Aku menarik tangannya dan kami keluar dari pemakaman.
“Hey.” Yi Fan menghentikan langkahnya dan menarik tanganku ke atas.
“Not like this, but like this,” Ia tersenyum tipis dan menggenggam jemariku.
Aku tertawa pelan dan menunjuk jalan kecil di depan gerbang pemakaman ini.
Jalan kecil yang tidak pernah kuketahui namanya tetapi selalu kulewati, jalanan di mana rumahku berada.
Tidak seberapa jauh kami berjalan, aku berhenti dan berdiri di depan sebuah rumah berwarna cokelat muda dan sedikit berwarna krem.
“Dulu warna putih.” gumamku dan Yi Fan mengangguk. Foto rumah yang dia tunjukkan pada memang masih berwarna putih.
“Balkon itu. Aku sering di sana.” Aku menunjuk balkon yang berada di sisi kanan rumah itu.
“Kenapa?”
“Eomma beberapa kali membiarkanku berdiri di balkon, kalau ahjussi itu datang.”
“Oh… Ahjussi itu tidak tahu tentangmu?”
“Tentu tidak.”
“Kau ingat wajahnya?”
“Tidak. Aku tidak pernah melihatnya dengan jelas. Terlalu jauh.” jawabku sambil berbalik dan berjalan ke arah berlawanan.

“Yokohama International School.” gumamku dan berdiri di depan pagar belakang sekolah ini.
Lapangan basketnya tidak berubah, masih sama seperti dulu.
“Aku ingin sekali bisa sekolah di sini.” gumamku lagi dan Yi Fan hanya mengelus rambutku.
“Dulu saat berdiri di balkon, aku suka melihat seseorang bermain basket di sini. Sangat keren.”
“Sangat keren?” tanya Yi Fan dan menyipitkan matanya.
“Ya. Sangat keren! Dia selalu bermain basket di sini setiap aku berdiri di balkon, karena dia aku jadi tidak terlalu bosan berdiri di balkon.”
“Well….” Yi Fan mendengus kesal dan memanjat pagar hitam di hadapan kami. Hanya dalam waktu singkat, dia sudah masuk dan mulai mendrible bola basket yang tergeletak di lapangan itu.

Aku tercekat saat memperhatikan setiap gerakannya. Dari cara dia men-dribel bola, memasukkan bola, lay up, dunk dan yang lainnya.
Dia bahkan lebih keren daripada Oppa yang kulihat dulu. Dan mereka mempunyai satu kemiripan, yaitu memanjat pagar. Sangat cepat.

Aku membuka pintu pagar yang memang tidak pernah dikunci itu. Oppa itu tidak tahu sehingga dia memanjat pagar, sama seperti Yi Fan.

“Hah?! Bisa dibuka?!” Yi Fan terbelak kaget dan aku tertawa pelan.
“Yeah. Dan oppa itu juga sama sepertimu… memanjat pagar.”
“Lalu? Sekarang siapa yang lebih keren? Aku atau dia?” tanyanya dan menatapku lekat-lekat.
“Kau…. cemburu?” tanyaku dan wajahnya langsung memerah.
“Tentu saja.” tukasnya dan mendribel bola lagi, kemudian memasukkan bola ke ring di belakangku dengan mulus.
“Sangat sangat keren.” kataku dan Yi Fan tertawa.
“Kalau begitu… cium aku.” katanya dan tersenyum tipis, kemudian menunjuk bibirnya.
Aku hanya diam dan menatapnya lekat-lekat. Jantungku berdebar semakin kencang.
“Hukuman karena kau memujiku.” lanjutnya dan tertawa pelan.
“Kenapa aku…?”
“Karena kau Kwon Eun Yoo. Hanya Kwon Eun Yoo yang boleh melakukannya.”
Aku semakin terdiam, dan hanya melangkah mendekat, kemudian aku menggenggam jemarinya, memejamkan mataku, sedikit berjinjit dan langsung mengecup bibir sekilas.

“Saranghae.” bisiknya dan menarikku semakin mendekat kemudian menangkup wajahku dan mengulum bibirku.
♪♪♪♪♪♪♪♪

KKR PORTHILL YOKOHAMA
Yokohama-shi, Kanagawa, Japan.

Aku menahan tawaku dan sesekali menoleh ke arah Yi Fan yang hanya diam di sampingku.
Tadinya aku mengira ia bisa mengucapkan bahasa jepang dengan sangat lancar, tetapi dia malah memintaku untuk bicara dengan resepsionis hotel yang tidak bisa berbahasa inggris dan memesan kamar hotel.

“Berhenti menertawaiku.” tukasnya saat kami berada di depan pintu kamar masing-masing.
“Baiklah. Maaf.” Aku memasang wajah serius dan Yi Fan tertawa pelan.
“Sudahlah. Istirahatlah dulu, kalau masih lelah kita pesan makanan saja.”
“Okay. Bye.” tandasku dan masuk ke kamarku.

Belum sempat pintu kamarku tertutup, resepsionis yang tadi melayaniku menahan pintu dan menyodorkan kartu nama butik eomma. Kemungkinan terjatuh saat aku mengeluarkan ponselku tadi.
Yang cukup mengejutkan adalah informasi dari resepsionis ini. Ia membuatku terpaksa memanggil Yi Fan lagi.

“Ada apa?” tanya Yi Fan kaget.
“Itu… eomma… ada di sini…”
“Hah?!”
“Ayolah. Acaranya sebentar lagi selesai.” pintaku dan menarik tangan Yi Fan.
“Okay okay.” jawabnya Yi Fan cepat dan langsung keluar dari kamarnya.
“Di mana?”
“Restoran Yamate Rose Terrace.”

Lift terbuka dan aku langsung keluar. Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan eomma lagi.
Pintu ballroom terbuka dan banyak pengunjung yang keluar, membuatku tidak bisa melangkah masuk.
“Lewat sini.” Yi Fan menarikku masuk lewat pintu belakang restoran dan di sana banyak sekali orang-orang yang berpakaian nyentrik, juga berpakaian casual.

“Excuse me? Where is Mrs. Mizuki Satomi?” tanya Yi Fan pada salah satu staff.
“Who are you?”
“She said she need new model, we come for it.” dustanya.
“Well? Follow me then.” Kami mengikuti staff itu dan berhenti di depan ruangan yang ditempeli kertas bertuliskan nama butik eomma.
“Satomi-san. Your new models is here.” kata staff itu dan Yi Fan langsung menerobos masuk tanpa persetujuan.
“Sorry, we are in hurry.” Yi Fan menarikku masuk dan menutup pintu dengan cepat.

“Eomma.” Aku melangkah pelan mendekati eomma yang sedang menatapku dengan kaget.
“Bagaimana kau…”
“Eomma!” Aku langsung memeluknya dan menahan air mataku, aku tidak ingin menangis di hadapannya.
“Bagaimana bisa kau menemukanku?”
“Entahlah. Ceritanya panjang sekali.”
“Wajahmu pucat,” Eomma menangkup wajahku dan memperhatikan wajahku dengan seksama.
“Kau baru menangis ya?”
“Tidak.”
“Jangan bohong. Kau bisa menemukanku, berarti kau sudah tahu semuanya. Bagaimana bisa?”
Aku menoleh ke arah Yi Fan yang sedang menundukkan kepalanya, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Dia yang duluan mengetahui semuanya.”
“Siapa dia?”
“Wu Yi Fan.” gumamku dan Yi Fan langsung menoleh ke arahku.
“Oh. Please come here.” kata eomma dan aku tertawa pelan.
“Eomma… Dia bisa berbahasa Korea juga,” jelasku.
“Annyeonghaseyo.” sapanya dan membungkuk hormat.
“Kita pernah bertemu?” tanya eomma dan Yi Fan menggeleng cepat.
“Wajahmu sangat familiar.” kata eomma lagi. Itu membuatku tertawa.
“Apakah eomma percaya reinkarnasi? Mungkin kalian saling mengenal di masa lalu.” jawabku dan Yi Fan langsung mempelototiku.
“Eomma. Malam ini tidur di kamarku ya? Aku sangat merindukanmu!”
“Tentu saja. Bagaimana dengan Yi Fan?”
“Dia punya kamar sendiri kok.”
“Oh ya? Aku mengira kalian menggunakan kamar yang sama. Hahaha!”
“Eomma!” Aku dan Yi Fan sama-sama tersipu malu sedangkan eomma masih tertawa puas.
Eomma masih seperti dulu, lucu dan suka bicara sembarangan. Meskipun dulu dia pernah membenciku, tetapi sekarang ia sangat menyayangiku.

“Eomma… Aku tidak takut pada balkon lagi karena dia,”
“Eh?” Yi Fan terbelak kaget dan eomma memelukku.
“Jangan membuatku mengingat masa lalu lagi. Saat itu aku benar-benar bersalah padamu.”
“Sudahlah eomma. Aku sudah sangat baik-baik saja sekarang. Jangan pikirkan lagi.”
“Terimakasih karena kau masih mau memaafkanku.” gumam eomma dan aku hanya diam.
Aku merasakan tangan Yi Fan mengelus lembut puncak kepalaku.
♪♪♪♪♪♪♪

Aku mengeliat pelan saat merasakan sinar matahari menerpa wajahku. Saat aku membuka mataku dan menoleh ke samping, eomma sudah tidak ada.
Aku benar-benar masih mengantuk sekali karena semalam aku dan eomma bercerita sampai subuh.

“Sudah bangun?” Suara itu membuatku terperanjat dan langsung memejamkan mataku lagi. Cepat sekali dia bangun, dan bagaimana dia bisa masuk ke kamarku?
“Eung? Belum.” gumamnya dan aku menahan senyumku.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ketukan di kaca jendela. Aku membuka sedikit mataku dan Yi Fan sedang berdiri membelakangiku, menatap keluar kamar.
Tiba-tiba dia berbalik dan aku memejamkan mataku lagi.
Sunyi. Tidak terdengar suara apapun.
Sesaat kemudian aku merasa Yi Fan menyentuh wajahku.
Aku langsung membuka mataku karena kaget.

“Oh. Sudah bangun?”
“Um… Sudah dari tadi.”
“Aku tahu kok.”
“Hah?”
“Wajahmu saat benar-benar tidur dan pura-pura tidur sangat berbeda.”
“Oh ya?”
“Kau mimpi buruk? Wajahmu ketakutan tadi. Kubangunkan, kau tidak bisa bangun… jadi…”
Yi Fan menghentikan ucapannya dan hanya menatapku.
“Jadi apa?” tanyaku setelah dia diam terlalu lama.
“Jadi aku membiarkanmu tetap tidur.”
“Ohhh. Semalam di bandara Heejin bilang apa saja padamu?”
“Hmm? Dia hanya bilang kau sering mimpi buruk saat tidur.”
“Memang sih. Tetapi belakangan ini aku tidak mimpi buruk lagi. Herannya, hari ini aku mimpi lagi. Bukan buruk tetapi…”
“Apa?”
“Aneh sekali. Di rumah tidak ada orang, hanya ada aku dan eomma. Ahjumma dan eonni tidak ada. Lalu aku melihat ahjussi itu lagi. Ahjussi yang hampir menikahi eomma.”
“Mungkin kau hanya terbawa mimpi.”
“Mungkin… Eomma yang menyuruhmu masuk?” tanyaku dan dia mengangguk.
“Jam berapa eomma pergi?”
“Jam 7. Dia bilang hari ini dia masih harus ke Osaka.” Aku hanya mengangguk-angguk. Eomma benar-benar sudah hidup normal dan aman sekarang.
“Ehmm… Mandilah. Aku masih harus mengatakan sesuatu padamu.”
“Sekarang saja. Aku masih kedinginan, nanti saja baru mandi.”
“Kau ini…” Dia tertawa dan aku bangun dari tidurku, bersandar pada dinding, dan masih menutupi tubuhku dengan bed cover. AC di kamar ini terlalu dingin untukku.

“Aku siap mendengarkan.” gumamku dan Yi Fan tersenyum tipis kemudian duduk di hadapanku.
“Tentang semalam…”
“Yang mana?”
“Kalau ayahmu tidak menemukanmu, kita masih bisa bertemu kok.”
“Bagaimana bisa?”
“Bisa saja. Sebagai… Saudara tiri.”
“Hah?” Aku tercengang mendengar ucapan Yi Fan yang sangat tidak masuk akal itu.
“Kaget? Aku juga sangat kaget.” Ia memaksakan senyumannya dan menangkup sisi kanan wajahku. Tangannya dingin sekali.
“Ahjussi itu, ahjussi yang akan menikahi eomma-mu… Dia ayahku. Itulah sebabnya eomma-mu seperti pernah melihatku.”
Aku semakin terdiam, suaraku seperti tercekat di tengah-tengah tenggorokanku. Ini bahkan lebih mengejutkan dibandingkan dengan fakta-fakta tentangnya yang pertama kali kuketahui.
“Maaf baru memberitahumu hari ini.”
“Dan eomma tidak bermasalah saat tahu kalau ahjussi itu sudah punya 1 anak? Tetapi eomma terus menyembunyikanku dari ahjussi itu…”
“Ania. Ayahku tahu tentangmu, tetapi eommamu tidak tahu kalau dia sudah tahu semuanya.”

Aku hanya diam menatap Yi Fan. Aku merasa ada sesuatu yang masih menjanggal, dan sesuatu yang membuatku merasa takut.

“Maaf.” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas, kemudian menatapku beberapa saat lalu memejamkan matanya dan mengulum bibirku dengan sangat pelan dan lembut.
Dia kembali membuatku merasa tenang. Saat aku memejamkan mataku, aku teringat seseorang. Seseorang yang sangat kukagumi karena permainan basketnya. Seseorang yang dulu kucurigai adalah anak ahjussi itu. Oppa itu… Yi Fan. Kurasa oppa itu memang Yi Fan. Oppa yang selalu kulihat sedang bermain basket setiap kali ahjussi itu datang ke rumah.
Tanpa sadar aku tertawa di sela ciuman kami. Aku terlalu senang karena akhirnya bisa menyadari tentang ini.
Yi Fan melepaskan ciumannya dan menatapku dengan tatapan bingung.
“Wae?”
“Oppa yang kulihat saat aku dikurung di balkon.”
“Kenapa mem…” Aku mendekatkan wajahku sehingga dia berhenti mengomel.
“Aku yakin sekali dia bernama Li Jia Heng. Oppa yang sudah sangat bersikap dewasa meskipun masih anak kecil…” gumamku dan Yi Fan terbelak, matanya membulat.
“Oppa yang selalu bermain basket di lapangan basket setiap datang ke rumahku dan tidak pernah mau masuk, dia lebih memilih bermain basket daripada menyapa calon ibu tirinya. Dari awal aku sudah mencurigainya karena selalu muncul saat ahjussi itu datang, karena setiap tidak ada ahjussi itu, aku menunggunya di balkon, tetapi dia tidak pernah muncul…” lanjutku.
“Mungkin karena itu aku bisa langsung menyukaimu saat pertama kali melihatmu di kampus…” sambungku dan tersenyum tipis.
“Jadi? Tadi itu aku sedang kesal pada diriku sendiri?” tanyanya dan tertawa tidak percaya.
“Salah. Kau sedang cemburu pada dirimu sendiri.” ralatku dan tertawa lagi. Yi Fan hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
“Kau juga salah. Aku selalu menyapa calon ibu tiriku sebelum ke lapangan basket itu. Aku punya dua alasan kenapa aku tidak mau masuk ke dalam rumahmu.”
“Apa?”
“Pertama karena ayahku bilang mereka butuh privasi, kedua karena ibumu mirip…..” Yi Fan menghentikan ucapannya dan hanya menatapku.
“Mirip eonni?” tanyaku langsung dan dia mendengus.
“Sepertinya kita sudah sepakat untuk tidak membahas tentangnya.”
“Maaf.” Aku menunduk, merasa bersalah.
“Umm… Bagaimana kalau memberitahu eomma tentangmu?”
“Jangan!” jawabnya cepat.
“Kenapa?”
“Jangan sekarang…”
“Kenapa?”
“Karena aku masih ingin bersamamu.” bisiknya dan mengulum bibirku lagi.
“Aku tidak bilang sekarang.” jawabku saat dia melepas ciumannya dan kemudian mengulum bibirku lebih dalam lagi.
^_________^

Minato-no-mieru Oka Park / Harbor View Park
114, Yamate-cho, Naka-ku, Yokohama, Japan

“Eommamu bilang apa tentangku?” tanya Yi Fan dan aku langsung menahan senyumanku, kemudian memandangi orang-orang di sekitarku.
“Kenapa tidak jawab?” tanyanya lagi dan aku menggeleng pelan.

Aku memperhatikan taman tempat kami berada sekarang sambil memikirkan pendapat eomma tentang Yi Fan. Mengingat pendapat eomma semalam membuat tersenyum lagi.
“Hmm? Kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Yi Fan dan mendekatkan wajahnya. Aku menggeleng cepat dan dia menaikkan alis matanya, menatapku skeptis.
“Eomma terus mengatakan kau sangat tampan. Lalu mirip seseorang.”
“Hanya itu?”
“Um. Tidak juga sih… Apa tidak lebih baik kalau memberitahu eomma tentangmu? Dia sangat penasaran. Kurasa eomma akan senang kalau tahu tentangmu.”
“Jangan dulu.”
“Kenapa? Kau takut eomma marah?”
“Um. Yeah. Sedikit.”
“Tidak mungkin. Eomma menyukaimu, dia tidak akan marah.”
“Kalau seandainya dia marah?”
“Um…” Aku mendongakkan kepalaku dan menatap kincir angin di hadapan kami.
“Kalau eomma marah… Aku akan membuatnya tidak marah lagi.”
“Baiklah.” Yi Fan tersenyum tipis dan duduk menjauh dariku kemudian tidur di pangkuanku, membuatku kaget setengah mati.
“Heyyyy.” Aku menahan suaraku dan menoleh ke sekeliling kami. Masih ada banyak pengunjung di sini.
“Menunduklah.” pintanya dan meraih wajahku.
“Kenapa?” tanyaku dan menunduk.
“Apa yang kau suka dariku?” tanyanya dan aku menutup rapat bibirku.
“Apa yang kusuka darimu? Semuanya.” jawabku setelah diam beberapa saat.
“Menurutmu aku ini perfect?” tanyanya lagi dan aku mengerutkan keningku.
“Umm. Tidak juga… Tidak ada manusia yang sempurna. Kenapa bertanya seperti itu?”
Yi Fan tersenyum dan menggeleng pelan.
“Apa yang masih harus aku ubah dari sikapku?”
Pertanyaannya membuatku tersenyum. Aku merasa senang mendengar pertanyaan itu, entah kenapa.
“Tidak ada.”
“Tidak ada sama sekali?” tanyanya dan menatapku dengan tatapan menyelidik.
“Tidak ada sama sekali.” jawabku lagi dan dia tertawa pelan.
“Bagaimana kalau kau harus memilih antara aku dan ibumu?” Pertanyaan itu membuatku menegakkan kepalaku karena kaget.
“Kenapa aku harus memilih?” tanyaku kesal dan Yi Fan menggeleng pelan.
“Aku tidak mau memilih. Karena aku mencintai keduanya.” jawabku mantap dan Yi Fan tersenyum lebar.
“Kenapa bertanya seperti itu?” tanyaku dan Yi Fan menggeleng. Ia melirik jam tangannya dan berdiri dengan cepat.
“Ayo. Sudah waktunya kita kembali.” katanya dan aku melirik jam tanganku juga. 2 jam lagi kami akan kembali ke Seoul. Karena jadwal sidang skripsi Yi Fan mendadak dipercepat, sedangkan aku sudah penasaran dengan nilai ujianku, tetapi Heejin tidak mau memberitahuku, ia ingin aku melihat sendiri nilaiku dengan jelas.
“Ayo.” Aku berdiri dan Yi Fan menggenggam jemariku, sambil tersenyum tipis.

Saat berjalan kembali ke hotel, aku memperhatikan lagi keindahan taman ini. Taman yang dekat dengan hotel kami, bahkan terhubung. Setiap musim semi, bunga-bunga di taman ini akan bermekaran. Sekarang sudah hampir bulan November, jadi aku tidak bisa melihat bunga-bunga bermekaran, tetapi bunga dan daun yang berguguran menjelang musim dingin.

November. Mengingat itu membuatku menoleh ke arah Yi Fan. Sebentar lagi dia akan berulang tahun. Apa yang harus kuberikan untuk hadiahnya?

“Kenapa?” tanya Yi Fan dan aku menggeleng cepat.
“Mau mengatakan sesuatu?” tanyanya lagi dan aku menggeleng lagi.
“Tidak ada? Kalau begitu aku mau tanya lagi.” gumamnya dan berhenti melangkah.
“Hmm? Ya? Apa?” tanyaku gugup.
“Watashi wa anata no koto wo hontouni aishiteiru. Shitteiru yo?” tanyanya dan wajahku langsung memanas. Ia menatapku dengan tatapan itu lagi. Tatapan lembut yang membuat hatiku berdebar sangat kencang. *(Kau tahu aku sangat mencintaimu kan?)*
“Ten..tu. Aku tahu.” jawabku pelan. Aku tidak menyangka ia akan menggunakan bahasa jepang lagi bahkan aku sendiri tidak bisa menjawabnya dengan bahasa jepang karena terlalu kaget dengan pertanyaannya.
Mendengar jawaban gugupku, Yi Fan tersenyum tipis dan mengecup keningku.
“Aku juga… sangat mencintaimu.” ucapku pelan dan Yi Fan menggigit bibir bawahnya sambil menatapku lekat-lekat.
Yi Fan menutup mataku dengan telapak tangannya dan menarik tanganku, kemudian membuatku menyentuh dadanya. Lebih tepatnya, jantungnya. Jantung berdegup kencang. Sama cepatnya dengan degupan jantungku sekarang.
Yi Fan menjauhkan tangannya dari wajahku dan mengecup bibirku sekilas. Saat wajahnya menyentuh wajahku, aku merasa wajahku berair, hangat… airmata?
Pemikiran itu membuatku menjauhkan wajahku, tetapi Yi Fan menarikku lagi dan mengulum bibirku dengan perlahan. Membuatku yakin kalau itu memang benar airmatanya. Aku ingin bertanya tetapi tidak bisa, dan tidak berani. Kenapa dia menangis… lagi…
^———————————–^

Yonsei University
Wonju, South Korea

“Hey. Bagaimana?” tanya Heejin padaku begitu ia memasuki kelasku.
“Apanya?”
“Sejak pulang dari Yokohama kau tidak terlihat lebih baik. Masih memikirkan alasan dia menangis?” tanya Heejin dan aku mengangguk pelan.
“Dia hanya takut kehilanganmu.” jawab Heejin dan aku hanya diam.
“Omong-omong. Kalian tidur sekamar?”
“Tidak.”
“Heh?! Yang benar saja? Kupikir kalian bahkan sudah…” Heejin menghentikan ucapannya dan menatapku dengan tatapan tidak percaya.
“Sudah apa?” tanyaku dan Heejin mendelik.
“Sepertinya memang belum. Jadi kalian benar-benar hanya sampai sebatas berciuman?”
“Hmm. Ya.”
“Hebat sekali.” Heejin tertawa pelan dan menatap ke sekelilingnya.
“Kau tahu tidak…”
“Tidak tahu. Kau saja belum memberitahuku.” jawab Heejin cepat dan tertawa pelan. Aku ikut tertawa dan melanjutkan pertanyaanku lagi.
“Sebentar lagi dia ulang tahun.”
“Oh ya?! Kapan?”
“6 November.”
“2 hari lagi… Kau punya rencana?”
“Aku benar-benar tidak tahu harus apa…”
“Bagaimana kalau…” Heejin menghentikan ucapannya karena ponselku berdering. Melihat nama di layar ponsel, aku langsung menyambar ponselku.
“Eomma?”
Tidak terdengar suara dari sebrang, kemudian telepon terputus lagi.
Sebelum aku kembali ke Wonju, eomma juga sudah meneleponku beberapa kali, saat kutelepon, ia sudah tidak bisa dihubungi. Saat aku sudah kembali ke Wonju, aku semakin tidak bisa menghubungi Eomma. Teleponnya sibuk sepanjang hari.
“Eommamu sibuk sekali ya?”
“Sangat.”
“Oh ya. Apa kata saudara tirimu setelah kau pulang?”
“Ahjumma, dia mengomel dan mengancamku.”
“Mengancam mengusirmu dari rumah?”
“Iya. Kali ini eonni hanya diam, tetapi dia mempelototiku beberapa kali.”
“Heung.”
“Ibu dan anak sama saja sih.” omel Heejin lagi dan menarik kertas di mejaku. Kertas hasil ujianku.
“Nilaimu selalu saja pas-pasan. Sengaja ya?” selidik Heejin dan aku menggeleng.
“Jangan bohong. Aku tahu kau pintar, kau hanya tidak mau menyolok perhatian.”
“Sidang skripsi Yi Fan sudah selesai.” gumamku setelah melirik jam tanganku.
Heejin mengerlingkan matanya kesal karena aku tidak menjawab pertanyaan.
“Maaf. Baiklah. Yang kau bilang tidak salah, tetapi aku memang tidak pintar. Kau masih lebih pintar dariku.” jawabku dan Heejin menatapku malas.
“Uh Hu. Jangan membahasku.”
“Kenapa? Kau memang pintarkan? Ujianmu lulus dengan nilai tertinggi.” ucap Minseok dan duduk di samping Heejin.
“Aku tahu itu. Jangan membicarakanku ah!” elaknya dan Minseok tertawa.
“Aku cari Yi Fan dulu ya.” tandasku dan keluar dari kelas.

Aku memperlambat langkahku di depan kelas yang digunakan untuk sidang skripsi. Kelas itu sudah kosong, membuatku bingung harus mencarinya di mana.
Dia bahkan belum meneleponku.
Aku mengeluarkan ponselku dan ternyata eomma meneleponku lagi. Aku sangat penasaran kenapa eomma terus meneleponku, tetapi teleponnya selalu terputus, bahkan sebaliknya, setiap aku yang menelepon eomma, telepon juga terputus. Apa mungkin menelepon antar negara berbeda sesulit ini?

Aku melangkah cepat menuju atap gedung kampus, tetapi saat aku akan melangkah menaiki tangga, aku teringat ucapan Yi Fan lagi.
Aku langsung menoleh dan tidak ada Yi Fan di belakangku. Aku mendengus pelan dan melangkah menaiki anak tangga menuju ke atap gedung.
Di atas sini aku juga tidak melihat Yi Fan. Apa mungkin dia masih ada urusan dengan dosen? Dia berjanji akan mencariku setelah selesai, mungkin memang belum.

Aku melangkah mendekati tepi gedung dan mengintip ke bawah. Gedung ini benar-benar tinggi.

Aku hampir memekik kaget saat tanganku mendadak terasa dingin. Yi Fan menggenggam jemariku. Dia benar-benar suka sekali mengejutkanku.
“Dari mana saja?” tanyaku dan Yi Fan tertawa.
“Aku mengikutimu dari tadi.”
“Bohongkan? Aku sudah menoleh dan kau tidak ada dibelakangku.”
“Benar kok. Aku hanya bersembunyi.”
“Kau ini… Jadi bagaimana tadi?”
“Semua berjalan lancar.”
“Baguslah. Hmm? Tanganmu dingin sekali.” gumamku dan ia tersenyum tipis.
“Kelasnya dingin sekali. Oh ya? Ibumu sudah menelepon lagi?”
“Sudah, dan terputus lagi. Aku menelepon balik, tetapi terputus juga. Melelahkan.”
“Um… Aku…”
Yi Fan menghentikan ucapannya karena dering ponselku. Aku mengeluarkan ponselku dan langsung menjawab telepon dari Eomma.
“Eomma?”
“Kau di mana?” tanya Eomma. Kali ini suaranya terdengar jelas dan tidak terputus-putus lagi.
“Di kampus. Menemani Yi Fan…”
“Pulang sekarang.”
“Eh?”
“Eomma di rumah. Pulanglah sekarang.” ulang Eomma dan telepon terputus lagi. Kali ini aku yakin bukan terputus, tetapi diputus.
“Ada apa?” tanya Yi Fan dan aku tersenyum tipis.
“Eomma sudah pulang. Aku harus pulang sekarang.” gumamku dan melangkah pelan.
“Eun Yoo-ah…” Mendadak Yi Fan memelukku dari belakang.
“Ddeonajima…” bisiknya.
Aku terdiam mendengar ucapannya. Mendadak aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan lagi.
“Kajima…” bisiknya lagi dan melepas pelukannya kemudian membalikkan badanku menghadapnya.
“Maksudku… Jangan pergi sendiri. Aku akan mengantarmu.” katanya dan tertawa pelan.
“Kau mengejutkanku!” kataku dan Yi Fan tertawa lagi lalu menggenggam jemariku.
Entah kenapa aku merasa dia tidak sedang bercanda.
Aku penasaran dengan apa yang dipikirkannya, apa yang tidak kuketahui lagi… Haruskah aku bertanya sekarang atau menunggunya memberitahuku?
^——————————————-^

“Aku ikut masuk saja…” gumam Yi Fan dan aku menghela nafas pelan.
Pintu pagar tidak ditutup, bahkan pintu utama juga. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu, aku bahkan lebih takut lagi kalau mereka melihat Yi Fan bersamaku.
“Kalau tidak terjadi apa-apa aku baru bisa tenang.” gumamnya lagi melangkah mendahuluiku.

Aku mengintip ke dalam rumah dan tidak ada siapa-siapa, tetapi aku mendengar suara samar-samar dari lantai 2, ruang keluarga.
“Ayo…” gumamku dan menarik Yi Fan naik ke lantai dua juga. Dugaanku benar, Eomma sedang bersama mereka di ruang keluarga, aku juga melihat beberapa pria yang tidak kukenal.
“Eomma…” panggilku pelan dan melangkah mendekat.
Aku membungkuk hormat pada Ahjumma dan eonni, juga pada beberapa pria itu.
“Kau tunggulah sebentar lagi.” kata eomma pelan dan membelai rambutku.
“Li Jia Heng-ssi… Tolong temani dia di kamar dulu.” kata eomma pada Yi Fan. Yi Fan mengangguk pelan dan menggenggam jemariku.
“Ayo.” bisiknya dan aku tetap diam di tempatku, menatap Eomma. Cara bicara eomma pada Yi Fan benar-benar dingin, bahkan eomma memanggil nama aslinya… Li Jia Heng. Apa mungkin eomma sudah tahu?
“Kwon Eun Yoo? Kau mau membantah?” tanya eomma tegas.
“Mianhae.” ucapku singkat dan melangkah pergi bersama Yi Fan.

“Eomma sudah tahu tentangmu?” tanyaku setelah kami masuk ke kamarku.
Yi Fan hanya mengangguk sambil menatap seisi kamarku.
“Kamarmu sama sekali belum berubah.” gumamnya dan berjalan mendekati rak buku.
“Dan eomma marah?” tanyaku dan duduk di kursi. Kakiku mendadak terasa lemas membayangkan eomma yang kulihat barusan. Aku takut melihat eomma yang sedang marah, ia bisa menjadi orang yang berbeda.
“Um… Sepertinya? Menurutmu?” tanyanya balik sambil duduk di meja belajarku.
“Kenapa eomma harus marah?”
“Kau tahu? Semuanya tidak sesimpel apa yang kita lihat.” gumam Yi Fan dan membuat dahiku mengerut, bingung.
“Maksudnya apa?”
“Masih banyak hal yang belum kau ketahui.”
“Beritahu aku.”
“Kau harus melihat langsung…”
“Kapan?”
“Sebentar lagi… Jadi, aku ingin kau berjanji satu hal padaku…”
“Apa?”
Yi Fan hanya diam dan menatapku lekat-lekat kemudian dia berlutut di hadapanku.
“Jangan menangis karena apapun.”
“Tidak mau.” bantahku dan menggeleng pelan.
“Please…”
“Tidak. Aku masih ingin menangis.” balasku lagi dan Yi Fan menggenggam jemariku.
“Eun Yoo-ah…”
“Baiklah… Tetapi kau harus memberitahu aku apa yang tidak kuketahui sekarang…”
“Hmm… Aku akan memberitahumu sesuatu yang tidak akan pernah kau ketahui dari ibumu.”
“Apa?”
“Ayahku yang memutuskan hubungan mereka, itulah sebabnya mereka tidak jadi menikah. Setelah itulah baru ibumu kembali pada ayahmu… Ayahmu memang mencari kalian, tetapi dia tidak bisa menemukan kalian, pada akhirnya ibumu lah yang muncul di hadapan ayahmu lagi,”
Aku terdiam, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Apa yang kudengar barusan dan apa yang kudengar beberapa tahun yang lalu sangat berbeda. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana untuk mempercayai mereka lagi.
“Dan alasan ayahku meninggalkan ibumu adalah aku. Itulah kenapa ibumu sangat membenciku…”
“Aku mengancam tidak akan membantu perusahaan ayahku kalau dia menikah lagi. Aku yakin dia lebih memilihku karena akulah satu-satunya…”
“Perusahaan?” Aku bergumam pelan dan Yi Fan mengangguk pelan.
“Kau…” Belum sempat aku bertanya lagi, pintu kamarku terbuka dengan perlahan.
Eonni mengintip dari celah pintu dan tersenyum paksa.

“Maaf menganggu.” katanya dan masuk ke kamarku.
Yi Fan langsung berdiri dan menatap eonni tajam.
“Aku tidak akan membuat keributan lagi,” kata eonni dan menatap Yi Fan sekilas, lalu menatapku.
“Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu…” lanjut eonni dan tersenyum paksa lagi.
“Aku tidak pernah mengingat apapun tentang pacarmu. Aku hanya bohong. Aku mendengar pembicaraan kalian saat kalian kukurung di dalam cold room. Kalau tidak percaya kau boleh dengarkan ini, pembicaraan kalian terekam sangat jelas.” jelasnya dan meletakkan piringan CD di atas mejaku.
Yi Fan mendengus dan menoleh ke arahku sekilas.
“Aku sudah tahu itu dari awal.” jawab Yi Fan dan eonni tertawa kering.
“Tentu saja kau tahu… Kau memang wajar tahu segalanya. Hanya saja… ada satu hal yang belum kau ketahui… Aku mencari tahu tentangmu, sungguh mengejutkan sekali. Anak ini terlalu polos untuk kau bohongi.” kata eonni pada Yi Fan, eonni terlihat sedikit sinis tetapi juga takut pada Yi Fan.
“Eonni? Maksudmu apa?” tanyaku dan eonni menoleh ke arahku.
“Kau akan tahu sendiri nanti. Memang, tidak semua hal dia berbohong padamu, mungkin hanya satu hal…”
“Eonni…”
“Kwon Eun Yoo, berhentilah menjadi bodoh…” potong eonni dan tertawa kering lagi.
“Oh ya. Kau tidak ingin tahu kenapa aku selalu jahat padamu?” tanya eonni dan tersenyum sinis.
“Wae?”
“Karena aku ingin membuatmu keluar dari rumah ini. Kalau aku bisa membuatmu keluar, tidak akan ada hari ini, bahkan… rumah ini bisa menjadi milikku. Begitulah… persyaratan yang ada kudengar dulu.” tandas eonni dan terlihat cuek. Perkataannya terdengar asal tetapi entah mengapa aku mempercayainya.
“Berhentilah bicara pada putriku.” Suara tegas eomma membuat eonni mengerlingkan matanya dan tetap menatapku.
“Ahjumma, hari ini kau memang sudah menang. Jadi biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan putri bodohmu.” jawab eonni tanpa menoleh pada eomma.
“Kau ini…” Eomma menarik eonni menjauhiku dan eonni dengan cepat menghempas tangan eomma.
“Heol. Dilihat dari dekat, bagaimanapun wajah kita bertiga memang mirip. Yi Fan-ssi? Mungkin ini wanita yang kau cari?” tanya eonni sinis dan menunjuk eomma.
“Aku tidak mencari siapapun.” balas Yi Fan dan eonni tertawa kering.
“Kau beruntung aku sangat mencintai calon suamiku, kalau tidak dia benar-benar akan kurebut.” ucap eonni lagi dan tersenyum padaku. Senyuman aneh.
“Keluarlah!” kata eomma dan menarik eonni keluar.
“Kalian kuberi waktu satu minggu untuk bersiap-siap keluar dari sini.” tukas eomma saat berada di luar kamarku.
Aku menatap Yi Fan sekilas. Wajahnya pucat.

“Kau juga. Bersiaplah untuk pindah.” kata eomma saat kembali ke kamarku.
“Kuliahku belum selesai.”
“Kau bisa kuliah di Jepang.”
“Tidak mau.”
“Kau sudah bisa melawan eomma?”
“Tahun depan aku sudah akan menyusun skripsi. Aku tidak mau mengulang lagi.”
“Li Jia Heng-ssi. Waktumu 10 menit.” tukas eomma dan keluar dari kamarku. Sama sekali tidak menjawab perkataanku.

“Aku benci hari ini.” gumamku dan duduk di tepi tempat tidurku.
“Aku juga…” gumam Yi Fan dan mengelus pelan rambutku.
“Semua orang bersikap aneh. Kau, eomma, eonni…”
“Eun Yoo ah…” Yi Fan terlutut di hadapanku dan menggenggam jemariku dengan erat.
“Apapun yang kau lihat, dan yang dengar tentangku setelah ini… apapun itu… itu hanya sesuatu yang tidak bisa kuberitahu padamu. Aku tidak membohongimu. Dan aku benar-benar mencintaimu.”
“Aku tidak akan pindah ke mana pun. Untuk apa kau bicara seakan aku akan ikut eomma ke Jepang?”
“Meski begitu…”
“Atau kau berencana meninggalkanku?” tanyaku cepat dan Yi Fan menggeleng, membuatku merasa lega.
“Jangan pernah meninggalkanku. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpamu. Kau tahu? Aku bahkan selalu bermimpi buruk sebelum aku bertemu denganmu. Mimpi yang sangat menakutkan. Aku tidak mau mereka muncul di dalam mimpiku lagi…”
“Setidaknya kau tidak akan bermimpi buruk lagi. Tidak akan ada yang memperlakukanmu dengan buruk dan kasar lagi.”
“Eomma. Aku masih harus memohon pada eomma untuk tidak membawaku kembali ke sana. Aku benar-benar tidak suka berada di sana.”
“Kenapa?”
“Karena di sana tempat aku dikurung dan membuatku merasa sangat ketakutan.”
“Tidak bisakah kau mengingat saat kau bersamaku di sana?”
“Aku tanpa kau di sana. Untuk apa? Itu menyakitkan…”
“Li Jia Heng! Kau sudah terlalu lama!” teriakan eomma membuat kami terperanjat.
“Eomma!!!” Aku balas memekik dan Yi Fan langsung menangkup wajahku.
“Susah payah kau bisa bertemu dengan eommamu lagi. Jangan membantahnya.” tukasnya dan tersenyum tipis.
“Eomma masih sama menyebalkan seperti dulu.” cecarku dan Yi Fan tertawa pelan.
“Kau istirahatlah. Aku pulang dulu.”
“Ddeonajima.” gumamku dan Yi Fan menggeleng pelan.
“Kau ingin aku diusir dengan paksa? Tidakkan?”
“Baiklah. Kau boleh pulang.” gumamku pasrah dan Yi Fan tertawa pelan lagi.
“Annyeong.” katanya dan berdiri sambil tersenyum lebar kemudian mengecup keningku beberapa saat.
“Take care.” bisiknya dan berbalik pergi meninggalkanku.

Entah mengapa airmataku terasa mengalir keluar. Mendadak aku merasa tidak bisa lagi bertemu dengan Yi Fan.
Aku berdiri dan berjalan menuju balkon, aku ingin melihat Yi Fan lagi. Tetapi di bawah sana masih terlihat mobilnya.

“Eun Yoo-ah.” Suara itu membuatku langsung berbalik.
“Ke…”
“Maaf.” Yi Fan menarikku dan langsung mengulum bibirku perlahan.
“Kenapa kembali lagi?” tanyaku saat Yi Fan melepas ciumannya.
“Tidak apa-apa.” jawabnya dan tersenyum tipis.
“Kau menangis?” tanyaku refleks dan Yi Fan tertawa pelan sambil menyeka air mata di pipinya.
“Umm…”
“Maaf. Kau harus keluar sekarang.” kata ahjussi penjaga rumah yang sudah berada di kamarku entah sejak kapan. Ia bahkan menarik tangan Yi Fan.
“Ya! Dia bisa keluar sendiri! Jangan menyentuhnya!” Teriakku. Ahhjussi itu terkejut dan melangkah mundur.
“Sudahlah.” kata Yi Fan pelan dan memelukku lagi.
“Ini pertama kalinya aku berteriak di rumah ini.” keluhku dan Yi Fan tertawa pelan.
“Jangan berteriak lagi. Okay?”
“Okay.”
“Aku pulang dulu.” katanya dan langsung melepas pelukannya kemudian berjalan cepat keluar dari kamarku.
Saat Yi Fan sudah di luar, dia terus menunduk dan berjalan cepat.
Aku menunggunya berbalik, tetapi dia sama sekali tidak melakukannya, bahkan menoleh pun tidak.

Aku merasa sesuatu akan terjadi lagi.
Hari ini semua orang bersikap aneh, terutama Yi Fan. Setiap ia tersenyum, aku merasa dia seperti akan menangis.
Dia menyembunyikan terlalu banyak hal dariku.
♪♪♪♪♪♪♪♪♪♪

TO BE CONTINUE

BONUS PICTURE:
Minatonomieruoka Park3

porthill yokohama hill

YIS

cemetery

ey's old house2

Teman-teman semua.
Mau sekalian survey nih,
Aku udah punya 2 versi ending buat FF ini.
1. lebih pendek, ga banyak konflik lagi,
2. lebih panjang lagi plus ditambahin beberapa konflik menyakitkan.

Pilih mana nih?
Jangan lupa divote dan dishare yahh…

Thanks you all!!
Dan Mohon dikomen.
Aishiteiru!!
Hehhehe

-Eve RyLin

Advertisements

7 thoughts on “BETWEEN TIME AND PROMISE [PART 5]

  1. Jangan bilang klo eommanya eunjo dendam sama yi fan karna batal nikah..

    Ak pilih yg happy end sih klo bsa..terserah mo panjang ato pendek yg penting bagus aj ceritanya.. bnyak maunya nih.. hihi

    Ciayo ya eve.. ✊^^

  2. akhirnya baca part 5 ㅋㅋㅋ masih bikin penasaran terus, keep it up kak.
    Ke 2 aja kak soalnya masih banyak misteri belum keungkap disini (?), kalau next konfliknya sedikit kayanya bakal jadi terlalu kilat alurnya. Thank you.

  3. yg ke 2..biar berasa baca sinopsis drama korea..haha..q takut yi fan bakalan ninggalin eunyoo..firasat buruk terus baca chap ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s