THAT XX PART 5

PART 5
Hello ALL !!
Maaf menunggu lama! Saya lagi sangat sibuk. Jadi, jangan marah yah. Hehehhee
^.^v
Ini Part 5 nya.
ENJOY !!!
😀
1352722601097

>> Jung Yeon pov

Malam ke dua aku di rumah sakit. Soo Jung benar-benar tak bisa di tinggal. Manja sekali. Aku sampai-sampai tak bisa kuliah dan tak bisa bertemu Kris di kampus. Padahal banyak yang harus kami bicarakan. Heol!

Aku melirik jam tanganku. Sudah jam pulang, mari kita lihat siapa yang akan datang duluan, Kris atau Tao. Let’s wait!

“Jung Yeon-ah…” Panggil Soo Jung dan mematikan TV yang dia tonton.
“Ya?” tanyaku dan dia menatapku, wajahnya terlihat sedih.
“Wae??” tanyaku dan dia menggeleng. Kemudian kembali membuka TV lagi.

“Hey!” Tao tiba-tiba masuk dan duduk di sampingku. “Jung Yeon. Dipanggil Eommamu.” Kata Tao, dia sedikit terlihat kesal. Aku langsung keluar dan aku tidak melihat Eomma. Kemana dia??

Dan tiba-tiba saja seseorang memelukku dari belakang. Kris! Yaiy!! Sepertinya bukan eomma, tapi Kris yang mencariku. Ahahahaa

“Annyeong.” Bisiknya dan mengecup daun telingaku. Semalam kami sama sekali tidak banyak mengobrol karena aku terlalu banyak memukulnya. Aisshhhh !

“Oh yah… Kau sudah memaafkanku?” tanyaku dan dia mengangguk.
“Aku memang tak marah kok.” Katanya dan duduk di kursi yang tersedia di depan kamar Soo Jung. “Jadi?” tanyaku kaget.
“Emmm… Mengalah pada Tao. Dulu dia sudah mengalah padaku. Tapi ternyata kalian memang tidak pacaran.” Gumamnya dan aku menatapnya sinis. Dasar bodoh!
“Bodoh sekali kau?” omelku dan dia tertawa pelan.
“Tungguuu…” dia teringat sesuatu.
“Aku ingat! Semalam kau bilang pada Soo Jung kau menyukai Tao.” Dia menatapku kesal.
“Aku hanya bercanda. Yah… Sekalian mengerjaimu.” Jawabku dan menahan tawaku.
“Sialan!” tandasnya dan kami sama-sama diam. Dia menggenggam tanganku dan hanya tersenyum tipis. Wajahnya terlihat lega.
“Dasar gila. Aku yakin Ring Basket rusak pasti karena kau emosi telah melepaskan Jung Yeon.” Omel Tao dan kami langsung menoleh ke arahnya. “Sejak kapan kau disana?” tanyaku kaget dan Tao mengerlingkan matanya.
“Park Jung Yeon… Ku beritau kau satu hal…” Gumam Tao dan duduk di sampingku.
“Apa?” tanyaku dan Kris memukul tangan Tao.
“Hey Wushu! Jangan sentuh dia!” kata Kris galak dan Aku tertawa.
“Maaf. Aku takkan mengambil milikmu seperti apa yang kau lakukan padaku!” kata Tao ketus. Aku langsung memukul kepala Tao.
“Dia kan tidak tau kau menyukai Soo Jung!” bela ku dan Kris mengangguk-angguk manja.
“Hehh!! Kalian menyebalkan!” Tao mencibir. Sekian detik kemudian, dia serius lagi.
“Kuberi tau kau… Kevin bukan manusia yang romantis.” Katanya cepat dan berdiri menjauh, Kris yang tadi mau memukulnya jadi tak bisa memukulnya lagi.
“Dia bisa seromantis ini karena aku yang mengajarinya. Barulah dia bisa bersama Lin Ling jiejie dan …” Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, Kris membekap mulutnya.
“Dasar cerewet!!” kata Kris kesal. Tao tertawa, mau tak mau aku ikut tertawa.
“Sudahlah. Aku tak peduli mau seperti apa dia dulu. Yang penting dia sudah seperti ini sekarang.” Jawabku dan Kris langsung duduk di sampingku lagi, merangkulku erat.
“Biar kutebak! Waktu pertama kali kau bertemu Tao, pasti kau merasakan dia mirip denganku kan?” tanya Kris dan aku langsung mengangguk mantap.
“Kau!” Tao terlihat kesal dan duduk di sampingku lagi, wajahnya memerah karena malu.
“Tentu saja mirip. Dia kan mengikuti gayaku. Dasar plagiat!” ejek Kris dan aku menahan tangan Tao supaya tak memukul Kris. Dia sudah terlalu banyak kupukuli semalam. Padahal aku pernah bilang pada Leeteuk oppa, aku takkan menampar Kris seperti aku menampar Leeteuk oppa dulu. Tapi, aku melakukannya lebih parah daripada sebuah tamparan. Aku jadi merasa sangat bersalah sekarang.
“Kalian sudah tua! Sadar umur hey!” Kataku pura-pura kesal dan mereka terdiam.
“Haaa. Sudahlah. Kalau mau pacaran jangan disini. Di tangga saja sana! Supaya persis dengan drama Korea!” kata Tao kesal dan mengeluarkan ponselnya. Mendengar ucapannya, Aku dan Kris hanya tersenyum simpul, juga bisa dikatakan senyuman malu.
“Soo Jung kenapa kau tinggalkan dia sendirian?” tanyaku akhirnya dan Tao menyimpan ponselnya.
“Dia sudah tidur.” Jawab Tao. Aku hanya mengangguk, lalu kami diam lagi.
Tiba-tiba saja dua orang suster berlari masuk kedalam kamar Soo Jung. Belum sempat kami menyusul masuk, suster yang satunya keluar lagi dan wajahnya terlihat lega.

“Ada apa?” tanyaku panik dan suster itu tersenyum kecut.
“Soo Jung mau memanggil kalian, tapi tak bisa berteriak, jadi dia memanggil kami dengan tombol di sampingnya.” Kata suster itu lalu berjalan pergi.
“Gomawo!” kataku cepat dan kami menyusul masuk.

Didalam, suster yang satu lagi sedang mengecek keadaan Soo Jung. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Tidak mungkin penyakitnya kambuh tiba-tiba kan.
Pasti terjadi sesuatu? Apa dia terjatuh? Kaget? Capek?

Suster itu keluar dan kami duduk di sampingnya. Tao dan Kris duduk bersebelahan dan aku duduk di sisi yang satunya lagi, di depan Kris.

“Ada apa?” tanyaku dan Soo Jung nyengir.
“Aku hanya kaget, kupikir kalian pergi entah kemana.” Katanya dan tertawa pelan.
“Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami lagi?” tanya Tao dan Soo Jung hanya menatapnya. Kami diam dan menunggu Soo Jung menjawab.
“Em… Aku tHau sebuah rahasia.” Jawab Soo Jung pelan dan tangan kirinya menggenggam tangan Kris. “Wae?” tanya Kris bingung dan Soo Jung tak menjawab, tapi malah menggenggam tanganku dengan tangan kanannya yang masih melekat alat infus.
“Kau kenapa sih?” tanya Tao lagi dan mengerutkan keningnya.
“Pasti terjadi sesuatu padamu kan makanya kau jadi seperti ini.” Kata Tao dan Soo Jung mengangguk pelan. Oh! Apa dia sudah tau tentang aku dan Kris? OMG!

Aku langsung menatap Kris dan Kris menatapku balik. Dia terlihat biasa saja. Berarti dia tidak memikirkan apa yang ku pikirkan tadi. Santai sekali dia.

“Aku seperti ini karena shock. Sesuatu mengejutkanku. Dan aku kaget sampai tak bisa berhenti menangis. Sudah dua kali aku terkejut dan kali ini yang paling parah.” Kata Soo Jung pelan. Dan saat itu juga Kris langsung melotot, dia menatap ku khawatir. Sepertinya Soo Jung memang sudah tau.
“Apa?” tanya Tao dan dia menatapku sekilas lalu menatap Soo Jung lagi.
“Aku…… Park Jung Youn. Bukan Choi Soo Jung.” Katanya pelan dan dia menggenggam erat tanganku. Matanya berkaca-kaca, menahan tangisnya.

Tao terlihat bingung. Aku dan Kris juga. Park Jung Youn? Itu seperti nama….

“OH!” Dan Kris teringat sesuatu. Dia langsung menatapku dan menggigit bibir bawahnya. Sekian detik kemudian aku teringat juga. Park Jung Youn. Nama itu sempat sangat terkenal di rumah kami. Eomma dan Appa selalu membicarakannya. Selalu, sampai-sampai aku sendiri masih tak percaya dengan apa yang dia katakan barusan.

“Tidak mungkin.” Jawabku langsung dan Kris terlihat tegang.
“Aku juga tidak percaya sebelum aku melihat foto album di kamarmu. Dan Eomma juga sudah menceritakan semuanya.” Jawab Soo Jung dan aku terdiam. Mengangguk pelan dan menatap Kris. Dia pasti juga tau tentang ini.
“Kau tau oppa?” tanya Soo Jung dan Kris mengangguk.
“Park Jung Youn, anak konglomerat Park Sang Hyuk, adik Pak Jung Yeon, meninggal 23 tahun lalu karena penyakit jantung saat masih bayi.” Gumam Kris dan Soo Jung terlihat takjub.
“Kau bahkan sampai tau asal-usul keluarganya. Hebat.” Gumam Soo Jung dan dia menoleh ke arahku. Apa maksud perkataannya tadi?
“Park Jung Yeon.. Oh, maksudku… Eonni-ya. Itulah alasan kenapa kita bisa sangat mirip.” Kata Soo Jung dan aku menggeleng. “Tidak mungkin.” Gumamku. Aku benar-benar bisa gila!
“Aku hanya akan percaya setelah aku melihat bukti dan mendengar dari Eomma sendiri.” Jawabku singkat lalu berjalan keluar.
“Oppa! Kau tidak mengejarnya?” tanya Soo Jung, pada Tao mungkin? Entahlah.

Aku keluar dan kulihat eomma sedang berdiri kaku di samping pintu. Dia pasti sudah mendengar apa yang di katakan Soo Jung tadi. Aku yakin.

“Eomma… Sekarang aku sudah tau kenapa dari awal eomma hanya memikirkan perasaan Soo Jung daripada perasaanku. Dia anak malang yang sangat kau cintaikan. Jadi selamanya aku memang takkan bisa kembali pada pacarku karena dia. Park Jung Youn,” Kataku pelan dan eomma mempelototiku. Dia pasti tidak senang dengan ucapanku tadi.
“Aku sangat senang, karena dia adikku, bukan sepupuku lagi. Park Jung Youn, bukan Choi Soo Jung lagi. Masih hidup dan sama sekali belum meninggalkan kita,” Kataku dan berdiri di samping Eomma.
“Eomma…” Panggilku dan dia masih tetap diam saja.
“Atau jangan-jangan aku bukan anak kandungmu?” tudingku langsung dan dia langsung menoleh ke arahku. Menatapku tajam.
“Bukan. Kalian memang saudara. Kalian anakku. Aku bukan tidak menyayangimu, tapi aku hanya tidak ingin kehilangan Jung Youn lagi.” Jawab Eomma dan aku diam, lega mendengar bahwa aku memang anak kandungnya. Anak kandung yang lebih mirip anak angkatnya kan.
“Jadi? Kenapa kalian mengatakan Soo Jung sudah meninggal?” tanyaku dan Eomma menunduk. “Saat itu keuangan keluarga sedang sangat buruk dan kami sudah tidak ada biaya sama sekali untuk mengobatinya…” jawab Eomma pelan. Dia menarik nafas dalam-dalam.
“Pamanmu, membawanya berobat ke Canada dengan syarat Soo Jung menjadi anaknya selamanya, bahkan dia sendiri yang mengumumkan ke media kalau Jung Youn sudah meninggal.” Lanjut eomma dan aku mengangguk pelan.
“Pamanku yang dokter itu kan… Dimana dia sekarang?” tanyaku dan Eomma mendengus kesal.
“Canada. Dan dia meminta Soo Jung di kembalikan ke Canada besok. Dia akan mendapat perawatan yang lebih baik di Canada.” Jawab Eomma pelan, kali ini eomma menangis. Untuk pertama kalinya aku melihat Eommaku menangis.
“Jadi? Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku dan Eomma menggeleng. Aku langsung memeluk Eomma dan malah ikutan menangis.

Aku selalu menganggap keluargaku lah yang paling bahagia tanpa masalah sedikitpun. Bahkan sampai aku berumur 20 tahun pun, aku tidak pernah menghadapi hal-hal seperti ini. Jadi, Aku hanya bisa menangis dan aku benci mereka yang membuatku menangis.

Leeteuk oppa membuatku menangis saat aku berumur 21 tahun dan Kris membuatku menangis saat aku berumur 24 tahun. Dan di umur inilah aku sering menangis. Sejak bertemu dengan Kris… Aku terus menangis sampai hari ini. Dan seterusnya, aku merasa aku hanya akan terus menangis dan menangis seperti anak bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa menangis dan menangis.

“Eomma, temuilah Jung Youn. Dia akan sangat merindukanmu di Canada nanti.” Kataku dan melepas pelukanku, lalu berjalan pergi. Bahkan sekarang tak ada yang bisa menghiburku disini. Kris harus tetap disana bersama Soo Jung… Ah… Jung Youn. Mulai sekarang apa aku harus memanggilnya Jung Youn? Atau tetap Soo Jung saja? Molla!!

Aku mengenal Soo Jung sebagai sepupuku saat kami masih sangat kecil. Masih tidak tau apa-apa. Baru satu tahun aku mengenalnya, dan bersamanya, dia kembali ke Canada. Dan tidak kembali lagi sampai sekarang. Dan sekarang… Dia kembali dengan membawa masalah seperti ini. Mantan pacar Kris yang kembali dan adik kandungku yang belum meninggal. Benar-benar mengejutkan!

Tiba-tiba seseorang menarikku dan memelukku erat. Aku melepas paksa pelukannya dan menjauh. Tadinya aku mengira itu Tao, tapi ternyata bukan.

“Wae?” tanyanya kaget dan aku menggeleng. Dia memelukku lagi. Kali ini lebih erat.
“Kenapa kau bisa disini?” tanyaku dan dia mendengus.
“Aku pacarmu kan.” Katanya dan mengelus rambutku pelan.
“Aniaa.. Kau pacar adikku.” Jawabku dan dia mendecak.
“Aku sudah mendengar semua cerita Eomma-mu. Sangat mengejutkan.” Katanya pelan dan aku mengangguk pelan. “Aku seperti mau mati sekarang.” Gumamku dan dia memukul pelan kepalaku. “Kenapa mati? Seharusnya kau senangkan… Dia adikmu yang tidak meninggal.” Jawab Kris dan aku mengangguk pelan.

“Aku memang sangat senang.” Jawabku dan melepas pelukannya. Menatapnya lekat-lekat.
“Tapi, terlepas dari alasan itu. Aku sangat sedih sekarang. Rasanya aku mau meledak.” Jawabku pelan dan mengepalkan tanganku.
“Sedih karena apa? Karena dia akan kembali ke Canada?” tanyanya bingung dan aku menggeleng. Dia memang sedang bodoh sekarang.
“Hhhhh…. Kau sedang bodoh kan sekarang? Aku akan mengatakannya nanti.” Jawabku dan berjalan pergi. “Hey! Jangan meninggalkanku lagi!” katanya dan merangkulku.
“Kau yang akan meninggalkanku.” Jawabku asal dan dia tertawa pelan.
“Kau masih bisa bercanda yah…” omelnya dan mengecup puncak kepalaku.

Aku hanya diam, dan diam. Aku tak mau menangis lagi. Itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.
^_______^

Aku duduk diam dimeja Kris. Menatap semua barang di didepanku. Kemudian aku menoleh ke arah kotak unik yang penuh kenangan masa lalu Kris. Aku tertawa pelan. Tawa miris. Jantungku masih mau meledak seperti tadi sore. Meledak dan hancur berkeping-keping.

Pintu kamar terbuka dan Kris langsung tersenyum lebar.

“Maaf, tadi aku mandi. Sudah lama?” tanyanya dan duduk di atas meja, lalu menatapku. Aku menggeleng. Yah, tanpa kau bilang saja aku sudah tau kau baru selesai mandi. Aroma tubuhnya itu benar-benar menambah ledakan di jantungku!

“Jadi? Kenapa kesini?” tanyanya dan meraih kamera polaroidku. Lalu memotretku.
“Hey!” aku berdiri dan merebut kameraku dari tangannya. Mengeluarkan foto hasil jepretannya tadi.
Dia hanya tertawa. “Ayo foto berdua.” Katanya dan duduk di kursi lalu menarikku duduk di pangkuannya. Kemudian merebut kameraku lagi dan setelah itu kami melakukan selca bersama.

Kris tersenyum kecut melihat hasil foto pertama itu. Lalu memelukku erat.

“Kau kenapa?” tanyanya lembut dan aku menggeleng.
“Aku sedang tidak mood untuk ber-foto.” Jawabku singkat dan dia mengecup pipiku. Dan itu semakin membuatku tidak mood.
“Sadar tidak? Ini selca pertama kita,” Bisiknya dan menopang dagunya di bahuku dengan manja.
“Jadi… Benar-benar harus sempurna.” Lanjutnya. Aku mengangguk pelan. Jadi, aku harus memaksakan senyumku untuk ini? Aku benar-benar tidak bisa tersenyum. Aku hanya ingin menangis sekarang. Hanya itu yang ingin kulakukan sekarang ini.

“Dan apa kau tidak merasa ini yang ke dua kalinya?” tanyanya lagi dan aku menggeleng.
“Apanya?” tanyaku bingung dan dia menyentil pipiku pelan.
“Kau tidak ingat posisi ini?” tanyanya dan terlihat kecewa. Aku terdiam, dan setelah agak lama aku kembali teringat. Saat itu adalah saat-saat yang membahagiakan bagiku. Tidak seperti sekarang. Aku sama sekali sedang tidak merasa bahagia seperti saat itu.

“Jadi, tersenyumlah dan aku akan melakukan semua yang kau suruh. Ini janji.” Katanya pelan dan menarik wajahku menoleh ke arahnya. Kemudian dia mengecup bibirku sekilas lalu tersenyum lebar saat menjauhkan wajahnya. Wajahnya terlihat seperti sedang berhasil melakukan sesuatu.
“Nah…” Dia menarik keluar hasil foto dan menatapku sekilas.
“Hah?! Kapan kau memotretnya?!” tanyaku kaget, aku melihat hasil foto itu dan semakin membuat ku terkejut. Dia tertawa pelan. “Seharusnya pakai kamera ponsel atau kamera digital saja.” Gumamnya sambil menatap puas hasil potretnya.
“Kau fotografer mesum yah?” tudingku asal dan dia menaikkan satu alis matanya.
“Aku hanya melakukan pemotretan seperti ini pada pacarku.” Gumamnya dan masih menatap foto itu. Aku menelan ludahku.
“Jadi? Hal yang sama juga kau lakukan pada mereka? Foto-foto dikotak itu, caranya sama?” tanyaku bingung dan dia nyengir. “Tidak semua sama.” Jawabnya singkat dan tampak siap melakukan pemotretan diri sendiri lagi. Aku bahkan tidak tau dia bisa juga sibuk dengan self camera seperti ini.
“Ayo senyum. Nanti oppa belikan es krim coklat. Otthe?” ucapnya dengan nada sok imut, seperti sedang membujuk anak kecil. Mau tak mau aku tersenyum. Beberapa saat kemudian, hasil fotonya keluar dan dia tersenyum puas.
“Kau benar-benar seperti anak kecil.” Ocehnya sambil menatap foto di tangannya.
“Aku tak suka pakai ini.” Katanya dan meletakkan kameraku di meja, lalu mengeluarkan ponselnya. Siap memotret lagi. Sebenarnya dari awal aku datang memang dengan tujuan ini. Tadinya kukira satu foto sudah cukup, Tapi sepertinya akan ada lebih dari 10 foto hari ini. Hahaha

Setelah cukup lama dia menjadi fotografer self camera kami berdua. Akhirnya dia lelah dan hanya duduk memelukku sambil melihat foto-foto tadi di kameranya.
Dan akhirnya, dia memasang foto kami yang sedang berciuman untuk wallpaper ponselnya.

“Kau gila?!” tanyaku kaget dan dia tersenyum lebar. “Besok akan ku ganti. Tenang saja, tidak akan ketahuan kok,” katanya tenang dan menyimpan ponselnya.
“Akan kukirim foto-foto ini padamu nanti.” Gumamnya dan aku hanya diam. Begitu juga dengannya.

Tiba-tiba dia menghela nafas berat dan mengecup tengkukku sekilas. Aku mengambil spidol biru yang tersusun rapi di mejanya. Kemudian menulis sesuatu di balik foto polaroid kami ke dua.

“Hey, foto itu milikku!” katanya cepat dan menahan tanganku.
“Aku tau. Aku juga tidak mau foto memalukan ini!” ocehku dan dan tetap menulis di balik foto itu. Dia mendengus manja dan menghembus lubang telingaku. Haish!
“Berhentilah bersikap manja.” Kataku malas, tapi dia semakin menunjukkan sikap manjanya.
“Jadi? Aku tidak boleh manja pada pacarku sendiri ya? Tega sekali kau.” Omelnya tepat di telingaku.

Aku menyodorkan foto tadi dan sekian detik kemudian dia menggenggam erat pergelangan tanganku. Seolah melarangku pergi.

“Apa maksudmu?!” Dia memekik tertahan. Aku melepas paksa tangannya dan berdiri di depannya.
“Apa maksudmu?!” tanyanya lagi dan matanya terlihat memerah, marah? Sudah pasti.

“Dari awal sudah ku beritau kan. Kau yang akan meninggalkanku. Kau masih tidak mengerti juga? Kau benar-benar bodoh saat itu yah?” tanyaku pelan, menahan airmataku yang hampir keluar. Dia menggeleng dan menatapku tajam.
“Pantas saja daritadi kau tidak bisa tersenyum.” Gumamnya dan mengangguk pelan. Membaca ulang tulisan di balik foto itu.

“Bahkan semua tulisan untuk foto di kotak itu aku yang menulisnya. Tapi, sekarang malah kau sendiri yang menuliskannya untukku.” Dia bergumam lagi. Masih tak percaya.
“Kita benar-benar harus mengakhiri ini.” Jawabku dan menyodorkan ponselku padanya.
“Email dari pamanku di Canada, Ayah angkat Soo Jung.” Kataku pelan, Kris membaca email itu dengan penuh emosi dan menahan nafasnya.
“Jadi, daripada kau di tuntut yang bukan-bukan oleh orang itu. Lebih baik kau ikuti saja kemauan dia.” Gumamku dan Kris menggeleng. “Aku takkan pergi kesana lagi.” Katanya tegas dan dia mengepalkan tangannya. Seperti siap meninju siapapun yang membuatnya marah sekarang.

“Kau bilang kau akan mengikuti semua keinginanku kan.” Pintaku dan berlutut di hadapannya. Dia meringis dan semakin mengepalkan tangannya.

Aku langsung meraih tangannya, memaksanya untuk tidak mengepalkan tangannya. Aku benar-benar tidak suka tingkahnya yang seperti ini. Dia seperti ingin meninjuku.

“Kumohon…” Pintaku lagi dan dia sama sekali tidak merespon.
“Demi kebaikanmu. Kumohon…” Kuharap ini terakhir kalinya aku memohon.
“Okay…” Jawab Kris setelah cukup lama diam. Aku terpaku mendengar jawabannya.
“Aku tidak bisa membantah kemauanmu karena aku sudah janji,” lanjutnya.
“Semua akan selesai nanti dan aku akan kembali padamu,” dia menatap tulisanku lagi.
“Tapi kalau kau sudah tidak bisa menungguku lagi. Kau boleh tak menungguku dan hiduplah bahagia tanpaku. Aku yakin kau sudah terbiasa hidup tanpaku sejak aku meninggalkan Seoul selama 1 bulan itu.” Gumamnya dan aku terdiam. Benar, waktu itu aku hampir terbiasa hidup tanpa dia. Tapi dengan konteks yang sama sekali berbeda!

“Sepertinya aku tidak akan menunggumu.” Gumamku dan dia menatapku lekat-lekat.
“Sejak aku menyukaimu. Sampai detik ini, aku terus menangis. Sebelum aku mengenalmu, aku hanya menangis satu kali karena Leeteuk oppa.” Ucapku dingin.
“ Jadi, kau menyalahkan ku?” tanyanya bingung dan aku menggeleng.
“Aku tidak menyalahkan siapapun, tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Aku yang menyukaimu sampai seperti ini. Akulah yang paling bersalah dalam hal ini.” Jawabku cepat. Aku bahkan sudah tak sanggup menahan tangisku lagi. Aku benar-benar menangis hebat di depan Kris sekarang.

Tiba-tiba saja dia sudah ikut berlutut di hadapanku juga, dan menyeka airmataku.

“Berhenti menangis dan pulanglah sebelum aku berubah pikiran.” Gumamnya dan memelukku erat. Kemudian mengecup keningku, lalu bibirku.
“Mungkin ini akan menjadi yang terakhir dan mungkin juga bukan.” Bisiknya dan memperdalam ciumannya. Kemudian, dia menjauhkan wajahnya saat aku sudah berhenti menangis.
“Jangan pernah menangis lagi untuk siapapun. Tidak juga untukku. Ini terakhir kalinya kau menangis. Arraseo?” tanyanya dan aku tidak mengangguk, tidak menggeleng. Aku pasti akan menangis lagi besok dan besok besoknya lagi.
“Aku mau pulang.” Kataku cepat dan berdiri. Dia ikut berdiri. Dan menahan pergelangan tanganku.
“Kau tidak akan menyesal?” tanyanya dan aku hanya diam. Aku sudah menyesal dari kemarin malam. Tapi apa boleh buat? Ini demi Soo Jung dan demi Kris, juga demi keluargaku.
“Ini… Keberangkatan jam 10 pagi.” Kataku dan menyodorkan tiket pesawat yang di berikan eomma tadi pagi. Kris menatapku dengan tatapan tidak rela. Aku juga tidak rela… Sangat tidak rela.
“Ne…” jawabnya pelan dan aku berjalan mundur, dan tetap menatapnya.
“Besok aku yang akan mengantar kalian ke airport. Jadi sampai jumpa besok.” Gumamku dan langsung keluar dari kamarnya. Meninggalkan rumahnya dan masuk kedalam mobilku.

Oh… Kamera dan ponselku juga tertinggal disana. Sudahlah… Toh aku juga akan kembali ke kamarnya nanti. Aku akan sering datang ke kamar itu nanti karena aku pasti sangat merindukannya.

Kamarnya… Ruangan yang selalu rapi, bersih dan harum. Disanalah semua dimulai. Ciuman pertama dan terakhirku. Bahkan juga hampir melakukan sesuatu yang tidak pantas kami lakukan. Putus pertama kalinya dan putus untuk ke dua kalinya.
Ruangan yang penuh dengan kenangan seperti itu, bisa membantu ku untuk tetap ingat dengannya.
Aku memang tidak akan menunggunya, karena aku tau dia tidak akan kembali. Tapi, aku tidak akan berhenti mencintainya.

Tiba-tiba saja, email dari Diktaktor di Canada untuk eomma itu merasuk ke otakku lagi. Semua karena dia! Hanya karena dia berkuasa, dia bisa melakukan apapun pada Kris dan keluargaku. Heol!

“Kembalikan Soo Jung-ku ke Canada. Dia sudah bukan putrimu lagi. Bawa juga anak bernama Kevin Wu itu. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putriku karena dari awal dialah penyebab semua kekacauan ini. Aku sudah memesan dua tiket untuk mereka, berangkat jam 10 pagi. Kalau sampai anak itu tidak kembali bersama Soo Jung, dia harus siap menerima tuntutan berat dan aku bisa memenjarakannya dengan mudah. Kau masih ingatkan? Aku, Choi Dong Suk, bukan hanya dokter segala bidang, tapi aku juga ketua pemerintahan di negara ini. Jadi lakukan segala cara agar dia ikut atau keluargamu juga akan menderita seperti dulu lagi. Miskin itu tidak enak kan?”

Aku mengacak-acak rambutku. Aku benci sekali dengan orang itu. Apa benar dia pamanku?! Kenapa aku bisa punya paman seperti itu?! Apa benar dia orang Korea Selatan? Bisa sajakan dia Orang Korea Utara yang hidup hanya untuk menyulut api perang! Menyebalkan sekali. Appa yang konglomerat saja tidak seperti itu!

Hhhhhh… Aku menghembuskan nafas berat, lalu menghidupkan mesin mobilku. Membuka lagu dengan volume keras dan memacu mobilku di jalanan kota Seoul yang mulai sepi. Sepi seperti aku yang akan kesepian mulai besok jam 10 pagi berakhir.

Sesuatu yang paling aku takuti benar-benar sudah terjadi. Benar-benar ada perpisahan lagi. Bahkan perpisahan untuk selamanya seperti ini. Diktaktor itu pasti akan memaksa Kris menikahi Soo Jung. Dan pada akhirnya pacarku_mantan pacarku itu menjadi adik iparku. Aku sudah pernah membayangkan tentang ini, sudah beberapa kali, tapi masih saja terasa begitu menyakitkan.

Sekarang aku hanya berharap aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi untuk mencintainya.
Mungkin ini terdengar konyol, karena aku sangat sehat sekarang, tidak mengidap penyakit yang bisa mati kapan saja. Tapi, siapa yang tau kalau suatu hari aku mati karena telalu merindukannya?
Konyol? Ya, sangat konyol. Sejak awal semua ini sangat konyol, sampai rasanya aku ingin menabrakkan mobilku ke pembatas sungai dan mati di dalam sungai Han saja.

Konyol sekali….
^_________^

Aku duduk diam di airport sambil menunggu Kris datang. Soo Jung sepertinya tidak tau kalau Kris akan ikut. Dia hanya diam saja. Kalau saja dia tau, dia akan sangat senang sekali.

“Hey..” bisik Tao dan melepas earphone di telinga kiri ku. “Wae?” tanyaku kaget.
“Dia benar-benar akan ikut? Kau yakin?” bisiknya lagi dan aku mengangguk.
“Dia belum tentu bisa kembali dengan cepatkan… kau yakin bisa menunggu?” tanyanya lagi.
“Aku tidak akan menunggunya. Aku masih waras.” Jawabku dan dia mendengus.
“Huh! Kata-kata mu ini seperti sudah sama sekali tidak mencintainya. Tapi aku yakin 10 tahun lagi perasaanmu padanya masih sama.” Oceh Tao lalu kembali memasang earphone ke telingaku.
“Ya. Aku tidak menunggunya bukan berarti aku tidak mencintainya lagi.” Balasku dan tepat saat itu Kris muncul di hadapan kami, menyodorkan ponselku yang tertinggal di rumahnya kemarin dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapanku.

Dia terlihat sangat berantakan, matanya bengkak dan rambutnya acak-acakan. Bahkan tak ada lagi aroma parfum yang biasa dia pakai. Dia benar-benar tidak seperti Kris yang biasanya lagi.

“Oh?! Oppa!!” Soo Jung memekik kaget dan langsung berdiri menghampiri Kris, kemudian duduk di sampingnya. “Kupikir kau tidak akan mengantarkan ku pergi.” Katanya, dia terlihat senang. Kris hanya tersenyum simpul, lalu menatapku sekilas.

“Tapi oppa? Kenapa hari ini kau berbeda sekali? Sangat berantakan… Buru-buru atau….” Soo Jung memperhatikan keadaan Kris dengan bingung. Kris hanya diam dan menarik nafas pelan.
“Eh?” Soo Jung terbelak kaget ketika melihat apa yang di bawa Kris.
“Oppa? Kau….” Dia tidak melanjutkan kata-katanya dan langsung menatapku marah.
“Mwo?” tanyaku bingung dan Soo Jung mendengus.
“Eonni-ya…” Soo Jung menatapku dan mengigit bibir bawahnya, dia menangis.
“Kenapa kaget begitu? Kau tidak mungkin berangkat sendiri kan? Jadi Kris yang akan pergi bersamamu. Seharusnya kau senang. Kenapa malah menangis?” tanyaku pelan dan Soo Jung menatapku tajam. Kemudian menatap Kris.

“Kalian gila yah? Sampai kapan seperti ini terus?!” dia memekik tertahan.
“Choi Soo Jung! Kau gila?! Kau masih sakit! Jangan seperti itu!” Tao ikut memekik kesal.
“Aku sama sekali tak peduli dengan sakitku,” Gumam Soo Jung, dia menahan tangisnya.
“Kalian pikir aku bodoh yah? Kalian pikir aku sama sekali tidak tau apa-apa tentang kalian? Kalian pikir aku ini anak kecil yang sama sekali tidak bisa melihat hubungan kalian berdua?!” dia memekik lagi. Tao menghembuskan nafas kesal, membiarkan Soo Jung yang sudah tau semuanya meluapkan emosinya.

Dia benar-benar sudah tau semuanya. Oh… aku ingat kata-katanya anehnya di rumah sakit.
‘Kau bahkan sampai tau asal-usul keluarganya. Hebat.’
‘Oppa! Kau tidak mengejarnya?’ Sepertinya pertanyaan itu untuk Kris. Bukan Tao.
Lalu, ucapan maaf yang dia katakan saat aku menangis hebat. Dan mungkin ada keanehan lain yang aku tidak tau. Aku memang bodoh sekali.

“Bahkan aku sudah tau semuanya di hari pertama aku datang ke kampus itu. Kalian pikir aku tidak punya telinga? Semua orang membicarakan kalian. Dan aku hanya seperti seorang pengganggu,” Kali ini Soo Jung bergumam pelan. Nafasnya terengah-engah.
“Aku selalu menunggu hari di mana kalian berdua akan jujur padaku. Sampai hari itu, aku berencana menyerah dan membiarkan kalian berdua kembali bersama. Tapi sekarang apa?”

Kami berempat diam. Eomma muncul dan menyodorkan makanan dengan kotak styrofoam untuknya. Dia mengambilnya dengan sopan, lalu air mukanya berubah menjadi marah lagi.

“Ada apa?” tanya Eomma dan sontak kami semua menggeleng. Eomma mengangguk pelan dan duduk di samping Soo Jung. Menatap Soo Jung dengan penuh sayang. Pertanyaanku adalah, apakah Eomma pernah menatapku dengan tatapan seperti itu? Sekarang aku sedang merasa iri pada anak itu. Dia menjadi sangat beruntung dimataku.
“Oppa. Kau tak perlu pergi. Aku bisa sendiri. Aku benar-benar tidak membutuhkanmu!” Kata Soo Jung kasar dan Eomma terlihat kaget. Kris hanya menoleh ke arahnya sekilas, lalu menatapku lama.
“Kembalilah pacaran seperti dulu. Dan Tao oppa… Jangan mengejar eonni-ku lagi. Dia milik Kris.” Kata Soo Jung dingin dan menatap Tao sekilas.
“Huh! Aku bahkan belum berbuat banyak untuk mengejarnya. Jadi kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan itu.” Jawab Tao malas, lalu dia berjalan pergi.
“Selasaikanlah pelan-pelan. 15 menit lagi pesawat take-off.” Gumam eomma dan ikut pergi juga. Sekarang tinggal Aku, Kris dan Soo Jung.
“Aku benci kalian.” Kata Soo Jung dan menatapku tajam. Aku hanya diam, dan menunduk.
“Aku pikir setelah aku kembali ke Canada kalian bisa seperti dulu lagi. Tapi ternyata aku salah. Sebenarnya apa yang ada di otakmu? Aku tau kau sangat mencintainya. Aku mendengarmu menangis malam itu. Aku ikut menangis karena merasa bersalah padamu. Kau harus tau itu.” Soo Jung mengomel lagi. Kemudian menarik nafasnya, lalu menghembuskannya dengan kesal.

“YA!!! PARK JUNG YEON!!!!!!!” Dia memekik keras, aku langsung mengangkat kepalaku karena kaget. Dia tidak pernah berteriak sampai sekeras itu. Bahkan sampai semua yang sedang berada di ruang tunggu airport ini menatapnya kaget.
“Soo Jung-ah…” Kris meraih tangannya, menggenggamnya erat.
“Jangan sentuh aku!” Marah Soo Jung dan melepas paksa tangan Kris.
“Kenapa kau menyuruh Kris ikut denganku? Bukannya mudah saja kalau membiarkan ku kembali sendiri dan kau bisa hidup bahagia dengan pacarmu? Apa karena aku adikmu yang belum meninggal? Makanya kau terus mengorbankan dirimu seperti ini? Ini sangat tidak perlu karena ini bukan drama!” katanya ketus, dia meremas kotak makan styrofoamnya.

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang.” Jawabku akhirnya.
“Jadi kapan kau baru memberi tahuku? Setelah aku meninggal? Lalu kau menangis di depan kuburku dan memberitau semuanya? Begitu?!” dia memekik lagi. Aku menggeleng cepat.
“Akan ku jelaskan nanti di pesawat. Tenang lah…” jawab Kris dan Soo Jung menatapnya tajam.
“Dan kau oppa! Kau sangat mencintai eonni-ku kan? Kenapa kau bodoh sekali meninggalkannya seperti ini? Atau kau sudah mencintaiku makanya kau mau ikut denganku?!” tanyanya marah dan Kris menggeleng cepat. “Bukan seperti itu.” Jawab Kris pelan dan aku menarik nafasku.
“Kris akan menjelaskan semuanya nanti. Pada saat itu kau akan tau kenapa kami melakukan hal seperti ini. Yah… meskipun kau tidak akan percaya dengan apa yang kau dengar nanti.” Jawabku pelan dan Soo Jung diam. Dia menatapku dan Kris secara bergantian.
“Aku beruntung tidak pingsan saat itu,” Gumam Soo Jung dan dia tersenyum sekilas. Senyum paksa.
“Kalau aku pingsan, mungkin aku tidak perlu marah-marah sekarang.” Lanjutnya.
“Kapan?” tanya Kris dan Soo Jung mengerlingkan matanya.
“Di kampus. Dari jauh saja aku sudah melihat kalian berdua. Belum lagi orang di sekitarku yang terus memuji kalian berdua. Saat kutanya, mereka bilang Park Jung Yeon dan Kris kan pacaran. Kau tidak tau? Kau pasti anak baru kan!” omelnya sambil meniru gaya bicara seseorang.
“Aku hanya diam dan menunggu apa yang terjadi. Aku bahkan sudah melakukan banyak hal-hal buruk supaya kalian jujur padaku. Dan maaf soal ciuman itu. Aku melakukannya supaya kalian menghentikan kebohongan kalian. Kupikir kau pasti tidak bisa bertahan lama melihatku menempeli oppa terus-menerus. Lalu kau akan membocorkan semua rahasia kalian selama ini. Tapi ternyata aku salah. Hatimu sangat kuat, dan kalian terus berbohong dan menyakiti hati kalian sendiri. Kau takut melihat ku mati kan? Makanya kau melakukan itu?” tanya Soo Jung dan aku hanya mengangguk. Lalu kami diam. Penjelasan Soo Jung sudah lebih dari cukup untuk membuatku semakin ingin menangis sepuas-puasnya detik ini juga.

Aku mengeluarkan ponselku dan mem-forward email dari Dokter Diktator itu ke email Kris. Tak berapa lama ponselnya berbunyi, dan dia langsung membuka ponselnya dengan cepat, dan melihat ke arahku sekilas, lalu dia memicingkan matanya, kesal menerima email menyebalkan itu. Maaf….

“Dan kalian berkomunikasi lewat ponsel sekarang? Lucu sekali.” Omel Soo Jung dan mendengus pelan. “Pinjam.” Kata Soo Jung dan sangat di luar dugaan, dia merebut ponsel Kris. Dan matanya terbelak lebar. Dia langsung menatap ku dan Kris secara bergantian, lalu dia menarik nafasnya. Karena dia sudah membaca isi email itu, kurasa Kris tak perlu menjelaskan semuanya lagi pada Soo Jung di pesawat nanti.

“Choi Dong Suk? Kau yakin ini dari Appa ku?” tanya Soo Jung dan aku mengangguk.
“Dia kirim ke Eomma kan?” tanya Soo Jung lagi dan aku hanya mengangguk. Dia mendengus lagi. Kali ini lebih keras. Lalu dia mengepalkan tangannya dan masih tetap menatap ponsel Kris.
“Oppa… Kau pengecut!” pekik Soo Jung tiba-tiba, dia mempelototi Kris dan Kris hanya menatapnya, tatapannya terlihat sangat lelah sekali.
“Soo Jung-ah. Pelankan suaramu…” kataku pelan, Soo Jung menarik nafasnya. Mencoba tetap tenang. Dia benar-benar harus menahan emosinya kalau tidak mau terjadi apa-apa sebelum tiba di Canada. Kalau saja dia tak bisa menahan emosinya, aku tak tau lagi harus berbuat apa.
“Oppa. Kau ini kenapa? Tidak bisakah kau melawan saja? Kenapa kau harus ikut denganku dan menjadi pengecut seperti ini?!” tanya Soo Jung marah. Kris menggeleng.
“Oppa! Jawab aku! Aku jelas tau kau bukan orang seperti ini! Dulu kau bahkan bisa melawan keinginan Lin Ling kan! Kenapa sekarang kau tidak bisa? Kenapa kau tidak bisa melawan seseorang yang bahkan tidak kau kenal jelas!” pekik Soo Jung, dia sampai mengelus dadanya, menahan emosi.
“Soo Jung… Sudahlah…” kataku dan Soo Jung menatapku tajam.
“Eonni! Kau juga sama! Kenapa kalian seperti ini?!” pekik Soo Jung ke arahku.
“Oppa… Kau bahkan hampir mengacaukan pernikahan Lin Ling kan.. Tapi kenapa sekarang kau berubah menjadi pengecut seperti ini?! Kau tak perlu takut pada ayahku! Dia bukan siapa-siapa!” lanjutnya. Mendengar itu, aku membekap mulutku sendiri. Yang benar saja? Kris sampai melakukan hal seperti itu?

Kris mengepalkan tangannya yang bergetar hebat. Kemudian menoleh dan menatap Soo Jung tajam.

“Kau tau apa?!” Kris tiba-tiba memekik. Soo Jung terlihat kaget dan balas menatap Kris tajam.
“Kau pikir aku bisa begitu saja membantah kata-katanya? Menolak mentah-mentah keinginan wanita yang kucintai? Dia berlutut di depanku dan terus memohon-mohon! Dia sampai menangis karena aku dan kau! Kau pikir aku bisa melihatnya terus seperti itu?!” Dan akhirnya dia melontarkan kata-kata itu dengan suara keras. Dia benar-benar marah sekarang. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa untuk meredakan kemarahannya.
“ Kalau aku tidak melakukan apa yang dia minta, malam itu aku akan terus melihatnya menangis dan berlutut di hadapanku. Kau pikir aku sanggup melihatnya seperti itu?!!”

“Aku sudah pernah berjuang setengah mati demi mempertahankan Lin Ling. Kau tau itu kan? Tapi, dia malah semakin membenciku karena itu. Kalau aku juga melakukan hal sama yang pada Jung Yeon, dia juga akan membenciku! Kau pikir aku bisa hidup seperti itu lagi?!” tanyanya marah dan Jung Yeon langsung tertunduk. Tanpa sadar aku menangis lagi. Masa lalunya sangat menyakitkan.
“Kau benar-benar tidak tau apa-apa. Jadi berhenti memberontak dan ikuti saja apa perintah ayahmu dan aku akan tetap melakukan apa yang diinginkan Jung Yeon.” Lanjut Kris, kali ini dia mengecilkan suaranya. Seolah semua kemarahannya telah reda dan semua beban yang dia tanggung selama ini sudah pergi entah kemana. Wajahnya terlihat lega. Lega setelah membuang semua masa lalunya. Seperti itu lah kira-kira.

Dia menatapku lekat-lekat, dan aku langsung menyeka air mataku cepat. Dia tidak ingin melihat ku menangiskan? Jadi aku tidak akan membuatnya melihatku menangis lagi.

“Oppa…Mianhae. Aku bahkan tidak tau Lin Ling membencimu. Mungkin benar dia tidak benar-benar mencintaimu. Tapi, yang pasti Jung Yeon eonni tidak akan membencimu hanya karena kau berjuang demi kalian. ” gumam Soo Jung dan menyeka airmatanya. Sejak kapan ia menangis?
“Eonni…” Soo Jung menatapku, kali ini tatapannya bukan tatapan marah lagi.
“Kau tau? Sepertinya kau manusia paling bodoh didunia. Kau terlalu dramatis. Aku merasa tindakanmu benar-benar sudah seperti drama. Kau tidak perlu sampai mengorbankan segalanya demiku. Kalau pun suatu hari aku meninggal, itu bukan karena mu atau oppa. Tapi memang sudah waktunya aku meninggal.” Kata Soo Jung pelan. Dia menghembuskan nafasnya pelan.

Dan sepertinya dia benar. Aku seharusnya tidak sedramatis ini. Dan apa yang dikatakan Kris juga benar, seharusnya aku bisa sedikit egois dan mungkin sekarang tidak akan terjadi hal seperti ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjadi orang seperti itu.

“Haaa… Untung saja jantungku tidak kumat sekarang.” Gumam Soo Jung yang menatap layar ponsel Kris, wajahnya memerah. Kris hanya menatapnya sekilas kemudian menatapku lagi. Sebenarnya apa yang di lihat Soo Jung? Wallpaper?
“So Sweet.” Bisik Soo Jung dan menunjukkan Wallpaper ponsel Kris. Sama sekali belum di ganti. Benar-benar membuatku malu. “Hey!” Kris langsung merebut ponselnya dari tangan Soo Jung. Gadis itu nyengir dan menghela nafas lagi.

Dan tiba-tiba suara dari bagian informasi terdengar. Pesawat akan berangkat 5 menit lagi. Bersiaplah Park Jung Yeon… Terima kenyataan ini sekarang. Kenyataan yang kau buat semakin sulit.

“Bicaralah berdua. Aku akan ke toilet.” Kata Soo Jung pelan dan membawa pergi semua barangnya.

Kris langsung beranjak dari kursi dan berlutut di hadapanku. Menggengam erat pergelangan tanganku, dan menatapku lekat-lekat.
“Ini…” Dia menyodorkan sesuatu. Album foto berukuran kecil.
“Dan ini.” Kali ini kunci. Ada beberapa kunci di jadikan satu.
“Ini semua kunciku. Kunci kamar, kunci rumah, kunci mobil, lemari. Semuanya…” katanya pelan. Lalu menatapku lekat-lekat. “Kau bebas menggunakan kunci itu. Kau harus tetap datang ke rumahku dan kamarku. Kau juga harus menggunakan mobilku, dan lokerku di kampus.” Katanya lagi. Matanya terlihat bengkak semakin bengak, bahkan dia meneteskan airmata. Ini kedua kalinya aku melihat dia menangis, kali ini menangis tanpa suara.

“Dan… Ini akan terdengar agak menjijikan. Tapi…” dia menghentikan ucapannya.
“Apa?” tanyaku bingung, suaraku sepertinya bergetar, karena menahan tangisku.
“Karena semua kunci sudah ku berikan padamu. Itu artinya…” dia menghentikan ucapannya lagi.
“Itu artinya. Aku sudah mengunci hatiku juga…” lanjutnya.
“Dan hatiku tidak akan pernah terbuka lagi untuk siapapun. Hanya kau yang bisa membukanya. Karena semua kuncinya ada bersamamu. Termasuk kunci … hatiku.” Lanjutnya pelan dan aku merasa semakin sakit hati. Kata-katanya yang terasa menggelikan itu membuatku semakin tidak bisa menahan air mataku lagi.

“Aku ingin muntah karena aku mengatakan hal seperti ini… Tapi, aku serius. Aku tidak sedang main drama,” Katanya dan mengecup keningku.
“Besok… Kau tidak boleh menangis lagi, dan jangan ingat-ingat teriakan-teriakanku tadi. Jangan kau pikirkan masa lalu ku yang menyakitkan itu. Aku pernah katakan padamu kan, Awalnya semua memang sangat menyakitkan, Setelahnya kau akan mudah melupakan sakit itu,” Bisiknya dan menyeka air mataku. Aku tak merespon ucapannya, karena aku tidak bisa tidak menangis, tidak bisa tidak memikirkan masa lalunya itu.
“Dan apa yang kukatakan itu benar. Awalnya semua begitu sakit. Dan setelah aku bertemu denganmu, perlahan aku sudah melupakan semuanya. Sakit itu benar-benar sudah hilang.” Lanjutnya, suaranya bergetar dan dia menangis dalam diam lagi.

Aku hanya diam dan menyeka airmata di pipinya. Dia mengingatkanku pada ciuman pertamaku lagi. Ciuman pertama yang memang harus dilakukan bersama orang yang kucintai. Dan itu benar-benar terjadi padaku. Bahkan dia melakukan itu juga karena menyukaiku. Benar-benar di luar dugaan.

“Saat sakit itu sudah benar-benar hilang, kau akan hidup lebih bahagia daripada sekarang. Dan kalau suatu hari kau mencintai Tao. Jangan beritahu aku.” Bisiknya lagi dan tersenyum simpul.
“YA!!!!” Aku memekik tertahan. Dia langsung memelukku erat.
“LI JIA HENG!!!” Tao memekik dan Kris langsung melepas pelukannya.
“Terbang!” kata Tao dan berjalan ke arah kami.
“Oh…” Kris menatapku. “Jaga kunciku baik-baik. Kuharap suatu hari kau bisa membuka kunci hatiku lagi. Aku akan menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku. ” bisiknya pelan dan mengecup pipiku.
“Sudahlah. Pergi sana. Aku muak dengan gombalanmu!” kataku pura-pura kesal dan dia menatapku lembut. Lalu tersenyum simpul dan menggenggam erat jemariku.
“Saranghae.” Bisiknya dan mengecup daun telingaku lalu langsung pergi karena Tao dan eomma sudah menariknya.

Tiba-tiba ponselku berdering dan ternyata Kris mengirimkan semua foto selca kami semalam. Termasuk foto polaroid dan tulisan yang kutulis di sana. Dia bahkan masih sempat mengirimkan ini?

Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku, mengejar mereka yang belum jauh dan menahan tangan Tao yang menarik Kris.

“Wae? Berubah pikiran?” tanya Kris dan tersenyum lebar. Sepertinya dia benar-benar berharap kalau aku merubah pikiranku dan menyuruhnya tetap tinggal. Aku juga ingin tapi tidak bisa.
“Ania. Sudah terlambat untuk itu.” Kataku dan berjalan mendekat. Lalu aku melompat sedikit dan mengecup kening berponinya. Sudah lama sekali aku ingin melakukan ini, tapi tidak bisa. Dan sekarang aku bisa melakukannya, meskipun di detik-detik terakhir hubungan kami.

Kris terlihat shock sekaligus takjub.Tapi, dia langsung tersenyum senang.

“Kau tinggi sekali.” Ocehku dan mundur selangkah, lalu tersenyum lebar. Dia ikut tersenyum dan tertawa pelan. Membuat Flying Kiss dan berjalan mundur sambil menatapku.

Aku langsung membalikkan badanku. Aku sudah tak sanggup menahan air mataku.
Dia benar-benar pergi sekarang. Benar-benar melakukan permintaan terakhirku.
Apa yang akan terjadi padaku setelah ini? Apa yang terjadi pada Kris setelah ini.
Entahlah… Aku tak berani membayangkannya.

Aku kembali ke ruang tunggu dan terduduk lemas. Eomma menghampiriku.
“Eomma, pulang saja duluan. Aku masih ingin disini.” Kataku pelan. Eomma awalnya menolak, tapi akhirnya dia setuju. Kemudian eomma pergi.
“Hey… kau baik-baik saja?” tanya Tao dan duduk di sampingku. Aku mengangguk pelan.
“Kau mau menyuruhku pulang duluan juga? Jangan harap.” Katanya dan tersenyum tipis.
“Ha? Aku mau menyuruhmu….” Belum selesai aku bicara, seorang wanita muncul di hadapanku. Dia menatapku, tatapannya lembut. Sepertinya dia mengenaliku. Dan sepertinya aku tau siapa dia.
“Park Jung Yeon?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Nugu?” tanyaku dan dia tersenyum senang.
“Aku penasaran sekali mau melihat wajahmu secara langsung. Tapi waktu itu kau tidak datang. Untunglah kita bertemu disini.” Katanya dan kami berjabatan tangan.
“Ini Kris?” tanyanya dan menunjuk Tao. Tao kaget, dan langsung menggeleng cepat.
“Bukan!” katanya dan wanita itu terlihat salah tingkah. “Maaf.” Ucapnya pelan.
“Oo! Jung Yeon-ah!” panggil sebuah suara, saat aku melihat ke arahnya, terlihat Leeteuk oppa, dia sedang jalan mendekat ke arah kami.
“Kang Sora?” tebakku dan wanita itu mengangguk. Ternyata ini Kang Sora, mereka cocok sekali.
“Kenapa tidak datang?” tanya Leeteuk oppa dan aku mengerutkan keningku.
“Maksudnya?” tanyaku balik. “Loh? Kau lupa? 3 minggu yang lalu pesta pernikahanku. Kau kan sudah ku undang.” Kata Leeteuk oppa dan aku langsung terperanjat.
“Ah!! Aku lupa! Mianhae oppa!” kataku cepat, aku sangat merasa bersalah sekarang.
“Tidak apa. Oh! Kami harus berangkat sekarang.” Kata Leeteuk oppa kaget,sepertinya mereka akan bulan madu. “Annyeong!” kataku dan mereka langsung pergi setelah tersenyum manis padaku. Dan juga pada Tao.
“Kau terlalu stress, terlalu banyak masalah sampai-sampai kau lupa tentang mereka.” Gumam Tao, dia menatap ku iba. Aku hanya mengangguk lesu.
“Jadi? Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Tao dan aku tersenyum jahil.
“Menikah dengan mu.” Jawabku asal dan Tao memekik.
“Aish!! Gila!” katanya dan memukul bahuku. Aku hanya tertawa kering. Aku sedang berusaha menghibur diriku sekarang. Supaya tak terlalu sedih, tapi tetap saja menyedihkan sekali.
“Oh yah. Tadi aku mendengar semua yang dikatakan Kris. Suaranya sangat keras. Orang sekitarku juga mendengarnya.” Kata Tao pelan. “Lalu?” tanyaku bingung.
“Lalu… mereka semua salut bahkan iri padamu.” Lanjutnya.
“Oh… Sudah seharusnya mereka iri.” Ocehku asal. Tao cuma diam.
“Tapi, aku benar-benar tidak tau tentang itu. Aku tidak tau Lin Ling Jiejie membencinya. Soo Jung juga tidak tau kan? Sepertinya hanya dia sendiri yang tau.” Gumam Tao.
“Wanita itu. Kenapa hanya kau yang memanggilnya dengan sebutan jiejie? Memangnya dia umur berapa?” tanyaku kesal. Soo Jung dan Kris hanya menyebut namanya, tanpa embel-embel eonni dalam bahasa mandarin seperti yang di lakukan Tao.
“Dia, lebih tua lima tahun dari Kris.” Jawab Tao dan aku merasa tenggorokanku tercekat.
“Soo Jung membencinya, jadi tidak mau menghormatinya. Aku juga membencinya, tapi aku tidak bisa tidak menghormati orang yang umurnya jauh di atasku seperti dia.” Jawab Tao pelan. Aku mengangguk-angguk pelan.
“Sudahlah. Aku tidak mau tau lagi tentang wanita itu. Dia hanya beruntung karena Kris pernah berjuang demi dia.” Gumamku pelan.
“Tapi dia sama sekali tidak menghargai usaha Kris. Menyebalkan!” omelku dan meneguk habis air mineralku. Lalu aku menoleh ke arah Tao.
“Kau sendiri? Untuk apa tetap disini? Soo Jung kan sudah kembali ke Canada.” Tanyaku dan Tao langsung menatapku malas.
“Ahhh… Sebenarnya… Tanpa di minta pun, aku memang sudah mau melakukan ini. Sebenarnya Kris memintaku menjagamu disini. Jadi, aku tidak boleh kemana-mana,” Jawab Tao pelan.
“Lagipula aku sudah terlanjur serius kuliah kedokteran. Jadi kalau aku pulang, rasanya sayang sekali,” Lanjutnya. Aku mengangguk-angguk.
“Juga… menunggu keajaiban suatu hari kau mencintaiku.” Bisiknya dan aku memekik tertahan.
“Aish!!! Neo Jinjja!!!”
^_____^

TO-BE-CON-TI-NUE

Everyone!! All Reader !!
Kalau udah bosan sama FF ini, sabar yah! Sebentar lagi tamat. Hahahahhaa
Dan buat yang baca FF ini sampai kebawa perasaan, sampai nangis. Saya minta maaf sebesar-besarnya. Hehehehe 😀
Sebenarnya waktu bikin FF ini, saya juga ke bawa perasaan sampai Bad Mood, pengen marah juga kayak Kris. LOL
Jangan pernah bosan dan malas ngetik komen buat FF ini yah 😀
Komen panjang pun gak apa, karena saya suka baca komen panjang kalian.
Maaf kalau FF ini memusingkan. Hahahhaa

Gomawo!
Love Yaaaa 😛

-Eve RyLin

Advertisements

7 thoughts on “THAT XX PART 5

  1. akhirnya keluar juga wkwkwk
    Gak ku sangka ternyata soo jung adeknya Jung Yeon dan dia udah tau ternyata Jung Yeon udah pacaran sama kris ckckck
    Aku kira kris bakal gak jadi pergi eh pergi juga –‘
    Lanjutannya asap!

  2. akhirx part 5 kluar jga…..

    Waaaahh…. Part ini bnar2 mnguras air mata… 😥

    kaget bnget wktu tau soo jung & jung yeon ternyata saudra kndung 😦

    ayah angkatnya soo jung sok bnget sich…
    pokoknya thor, lnjut part brikutnya…
    pnasaran klanjutan kisah mereka… 😉

  3. QAQ DEMI LUHAN!!!!! Ceritanya keren, feelnya dapet, alurnya bagus, ngalir gitu aja, kek natural gitu loh. Cerita dengan bahasa kek gini nih yang gue cara, bahasanya ringan ga berat (?), mudah dimengerti ;AAA;;
    Salut sama JungYeon

  4. Gak tau mau ngoment apa rasanya nyesekkkkk…bngtt!!! Jungyeon terlalu baik ya, saking baiknya dia selalu membuat orang bahagia tanpa memikirkan dirinya, gk pernah ada kata egois, takjub bngt, selanjutnya gimana aku next ya 🙂 😉

  5. ya ampun aq bner nge feel bangt ma ff part nie, apalagi saat kris yg ngebentak so jung soal keputusannya itu, bener2 bikin gigit jari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s