THAT XX PART 4

ANNYEONG !!

Eve and PART 4 is Here !!

Kkkk

Happy Reading !
krisd
>> Jung Yeon pov

“Aku tidak mau.” kataku pelan dan Tao memanyunkan bibirnya.
“Kenapa? Karena aku selalu menundukkan kepalaku?” tanyanya dan aku menggeleng.
“Sudah ku katakan padamu, Aku punya pacar.” jawabku dan dia hanya menatapku.
“Siapa?” tanyanya dan aku diam. “Apa dia tidak di Korea?” tanyanya dan aku menggeleng.
“Di kampus ini?” tanyanya lagi dan aku tidak memberikan reaksi apapun. Seharusnya aku jawab saja kalau pacarku tidak di Korea. Jadi dia tidak perlu banyak tanya lagi.
“Ah! Sudahlah. Aku mau pulang.” kataku cepat dan langsung pergi dari sana. Kenapa dia bisa tiba-tiba menyukaiku? Menyusahkan sekali.
Daripada aku sibuk dengan urusan yang satu ini. Lebih baik aku mencari Kris saja. Dia benar-benar tidak bisa ku biarkan salah paham seperti ini.
Aku memutar arah jalan mobilku menuju rumah Kris. Kuharap tidak ada Soo Jung di sana.
Tidak berapa lama, aku sampai dan menghentikan mobilku agak jauh dan menelepon ke rumah Kris.
Dan lega sekali aku, Kim Ahjussi bilang tidak ada Soo Jung di sana, dan juga tidak ada Kris. Aku akan menunggu saja di kamarnya.
Aku keluar dari mobil dan Kim Ahjussi sudah menungguku di depan pintu.
“Ahjussi annyeong!” sapaku dan dia tersenyum ramah.
“Annyeong. Sudah lama kau tidak datang. Kau mau makan apa?” tanyanya dan aku menggeleng.
“Tidak perlu yang special, ahjussi. Gomawo.” kataku dan dia mengangguk pelan.
“Ne.” jawabnya dan berjalan ke dapur.
Wu Mama. Sudah hampir setengah bulan aku tidak bertemu dengannya. Selama ini dia pergi ke Cina untuk urusan amal. Aku sungguh sangat merindukannya.
“Wu Mama!” panggilku dan Wu Mama menoleh.
“Jung Yeon!” katanya senang dan memelukku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya dan mengelus rambutku. Aku mengangguk.
Tiba-tiba saja wajahnya terlihat sedih. “Kau yakin kau baik-baik saja?” tanyanya dan aku mengangguk pelan. Wu Mama tersenyum simpul dan memelukku lagi.
“Akan ada saatnya nanti kalian kembali bersama lagi tanpa harus membohongi Soo Jung.” kata Wu Mama dan memperat pelukannya. “Kalau sudah terlalu lama, aku akan membantumu menyelesaikan masalah kalian.” lanjutnya dan melepas pelukannya. Aku menggeleng.
“Wu Mama tidak perlu repot-repot. Aku dan Kris bisa menyelesaikannya sendiri.” jawabku pelan. Rasanya aku ingin menangis lagi sekarang.
“Baiklah. Tapi jangan pernah menahan beban dan tangismu sendirian…” gumamnya dan memelukku lagi.
“Ne. Gomawo..” Aku balas memeluk Wu Mama.
Kalau boleh jujur. Wu Mama lebih memperhatikanku daripada Eomma-ku sendiri. Andai saja keluargaku ikut prihatin dengan nasibku sekarang. Mungkin rasanya tidak sesakit ini.
“Wu Mama, Kris sudah pulang dan bersama Soo Jung.” lapor Kim ahjussi pelan, lalu kembali bekerja.
“Ya, Gomawo.” kata Wu Mama pelan. Apa tadi? Bersama Soo Jung?! Tamatlah aku.
“Jung Yeon-a. Tenanglah. Kau tetap di sini. Soo Jung yang akan pulang. Tunggulah di kamar.” kata Wu Mama dan aku kabur ke atas. Sedangkan Wu Mama berjalan keluar.
“Annyeong Ahjumma!” sapa Soo Jung dan memeluk Wu Mama. Aku mengurungkan niatku masuk ke kamar Kris. Penasaran dengan apa yang akan dikatakan Wu Mama padanya.
“Kris, ada yang penting harus kita bicarakan.” kata Wu Mama dan Kris terlihat bingung.
“Oh? Aku boleh ikut?” tanya Soo Jung dan Wu Mama menggeleng.
“Mianhae. Hanya aku dan Kris berdua. Kau bisa pulang sendiri kan?” tanya Wu Mama pelan, Soo Jung mengangguk pelan. “Kalau begitu aku pulang dulu ya Ahjumma, Oppa, aku pulang. Annyeong!” kata Soo Jung dan berjalan keluar rumah.
Wu Mama hebat!
“Ke kamar sekarang.” kata Wu Mama dan Kris hanya mengangguk lalu naik ke atas. Cepat-cepat aku masuk ke kamarnya.
Jantungku berdebar tidak karuan. Aku takut bertemu dengannya. Tidak tahu apa yang dia pikirkan sekarang.
Kris membuka pintu dan ketika melihatku, dia hanya terdiam di ambang pintu. Aku hanya tersenyum sekilas dan berdiri di dekat jendela. Menunggunya bereaksi sendiri.
Tak berapa lama dia masuk dan menutup pintu kamarnya.
“Kau marah?” tanyaku dan dia hanya diam. Meletakkan kunci mobilnya di meja dan menggantung tas ranselnya. Dia benar-benar sedang marah.
“Wu Yi Fan…” panggilku dan dia hanya menatapku sekilas, lalu sibuk dengan ponselnya.
“Kau percaya apa yang dikatakan Tao? Dia hanya bohong. Kami sama sekali tidak pacaran.” kataku lagi. Dia mengangkat kepalanya, menatapku lama.
“Sebenarnya apa yang kalian rencanakan?” tanyanya ketus dan jalan mendekatiku.
“Kami tidak merencanakan apapun.” jawabku dan dia menaikkan alis matanya.
“Lalu ini apa?” tanyanya dan menunjukkan layar ponselnya.
Kenapa bisa ada foto itu? Fotoku bersama Tao di perpustakaan tadi. Siapa yang melakukannya? Tao? Apa mungkin?!
“Itu….” aku mencoba menjelaskan padanya.
“Sudahlah…” Dia memelukku erat. “Mianhae…” gumamku dan dia mempererat pelukannya.
“Aku tidak bisa bernafas!” kataku dengan susah payah dan dia melepas pelukannya.
“Kau masih marah?” tanyaku dan dia mengangguk.
“Ayolah… Jangan marah lagi…” pintaku dan dia menggeleng.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Bisiknya dan aku terdiam. Dia harap dia sedang bercanda.
“So?” tanyaku kesal. Dia hanya diam dan menatapku tajam.
“Kumohon… Maafkan aku…” pintaku. Dia tidak menjawab sama sekali.
“Kau marah besar?” tanyaku takut. Dia mengangguk pelan. Menjauh dan duduk di tepi kasur. Aku ikut duduk di sampingnya dan kami hanya diam. Aku sudah malas bicara sekarang.
Sejak kapan dia jadi tidak bisa memaafkanku seperti ini?! Menyebalkan.
“Bahkan kau tidak pernah menemuiku lagikan. Hari ini kau datang saja demi menjelaskan masalah seperti ini. Jadi kurasa kau memang sedang pacaran dengan Tao sekarang.” katanya pelan dan aku mendengus kesal..
“Kau sudah gila ya?” tanyaku bingung dan dia tidak menjawab lagi. Sepertinya dia benar-benar sedang gila. Aku langsung berdiri di hadapannya dan menarik dagunya, mengangkat kepalanya, menghadapku.
“Lihat aku! Memangnya aku sedang berbohong?” tanyaku pelan, mencoba tetap sabar.
“Aku merindukanmu.” gumamnya, kali ini dia menatapku dengan tatapan lembut, tidak tajam seperti tadi lagi. Aku sedikit menunduk dan mengecup bibirnya sekilas. Dia menggenggam tanganku dan menarikku mendekat.
“Setelah ku lihat-lihat. Kau lebih cocok dengan Tao daripada denganku.” gumamnya dan aku terbelak.
“Kau gila?!” pekikku kesal dan dia menggeleng.
“Tao bilang dia mencintaimu kan?” tanyanya dan aku diam. Untuk apa dia menanyakan itu?!
“Salah, dia bilang dia menyukaimu kan?” tanya Kris lagi dan aku menatapnya tajam.
“Saekkiya!” pekikku lagi dan dia tersenyum kecut. “So?” tanyanya dan aku diam.
“Dia itu…” Belum sempat Kris melanjutkan kata-katanya, aku langsung membungkam mulutnya dengan bibirku. Sudah cukup untuk hari ini. Dia sudah gila. Benar-benar gila.
“Hei Hei Hei…” Dia menjauhkan wajahnya dan berdiri.
“Kau pacar Tao sekarang. Jangan lakukan apapun padaku lagi.” katanya dan menjauh dariku.
Kris membuka pintu lebar-lebar. Lalu menarik tanganku, keluar dari kamarnya.
“Kau sinting?!” pekikku lagi dan dia langsung mempelototiku. Menunjuk jam di dinding.
“Pulanglah.” katanya dan membuka pintu rumah. “Katakan pada Tao kalau kita sudah selesai.” lanjutnya.
“KRIS!!!” Aku memekik kesal dan melepas paksa genggaman tangannya.
“Dia bahkan tidak tahu apapun tentang kita!” Aku memekik tertahan.
“Kalau begitu jangan beritahu. Biar kita berdua saja yang tahu.” jawabnya dan memaksakan senyumnya.
“Kau boleh marah padaku, tetapi jangan seperti ini!” kataku kesal. Aku hampir menangis sekarang.
“Sudah ku katakan tadi. Aku tidak akan memaafkanmu.” bisiknya dan memelukku sekilas. Benar-benar sangat sebentar. Pelukan paling singkat darinya.
“Kau pasti akan lebih bahagia bersama Tao, Bukan bersamaku,” katanya dan menyeka airmataku.
“Dan setelah ini kau tidak akan menangis karena aku lagi.” lanjutnya.
“Saekkiya!!” Aku memekik tertahan. “Kau akan membuatku menangis selamanya setelah ini!!” Aku memekik kesal. “Tidak akan. Aku jamin.” jawabnya dan tersenyum tipis.
“Kau masih bisa tersenyum hah?! Kau gila?! Kau sadar kau sedang apa sekarang?” tanyaku lagi. Dia mengangguk. “Sangat sadar. Aku sedang melepaskanmu.” jawabnya dan aku terdiam.
“Kau melepaskanku begitu saja setelah semua yang kau lakukan padaku? Kenapa kau melakukan itu?!” Dan aku benar-benar menangis sekarang.
“Kau akan bahagia tanpaku.” jawabnya. Aku menggeleng.
“Aku hanya akan bahagia denganmu.” kataku pelan. Dia menggeleng.
“Pulanglah…” katanya. Suaranya bergetar. Dia juga sedang menahan air matanya.
“Aku mencintaimu…” bisiknya dan mengecup bibirku sekilas lalu meninggalkanku sendiri di luar rumahnya.
Ini sudah sangat keterlaluan. Dia benar-benar sudah gila. Masih bisa mengucapkan kata itu setelah dia mencampakkan ku? Dia benar-benar sudah tidak waras.
^________^

6.
“Jung Yeon! Park Jung Yeon!!” Suara teriakan membuatku tersadar dari tidurku. Aku tetap menutup mataku. Mataku sangat berat dan sembab.
“Aku tidak tahu, Ahjumma. Semalam dia pulang tengah malam dan menangis terus. Sama sekali tidak menjawabku.” jawab Soo Jung. Eomma mendengus.
“Dia menangis berapa lama?” tanya Eomma dan Soo Jung menghela nafas.
“Sangat lama. Sepertinya dia baru tidur setengah jam yang lalu.” gumam Soo Jung dan Eomma hanya diam.
“Kalau begitu biarkan saja dia tidur dulu.” kata Eomma dan terdengar pintu di tutup.
“Jung Yeon-a. Mianhae…” gumam Soo Jung, sepertinya dia ikut keluar juga.
Aku membuka mataku dan mengeliat pelan. Semalam itu benar-benar bukan mimpi. Itu nyata. Sesuatu yang sangat nyata, lebih sakit daripada semua sakit hati yang pernah ku rasakan seumur hidupku. Kenapa dia melakukan ini padaku?
Tunggu… Kenapa tadi Soo Jung mengatakan itu? Mianhae? Apa tadi dia berbohong pada Eomma? Apa yang dia katakan pada Eomma saat aku masih tidur?
Aku mengingat kejadian tadi malam lagi. Ingin rasanya aku mati sekarang. Susah payah aku bisa bersama Kris. Dan sekarang kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Aku benar-benar tidak menyangka yang satu ini. Bahkan dia sendiri yang melepaskanku padahal dia bilang dia mencintaiku. Sebenarnya apa yang ada di otaknya sekarang?
Aku tidak mau ke kampus hari ini. Aku tidak mau bertemu siapapun. Termasuk Kris. I HATE YOU!! JERK!!
“Saekkiya!!!!!!!” Aku memekik keras dan menangis lagi. Menangis di balik bantalku. Kuharap tidak ada yang tahu aku menangis lagi. Sangat menyedihkan.
“Jung Yeon-a. Kau kenapa?” tanya Soo Jung dan duduk di sampingku. Aku diam. Menghentikan tangisku.
“Sakit perut.” jawabku dan dia menggeleng.
“Kau bohong. Tidak mungkin kau sakit perut.” jawabnya dan aku menggeleng.
“Aku benar-benar sakit perut, Soo Jung-a.” jawabku dan Soo Jung mendengus kesal.
“Aku ambilkan obat.” katanya dan beranjak pergi.
Ya. SAKIT. Aku sangat sakit sekarang. Hatiku yang sakit. Bukan perutku.
^___________^

Aku duduk diam di kelas. Seisi kelas menatapku heran. Ya, aku memang terlihat sangat aneh setelah tiga hari tidak hadir di kampus ini.
“Kau kenapa?” tanya Eunjin. Aku tersenyum tipis. “Sakit perut akut.” jawabku dan mereka terlihat khawatir.
“Sudah sembuh?” tanyanya lagi dan aku mengangguk pelan.“Hampir.” jawabku lagi dan Eunjin mengangguk-angguk.
“Ini.” Tao tiba-tiba muncul dan menyodorkan banyak buku.
“Apa?” tanyaku ketus. Aku benci padanya. Semua ini gara-gara dia.
“Materi pelajaran selama kau tidak masuk.” jawabnya dan tersenyum lebar.
“Aku tidak butuh!” kataku kesal, dan dia menggembungkan pipinya.
“Kau masih marah?” tanyanya dan aku diam. Malas menjawabnya.
Beberapa saat kemudian, terdengar krasak krusuk dari speaker kelas. Oh, Radio kampus mulai berjalan kembali. Baguslah, sudah lama aku tidak mendengarkan lagu. Semoga bisa menghilangkan sakit hatiku.
Aku mendengarkan lagu ini, memperhatikan tiap lirik lagunya. Lagu yang sangat membuatku ingin menangis lagi. Lagu yang sangat mengingatkan ku pada kejadian malam itu. Kejadian yang masih terus berputar jelas di otakku.

#NP : Lee Seung Gi – Let’s Break Up.

Tanpa sadar aku menangis lagi. Aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku. Aku masih mengingat jelas setiap perkataannya.Setiap tindakannya, dan juga tatapan matanya malam itu. Aku benar-benar tidak bisa menahan semua ini.
“Jung Yeon-a? Kau kenapa?” tanya Tao dan menahan tanganku.
“Dia sakit perut. Bawa ke ruang kesehatan saja.” kata Eunjin.
“Oh. Bantu aku.” kata Tao dan mereka menarikku pelan.
“Jangan sentuh aku!” kataku kesal dan melepas paksa tangan Tao.
“Kau pucat sekali… Ayolah. Istirahat saja.” katanya dan aku tetap menolak.
“Aku bisa sendiri!” kataku dan Eunjin tetap memegang pergelangan tanganku.
Aku berdiri dan tersungkur jatuh. Bahkan kakiku tidak bisa menginjak lantai dengan baik.
“Aish!!!” Tao mendengus kesal dan langsung membopongku. Membekap mulutku dan membawaku keluar kelas. “Jung Yeon-a. Jangan egois, kau sedang sakit sekarang.” kata Tao tegas dan Aku menutup mataku. Ya. Kau benar. Sangat sakit sekali. Aku lebih baik mati daripada harus menanggung rasa sakit seperti ini sendirian.
Beberapa saat kemudian, aku sudah di bawa ke ruang kesehatan kampus dan aku tidak tahu apa-apa lagi setelah ini. Semua berubah menjadi gelap, kepalaku sakit dan tidak bisa merasakan sekujur tubuhku lagi.
^________^

Perlahan aku membuka mataku. Kulihat Tao sedang membaca buku di sampingku. Dia benar-benar sama persis dengan Kris.
“Sudah sadar?” tanyanya dan menutup bukunya. Aku hanya mengangguk.
“Kau tidak sakit sama sekali. Perutmu juga baik-baik saja.” katanya dan aku langsung membuang muka. Sial, aku ketahuan bohong. Aku lupa kalau dia itu calon dokter.
“Jadi, ada apa denganmu?” tanyanya dan aku cuma diam.
“Park Jung Yeon…” panggilnya dan aku langsung menoleh. Menatapnya tajam.
“Bukan urusanmu.” jawabku ketus. Dia mendengus kesal.
“Kumohon… Kau menangis sangat parah tadi… kau kenapa…” tanyanya pelan dan menggenggam tanganku. Aku melepaskan tangannya dan dia menggenggam tanganku lagi. Kali ini lebih erat.
“Aku tidak akan memberi tahu mu.” jawabku malas dan menatap ke arah pintu.
Tiba-tiba pintu terbuka, kulihat Kris masuk dengan menggunakan kostum basketnya. Dia jalan tertatih-tatih.
Sesaat kemudian Baek Hyun, temannya masuk. Ada apa lagi ini?
“Kau gila ya tadi? Tidak perlu main basket sampai emosi begitu.” kata Baek Hyun kesal dan Kris cuma diam. Dia mengambil kotak obat dan mengobati luka di kakinya. Ingin rasanya sekarang juga aku ke sana dan membantunya. Tapi….
“Park Jung Yeon!” panggil Tao kesal dan aku menatapnya tajam. Aku tidak mengubrisnya dan tetap menatap Kris. Dia ikut melihat ke arah Kris dan Baek Hyun.
“Slam Dunk kau tadi sangat mengerikan. Ring Basket sekarang jadi bengkok!” omel Baek Hyun dan Kris menatapnya kaget. “Aku akan ganti Ring basket itu nanti. Diamlah kau!” katanya galak dan Baek Hyun mendengus kesal.
“Kau benar-benar sudah gila ya? Kau sendiri yang melepaskannya kan…” omel Baek Hyun lagi dan Kris berdeham.
“Park Jung Yeon!” Tao memanggilku lagi.
“Apa sih?!” tanyaku kesal dan Tao menarik nafas pelan.
“Jadi, siapa itu Kris?” tanya Tao.
“Ha?!” Aku malah melongo. Tahu dari mana dia??
“Sejak kau pingsan, kau terus menyebut nama Kris. Pacarmu?” tanyanya dan aku diam. Aku mengingau parah. Bahkan orangnya ada di sini sekarang. Parah!
“Huang Zi Tao?” Baek Hyun berjalan mendekati kami.
“Ya. Ada apa?” tanya Tao dan melepaskan tanganku.
“Tidak apa-apa. Hanya merasa kau sangat beruntung sekarang.” kata Baek Hyun dan berjalan keluar. Kulihat Kris yang masih sibuk dengan luka di kakinya. Separah apa tadi dia sampai-sampai membuat bengkok Ring basket? Ada apa dengannya?
“Kevin.” panggil Tao dan kulihat Kris. Dia tidak bereaksi sedikitpun.
“Kenapa kau memanggilnya Kevin?” tanyaku bingung. Bahkan dia tidak tahu siapa Kris padahal dia mengenal Soo Jung.
“Loh? Namanya memang Kevin kan? Kevin Li lalu berubah jadi Kevin Wu.” kata Tao dan menatap Kris. Dulu dia mengenal Kris kan? Siapa dia sebenarnya?
“Siapa kau?” tanyaku dan Tao menaikkan satu alis matanya.
“Maksudmu apa?” tanyanya dan aku menelan ludah.
“Kau teman lamanya?” tanyaku dan Tao mengangguk pelan.
“Kalau begitu kenapa kau tidak tahu dia sudah mengganti namanya?” tanyaku dan Tao terbelak.
“Ganti nama lagi?! Astaga. Apa namanya sekarang?” tanya Tao pelan dan aku terdiam. Aku merutuki diriku sendiri lagi. Kenapa aku harus mengigau tadi.
“Panggil dia Kris.” jawabku dan Tao mengangguk-angguk. Sepersekian detik kemudian dia membelak. Matanya semakin besar seperti panda.
“KRIS?!!!!!!” Dia memekik keras dan Kris langsung menoleh ke arahnya. Kris terdiam. Dia melihat ku juga.
“Oh… Jadi dia pacarmu. Bagaimana bisa? Lalu bagaimana dengan Soo Jung?! Apa yang terjadi?!” tanya Tao kesal dan aku langsung bangun dari tidurku. Kekesalanku padanya membuat sakit hatiku hilang sejenak.
“Hei! LI JIA HENG!!! WU YI FAN !!!” Tao memekik keras dan Kris sama sekali tidak mengubrisnya.
“KEVIN LI, KEVIN WU!!!” pekik Tao lagi. Kulihat Kris menghela nafas kesal.
“KRIS!!!!!” pekiknya aku langsung memukul wajahnya. Suaranya sudah terlalu keras.
“HUANG ZI TAO!!!” Kris langsung berdiri dan menyimpan peralatan obatnya.
“Berhenti memanggil semua namaku!” katanya ketus.
“Kau tidak tahu kalau dia pingsan ya? Dia memanggil namamu terus.” kata Tao dan Kris menatapku.
“Aku keluar.” kata Tao dan Kris langsung menarik tangannya.
“Tiga hari yang lalu. Aku sudah menyerahkannya padamu.” kata Kris dan Tao melongo.
“Get well soon.” kata Kris dan mengelus pipiku pelan lalu keluar.
“Jadi, karena aku kalian putus?” tanya Tao kaget, dan aku tidak merespon sama sekali.
“Tunggu… Soo Jung.. Dia tidak tahu hubungan kalian?” tanya Tao dan aku menggeleng.
“Astagaaaa… Kalian gila?!” Tao memekik kaget dan aku menggeleng.
“Aku akan memberitahu mu karena kau teman mereka.” jawabku dan Tao mengerutkan keningnya.
“Tentang apa?” tanyanya dan aku diam.
Bolehkan aku memberi tahunya? Dia teman Soo Jung dan Kris. Seharusnya dia lebih tahu mereka daripada aku. Jadi sudah seharusnya dia tahu.
^________^

“Masih sakit?” tanya Tao dan aku menggeleng. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.
“Secepat itu?” tanyanya lagi dan aku tidak merespon.
“Tao…” Aku menutup buku yang kubaca. “Kau masih menyukaiku?” tanyaku dan Tao terkejut. Dia hanya diam dan menatapku lama. “Masih atau tidak?” tanyaku lagi dan akhirnya dia mengangguk.
“Kenapa?” tanyanya dan aku tersenyum tipis. Lalu menggeleng pelan.
“Kenapa?” tanyanya lagi dan menatapku lekat-lekat. “Kau menyukaiku juga?” tanyanya langsung dan aku tertawa pelan. “Sepertinya bukan. Tapi….” Aku menghentikan ucapanku. Masih ragu dengan keputusanku sendiri.
“Tapi apa?” tanyanya bingung.
“Tapi aku akan mencoba menyukaimu.” jawabku pelan. Tao terdiam. Diam cukup lama lalu tersenyum lebar dan tertawa keras. “Kau lucu sekali!! Aku tidak mau!” katanya dan masih tertawa.
“Hah?!” Gantian aku yang kaget.
“Aku benar-benar tidak mau kalau untuk itu. Kau pikir aku ini apa? Kau dan Kevin sama saja!” katanya dan tertawa lagi. “Apanya?!” tanyaku kesal dan dia menghentikan tawanya.
“Untuk apa kau belajar mencintaiku? Tidak ada gunanya. Semua akan berakhir sia-sia. Lihat saja Kevin. Dia belajar mencintai Soo Jung, untuk melupakan Lin Ling jiejie. Tapi akhirnya apa? Soo Jung meninggalkannya. Kau pacaran dengannya, Soo Jung kembali padanya dan kau putus dengannya. Tragis!” ocehnya dan menahan tawanya.
“Dan selanjutnya kau belajar mencintaiku, tetapi akhirnya kau akan bersama Kevin lagi, atau mungkin kau bisa bersama pria lain. Bukan aku. Bisa saja kan?” lanjutnya, dan sekarang dia terlihat serius.
“Lebih baik jalani saja hidupmu. Tak perlu melakukan hal bodoh seperti Kevin. Jelas-jelas dia mencintaimu tetapi meninggalkanmu dengan alasan tidak jelas. Kalau bukan bodoh apalagi sekarang?” omelnya dan membuka buku yang dia baca.
“Kau sendiri? Apa hubunganmu dengan Soo Jung? Kulihat kalian sangat canggung…” kataku pelan dan Tao menghembuskan nafas pelan.
“Karena kau sudah cerita semua tentang kalian bertiga. Aku akan menceritakan tentang kami bertiga juga…” katanya pelan dan menutup bukunya lagi.
“Kevin… Dia pacaran dengan Soo Jung tanpa tahu kalau saat itu aku sangat menyukai Soo Jung. Aku marah besar. Aku tidak terima kalau dia menjadikan Soo Jung pelariannya. Dia cukup keterlaluan.” gumam Tao dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. “Jadi? Itu kau… Dunia kenapa sempit sekali…” gumamku dan dia menaikkan alis matanya.
“Maksudmu apa?” tanyanya bingung.
“Kris pernah bilang kalau temannya menyukai Soo Jung.” jawabku dan Tao mencibir.
“Setelah itu aku tidak pernah bicara padanya lagi sampai kemarin di ruang kesehatan… Dia juga merasa sangat merasa bersalah padaku.” jelasnya. “Dia sudah minta maaf?” tanyaku dan Tao mengangguk.
“Tapi aku tidak memaafkannya.” jawab Tao dan aku langsung memukul bahunya.
“Kau jahat sekali!”
“Eh?! Dia lebih jahat! Andai saja waktu itu dia tidak menerima Soo Jung, mungkin keadaannya tidak seperti ini lagi.” katanya pelan dan menggembungkan pipinya.
“Jadi, untuk apa kau ke Korea?” tanyaku dan dia tertawa pelan.
“Memastikan kalau Soo Jung masih hidup.” jawabnya dan aku terbelak. “Apa maksudmu?!”
“Dia mengaku sudah meninggal. Menulis surat untukku dan kabur ke Korea demi mencari Kevin dan akan kembali bersama Kevin lagi. Dia gila.” omel Tao dan terlihat kesal.
“Kau pasti sangat ingin dia mati kan?” tanya Tao dan aku mengangguk pelan.
“Terkadang aku memikirkan itu juga. Tapi, aku bukan orang sejahat itu. Lagipula dia sepupuku…” gumamku dan Tao memekik tertahan. “Dunia Sempit!”
“Jadi, yang sakit jantung itu bukan kau tapi Soo Jung ya?” tanya Tao dan aku mengangguk.
“Haaa… Semua salahmu!” kata Tao kesal. Kenapa lagi dia?! Tiba-tiba marah lagi.
“Salahku?!!” tanyaku kesal.
“Ya! Aku masih sangat menyukai Soo Jung saat aku datang ke negara ini,” jelasnya. “Tapi, setelah aku mengenalmu… Kau mengingatkanku pada Soo Jung, Awalnya aku hanya simpati padamu yang mengaku punya penyakit jantung. Aku benar-benar frustasi karenamu!” omelnya dan aku tertawa pelan.
“Jadi? Kau tidak mau aku lagi?” tanyaku dan dia menggeleng. “Mau. Tapi bukan dengan cara ini,” jawabnya.
“Jalani saja seperti biasa. Dengan begitu kau bisa kembali kapan saja dengan Kevin. Bahkan kau bisa juga mengatakan padaku kau mencintaiku kalau itu memang benar.” jelasnya dan beranjak pergi.
“Oh… Aku juga tidak akan menunggumu. Kau yang harus menunggu Kevin dan Soo Jung selesai.” Dia mengakhiri nasihatnya. Aku langsung bernafas lega. Ini seperti… Entahlah. Aku merasa tadi sedang di tolak.
Tapi setidaknya pemikiran dia lebih dewasa daripada sifatnya.
Aku akan menjalani hidupku seperti biasa. Dengan ataupun tanpa Kris. Mungkin sudah saatnya aku mengucapkan selamat tinggal untuk Kris. Mungkin.
^___________^

7.
Aku mengintip masuk ke ruangan tempat Soo Jung di rawat. Sudah lama aku tidak melihatnya bersama Kris di kampus. Tapi sekarang dia malah seperti ini. Sudah lama sekali dia tidak sakit dan sekarang penyakitnya tiba-tiba kambuh. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Eomma…” panggilku dan Eomma menatapku tajam. “Ada apa?” tanyaku takut. “Aku salah apa?” tanyaku lagi dan Eomma menggeleng. “Dia siapa?” tanya Eomma dan menatap Tao yang ikut datang bersamaku.
“Tao. Teman Soo Jung dan Kris dulu.” jawabku.
“Annyeong Ahjumma.” sapa Tao dan Eomma hanya mengangguk pelan.
“Mana Kris?” tanya Eomma dan aku menggeleng. “Tidak tahu.”
“Apa kalian benar-benar sudah putus?” tanya lagi Eomma dan aku mengangguk. “Soo Jung tahu?” tanya Eomma sekali lagi dan aku menggeleng lagi.
“Park Jung Yeon?” tanya suster yang baru saja keluar dari kamar Soo Jung. “Ya?” tanyaku kaget.
“Soo Jung mencarimu. Kau boleh masuk.” kata suster itu sopan, lalu aku masuk.
Soo Jung terlihat sangat pucat. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
“Jung Yeon-a.” panggilnya dan menarik tanganku. “Kau datang bersama Tao oppa?” tanyanya dan aku mengangguk.
“Kris oppa mana?” tanyanya dan aku menggeleng. “Aku merindukannya…” gumam Soo Jung dan aku mengangguk pelan. “Akan kusuruh dia kemari.” jawabku dan Soo Jung mengangguk.
Aku mengeluarkan ponselku dan mengirimkan pesan singkat untuk Kris. Tidak ada respon sama sekali.
Aku juga tidak akan menghubungimu kalau bukan Soo Jung yang menyuruhku. Dasar sombong.
“Tao oppa!!!” Soo Jung memekik keras. Aku kaget dan langsung mempelototi Soo Jung. “Kau gila?!” tanyaku dan Soo Jung nyengir tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Tiba-tiba pintu terbuka. “Panda oppa!” panggil Soo Jung dan Tao mencibir. “Kau gila ya?! Ini rumah sakit!” kata Tao kesal. “Biar saja. Aku kan tamu VIP.” jawabnya santai.
“Bagaimana hubungan kalian berdua?” tanya Soo Jung dan Tao tertawa.
“Memangnya hubungan kami seperti apa?” tanya Tao balik.
“Bukannya pacaran?” tanya Soo Jung, belum sempat kami menjawab, pintu kamar terbuka dan Kris langsung masuk.
“Kami sama sekali tidak pernah pacaran.” jawab Tao. “Dia menolakku.” lanjut Tao dan menoleh ke arah Kris yang menghentikan langkahnya di tengah ruangan. “Dia terlalu mencintai mantan pacarnya.” kata Tao lagi dan menatap tajam ke arah Kris.
“Oppa!” panggil Soo Jung dan Kris tersenyum tipis lalu berjalan mendekat. Berdiri di sampingku.
“Kau kenapa bisa begini?” tanyanya dan Soo Jung tertawa pelan. “Aku tidak tahu.” jawab Soo Jung dan tertawa lagi.
“Soo Jung… Kau gila ya?” tanya Tao dengan wajah sok prihatin dan Soo Jung memukul tangannya.
“Oppa! Aku masih waras!” jawab Soo Jung kesal.
“Jung Yeon! Memangnya kau saja yang mau duduk. Mereka juga!” kata Soo Jung galak lalu mereka tertawa.
“Soo Jung! Jangan marah-marah! Kau bisa mati kapan saja!” kata Tao dan langsung duduk di sofa yang jauh dari tempat Soo Jung tidur. Sekarang hanya aku dan Kris yang duduk di samping Soo Jung.
“Oppa! Tunggu sampai aku sembuh aku akan menghajarmu!” ancam Soo Jung
“Menghajarku? Kau tidak salah ya? Aku ini jagoan wushu! Kau yang kuhajar nanti.” ancam Tao balik dan Soo Jung mencibir. Aku senang mereka sudah tidak secanggung saat pertama kali aku melihat mereka bicara di kampus.
“Oh ya! Tao oppa! Kau masih mencintaiku ya?!” tanya Soo Jung heran.
“Hah?! Errr… Iyaaa.. Aku sangat mencintaimu Jung…” kata Tao dan langsung keluar dari kamar. “Dasar, Bukannya dia menyukai Jung Yeon ya?” Soo Jung menatapku.
“Tadi dia bilang Jung .. Jung Yeon bukan Soo Jung.” jawab Kris dan Soo Jung tertawa.
“Benar juga! Jung Yeon! Kau menyukainya?” tanya Soo Jung dan aku tertawa.
“Aku menyukainya.” jawabku langsung dan sekilas melirik Kris.
“Aku keluar dulu.” kata Kris dan langsung keluar. Jealous? Rasakan!
“Kenapa dia tiba-tiba keluar ya?” gumam Soo Jung dan aku mengangkat bahuku.
“Kau menyukai Tao oppa kan? Kenapa kalian tidak pacaran?” tanya Soo Jung dan aku menggeleng.
“Aku tidak menyukainya kok. Tadi itu hanya asal bicara.” jawabku dan Soo Jung mengerutkan keningnya.
“Lalu? Tadi Tao oppa bilang kau masih sangat mencintai mantanmu kan? Siapa? Leeteuk oppa?” tanyanya dan mau tidak mau aku mengangguk pelan. Entah sampai kapan aku harus terus berbohong seperti ini.
“Ah… Sayang sekali dia sudah menikah.” gumam Soo Jung dan memejamkan matanya.
“Kau mengantuk?” tanyaku dan dia mengangguk. “Kalau begitu tidurlah.” jawabku dan dia mengangguk pelan. Lalu aku diam.
Tadi bisa saja aku tetap mengaku aku menyukai Tao. Bahkan bisa juga pura-pura pacaran dengannya. Tapi ya sudahlah. Aku tidak mau melibatkan banyak orang dalam hal ini.
Choi Soo Jung, kadang kau sangat menyebalkan tetapi aku juga kasian padamu. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir.
^_____^

Aku membuka mataku dan mengangkat kepalaku. Kulihat Soo Jung. Dia sudah bangun.
“Kenapa tidak membangunkanku?” tanyaku dan Soo Jung menggeleng.
“Kau tidur nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu.” jawabnya dan kulihat matanya. Bengkak.
“Kau kenapa? Kau menangis?” tanyaku dan dia mengangguk. “Iya. Tadi sakit sekali.” jawabnya dan mengelus dadanya. Salah, lebih tepat lagi jantungnya.
“Kau harus jaga diri. Sudah lama aku tidak melihat mu sepucat ini…” kataku dan menggenggam jemarinya.
“Gomawo.” gumamnya dan tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah jam dinding. Sudah hampir jam tujuh malam.
“Kris oppa kenapa belum datang lagi ya?” gumamnya dan mengigit bibir bawahnya.
“Akan ku panggil dia lagi.” jawabku cepat dan meneleponnya. Tapi tidak di angkat, jadi aku hanya mengirimkan pesan singkat lagi. Sudah dua kali untuk hari ini. Aku ingin menangis rasanya.
Tak berapa lama, dia membalas pesanku. Isinya sama sekali diluar dugaanku! Jantungku berdebar kencang, aku terlalu terkejut. Terasa seperti siap meledak.
“Dia akan datang sebentar lagi.” kataku pelan dan Soo Jung tersenyum tipis.
Pintu terbuka dan Tao masuk. “Jung Yeon, ini untukmu.” katanya dan menyodorkan makanan kecil, dan duduk di sampingku. “Gomawo.” gumamku dan mengambil makanan itu.
“Woah! Kalian benar-benar pasangan serasi ya!” goda Soo Jung dan Tao mencibir. Aku hanya tertawa pelan dan melanjutkan makanku. Aku masih teringat pesan dari Kris tadi. benar-benar electric shock.
“Sini, biar kubuang.” kata Tao dan mengambil sampah makananku.
“Maaf merepotkan.” kataku dan Tao tertawa. Lalu membuang sampah itu ke tempatnya.
Sekilas aku melihat pintu sedikit terbuka, tetapi tidak ada orang yang masuk. Pintu itu tetap terbuka sedikit, sepertinya memang ada orang di depan pintu. Eomma mungkin.
“Aku curiga, jangan-jangan kalian memang sedang pacaran ya?” katanya Soo Jung cepat dan Tao tertawa sedikit keras. “Atas dasar apa?” tanya Tao dan duduk di sofa itu lagi.
“Ya, siapa tahu kalian sedang bersandiwara kan?” balas Soo Jung dan kali ini aku yang tertawa.
“Soo Jung! Kau gila!” kata Tao dan pintu baru terbuka lebar. Kris berjalan masuk dan duduk di sampingku.
“Maaf, tadi aku ada urusan.” kata Kris dan menepuk pelan tangan Soo Jung.
“Tak apa. Yang penting kau datang lagi.” kata Soo Jung senang dan Kris tersenyum tipis.
“Urusan apa kau? Membengkokkan Ring Basket lagi?” tanya Tao asal dan Kris menatapnya tajam. Soo Jung tertawa. Aku hanya diam. Kuharap dia tidak melakukan hal-hal aneh itu lagi.
Aku beranjak dari kursiku, mau meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba saja Kris menarik tanganku tanpa di ketahui siapapun. Mau tidak mau aku duduk lagi.
“Kenapa?” tanya Tao bingung dan Soo Jung juga menatapku bingung. Aku hanya tertawa pelan dan menggeleng. Mereka berdecak heran.
“Soo Jung! Kau kenapa bisa masuk rumah sakit? Percobaan bunuh diri ya?” tanya Tao asal dan Soo Jung menampakkan tinjunya. “Kau seperti tidak tahu penyakitku saja ya?! Bukannya kau yang duluan tahu penyakitku? Sekarang sudah lupa ya?!” kata Soo Jung kesal dan Tao tertawa malu. “Aku bercanda!” kata Tao dan Soo Jung menatapnya kesal. Matanya memerah. “Dasar panda gila!” balas Soo Jung dan menoleh ke arahku.
“Jung Yeon.. Kau mau temani aku kan? Aku tidak suka sendiri di sini.” kata Soo Jung manja dan aku terdiam. “Kenapa aku? Kan sudah ada Kris.” jawabku dan Soo Jung menatap Kris.
“Kau mau oppa?” tanya Soo Jung ragu dan Kris mengangguk.
“Park Jung Yeon, Kau juga… Kumohon…” pinta Soo Jung dan aku tersentak. Bukan karena kata-kata Soo Jung. Tapi karena Kris menggenggam erat tanganku. Entah mimpi atau bukan. Tapi aku benar-benar merasakan sentuhan Kris lagi. Sudah hampir tiga bulan sejak dia meninggalkanku. Tapi… kenapa?
“Jung Yeon… Kenapa malah menangis?” tanya Soo Jung kaget dan aku langsung menyeka air mataku. Tanpa sadar air mataku keluar begitu saja. Benar-benar tidak tepat waktu.
“Haaaaah… Aku melihat yang tidak seharusnya kulihat.” oceh Tao yang tiduran di sofa. Apa mungkin dia melihat tanganku dan Kris sekarang?
“Haaaaahhhh… Wu Yi Fan. Kau selalu membuatku cemburu.” oceh Tao lagi dan Soo Jung tertawa.
“Tao oppa! Kau memang selalu iri padanya kan!” ejek Soo Jung dan Tao langsung keluar dari kamar tanpa berkata apapun.
Kami bertiga diam. Soo Jung sibuk menonton TV di kamar sedangkan aku, jantungku sedang sangat tidak karuan sekarang. Apa yang dia lakukan padaku sekarang? Benar-benar diluar akal.
Tak berapa lama, seorang dokter masuk bersama dua suster. Seperti biasa. Kami di usir secara halus karena Soo Jung harus di periksa dan minum obat yang sangat banyak. Get Well Soon Soo Jung-a!
Di luar aku hanya duduk diam begitu juga Kris. Benar-benar seperti tidak saling kenal sama sekali.
Aku mengeluarkan ponselku, membaca ulang pesan balasan Kris tadi yang benar-benar diluar dugaanku.

‘Bahkan kau mencariku pun demi Soo Jung. Bukan demi dirimu sendiri! Tapi aku tetap datang, bukan demi Soo Jung tapi demi kau! Demi diriku sendiri! Egoislah sedikit jadi orang!’

Dan yang bisa kulakukan hanya tertawa. Aku juga ingin menangis, tetapi aku tidak bisa menangis. Aku lebih ingin tertawa, bagiku ini mendadak menjadi sangat lucu. Aku menoleh dan menatapnya. Menahan tawaku.
Dia hanya menatapku sekilas lalu membuang muka. You mad? Must!
“Maaf tapi aku mencarimu juga demi diriku sendiri.” gumamku menjawab pesannya tadi dan berjalan pergi meninggalkannya di sana sendirian.
Aku berdiri di depan lift, memencet tombol panah ke bawah dan berdiri diam. Sesaat kemudian, Kris ikut berdiri di sampingku, hanya berdiri diam dan tegak lurus seperti biasanya.
Pintu lift terbuka dan beberapa orang keluar dari lift itu. Kemudian kami masuk, aku memencet tombol angka satu, menuju cafetaria. Kris hanya berdiri diam di belakangku.
Saat sudah sampai di lantai satu, semua orang keluar mendahuluiku, tetapi baru satu langkah aku melangkah keluar, langkahku terhenti. Kris menarikku kembali masuk ke dalam lift dan dia memencet tombol menuju basement.
“Apa?” tanyaku kaget dan dia hanya diam. Kemudian menggenggam erat tanganku dan berdiri di hadapanku.
“Kau benar-benar menyukai Tao?” tanyanya. Aku hanya diam, menatapnya skeptis.
“Bukankah kau yang meminta itu?” tanyaku balik. Dia diam, dan menatapku lekat-lekat.
“Sudahlah.” gumamku malas dan mendorongnya menjauh, kulihat ke huruf ‘B’ di lightboard merah lift. Saat pintu terbuka, Kris menutupnya lagi dan memencet tombol ‘S’ yang berarti STOP. Mau apa dia? Kenapa menghentikan lift?!
“Kau gila?!” tanyaku kesal dan dia langsung memelukku. “Kau menyukainya?” tanyanya lagi dan semakin mempererat pelukannya. “Seperti yang kau dengar tadi…” gumamku, bohong. Belum sempat aku melanjutkan jawabanku, dia langsung merengkuh wajahku dan mengecup bibirku lama.
Sudah berapa lama aku tidak melakukan ini? Sudah sangat lama sampai-sampai aku lupa bagaimana melakukannya.
“Kau benar-benar hidup bahagia tanpa ku?” tanyanya tanpa menjauhkan jarak wajah kami. Aku mengangguk ragu. “Ya.” gumamku pelan. Aku ingin marah sekarang. Dia benar-benar keterlaluan.
“Tapi aku tidak.” jawabnya dan langsung memelukku erat. Kau rasakan sekarang.
“Saekkiya…” gumamku dan dia mempererat pelukannya.
“Mianhae…” gumamnya dan melepas pelukannya.
“Aku mencintaimu.” bisik Kris dan mengecup puncak kepalaku, kemudian mengusap bibirku dengan ibu jarinya dan mengecup bibirku dengan lembut. Aku hampir menangis karena ini. Tapi, aku memaksa diriku menjauh, melawan kelemahanku.
Dengan gerak refleks, aku menampar pipinya. Otakku sudah terlanjur mengirimkan sinyal kalau orang di depanku ini sudah sangat kelewatan padaku. Aku harus memakinya baru bisa lega.
“Kau pikir karena aku sangat mencintaimu kau bisa memperlakukan aku seperti ini hah?!” Aku memekik kesal dan Kris terdiam. Aku meninju pergelangan tangannya keras. “Mianhae…” gumamnya pelan dan mendekatiku. Aku mendorongnya menjauh. “Mianhae?” Aku menatapnya kesal.
“Aku begitu mudah memaafkanmu tapi kenapa kau sama sekali tidak bisa memaafkanku?!” Aku memekik keras, dia menunduk dan menggenggam tanganku. Aku melepas paksa tangannya dan menampar pipinya sekali lagi.
“Kau bahkan pernah bersumpah tidak akan meninggalkanku…” Aku bergumam pelan dan menangis lagi. Aku teringat kata-katanya waktu itu. Dia melanggar ucapannya sendiri. “Mian…hae…” ucapnya pelan, suaranya bergetar hebat.
“MIANHAE?! Kau hanya bisa mengatakan itu?! Setelah semua yang kau lakukan, kau hanya bisa mengatakan satu kata itu?!” Aku memekik keras dan menyeka air mataku.
“Kau bisa lakukan apa saja, minta apa pun. Kalau itu bisa membuatmu lega. Pukul aku…” katanya pelan dan mendekat. Aku mengepalkan tanganku. “Aku ingin membunuhmu!” Aku memekik tertahan dan dia mengangguk.
“Bunuh saja aku, kalau itu membuatmu lega.” katanya pelan dan memelukku. “Bunuh aku dan kau bisa hidup bahagia setelah ini.” gumamnya dan mempererat pelukannya.
“Heol!” Aku mendengus kesal dan melepas paksa pelukannya. Menatapnya tajam dan mengingat semua yang aku alami bersamanya.
Aku menampar pipi kanannya lagi. “Ini karena kau terlalu perfect sampai membuat aku menyukaimu!” kataku kesal. Dia terkejut. Aku langsung menginjak kaki kanannya dan dia menahan sakitnya. “Ini karena kau terlalu meremehkanku!” pekikku dan dia malah tersenyum tipis. Kemudian menatapku lembut. “Mianhae…” gumamnya.
Aku menyentil keningnya sekuat mungkin dan dia menahan sakitnya lagi. “Itu karena aku rela menjadi pembantu demi orang seperti mu!” kataku cepat dan dia tertawa pelan. “Kau tertawa hah?! Ini tidak lucu!!” pekikku dan menampar pipi kirinya. “Itu karena kau playboy!” pekikku dan kali ini dia hanya diam.
Aku menampar pipi kanannya sebanyak lima kali. Dia meringis kesakitan dan mengelus pipinya.
“Ini untuk ciuman pertamamu?” tanyanya dan aku langsung menamparnya sekali lagi.
“Heol! Untuk ciuman yang sama sekali bukan karena cinta!” pekikku keras dan dia menggigit bibir bawahnya.
“Dan tiba-tiba saja kau mencintaiku…” gumamku, aku terdiam dan tersadar kembali lalu menampar pipi kirinya lima kali.
Aku menendang kakinya pelan. “Ini karena kau terus menerus merespon Soo Jung!” bentakku dan kemudian memukul keras bibirnya. “Dan ciumanmu dengan Soo Jung.” Aku memukul bibirnya lagi.
Dia maju selangkah dan aku langsung mendorong paksa tubuhnya, menabrak dinding lift dan dia hampir jatuh.
“Dan itu! Untuk apa yang kau lakukan malam itu padaku!” Aku memekik marah dan air mataku merembes keluar lagi. Mengingat malam itu rasanya aku bisa gila. Benar-benar gila!
Aku mendekat dan menampar pipinya bolak balik. “Ini karena kau sudah mengusirku dan mencampakanku.” kataku pelan, menahan tangisku.
Aku memejamkan mataku, kemudian kembali membuka mataku dan langsung memukul kepalanya keras. Lalu menjauh darinya. “Itu untuk apa yang sudah kau lakukan hari ini…” kataku pelan dan saat itu juga aku langsung terduduk. Sekujur tubuhku lemas dan tanganku sakit. Aku pasti terlalu keras memukulnya.
“Mianhae…” gumamku pelan, dan akhirnya aku menangis. Aku tidak mau lagi menahan tangisku. Terlalu sakit, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku benar-benar menangis hebat sekarang.
“Park Jung Yeon…” panggilnya dan aku tetap menangis.
“Mianhae… Jeongmal mianhae…” katanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Dia sedang menahan tangisnya juga. “Kau boleh memukulku lagi…” katanya dan berjongkok di depanku, lalu memelukku. Aku menepis tangannya dan dia memelukku erat. Aku bahkan tidak bisa menepis tangannya untuk yang kedua kalinya. Semua ini terlalu menyakitkan. Aku hanya akan mengakhirnya sekarang.
Dia menggengam erat tanganku dan mengelus-elus rambutku. Perlahan aku bisa menghentikan tangisku, juga amarahku. Aku merasa lega sekarang. Sangat lega.
Aku hanya akan melupakan semua hal buruk yang terjadi padaku dan memaafkannya lagi. Dan kuharap aku bisa kembali ke hidupku yang normal seperti dulu.
Aku melepas pelukannya dan dia menatapku kaget.
“Mianhae.” gumamku dan ku perhatikan wajahnya. “Pasti sakit.” kataku pelan dan mengelus kedua pipinya. Wajahnya sangat merah, bekas tamparan ada di mana-mana.
“Tidak. Sama sekali tidak sakit.” katanya dan menggenggam jemariku. “Sama sekali tidak sakit,” ulangnya dan memelukku erat. “Karena kau sudah memaafkanku…” lanjutnya. “Gomawo.” Dia melepas pelukannya dan tersenyum tipis, lalu menyeka air mataku, dan mengecup bibirku. Merengkuh wajahku dan tangan satunya menggenggam erat tanganku.
“Aku pernah mengatakan padamu kan… Aku tidak akan sembarangan pada orang yang tidak ku cintai…” gumamnya dan mengecup bibirku sekilas. “Lalu?” tanyaku bingung.
“Ciuman pertamamu itu… Aku melakukannya karena aku memang sudah menyukaimu.” bisiknya dan aku terbelak. “Hah?!” Aku melongo. Ini benar-benar mengejutkanku.
“Aku, hanya akan mencintai wanita yang benar-benar mencintaiku.” bisiknya dan mengecup telingaku, dan berkali-kali mengecup bibirku dengan lembut.
Jantungku berdebar kencang. Aku seperti merasa kembali ke awal ceritaku dimulai. Seperti de javu. Sesuatu yang sudah pernah terjadi dan terjadi lagi.
“Saekkiya…”gumamku dan tersenyum tipis.
Kris tertawa dan memelukku erat. Dia tertawa senang sekarang. Kuharap semuanya seperti ini saja, tidak ada lagi perpisahan. Kumohon… Karena itu sangat menyakitkan dan aku takut sekali.
Kris melepas pelukannya, dan kami berdiri. Kemudian Kris memencet tombol ‘S’ dan lift kembali bergerak. Sudah berapa lama kami terkurung di dalam sini ? Oh My……
Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Seseorang membalikkan badannya. Orang itu, Tao. Dia terbelak. Beberapa saat kemudian dia masuk dan memencet tombol angka lima. Pintu lift kembali tertutup.
“Mata sembab, muka merah. Kalian sedang perang ya tadi?” tanya Tao gugup. Dia menatap kami terus-menerus secara bergantian. Kami hanya diam, sama sekali tidak mengubrisnya. Ini benar-benar memalukan sekali.
“Kalian sudah baikan?” tanyanya lagi dan menatapku. Aku mengangguk.
“Baguslah…” gumamnya dan meneguk minumannya.
“Kau mau?” tawarnya dan menyodorkan minumannya padaku. Belum sempat aku menjawab, Kris langsung mengambil minuman itu dan meneguknya. “Xiexi.” katanya dan tersenyum tipis.
“Hei!” pekik Tao dan Kris tertawa pelan, lalu menarikku menjauh dari Tao. Dia berdiri di tengah-tengah aku dan Tao. Tao mencibir dan saat pintu lift terbuka, kami saling diam dan semua seperti tidak terjadi apa-apa lagi.

^_________^

TO BE CONTINUE

 

Dear, reader. Saya mau tanya nih.

Kalian lebih suka FF ini pakai bahasa baku (formal) atau yang kayak gini aja?

FF ini membosankan gak ? Kalau bosan kenapa?

Jawab yah. Hehehhee

 

Jangan lupa comment juga! Kritik dan saran di butuhkan.

Gomawo all !! 😀

 

-Eve RyLin

Advertisements

15 thoughts on “THAT XX PART 4

  1. Udah baca part2 sebelumnya.. Aku bner2 larut dlm ceritanya min :’) Admin kece deh (?)

    Bahasanya kyk gini aja min.. Ceritanya ga ngebosenin kok.. DAEBAK!!!

    Lanjutannya jgn lama ya min 😀

  2. huaaaaaa hari minggu ini seharian nyimak ff ini dan belom keluar part 5 hffff -_-
    seru ko thor! udah bahasanya gini aja juga bagus, apa lagi castnya taoris ㅋㅋㅋ
    keep writing & cepat lanjut yah~*^^)/

    -isabella swan-

  3. Dari tengah malem baca ni epep ampe tidur jem 4subuh, bener-bener larut gue sama ni cerita. Demi luhan ampe kebawa mimpi thor, mimpi sama si tower bejalan, kris emaaaak ><
    Beneran dah thor keren ceritanya, feel dapet.

  4. Kris nybelin….!!!!
    Mudah bnget ngelepasin jung yeon.
    Itu awalnya .

    Hehehehe..
    Tpi cukup bahagia mrk baikan lagi.
    Kasihan ama Tao, 2 org yg ia cintai semua.a cinta ama kris n jga pacar kris.
    Fighting eonni

  5. Part yang ini bikin aku mewek,:'( ff nya gk ngebosanin ko, aku malah seperti nonton drama aja, kebawa susana gitu, keep writing 😀

  6. sedikit mungkin karena konflik yeong, so jung dan kris yg sedikit berkepanjangan, tapi hal itu tertutup kok dengan candaan sie tao dan berkembangnya hubungan yeon ma kris, walaupun mereka sempet break

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s