WALK IN THE RAIN

Image

Annyeong!! Dengan mata bengkak aku persembahkan FF ini untuk anda semua, terutama untuk Tuan Kim Hye Joon yang lagi patah hati.

FF JoonYeon CoupLe lagii..

Maaph kalo jelek. Saia ga ahli bikin Sad Story..

Dan mian juga kalo FF nya bikin  bosan..

Met baca…

Kim Hye Joon

Kim Taeyeon

Dong Dong

Jang Young Mi

>> Author pov

Hye Joon melakukan gerakan lay up dengan bola basket kesayangannya dilapangan yang sepi dan tak ada 1 orang pun selain dia sendiri. Bola itu masuk kedalam ring dan dia duduk di tengah lapangan dan meninggalkan bola itu di tepi lapangan.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap nafasnya, dia selalu memikirkan 1 hal. 1 nama, 1 yeoja..

“Joon!! Pulang!” suara dari dalam mobil tak berhasil membuat Hye Joon buyar dari lamunannya. “Kim Hye Joon!!!!!!!!!!!!” kali ini dua suara sekaligus. Mereka yang berteriak sudah berada di tepi lapangan dan siap menggelindingkan bola ke arahnya. Dia yang selalu diam dan diam.

“Joon! Pulang!” pekik Young Mi lagi. Dia sampai harus menarik temannya itu.

“Aku tak mau!!” pekiknya kesal. “kau harus pulang!!” pekik Young Mi, dan Hye Joon sama sekali tak peduli pada mereka. “Terserah!” kata Dongdong dan menarik young mi pergi.

Hye Joon pun melanjutkan permainan basketnya. Well, menurutnya, bermain basket bisa menghilangkan stress.

Stress karena sudah seminggu dia kembali ke Seoul, tapi dia sama sekali belum bisa menemukan oarang yang dicintainya.. tak ada yang tau bahkan tak ada yang ingin memberitahunya tentang keberadaan gadis itu.. Kim Taeyeon.

T___T

>> Hye Joon pov

Aku duduk dibawah pohon tempat biasa aku dan Taeyeon_1 tahun yang lalu_ selalu menghabiskan waktu berdua. Sekarang tidak lagi. Yeah, ntah kemana dia. 1 tahun yang lalu, kami berjanji bertemu disini, di taman ini. Tapi, disini sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaannya. Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Adakah yang bisa memberitahuku?

Aku mendongakkan kepalaku, menatap orang yang berdiri di depanku. Yah, tak berubah, tetap seperti dulu.. well, dia datang dengan sendirinya disaat aku sedang tidak mencarinya. Aku langsung berdiri menghadapnya. Dia hanya tersenyum sekilas. “Joon.. mianhae.” Katanya pelan. Aku mengerutkan keningku. Tapi aku tau apa maksdunya. Aku memeluknya, hanya sebentar karena dia melepaskan pelukanku. Ini tak seperti Taeyeon yang biasanya. Kenapa dia?

“ada apa? Kau tak merindukanku ha?” tanyaku dan dia menggeleng.

“Tentu saja aku rindu. Bagaimana pun juga, kau pernah ada dalam hidupku.”

“apa? Mian.. tunggu.. kau bilang apa tadi? Pernah ada?? Apa maksudnya?” aku shock dengan perkataannya tadi. Semoga aku hanya salah dengar.

“Aku…” dia tak melanjutkan kata-katanya. Aku mengahlikan pandanganku ke jari manisnya. Disana melingkar sebuah cincin. Bukan cincin pemberianku, melainkan cincin mewah. Cincin… pernikahan?

Kulihat namja yang barusan datang dan mengecup puncak kepalanya.

Ya… itu cincin pernikahan.. bahkan cincin pemberianku pun, sudah di jadikan liontin untuk kalungnya…

T___T

Well, dia bukan milik Kim Hye Joon lagi. Bukan milikku lagi. Sekarang dia milik seorang namja bernama… siapa? Aku lupa namanya.

Siapa yang menyangka dia akan menikah diumurnya yang masih terlalu muda itu? 23 tahun. Yeah, terlalu muda menurutku… Yapp, terlalu cepat, dan terlalu cepat juga hatinya tak lagi untukku. So fast..

Aku hanya meninggalkannya 1 tahun untuk kuliah, melewatkan 1 tahun moment-moment indah. Dan dia.. dengan mudah melupakanku, melupakan semuanya dan memilih menikah dengan namja lain, yah.. namja yang benar-benar di cintainya.

First Snow… yaa… hari ini salju pertama di tahun ini telah turun. Seperti biasa, kami akan pergi ketaman itu dan duduk di bawah pohon yang sama menikmati salju pertama di tahun ini. Itu dulu… sekarang… hanya aku sendiri, bersama anjing kesayanganku_Pemberian Taeyeon_yang di beri nama .. “Ferry” nama bagus pemberian Taeyeon. *Ditampar dah guee ^.^v*

“Heii… Ferry!” Yap, itu cara Taeyeon memanggil Ferry. Dia ada disini juga. Tentu saja bersama suaminya. Tak mungkin bersamaku kan?

“Annyeong!” sapa suaminya, kemudian aku membalas, seramah mungkin. Heran, aku masih bisa beramah tamah dengan orang yang dicintai orang yang kucintai.

“Kupikir kau takkan kesini lagi.” Gumamku dan dia tersenyum polos.

“Yah, tadinya.. tapi dia mengajakku kesini. Bertemu teman kerjanya.”

“Oh..” suaminya pasti sibuk.

“kau pucat, dan.. terlihat sangat stress.” Gumamnya dan duduk disampingku.

“Yah..” Hanya itu yang bisa kukatakan. Yah, aku sangat stress, Ini semua karena mu juga kan.. “jagii.. aku pergi dulu ya.. Hye Joon-ssi. Bisa aku titip dia sebentar?” tanya suami Yeon. Aku hanya mengangguk dan dia pergi setelah mengecup Yeoan sekilas. “Joon.. gwenchanayo?” dia menatapku. Aku mengangguk, bohong. Aku sangat tidak baik-baik saja.

“kau bohong.” Gumamnya dan menatapku skeptis. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas usang. “aku selalu berusaha tetap mencintaimu dengan membaca semua ini. Tapi… kurasa semua sia-sia.” Ucapnya dan menyerahkannya padaku.

Ini tulisan-tulisan yang kubuat untuknya. Yah, tentang cinta. Dan selalu aku tuliskan di 1 tempat. disini… di bawah pohon ini.

“Kau ingin mengembalikannya?” tanyaku, dan dia merebut kertas itu.

“Tidak! Hanya ini yang kumiliki darimu.. dan cincin ini.” Dia menggenggam cincin yang di jadikan liontin kalung itu.

“ternyata kau masih…”

“Stop…” tangannya yang dingin itu menutup mulutku.

“Diam, atau aku pergi sekarang.” Ancamnya. Dan aku menahannya. Aku takkan membiarkannya pergi sekarang. Tidak untuk sekarang.

“Kau mencintainya?” tanyaku sambil melirik suaminya yang berdiri dengan teman kerjanya lumayan jauh dari kami. “Ya. sangat.”

“Apa kau masih mencintaiku?” tanyaku balik. Dia diam. Tak perlu di jawab. Aku sedang tak ingin menangis sekarang.

“Lupakan aku,” Gumamnya. “lupakan aku dan hiduplah normal seperti biasa.”

“Melupakanmu? Tidak. Tidak. Itu takkan pernah. Kau bisa saja meninggalkanku, kau bisa saja hidup bersamanya, tapi kau tak bisa merubah perasaanku. Kau tak bisa mengubah cintaku.” Kataku pelan. Kuharap dia benar-benar tau apa yang kurasakan sekarang. “Joon.. jebaL… masih banyak gadis di luar sana.” Katanya kesal, tapi tetap dengan segala kelembutannya setiap berbicara dengan siapa saja.

“Aku takkan pernah mengubah posisimu di hatiku dengan gadis lain.” Kataku yakin.

“kenapa?”

“karena…” aku mendekatkan wajahku. “Hanya kau satu-satunya gadis yang ada di sini… di hatiku… Selamanya… Kim Taeyeon.” Kataku dan menjauhkan wajahku lagi. Dia menunduk.

Kulihat cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Ingin rasanya aku memeluk tubuh mungil di hadapanku. Tapi… dia bukan Yeon-ku lagi. Dia milik seorang namja yang tak kuketahui namanya, namja yang sedang berjabat tangan dengan temannya dan berjalan menuju ke sini. Akan menemui istri tercintanya. Membawanya pergi dari sini. Pergi dariku…

“Joon. Gomawo!” kata Yeon cepat dan menyeka airmatanya. Tentu saja takut ketahuan suaminya. “Cheonmaneyo.” Balasku. Gomawo untuk apa? Cheonmaneyo untuk apa? Aku tak mengerti.

“Yah. Kami pergi dulu… annyeong.” Kata si suami dan menggandeng tangan Yeon pergi. Goodbye, love.

Aku mengeluarkan secarik kertas. Seharusnya kertas itu di isi dengan ungkapan yang menyenangkan. Tapi sekarang tidak akan lagi. Tempat ini juga bukan tempat yang sama seperti dulu. Tempat yang penuh kebahagiaan.

Sekarang, semua berubah menjadi… kesedihan…

Aku mulai menulis ketika Ferry terbangun dari tidurnya…

Forget u?

No… No…

U can live with another…

U can leave me alone.

 

But…

U can’t change my heart.

U can’t change my love for u

And I will never change your position with another girl in my heart.

That’s because u are the only one girl in here…

In my heart… Forever… Kim Taeyeon

T___T

Argh!! Kertas itu!! Ketinggalan di pohon itu. Sial sekali aku!

Apa mungkin aku masih bisa menemukan kertas itu disana?

Semoga..

Aku membuka pintu rumah, dan menemukan 2 orang sahabatku berdiri kedinginan disana. “kenapa tak memanggilku?” tanyaku bingung saat mereka masuk kerumah.

“HA?! Kami sudah 1 jam yang lalu mengetuk pintu ini. Dan sama sekali tak ada jawaban darimu! Youngmi pikir kau bunuh diri karena Taeyeon!!!” Dongdong memekik kesal. Sedangkan Youngmi berkacak pinggang.

“1 jam yang lalu? Masa?” aku malah tanya balik. Apa aku terlalu stress sampai tak mendengar bunyi bel maupun ketukan pintu? Parah sekali aku.

“Sudahlah, yang penting kau tak apa-apa sekarang. Tak ada yang terluka kan?” tanya Youngmi, memperhatikan seluruh tubuhku.

“Tak ada.” Kataku pelan. Memangnya apa yang harus kulukai? Memang pernah terlintas di kepalaku melakukan hal-hal itu. Tapi karena …

“OH! Untunglah!! Kukira kau akan menggores tanganmu dengan pisau. Mengukir nama Taeyeon disana.” Omel dongdong dan berjalan menuju dapur. Mencari makanan, mungkin. Sedangkan Youngmi menatapku iba.

“kau terlihat…hancur, rapuh seperti wanita.” Omelnya, dan menatapku dari balik kacamata tebalnya. “Memangnya kau tak pernah patah hati apa?!!” semprotku kesal. Aku tak mau di katai seperti wanita!

“pernah! Tapi tak terlihat tolol seperti dirimu yang sekarang ini. Biar kutebak! Kau pasti belum mandi dari semalam, pasti belum makan, dan aku yakin… kau belum berkaca, melihat bayangan dirimu di cermin!” katanya panjang lebar. Yah… yang dikatakannya benar. Aku tak tau seperti apa wajahku sejak aku kembali ke Seoul.

Mungkin sudah banyak kuman diseluruh tubuhku.

“Joon. Kapan terakhir kau makan?” tanya dongdong.

“ntah. Wae?”

“piring kotor di belakang sangat kering. Sisa makanan mengeras semua!” ocehnya “kurasa… Ferry Doggy belum makan!” sambungnya. Dan mulai mencari Ferry.

“Ferry bisa cari makan sendiri!!” omelku balik. Mereka sudah seperti orangtuaku yang cerewet!

Aku beranjak dari sofa, memakai mantelku lagi.

Keluar rumah dan meninggalkan mereka.

Aku kembali ketaman itu. Dan, hasilnya nihil.

Kertas itu tak ada. Adanya kertas lain. Kertas yang bukan milikku.

Ku pungut kertas itu, dan membuka lipatannya.

Sorry,

I know that word can’t change anything.

Can’t change your love

Can’t change my new life

Can’t change my heart and my love.

 

But, I will always says that word for you

Hope u can live in your new life

Without me… Without sadness…

But, with the girl who loves u, and u love her too.

And will always make you smile…

Make u happy like usual.

I will always pray for you…

Joon…

 

Ini tulisan tangan Taeyeon. Kapan dia kembali kesini?

Apa kertasku yang satu itu sudah di ambilnya.

Ntahlah. Aku tak tau kapan bisa bertemu dengannya lagi.

Aku duduk dibawah pohon yang sama. Kulepas sarung tanganku dan mengeluarkan alat tulisku. Semoga dia juga membaca yang satu ini.

I can’t breathe without u…

Even only a second…

Coz I love u…

Coz I only dream of u…

Coz I can only think of u…

 

You’re my only reality…

You’re my only truth…

That’s the truth…

But…

How do I convince u of it?

And I’ll tell the world that I’ve no world other than u

That you’re my universe,

My life…

My reason of existence that much I know, nothing else

By my life… My world…

 

Aku melipat kertas itu dan meletakkannya di lubang yang terdapat di pohon itu.

Sekilas aku melihat ukiran yang sangat menyakitkan. Ukiran yang kami buat bersama dengan pisau silet. Ukiran itu tertulis… JoonYeon.

Ah~~ aku memandangi ukiran yang terukir rapi di batang pohon itu. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Aku melihat Yeon turun dari mobil. Dan berjalan menuju tempat ini. Dan entah setan apa yang membuatku pergi menjauh. Melarikan diri darinya. Seharusnya aku senang bertemu dengannya. Tapi kenapa aku lari? Babo namja…

Kulihat dia mengambil kertas tadi, dan kembali ke mobilnya. Mobil itu tidak melaju pergi. Tetap terparkir manis di depan taman. Beberapa saat kemudian, Yeon muncul dan meletakkan kertas yang dilipat di tempat yang sama seperti tadi. Lalu dia kembali ke mobil, dan dia pergi lagi.

Aku keluar dari tempat persembunyianku. Mengambil kertas tadi dan membawa pergi. Aku duduk ditepi jalan, dan membuka lipatan kertas itu. Isinya cukup panjang… dan sangat…

When sun approaching his end at sunset

The world become dark and quite

 

When love approaching his end of feel,

Everything will be gone end like a dust at the street

 

I love u, I do love u and I never lies about my heart

But times change everything space makes nothing and my love has gone with the wind.

 

Aku berhenti membaca. Aku menyeka airmataku yang hampir keluar. Dia benar-benar sudah melupakanku. Kadang aku berharap pernikahan mereka bukan karena cinta. Tapi karena keluarga.. tapi ternyata… dia benar-benar mencintai namja itu.  Aku kembali membaca tulisan tangan Taeyeon.

Maybe a hundred word of sorry can’t change anything a scar I scratch in your heart will be remaining but your life is not stop in here.

 

After sunset… Will be sunrise again…

After dark will be shine again and I know u will find new love grown in your heart again.

Forgive me… really forgive me…

 

It’s true you’re my first, but you’re not my last.

I know, I’m your first, but the eternity is always being last.

 

Hujan turun. Cepat-cepat aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku mantelku. Hujan… Ada gunanya juga aku berjalan di tengah hujan lebat seperti ini. Jadi, aku bisa menangis tanpa seorang pun yang tau kalau aku sedang menangis dan aku tak perlu dianggap seperti wanita.

Aku berdiri dan berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Tentu saja, mana ada lagi pejalan kaki yang mau berjalan di tengah hujan seperti aku. Mereka belum gila. Dan itu berarti aku sudah gila. Benar-benar gila karena semua ini.

Hujan… Yeon sangat suka hujan. Kurasa dia juga sudah melupakan saat-saat kami bermain hujan bersama di lapangan basket dekat rumahku.

I walk in The Rain…

So, nobody will see me crying.

T_____T

“Joon. Di Tokyo enak?” tanya Dongdong, aku menggeleng.

“enak kalau dinikmati. Aku tak menikmati, jadi menurutku tak enak.”

“jadi, bagaimana dengan pelajaran kuliahmu? Kau yakin tak mau lanjut kuliah lagi?”

“Mungkin tidak dalam keadaan seperti ini.”

“Jadi? Apa yang akan kau lakukan? Berdiam diri dirumah, memikirkan Taeyeon setiap hari, memikirkan masa lalu mu? memikirkan penyesalanmu?” dongdong terlihat kesal. “Ya. aku menyesal telah meninggalkannya. Seharusnya aku tetap kuliah di Seoul saja.” Kataku pelan. Dongdong berdecak kesal.

“Ck! Pikirkan masa depanmu!!”

“masa depanku sudah jadi milik orang lain.”

“YA!! kau gila? Memangnya Yeoja cuma dia?!”

“Yah.. memang cuma dia yang kucintai.”

“Kim Hye Joon!!” dongdong membentak. Kurasa dia hampir menghajarku kalau saja Youngmi tak menahannya. “Joon. Kau sinting.” Omel Youngmi dan menarik dongdong menjauh. Aku tak sinting. Aku sedang patah hati. Aku stress!!

“Joon… benar katanya… bukankah kau punya impian? Jadi desain visual kan?”

“heii.. itu dulu.”

“tapi sekarang pasti masih ada kan…”

“na molla…” kataku malas dan meninggalkan mereka. Seperti biasa, aku pergi ke taman dan pohon itu lagi. Tapi hari ini tak ada kertas dari Yeon. Mungkin dia sibuk.

Aneh juga seperti ini. Serasa orang pacaran yang tak di restui orangtua saja.

Dan yang lebih hebat lagi. Namja itu bisa membuat Yeon begitu mencintainya hanya dalam 1 tahun. Sedangkan aku yang sudah bertahun-tahun bersamanya, dengan mudah dia melupakanku dalam waktu setahun. Aku tak tau ini hebat atau apa. Aku tak tau…Setidaknya, dia mencintai orang yang lebih baik… lebih baik dariku…

Butir-butir cairan besar jatuh ke bumi. Inilah anugrah Tuhan yang paling kusukai.

It’s Raining. It’s Crying. Aku menangis lagi. Kali ini di temani anjing berbulu putihku. Ferry. Untung dia masih setia padaku. Untung masih ada dia yang menemaniku. Menemaniku berjalan kaki di tengah hujan seperti ini.

It’s Raining. It’s Crying..

Alone with my lovely dog…

T___T

Desain Komunikasi Visual atau DKV, itulah jurusan kuliahku. Well, aku sangat ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang sudah pernah ada. Tapi, apa boleh buat. Inilah nasibku. Berakhir dengan sangat… tragis!

Aku membaca ulang kertas Yeon yang menyuruhku mencintai gadis lain.

Hhhh… yeoja lain? Tak mungkin. Beberapa kalimat terlintas di kepalaku.

“menikah? Tentu saja denganmu. Tidak dengan yeoja lain. Jangan harap kau melihatku menikah, tapi bukan denganmu… Kim Taeyeon.”

“Sumpah?”

“Ya! aku bersumpah!”

Aku ingat dengan jelas, perkataan itu aku sendiri yang mengatakannya. Dan dia tersenyum bahagia ketika mendengar ucapanku yang itu. Aku tidak akan melupakan sumpahku yang satu itu. Tidak akan pernah sampai kapan pun walaupun kau sudah menikah dengan namja yang kau cintai itu. Takkan pernah dengan siapapun. Lagian, dimana lagi aku harus menemukan penggantimu? Yang benar-benar seperti mu? Mana ada. Itu mustahil! Because a girl like you is impossible to find..
It’s impossible to find..

“Jadi?! Kau bujangan tua donk?!” Youngmi memekik kaget. Memangnya tadi aku mengucapkan apa yang kupikirkan??

“Apanya?!” aku bertanya balik. Memastikan.

“kau tak mau menikah selain dengan Yeon-mu itu. Jadi..”

“Yayayayaa…” aku benar-benar mengucapkan apa yang aku pikirkan tadi. Sesuatu yang tak mungkin kalau Youngmi bisa membaca pikiranku. Mustahil…

“Joon. Aku boleh usul?” tanya dongdong. Aku mengangguk.

“lebih baik kau lanjutkan kuliahmu.  Percuma juga kau merana disini.” Katanya pelan. Aku hanya diam. Ingin menolak, ingin melawan. Tapi aku mengurungkan niatku yang satu ini. Aku sedang tak ingin bertengkar dengan si gemuk itu. Juga mendengar ceramah dari si kurus Youngmi.

“akan kupertimbangakan.” Kataku dan menyambar mantel, serta topi wol ku. Setiap hari semakin dingin, dan kurasa bisa membeku kan siapapun yang keluar rumah tanpa mantel tebal, atau pakaian hangat sejenisnya.

Aku masuk ke sebuah cafe. Cafe tempat biasa kami ber 4 makan. Dan mengerjakan segala sesuatunya. Aku berjalan menuju meja nomor 10. meja tempat biasa kami duduk. Tapi disana sudah ada Yeon dan suaminya. Kurasa Yeon belum lupa tempat ini. Bagus deh..

Aku mengalah dan duduk di meja nomor 20. meja yang berada jauh dari tempat mereka duduk. Semoga saja memperhatikan istri orang lain itu bukan dosa. Karena aku ingin melakukannya sekarang.

Aku tak boleh menangis disini. Untuk apa aku menangis? Seharusnya aku senang melihat dia bisa tertawa dan tersenyum seperti sekarang ini. Chukae..

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Qwerty ku. Aku membukanya dan itu pesan dari Youngmi. Perhatian sekali dia…

“Joon, dongdong bilang sekarang kau sangat pendiam. Kalau boleh usul, jadilah Joon yang cerewet lagi! See ya! ;D .. ”

Aisshh!! Namanya juga patah hati. Ya seperti inilah jadinya.. ini sudah hukum alam. Kodrat alam. Tak bisa diganggu gugat. Aku akan seperti ini selamanya. Hidup dalam kesunyian yang kubuat sendiri. Menyedihkan? I don’t think so…

Kalau kau tau apa yang kurasakan, kau akan mengatakan “biasa saja.”

T___T

Aku mencuci piring-piring kotor. Setelah itu menyusun baju-baju yang baru saja di antarkan tukang laundry dari toko laundy Jandi. Nama toko laundry itu agak aneh. Seperti nama anaknya… masa bodo ah.

Setelah semua selesai, aku duduk di sofa. Adakah sesuatu yang bisa membuatku terus berpikir, terus sibuk. Jadi, sebisa mungkin tak ada waktu luangku untuk memikirkan Yeon. Memikirkan segala penyesalanku.

Sepertinya aku ingin pergi ke Tokyo lagi, sekalian menetap disana. Aku tak mungkin lagi berada di Seoul. Ini hanya akan menyiksaku. Aku akan terus menangis saat hujan. Itu sama sekali tak lucu. Bodoh malah. Aku harus meninggalkan Seoul dan itu berarti aku takkan bertemu sepasang suami istri yang selalu berhasil membuatku menjadi pria lemah.

Well, aku butuh bantuan orang tua angkat ku yang cerewet itu. Aku ingin tau reaksi mereka begitu tau aku akan kembali ke Tokyo.

Aku mengirimkan mereka pesan singkat. Lalu mengambil beberapa lembar kertas kosong serta pena. Dan mulai menuliskan sesuatu. Di setiap lembar, isinya sama. Tapi akanku letakkandi tempat berbeda. Pertama di pohon, kedua akan kuantar langsung ke rumahnya. Youngmi pasti tau rumahnya. Kertas satu lagi akan aku bawa ke Tokyo.

Aku menelepon bandara, memesan tiket pesawat untuk besok.

Semoga kali ini bukan penyesalan. Meskipun aku tau aku pasti akan sulit tak melihat Yeon selamanya. Aku yakin aku tak bisa. Tapi, inilah takdirku…

T___T

Taruhan! Kalau aku menanyakan apa dia masih mencintaiku. Jawabannya pasti.. NO

Kalau dia menanyakan aku balik… tentu saja YES. Siapapun akan menjawab YES kalau menjadi aku.

Aku memandang keluar jendela burung besi ini. Well, Seoul-ah. Good bye. Mungkin aku takkan kembali lagi sampai kapanpun.. maybe

Pesan singkat masuk ke ponselku. Dari dongdong.

“Joon. Kurasa tahun depan kami ke Tokyo! LOL~”

“Annyeonghaseyo…” pramugari memulai seperti biasanya. Aku mematikan ponselku dan memejamkan mataku.

Memang, cinta harus di perjuangkan. Tapi, cinta bukan berarti memiliki. Jadi, aku mencintainya, dan aku tak memilikinya. Aku hanya memiliki beberapa benda pemberiannya. Termasuk Ferry.

Aku akan terus mencintainya sampai aku pergi.

I will always love u,

Until I’m Gone…

Aku benar-benar pergi membawa semuanya. Semua yang masih sama. Hati dan perasaan cinta yang masih sama seperti dulu. Takkan pernah berubah. . Sampai kapan pun, sampai aku berubah jadi tua pun, Sampai aku mati pun… 1 yang tak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintainya.

As we continue change by age…

There’s one thing…

I’ll never change… I’ll always…

Loving You…

T___T

Tokyo, Ten Year Later

Aku berjalan menyusuri toko kaset yang menjual film-film animasi.

Film animasi yang kubuat lumayan laris juga disini.

“Ahjussi!!” suara anak kecil, dia mengguncang-guncang kakiku. Ada anak Korea juga disini. Aku jongkok dan mengacak rambut pendeknya. “Ya?”

“Ada namaku disini.” Katanya dan menunjuk 1 nama di kaset film yang kubuat.

“Namamu Kim Hye Joon?” tanyaku, dia mengangguk mantap.

“kata eomma. Nama ku sangat keren.” Katanya bangga.

“Hei, adik kecil… kau suka namamu?”

“Tentu! Kenapa tidak?” jawabnya lagi. Anak itu kelihatan jenius.

“Joon… kau tau?” tanyaku dia menunggu aku melanjutkan.

“Namaku Kim Hye Joon.” Kataku pelan. Dia mengerjapkan mata dan menatapku, lalu menatap kaset yang dia pegang. “namaku.. Kim Hye Joon. Namamu Kim Hye Joon, namanya Kim Hye Joon.” Katanya sambil menunjuk dirinya, diriku serta nama yang tercantum di kaset itu. “ahjussi. Tunggu sebentar.” Katanya dan pergi entah kemana. Anak itu mengingatkan ku pada Taeyeon. Kalau Taeyeon punya anak, kurasa seperti itulah anak pertama Taeyeon sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang? Kuharap sama seperti dulu.

“Ahjussi!! Kita foto dengan kaset ini.” Katanya semangat. Kulihat wanita yang datang bersama anak itu. “Eomma! Aku ingin foto bersama Ahjussi ini.” Kata anak itu. Dan eommanya mengangguk dan mengeluarkan kamera digital.

Aku tersenyum sekilas padanya. Hanya itu yang bisa kulakukan. Memangnya ada lagi? Memeluknya kah? Itu tak mungkin. Melihatnya sehat seperti sekarang saja aku sudah senang.

Dia memotret kami. Setelah itu, aku menurunkan Hye Joon dari gendonganku. Dia kembali ke eommanya. Eommanya yang sangat kucintai. Kim Taeyeon.

“Joon. Siapa yang memberikanmu nama Kim Hye Joon?” tanyaku pada anak itu.

“Mollayo. Eomma mungkin.” Katanya polos. Aku membalas senyuman Taeyeon dan belum sempat aku membuka mulutku, aku melihat pria yang sama. Pria yang sudah pasti adalah appanya Hye Joon.

“Joon-ah. Aku pergi dulu. Annyeong.” Kataku dan pergi dari sana. Aku tak perlu berlama-lama disana. Setidaknya pertanyaanku terjawab. Dia baik-baik saja. Masih sama seperti dulu. Yeon yang pernah menjadi milikku. Yeon yang selalu kucintaii.

“Annyeong Joon Ahjussi!! Sampai jumpa di Seoul!!” pekik anak itu. Aku tak menoleh lagi. Aku tak ingin melihat yang tak sanggup kulihat. Aku tak mau berjalan di tengah hujan lagi. Itu membuatku demam 2 minggu. ==”

Sampai jumpa di Seoul? Memangnya aku akan kembali ke Seoul? Kembali ke masa lalu? Sorry… I don’t think so… But, I will always love u.. until I’m… Died

T____T

>> Prolog _ Author pov

Taeyeon membuka lipatan kertas usang  itu. Dengan perlahan dia membaca tiap kata demi kata yang tertulis dengan rapi disana. Siapa pun yang membaca itu pasti bisa merasakan apa yang di rasakan si penulis.

Setelah selesai membaca, Taeyeon melipat kembali kertas itu, duduk bersimpuh tanpa bisa berkata-kata. Kadang dia menyesali keputusannya 1 tahun yang lalu, dan juga menyesali perasaannya yang bisa berubah dengan mudahnya.

Semua memang sudah terlambat, Joon sudah pergi…

Pergi dengan hatinya yang sama, perasaan dan cinta yang sama.

Tanpa bisa di ubah sedikit pun.

Have I told u you yet?

How much u mean to me

Have I told you yet?

About all the happiness u bring

Have I told you yet?

That u means the world to me!

Just in case I haven’t

I want u know that

You’re the best thing

That’s ever happened to me!

I Love You!

[.THE END.]

Gimana-gimana? Jelekkan? kubilang juga apa. Yasud deh..

Aku ga pernah patah hati yang jenis beginian, jadi ga tau gimana rasanya..

wkakakakka

well, saia mau bilang, saia ini masih hiatus. FF ini bukan pertanda aku udah ga hiatus loh.. jadi jangan ada yang cari aku buat Req FF.

Dan… selamat menunggu FF B’Day yang bakal di Post tiap bulan.

Hhehhehee

Give me ur opinion about this Bad FF,,

Thx..

-Eve_RyLin

Advertisements

One thought on “WALK IN THE RAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s